
Duukkk
Mak Ijah memukul langit langit kamar yang bergambar kotak persegi menggunakan tongkat besi.
Braaaakkk
Sebuah tangga lipat meluncur dari atas. Bayu tersenyum girang. Dia semakin yakin tebakannya benar.
"Aku ingatkan padamu Pak Polisi, apapun yang ada di dalam sana kamu tidak boleh ikut campur dan merusak rencana Tuan Zainul!" Mak Ijah melotot memberi peringatan.
"Sudah kukatakan padamu Mak. Aku hanyalah penonton. Sebelum pertunjukan berakhir aku tidak boleh memberikan penilaian," Bayu menyeringai.
"Kalau semua ini berakhir, apa yang hendak kamu lakukan pada Tuan Zainul?" Mak Ijah bertanya penasaran. Perempuan tua itu duduk di sudut tempat tidurnya. Meskipun mimik wajahnya terlihat datar, Mak Ijah merasakan nyeri di pahanya yang tertembak. Beberapa butir keringat menetes di dahi dan pelipisnya.
"Semua itu tergantung hasilnya. Apakah Tuan Zainul mu itu berhasil mengeksekusi skenario yang ditulis rapi oleh Tuan Zainul ku?" ucap Bayu santai.
"Bolehkah aku naik sekarang Mak?" Tanya Bayu sembari memeriksa tangga yang terbuat dari bahan alloy itu.
"Tidak ada yang menghalangimu," jawab Mak Ijah ketus.
Bayu tersenyum sekilas. Kemudian mulai memanjat tangga dan memasuki plafon kamar yang kini berlubang berbentuk kotak persegi. Kegelapan langsung menyergap. Bayu mengerjap ngerjap.
Setelah terbiasa, Bayu kembali menggerakkan tangan dan kakinya untuk memanjat. Di dalam plafon kamar Mak Ijah begitu bersih, tidak ada debu ataupun sarang laba laba. Yang artinya tempat itu akhir akhir ini sering disinggahi.
Seberkas cahaya berpendar di atas kepala Bayu. Ada sebuah jendela berbentuk kotak, cukup lebar, dan muat untuk dimasuki satu orang dewasa.
Bayu memasuki jendela itu dan ternyata di dalamnya terdapat sebuah lorong. Di ujung lorong nampak sebuah pintu kayu dengan ukiran yang indah. Bayu melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.
Bayu sampai di sebuah ruangan yang luas nan indah. Dekorasi, pernak pernik, lukisan lukisan yang terpasang di dinding begitu mempesona nan elegan. Namun, di sudut ruangan tergolek lemah sosok laki laki bertelanj*ng dada. Punggungnya nampak penuh luka dan sudutan rokok.
Bayu mengenali sosok itu. Denis sang selebgram flamboyan. Bayu mendekatinya, memeriksa denyut nadi dan nafasnya. Dan ternyata laki laki yang terkenal playboy satu sekolah itu telah tiada.
Bayu memperhatikan tubuh Denis yang penuh luka. Juga lehernya nampak membiru bekas tertusuk sesuatu. Bayu meyakini Denis dibius ataupun disuntik cairan untuk melumpuhkan pada bagian urat di lehernya.
Bayu mengalihkan pandangannya. Di sudut ruangan yang lain, terlihat sosok perempuan tengah jatuh tersungkur dalam keadaan terikat ke sebuah kursi kayu. Perempuan itu adalah Mella. Mulutnya tersumpal oleh kain yang direkatkan dengan lakban hitam.
__ADS_1
Bayu berjalan perlahan mendekati Mella. Dia memperhatikan teman sekolahnya itu. Mella seakan ingin mengatakan sesuatu. Bayu kemudian membuka kain yang tersumpal di mulut Mella.
"Hah hah. . .syukurlah Bay, kamu yang datang. Aku sempat khawatir, penjahat yang menyiksa Denis yang datang kemari," ucap Mella mengatur nafasnya. Matanya nampak berbinar, dia merasa terselamatkan dengan kehadiran Bayu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Bayu sambil duduk bersila di hadapan Mella.
"Akan kuceritakan, tapi lepas dulu ikatanku," pinta Mella.
Bayu beranjak dari duduknya. Dengan sedikit kesulitan dia mengangkat Mella dan memperbaiki posisi kursinya. Kini perempuan itu sudah tidak lagi tersungkur di lantai, meskipun sekujur tubuhnya masih terikat dengan erat.
"Ikatanmu sangat erat. Perlu gunting atau pisau untuk melepaskannya," Bayu menghela nafas.
"Katakan padaku, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini semua?" Bayu kembali bertanya.
"Aku sedang berjalan di lorong depan kamar mandi. Tiba tiba saja ada yang membekapku dari belakang. Aku pingsan, dan saat mataku terbuka disinilah aku. Aku tidak tahu siapa pelakunya, " jawab Mella.
"Kamu tak melihat siapa yang membekapmu?" Bayu bertanya penuh selidik. Mella menggeleng pelan.
"Ngomong ngomong, saat ini pagi, siang atau malam sih? Dan kita ada dimana? Bagaimana caranya kamu menemukanku?" Kali ini Mella balik bertanya.
"Satu lagi Mella, di rumah ini kita hanya tinggal bertiga. Aku, kamu dan Mak Ijah," imbuh Bayu.
"Hah? Kenapa? Kemana yang lain?" Mella nampak bingung.
"Mati," jawab Bayu singkat.
"Kamu jangan bercanda Bay!" Mella membentak.
"Aku tidak bercanda Mella. Sebentar, kamu diam saja disitu, ada yang mau aku periksa," Bayu beranjak dari tempatnya.
Bayu berjalan menuju sebuah lemari kayu dengan ukiran yang serupa dengan daun pintu yang tadi dilewati Bayu. Lemari dalam kondisi tidak dikunci, sehingga Bayu dengan mudah membukanya.
Lemari nampak kosong, hanya ada beberapa potong pakaian di dalamnya. Pakaian yang sepertinya masih baru, belum pernah dikenakan.
Bayu malah menemukan sesuatu yang menarik di sudut lemari. Pakaian berwarna putih berbalut perban yang dipotong potong. Juga terdapat topeng bermotif layaknya perban di sebelahnya. Bayu tersenyum girang. Di sebelah lemari dia juga menemukan sebuah kursi roda berwarna hitam.
__ADS_1
"Bay?" Mella memanggil Bayu yang terlihat senyum senyum sendirian.
"Oy, ada apa?" Bayu balik bertanya.
"Kalau ini kamar Zainul, sekarang dia ada dimana? Ada yang ingin aku sampaikan padanya," Ucap Mella.
"Zainul? Maksudmu orang yang mengundang kita ke rumah ini kan?"
"Hah? Apa bedanya?" Mella tak mengerti maksud perkataan Bayu.
"Ha ha ha ha. . .orang yang mengundang kita kemari bukan Zainul Mell. Tapi kalau kamu penasaran, mungkin sebentar lagi kamu akan bertemu dengannya," Bayu tergelak, tawanya pecah.
"Apa maksudmu Bay?" Teriak Mella. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Bayu.
"Sudahlah. Tenangkan dirimu. Aku mau pergi dulu," ucap Bayu melangkahkan kakinya.
"Hei! Kamu mau kemana? Bagaimana denganku?" Mella kembali berteriak, dia menggeliat mencoba merenggangkan tali ikatannya.
"Tenanglah Mell. Aku akan ke bawah mencari pisau atau gunting untuk memotong tali yang mengikatmu," ucap Bayu sambil tersenyum.
"Jangan bercanda Bayu! Kamu tidak sedang mengerjaiku bukan?" Mella melotot dan masih menggeliat geliat seperti cacing kepanasan.
"Simpan tenagamu. Tenanglah. Toh, kain di mulutmu sudah kulepas. Slow down baby," Bayu tersenyum penuh arti.
Bayu melangkah pergi meninggalkan Mella. Entah apa yang sedang direncanakan perugas kepolisian itu. Mella hanya mampu melihat punggung Bayu yang pergi tanpa menoleh padanya.
"Bayuuuu! Keluarkan aku dari sini! Brengs*k!" Mella tiba tiba saja berteriak.
"Bayu, please Bay! Tolong aku!" Mella kali ini menangis. Emosinya meledak bercampuraduk. Kesal, sedih dan putus asa.
Mella kembali menggeliat mencoba melepaskan diri dari ikatan. Namun sekuat apapun dia mencoba, usahanya sia sia. Mella malah melukai tangannya sendiri. Pergelangan tangan terasa perih akibat luka gores dan gesekan kulit dengan tali tambang yang mengikatnya.
"Bayuuuuuu!" Mella berteriak putus asa.
Bersambung ___
__ADS_1