
Dalam pencahayaan lampu yang temaram, Mak Surti berbaring di kasur lusuhnya. Matanya terpejam dengan air mata yang terus berderai. Sementara mulutnya tak henti memanggil nama Miko.
Pak Nyoto berjongkok di sudut kamar. Dia memegangi kepalanya dengan kedua telapak tangan. Dia meracau tak jelas, seperti tengah merapal mantra. Laki laki tua itu dalam keadaan putus asa. Anak laki laki yang sudah sejak lama ditunggu kehadirannya, diculik orang tak dikenal di tengah hutan belantara.
"Haaaaa Mikooooo, kembali Naakkk!" teriak Mak Surti tiba tiba. Suaranya terdengar pilu, menyayat hati.
Pak Nyoto yang mendengar teriakan itu buru buru berdiri dan menampar pipinya sendiri berkali kali. Nafasnya terdengar berat dan tersengal.
"Buk! Ibuk diam saja disini ya? Biar kucari Miko!" Pak Nyoto menggeram dalam keputusasaan. Mak Surti tak menyahut. Dengan mata yang sembab dan terpejam, terdengar isak tangis yang tak berjeda.
Pak Nyoto menyambar senter di atas lemari. Dia bergegas keluar kamar dengan langkah yang sangat cepat. Laki laki berjanggut tebal itu kemudian keluar rumah melalui pintu belakang.
Mengenakan kaos hadiah toko bangunan, Pak Nyoto berlari ke rumah sebelah. Rumah yang awalnya diperuntukkan bagi Pak Nyoto dan keluarga. Namun, kini rumah itu penuh dengan mayat.
Saat pintu rumah dibuka, aroma busuk langsung menusuk hidung. Ada 3 mayat yang dibaringkan di atas meja dapur. Erfan dengan aroma racun yang menyengat. Ali Sabet dengan jeratan di leher yang mengkerut. Serta Inge dengan luka tikaman yang menganga.
"Nuwun sewu nggeh, nuwun sewuu," ucap Pak Nyoto sambil membungkuk, saat melewati meja penuh mayat itu.
Sekuat apapun Pak Nyoto berusaha melawan rasa takutnya, laki laki tua itu tetap gemetar di hadapan beberapa mayat yang sudah mulai membusuk. Tapi sekecil apapun nyalinya, Pak Nyoto sudah membulatkan tekad untuk mencari dan menyelamatkan Miko.
Pak Nyoto membuka laci lemari dapur dan mengambil golok besar yang biasa dia gunakan untuk memotong daging. Banyak tikus dan kecoa berkeliaran. Hewan hewan yang terbiasa di tempat jorok itu seolah tengah berpesta dengan aroma bangkai yang memenuhi seluruh ruangan.
"Hooeekkk!" Pak Nyoto muntah mendadak. Kepalanya terasa pusing berdenyut, tak tahan dengan aroma busuk yang menguar di sekitarnya.
Sedikit sempoyongan Pak Nyoto keluar ruangan. Kini dia berada di bawah pohon beringin belakang rumah. Dia mengibas ibaskan tangan, berusaha menghilangkan bau yang masih tercium seolah lengket dengan bulu hidungnya.
__ADS_1
Setelah beberapa kali meludah, Pak Nyoto menyalakan lampu senternya dan segera berjalan masuk ke dalam hutan. Pak Nyoto melangkah tak tentu arah. Dia tidak tahu dimana Miko berada, tak ada petunjuk sama sekali.
Sesekali Pak Nyoto mengayun ayunkan golok di tangan. Semak belukar berduri memang mengganggu dan menghalangi langkah kakinya.
"Mikooo?? Mikoo?" teriak Pak Nyoto memecah kesunyian.
Langit semakin pekat. Rintik hujan yang terasa sangat dingin menerpa pipi Pak Nyoto.
"Tuhan, kembalikan anakku," ucap Pak Nyoto sambil menangis. Air matanya jatuh bersamaan dengan butir air hujan.
"Mikooo? Anakku? Pulang Nak, ini Bapak," teriak Pak Nyoto putus asa. Dengan berlinang air mata dan pandangan yang kabur akibat turunnya hujan, laki laki tua itu terus melangkahkan kaki.
Anak merupakan sebuah anugerah dalam kehidupan rumah tangga Pak Nyoto. Bagaimana Pak Nyoto dan Mak Surti belasan tahun menikah, namun tak kunjung juga mendapat momongan. Semua usaha sudah dilakukan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, hingga pergi ke orang pintar. Namun, tak ada hasil yang membahagiakan.
Hingga akhirnya doa mereka terjawab. Meskipun sedikit terlambat dengan usia yang mulai menua, Miko lahir dalam keadaan sehat. Tapi kini, sosok asing menyeramkan tiba tiba menghancurkan kebahagiaan Pak Nyoto. Sosok itu membawa Miko pergi.
Ketika suara Pak Nyoto mulai serak dan menghilang, di kejauhan samar samar terdengar sesuatu. Pak Nyoto segera berlari mendekat ke sumber suara. Tak peduli belasan duri menggores dan menancap di telapak kaki. Rasa perih, nyeri, ngilu dihiraukan saat sebuah harapan muncul dari sebuah suara yang terdengar sayup sayup di antara rintik hujan.
Suara tangis bocah laki laki bergema di tengah hutan. Pak Nyoto sangat yakin suara itu adalah Miko anak se mata wayangnya. Apakah putra kesayangannya itu tengah kesakitan? Kehujanan? Pikiran pikiran negatif penuh kekhawatiran memenuhi isi kepala Pak Nyoto.
Suara tangisan terdengar jelas. Pak Nyoto semakin yakin, dia sudah dekat dengan keberadaan Miko. Pak Nyoto melompat dan berjingkat di antara semak belukar, hingga akhirnya dia melihat seberkas cahaya kemerahan di bawah pohon akasia besar.
Sebuah obor menyala redup tertancap di tanah hutan yang gembur. Nyala obor yang sepertinya akan padam sebentar lagi karena rintik hujan dan angin yang cukup kencang.
"Hiii hiiii," terdengar suara tangisan di balik pohon akasia besar.
__ADS_1
Pak Nyoto mengendap endap, mencoba melangkahkan kakinya tanpa menimbulkan suara. Sebuah ke hati hatian yang malah membuatnya celaka.
Pak Nyoto terus menatap ke depan, tapi malah kurang waspada dengan pijakan kakinya. Dia lengah dan tiba tiba kaki kanannya tersandung sesuatu. Belum sempat dia melihat apa yang telah diinjaknya, besi perangkap babi hutan langsung menutup dan menjerat kaki kanan Pak Nyoto.
"Aarrgghhhh!" Pak Nyoto berteriak kesakitan.
Besi bergerigi terlihat menggigit dan menembus tulang kering kaki kanan Pak Nyoto. Dia gemetar menahan sakit. Sedangkan golok yang dipegangnya jatuh ke tanah.
Pada saat itulah, dari balik pohon akasia besar di hadapan Pak Nyoto muncul sosok manusia dengan separuh badan yang penuh luka bakar. Sosok itu berjalan terseok seok mendekati Pak Nyoto yang meringis kesakitan memegangi kakinya.
"Sial*n! Salah sasaran," gumam sosok perempuan misterius itu menatap wajah Pak Nyoto yang menahan perih.
"Si siapa kamu?" tanya Pak Nyoto dengan wajah pucat akibat menahan rasa sakit.
"Dimana Miko? Dimana anakku? Kamu kan penculiknya?" Pak nyoto kini melotot, menggertak sosok mengerikan di hadapannya.
"Ada. Di belakang sana," jawab sosok perempuan itu singkat.
"Tolong kembalikan dia untuk kami. Miko adalah anak kami satu satunya," bujuk Pak Nyoto memelas.
"Masih belum, aku membutuhkannya untuk memancing orang itu keluar dari sarangnya," sosok mengerikan menyambar obor yang tertancap di tanah. Kemudian bergegas pergi meninggalkan Pak Nyoto sendirian.
Pak Nyoto kembali mengerang saat jebakan babi hutan itu terasa semakin mencengkeram kakinya.
"Aarrgghhh!" Pak Nyoto kesakitan. Dia yakin tulang tulang di kakinya telah hancur.
__ADS_1
Tak ada waktu untuk merintih dan meratap. Kenyataan bahwa Miko masih hidup dan baik baik saja, membuat Pak Nyoto seperti mendapat tambahan energi. Sekuat tenaga Pak Nyoto berusaha membuka jebakan yang menancap di kakinya.
Bersambung___