Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
LII. Tanah milik Sang Rich Man


__ADS_3

Suara burung gagak hitam memecah kesunyian belantara. Dua orang kawan lama bergumul di atas rumput berduri yang tumbuh liar. Mella, perempuan yang selamat dari kebakaran rumah milik sang rich Man tahun lalu. Kini menuntut balas pada Bayu yang dianggap sebagai salah satu dalang pembantaian rumah tepi sungai.


"Ayo Mella! Kenapa ragu? Setiap manusia berhak memperjuangkan keadilan. Jika keadilan bagimu adalah melihat aku tak lagi bernafas, maka lakukan sekarang!" Bayu menyeringai. Deretan giginya yang putih nampak mengkilat di tengah kegelapan.


Mella mendesis kesal. Kulit wajahnya yang rusak, mengkerut dan terkelupas dengan warna merah muda yang menyala membuat Mella terlihat benar benar mengerikan. Semua penderitaan selama ini penyebabnya adalah laki laki yang saat ini terlentang di hadapannya itu.


"Aku bukan pembunuh sepertimu!" bentak Mella sambil menggeram.


"Bohong! Kamu baru saja menghilangkan nyawa orang yang tak bersalah. Bocah lima tahun harus kehilangan sosok seorang ayah gara gara kamu Mella. Tanganmu sudah berlumur darah dan dosa," ucap Bayu sembari menatap tajam Mella.


"Aku terpaksa melakukannya Bayu. Satu satunya penjahat disini adalah kamu!" bentak Mella membantah.


"Oh ya? Sekarang sebutkan apa kejahatanku?" Bayu memainkan kedua alisnya.


"Kamu yang merencanakan pembantaian teman teman satu club drama. Kamu yang membiarkan aku terpanggang di lantai dua rumah yang tengah terbakar! Kamu sengaja tak menolongku Bayu!" mata Mella mendelik penuh amarah.


"Hmmm, aku tak merencanakan apapun Mella. Zainul lah yang menulis tragedi kisah hidupnya. Hendra yang memendam rasa bersalah, mewujudkan tulisan Zainul menjadi sebuah kenyataan. Aku hanya penonton Mell. Aku hanyalah orang yang menikmati pertunjukan. Dimana salahnya?" Bayu tersenyum.


"Oke, soal aku tak menolongmu yah anggap saja aku bersalah. Namun, bukankah aku sudah menebusnya? Aku memasok obat obatan untukmu agar kamu bisa dirawat oleh Mak Ijah di tempat ini. Kamu tetap bisa hidup berkat aku. Apa kamu lupa?" lanjut Bayu.


"Apakah keadaanku yang seperti ini bisa kamu sebut sebagai kehidupan? Lebih baik aku mati daripada hidup menjadi iblis penghuni hutan!" Mella menggeram, air liurnya menetes melalui bekas luka bakar yang mengkerut di area bibir.


"Kamu berbicara berdasar kebenaran yang kamu percayai. Jadi percuma untukku memberi penjelasan. Jika sudah demikian lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Dendam butuh pembalasan. Dan jadikan aku sebagai targetmu Mella," Bayu merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku tidak mau semua berakhir mudah seperti ini!" bentak Mella marah.


"Lalu, apa maumu?"


"Aku ingin kamu memohon ampun. Aku mau kamu ketakutan. Aku mau kamu merasakan kengerian yang sama dari orang orang yang telah menderita akibat ulahmu Bayu!" Mella sedikit mengangkat tubuh Bayu dan menjatuhkannya ke tanah.


"Hah? Ha ha ha ha ha. . .aku? Takut? Masa laluku penuh dengan kengerian! Masa kecilku dulu, setiap menjelang tidur hanya ada dua pertanyaan di benakku. Bagian mana dari tubuhku yang akan dipukul oleh laki laki yang kusebut ayah itu esok hari? Umpatan apa lagi yang akan keluar dari mulut kotor penuh alkohol? Hidupku hanyalah untuk mendukung Zainul merangkul orang orang bernasib sial seperti aku!" Bayu tergelak, tawanya pecah. Tawa panjang yang terdengar lepas membebaskan hati Bayu yang selama ini tertutup topeng kebaikan dan prestasi.


"Kamu nggak waras! Orang sepertimu tidak boleh ada di dunia ini! Kehidupanku akan damai jika tak bertemu orang macam kamu!" bentak Mella tak kalah kencang.


"Maka lakukan Mella. Toh bibit sudah kusebar. Tinggal tunggu panennya saja," Bayu menyeringai puas.


Mella tak bergeming. Diam mematung, bingung harus berbuat apa. Pada saat yang sama terdengar suara langkah kaki mendekat memecah kesunyian. Perempuan tua dengan rambut putih seperti senar pancing bersinar di antara pekatnya kegelapan malam.


"Ohh, bagaimana kabarmu Mak Ijah?" tanya Bayu masih dengan posisi terlentang ditindih Mella.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mak Ijah pada Mella.


"Orang ini adalah akar dari semua masalah yang kita hadapi selama ini Mak!" jawab Mella.


"Ya, dan dia juga orang yang telah membantumu bertahan hidup hingga kini," sahut Mak Ijah.


"Apa kamu menganggap keadaan seperti ini sebagai kehidupan Mak?" Mella menggeleng. Air matanya tak terbendung.

__ADS_1


"Setelah kebakaran rumah tepi sungai itu, kamu merawatku di dalam goa. Kita bertahan dengan persediaan makanan yang minim. Bahkan selama beberapa minggu sebelum tanah ini berpindah kepemilikan, kita makan seadanya. Lumut, ikan sungai, belalang, menangkap hewan dan burung liar. Bahkan saking laparnya kita pernah makan 'gendon', ulat dalam batang pohon lapuk. Barulah kita bisa makan layak saat rumah baru itu mulai dibangun. Kita mencuri bekal para tukang. Apa seperti itu bisa disebut kehidupan?" tanya Mella sambil menangis. Dia membayangkan kehidupannya selama satu tahun berada dalam kesengsaraan.


"Bagiku itu adalah kehidupan," jawab Mak Ijah datar.


"Aku yang tak punya siapa siapa. Pada akhirnya memiliki sebuah target dan kewajiban dalam hidup. Merawat Tuan Hendra di hutan ini hingga dia berhasil melaksanakan tujuan hidupnya. Kemudian Tuan Bayu memberiku kewajiban baru, yaitu merawatmu hingga bisa sehat seperti sekarang ini. Bagiku, inilah kehidupanku. Aku ada untuk melayani," jawab Mak Ijah tanpa ekspresi.


"Lalu menurutmu Mak, apa kewajibanku dalam hidup ini?" tanya Mella sekali lagi.


"Menjadi penghuni hutan milik Sang Rich Man. Sebagai penebusan atas perbuatan burukmu di masa lalu," jawab Mak Ijah.


Mendengar ucapan Mak ijah, Mella melepaskan cengkeraman tangannya di tubuh Bayu. Dia duduk tertunduk sambil menangis. Bayu berdiri dan menepuk nepuk tubuhnya yang berdebu.


"Kenapa hatimu begitu lemah Mella? Kenapa kamu melepaskanku?" tanya Bayu sambil merogoh saku belakang celananya.


"Aku tidak bisa menjalani hidup seperti kalian. Aku ogah berubah menjadi tak waras sepertimu Bayu!" pekik Mella di antara suara tangisnya.


"Jika demikian, bukankah tak ada gunanya lagi kamu hidup?" ucap Bayu sinis.


Mella diam tak menyahut. Hidupnya telah benar benar hancur. Keinginan untuk bisa kembali seperti dulu bersama keluarganya tak bisa terwujud lagi. Uang yang hendak digunakan untuk mengobati bekas luka bakarnya yang mengerikan hilang dicuri. Bahkan rasa benci dan dendamnya pada Bayu pun juga telah sirna. Rupa boleh rusak, tapi Mella tak ingin hatinya ikut hancur bersama orang orang gila yang tengah mengelilinginya.


"Padahal kupikir malam ini adalah waktunya untukku menyusul Zainul. Tapi ternyata, musuh yang kuciptakan tak mampu melaksanakan tugasnya. Aku kecewa Mella, sangat kecewa. Hatimu terlalu lembek dan mudah mengampuniku," Bayu mengacungkan sepucuk senjata api pada Mella.


Doorrrrrr

__ADS_1


Suara tembakan menggelegar, mengusir kawanan gagak yang bertengger di dahan pohon akasia. Untuk ke sekian kalinya, tanah milik Sang Rich Man merenggut kehidupan yang berharga.


Bersambung___


__ADS_2