Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
IX. Kepingan Surga


__ADS_3

Sebuah air terjun yang sangat indah berada di hulu sungai. Air terjun yang tak terlalu tinggi, namun jernih nan beningnya mata air membuat pemandangan benar benar memanjakan netra. Udara sejuk dengan suara gemericik air membuat semua orang berdiri termangu untuk beberapa saat lamanya. Ada kekaguman di hati masing masing.


"Indah banget. Tadi pagi waktu aku kesini tidak terlalu jelas, karena tertutup kabut," gumam Erwin.


"Beruntung banget kamu Nggun. Lahan pemberian penulis idolaku benar benar sebuah kepingan surga," Inge berdecak kagum.


"Mbak nya suka baca buku karangannya Zainul Rikhman?" Erwin bertanya pada Inge, sorot matanya nampak berbinar binar.


"Iya, kenapa?" Tanya Inge.


"Sama Mbak. Aku juga suka banget. Berapa banyak buku Zainul Rikhman yang Mbak koleksi?" Erwin terlihat begitu antusias.


"Beberapa sih, belum lengkap. Soalnya agak sulit nyari bukunya. Apalagi yang limited edition itu, yang hanya ada seratus buku, nggak ada dimana mana. Di toko buku, bahkan di situs online nihil. Kamu punya banyak?" Inge bertanya penuh selidik.


"Satu buku Mbak yang belum berhasil kudapatkan. Buku limited edition itu. Yang lain aku punya semua," ucap Erwin dengan bangga.


"Waah, nanti boleh dong aku lihat koleksimu," Inge tersenyum menatap Erwin.


"Boleh lah," Erwin mengacungkan jempolnya.


"Ehem, dapat nih berondong tampan," bisik Vita menggoda.


"Ssttt," Inge tersenyum sambil meletakkan telunjuk di bibirnya. Kemudian keduanya tertawa bersama.


Byuurrrr


Tiba tiba terdengar suara benda jatuh ke dalam air. Di bawah derasnya air terjun terdapat sebuah kolam alam yang terlihat cukup dalam.


"Fuuaahhhh!"


Dari dalam air muncul Ali Sabet dengan senyum jahilnya. Rupanya laki laki yang suka iseng itu telah melepas pakaiannya dan menceburkan diri ke dalam kolam sungai hanya mengenakan sebuah boxer bergambar sponsbob skuerpen.


"Ali, jangan suka bikin kaget orang woyy!" Teriak Andewi geram. Ali hanya nyengir tak peduli.


"Hati hati Mas, siapa tahu ada buaya dalam air. Atau ular anaconda gitu," ucap Erwin menakut nakuti.

__ADS_1


"Ha ha ha, banyakan nonton film kamu. Dasar bocah!" tukas Ali sedikit jengkel. Air kolam yang hijau kebiruan, tak terlihat bagian dasarnya membuat Ali cukup takut juga sebenarnya.


"Hadap sini Al! Biar aku foto wajah jelekmu itu," sela Erfan mengarahkan lensa kameranya pada Ali.


"Ah ah ah ah!" Tiba tiba Ali berteriak, wajahnya terlihat menahan sakit. Kedua tangannya menyibak nyibak air, dia berenang menepi.


"Hei, kenapa itu? Tolongin tolongin!" Teriak Anggun khawatir. Semua orang segera berlari mendekat pada Ali.


Ali duduk di atas batu sambil memegangi kakinya. Semua orang khawatir dan bertanya tanya, apa yang telah terjadi.


"Kamu kenapa? Nggak pa pa?" Tanya Andewi cemas.


"Duh, aku kram," jawab Ali meringis.


"Woooo janc**!" Erfan mengumpat kesal. Dia nenampar kaki Ali yang sedang kram.


"Aduuhhh. Sialan!" Ali meringis.


"Aku rugi mengkhawatirkanmu!" Vita menghentakkan kakinya jengkel.


Pada akhirnya semua orang sibuk dengan kegiatannya masing masing. Ali Sabet yang masih duduk di atas batu memegangi kakinya yang kram. Erfan yang beberapa kali mencuri curi untuk memfoto Anggun. Vita dan Inge yang sibuk ber selfie ria. Andewi yang mondar mandir nggak jelas, seperti sedang mencari sesuatu. Anggun yang hanya duduk mematung. Serta Erwin yang terlihat mengawasi Erfan dengan tatapan yang tajam.


Ali memijat mijat betisnya yang kaku. Rasa lelah setelah naik motor trail, kemudian berlanjut menceburkan tubuhnya ke kolam sungai tanpa pemanasan terlebih dahulu. Apalagi suhu air yang sangat dingin, nyatanya membuat otot Ali tak siap dan berakhir dengan kram di kaki kanannya.


Di tengah upaya untuk mengurangi rasa nyeri di betisnya, Ali mengedarkan pandangan. Dia memperhatikan satu persatu teman temannya. Mereka semua terlihat senang. Berkunjung ke rumah Anggun nyatanya terasa bagaikan sebuah liburan. Penat dan lelah pekerjaan terlupakan begitu saja.


Ali tersenyum sendiri melihat keindahan pemandangan di hadapannya. Hingga pada akhirnya, tanpa sengaja dia melihat sekelebat bayangan seseorang di balik air terjun. Sosok berambut panjang, dengan separuh wajah yang tak terlihat jelas. Namun, Ali yakin dia tidak sedang berhalusinasi. Sepasang mata mengerikan jelas dan nyata baru saja memelototinya.


"Sialan!" Gumam Ali. Bulu bulu halus di tangannya berdiri tegak. Lehernya seakan ditiup angin, dingin dan merinding. Ali tidak bisa memastikan apakah sosok yang barusan itu manusia ataukah makhluk astral penunggu air terjun di tengah hutan itu.


"Gaes gaes. Balik yuk!" Teriak Ali. Namun, semua teman temannya tak ada yang menggubris.


"Gaes, please! Balik yuk!" Lagi, Ali merengek.


"Apa sih?" Vita terlihat sewot.

__ADS_1


"Nanti tak ceritain kalau sudah di rumah. Sekarang balik dulu yuk. Please lah," Ali terus merengek.


"Yaudah, ayuk teman teman," Anggun beranjak dari duduknya. Dia memang merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Anggun memang seringkali seperti itu. Tiba tiba sekujur tubuhnya dingin secara instan. Terkadang juga tiba tiba panas tanpa sebab.


Erfan yang melihat Anggun pergi, segera menyusulnya. Begitupun Erwin, mengekor di belakang Erfan. Vita, Inge dan Andewi akhirnya juga menyusul.


"Hei, jangan tinggalin aku sialan! Kakiku masih sakit nih" Ali tertinggal di belakang. Kakinya masih terasa kaku.


Dengan sedikit terseok seok, Ali menyeret kakinya. Dia hanya mengenakan celana boxer dengan sel*ngk*ng*nnya yang sedikit menonjol. Ali menggamit baju dan celana, tak ada waktu untuk memakainya.


Srakk sraakkk


Ali yang berada di urutan paling belakang merasa ada seseorang yang tengah membuntutinya. Suara langkah kaki yang menginjak daun dan ranting kering terdengar begitu jelas.


"Gaes, tungguin dong!" Ali berteriak merengek. Betis kanannya masih kaku, tak mampu digunakan untuk berjalan cepat.


Sraakk sraakkk sraakkkk


Suara langkah kaki yang membuntuti terdengar semakin cepat. Ali dengan sekujur tubuhnya yang basah karena air, merasa seluruh pori porinya terbuka. Dan butiran butiran keringat menetes dari sana.


Jantung Ali berdegup semakin cepat. Dia seakan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Telinganya penuh dengan suara dentuman dentuman di dadanya. Meski nyeri dan kaku, Ali memaksa kakinya untuk melangkah lebih cepat.


Akhirnya Ali berhasil menyusul Vita dan Andewi. Ali segera berjalan mensejajari dua sahabatnya itu.


"Tungguin lah gaes. Kakiku sakit nih," Ali terengah engah.


"Pucet bener wajahmu Li. Kayak baru lihat setan saja," seloroh Vita.


"Huusshh. Pokoknya ayo cepat kita kembali ke rumah," Ali sesekali menengok ke belakang. Tak ada apapun, tak ada siapapun. Bahkan suara suara yang tadi, kini sudah tak terdengar lagi.


"Iya iya, ribet kamu ah," Andewi menyahut sewot.


Anggun yang berada di barisan paling depan telah sampai di halaman rumah tepi sungai. Di depan rumah utama, nampak sebuah mobil jeep terparkir sedikit ngawur. Anggun yakin, Ferry Lawanto suaminya telah tiba di rumah.


Bersambung ___

__ADS_1


__ADS_2