
Kilas balik kisah semasa hidup manusia ditampilkan saat nafas di ambang batas. Andewi pernah tanpa sengaja membaca artikel yang mengulas tentang hal itu di media sosial. Waktu itu dia tak mempedulikannya.
Kini, dalam angannya muncul satu persatu kenangan yang membekas semasa hidup. Bayangan hewan hewan yang ditakutinya. Saat kelas 4 SD tanpa sengaja Andewi terkunci di gudang rumah bersama belasan tikus got. Semenjak saat itu, dia jijik pada hewan pengerat itu, bahkan tak sudi melihat meski hanya sekedar gambar.
Saat SMP Andewi mengenal cinta pertama. Cinta monyet pada seorang ketua OSIS. Bocah laki laki dengan potongan rambut poni yang menutupi hampir seluruh bagian wajah. Model rambut hits pada masanya. Sayang, kisah itu hanya dipendam hingga kini.
Bayangan bayangan kejadian yang telah lalu terus berseliweran di benak Andewi. Kesedihan dan kebahagiaan yang telah dilalui, semuanya mampu membuat air mata menitik. Tawa dan tangis sama sama menghadirkan air mata di kehidupannya.
"Apakah aku akan mati sekarang?" tanya Andewi pada dirinya sendiri.
Lamunan Andewi buyar saat terdengar suara langkah kaki yang diseret. Dengan pandangan yang sedikit buram Andewi dapat melihat perempuan gila yang menyerangnya kemarin menggendong balita laki laki. Miko anaknya Mak Surti, terlihat tenang di gendongan perempuan berwajah mengerikan itu.
Perempuan dengan luka bakar itu menurunkan Miko dari gendongan di sudut goa, cukup jauh dari tempat Andewi tergeletak tak berdaya. Miko mengedarkan pandangannya sesaat ke sekitar goa, kemudian asyik kembali dengan lego nya.
"Ini cokelat untukmu," ucap perempuan dengan luka bakar pada Miko. Menjulurkan tangannya yang berkerut, memberikan sebungkus cokelat pada Miko. Balita lima tahun itu bersorak riang.
"Anak pintar," perempuan dengan luka bakar mengusap rambut Miko. Dia mencoba tersenyum namun malah terlihat seperti seringai mengerikan.
"Siapa namamu?" tanya perempuan dengan luka bakar.
"Miko Te. Nte (Tante) pake topeng," ucap Miko sembari mengarahkan telunjuknya pada kulit kepala yang botak berkerut.
"Kamu nggak takut padaku?" tanya perempuan dengan luka bakar sekali lagi.
"Nte baik, ngasih Miko coklat," jawab Miko polos. Jari jemarinya yang mungil mencoba membuka plastik pembungkus cokelat, namun gagal.
"Bukain Nte," Miko menyodorkan cokelat di tangannya.
Perempuan dengan luka bakar meraih cokelat di tangan Miko. Menyobek plastik pembungkusnya dengan perlahan, kemudian memberikannya kembali pada Miko.
__ADS_1
"Terimakasih Nte," ucap Miko. Balita lima tahun itu tersenyum menggemaskan.
"Te terimakasih?" gumam perempuan dengan luka bakar lirih. Suaranya tertahan di tenggorokan. Sebuah kalimat yang diucapkan balita 5 tahun membuat hatinya bergetar.
Sudah sangat lama, perempuan dengan luka bakar itu menganggap dunia tak pernah adil untuknya. Dia harus terjebak di tengah hutan dengan kondisi tubuh bagaikan mayat hidup. Dia mengutuk dirinya sendiri setiap malam sepanjang waktu, berpikir kalau kematian akan lebih baik baginya.
Ucapan terimakasih dari Miko menyadarkan bahwa masih banyak kebaikan di dunia ini. Ucapan polos dari anak yang masih kecil, bersih, jujur, dan apa adanya. Tanpa terasa butiran air mata yang bening menetes membasahi sudut matanya yang hitam mengkerut.
Perempuan dengan luka bakar itu beranjak, menyeret kakinya mendekati Andewi. Memeriksa tubuh Andewi kemudian tersenyum mengerikan.
"Kamu kuat, masih hidup rupanya," tukas perempuan dengan luka bakar.
"A apa maumu?" tanya Andewi lirih, sambil mengarahkan pandangan matanya pada Miko yang duduk di sudut goa.
"Aku tak tahu, dimana kamu menyembunyikan uang milikku. Aku menduga bisa saja kamu bekerjasama dengan orang yang ada di rumah si*lan itu. Jadi kuambil bocah lucu itu, agar mereka mau mengembalikan uang milikku!" suara serak perempuan dengan luka bakar itu terdengar mengerikan.
"Bukan aku yang gila! Orang gila yang sebenarnya adalah laki laki bernama Zainul Rikhman. Laki laki berhati iblis!" perempuan dengan luka bakar menepuk nepuk pipinya sendiri. Kulit wajahnya terlihat putih pucat dengan kerutan kerutan menghitam di area mata. Daun telinganya juga nampak tak utuh.
"Ka kamu jangan bodoh. Ada polisi yang mungkin sekarang sudah datang di rumah itu. Pemilik rumah yang menelponnya, polisi bernama Bayu!" gertak Andewi perlahan.
Gertakan yang asal asalan dari Andewi. Karena waktu malam dia keluar rumah, petugas kepolisian itu belum datang. Dia hanya ingat, kalau Anggun menelpon polisi bernama Bayu. Tapi entah bagaimana gertakan dari Andewi berhasil menakuti sosok perempuan mengerikan di hadapannya.
"Si siapa nama polisinya?" tanya perempuan dengan luka bakar setengah membentak. Bola matanya membulat dan bergetar.
"Ba bayu," jawab Andewi terbata bata.
"Akhirnya, dia kembali!" perempuan dengan luka bakar menggigiti kuku tangannya sendiri. Bahkan tanpa sadar, dia menggigit ujung jari hingga kulitnya terkelupas dan meneteskan dar*h.
Dalam keadaan ngeri dan heran Andewi melihat ada sesosok manusia yang memasuki goa. Sempat berharap ada orang dari rumah Anggun yang berhasil menemukan dan hendak menolongnya. Namun harapan itu pupus. Ternyata ada satu lagi sosok mengerikan yang tinggal di ceruk di balik air terjun itu.
__ADS_1
Sosok perempuan tua, berbadan tegap, dengan rambutnya yang panjang memutih. Perempuan tua itu terlihat tanpa ekspresi. Dingin dan acuh. Matanya sempat bertemu pandang dengan Andewi, tapi dia tak mempedulikannya. Seolah Andewi hanya seonggok sampah yang tergeletak di sudut rumahnya.
Perempuan tua itu beralih menatap Miko. Sedetik kemudian berjalan cepat menuju ke tempat Andewi tergeletak. Andewi sudah pasrah pada garis takdirnya. Kalaupun perempuan tua itu hendak menyiksanya, tak ada lagi energi yang tersisa untuk melawan. Bahkan berteriak pun Andewi tak akan mampu.
Ternyata perempuan tua itu berhenti di belakang sosok perempuan dengan luka bakar. Kemudian mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi kanan perempuan dengan luka bakar. Suara tamparan yang keras, menggema di dalam goa.
"G*bl*k! Kenapa kamu bawa balita itu kemari? Hah? Tempat ini bisa ketahuan orang orang! Otak dangkalmu itu bisa membuat kita ketahuan!" perempuan tua nampak kesal dan marah.
"Aku butuh uang itu Mak!" bantah perempuan dengan luka bakar. Dia mengusap usap kulit pipinya yang memerah.
"Berhenti berkhayal! Hidup normalmu sudah berakhir saat kamu datang ke rumah tepi sungai, rumah Tuan Zainul Rich Man! Jalani saja hidupmu seperti ini hingga ajal tiba!" perempuan tua membentak dengan wajahnya yang nampak datar.
"Tapi dia kembali kesini Mak. Tiba waktuku untuk balas dendam!" perempuan dengan luka bakar menyeringai bengis.
"Siapa maksudmu?" perempuan tua mengernyitkan dahi. Kulit keriputnya semakin terlihat jelas.
"Bayu Mak! Dia ada di rumah baru itu. Apa dia kesini berniat untuk menghabisiku? Ha ha ha ha," tawa yang meringkik dari perempuan dengan luka bakar terdengar menakutkan.
"Kamu bisa bertahan hidup juga berkat dirinya si*l*n!" lagi lagi perempuan tua membentak, namun anehnya ekspresi wajah tidak berubah sama sekali.
"Jangan sebut ini kehidupan! Mayat yang bernyawa selama ber bulan bulan memakan serangga hutan karena tidak ada makanan, jangan kau sebut ini hidup!" perempuan dengan luka bakar menyeret kakinya, mendekati Miko, kemudian mengangkat dan menggendong Miko.
"Kamu mau kemana?!" perempuan tua dengan panggilan 'Mak' itu berteriak dan melotot.
"Menuntut balas!"
Bersambung___
Update Bab tersendat lagi gaes. Ada deadline kerjaan. Semoga tidak kecewa dan tetap bertahan di kisah ini sampai selesai.
__ADS_1