Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXXVIII. Penyesalan Erwin


__ADS_3

Tangannya berlumuran cairan warna merah kental yang mulai mengering. Direndamnya tangan itu dalam air, diusapnya sekuat tenaga, berharap warna merah itu cepat larut dan hilang. Aroma anyir dan amis menusuk indera penciuman, sementara air mata terus menetes membasahi pipi.


Erwin terisak. Dia tengah mencuci tangannya di aliran air sungai yang jernih. Dia sama sekali tak menduga, jalan hidupnya berubah drastis dalam kurun waktu tak lebih dari 3 hari.


Matahari mulai menyingsing ke arah barat daya. Wilayah yang terhalang lebatnya pepohonan terlihat lebih suram, minim pencahayaan. Begitu pula tempat Erwin duduk kali ini. Di balik sebuah batu besar, dia bersimpuh dan mencelupkan tangannya ke dalam air.


Setelah beberapa saat, akhirnya kedua tangannya terlihat bersih. Namun aroma anyir masih belum hilang sepenuhnya. Erwin menggosok gosok tangannya dengan kasar. Aroma anyir itu tak kunjung hilang, bahkan lengannya sampai tergores akibat Erwin menggosoknya terlampau keras.


Erwin melepas kaosnya. Meskipun kaos itu nampak bersih, tapi Erwin tetap mencelup celupkannya ke dalam air sungai. Dia merasa jijik pada tubuhnya sendiri. Dia merasa kotor, berlumuran darah orang yang dikasihinya.


Sambil menangis, Erwin menyandarkan badan pada batu besar yang ada di belakangnya. Dia mengenang kehidupannya yang telah lalu. Ingatannya diseret pada kehidupan yang telah terlewati. Seorang anak laki laki yang terlahir di keluarga miskin.


Erwin dan Ferry memiliki ikatan darah dari sang ayah. Ayah Erwin adalah adik kandung dari ayah Ferry. Keluarga mereka terkenal bermasalah dan banyak hutang. Puncaknya, ayah Erwin dan ayah Ferry menghilang setelah bermasalah dengan seorang rentenir di wilayah tempat tinggalnya.


Erwin kecil akhirnya diasuh oleh keluarga Ferry. Dirawat dan dibesarkan oleh Bu Rofida sepenuh hati. Begitulah manusia, se buruk buruknya Bu Rofida, perempuan itu memiliki kasih sayang yang tulus untuk Erwin. Meskipun secara darah, mereka tidak ada hubungan secara langsung, namun Bu Rofida menerima Erwin bagaikan keponakan sendiri bahkan seperti anak sendiri. Tidak ada perbedaan perlakuan antara Ferry, Vivi, juga Erwin.


Erwin sadar betul kalau Ferry tak pernah menerima kehadirannya. Ferry tak pernah bisa menyukai Erwin. Erwin tahu alasannya. Hal itu disebabkan karena Ferry tak pernah menyukai ayahnya sendiri. Rasa benci pada ayahnya membuat Ferry mendendam pada semua saudara dan garis keturunan ayahnya.


Meskipun kebencian itu tak pernah padam, nyatanya Ferry tetap memenuhi segala kebutuhan materi Erwin. Sandang, pangan, papan, kendaraan, fasilitas pendidikan, tak ada yang terlewat. Ferry menanggung itu semua, tanpa pamrih.


Dalam hatinya, Erwin sudah bersumpah untuk membalas segala kebaikan keluarga Ferry Lawanto. Baginya, se buruk buruk manusia adalah individu yang tidak tahu balas budi. Hidup hanya sekali, Erwin tak ingin ada penyesalan di akhir hayatnya kelak.


Tekad untuk balas budi itulah yang membuat Erwin bertindak nekat. Dia merasa perlu untuk mencelakai Inge, kekasihnya sendiri. Apa yang Inge ketahui dan hendak sampaikan pada Anggun adalah sesuatu yang berbahaya dan fatal untuk keluarga besar Ferry Lawanto.

__ADS_1


Erwin menyerang Inge dengan sebuah pisau yang dia temukan di meja ruang makan. Semua itu dia lakukan secara spontan tanpa persiapan. Dua kali serangan mengenai perut Inge. Erwin tak tahu, apakah Inge bisa selamat atau tidak.


Kini, Erwin hanya bisa menangis. Hatinya hancur, melihat perempuan yang dia kasihi harus meregang nyawa di tangannya. Sebagian hatinya menyalahkan keputusan yang telah diambil. Haruskah seperti itu? Tak adakah jalan lain?


Inge adalah perempuan pertama bagi Erwin. Sebelumnya Erwin tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Bukan berarti Erwin tak laku. Banyak yang mendekati, tapi Erwin terlanjur berjanji dalam hati takkan memanfaatkan fasilitas dari Ferry Lawanto kecuali untuk masa depannya.


Inge datang saat study Erwin sudah selesai. Perempuan itu datang dan mendekat padanya, dengan segala pesona, centil dan manja yang membuat Erwin suka. Tuhan menumbuhkan rasa itu kemarin, tapi hari ini rasa suka berubah menjadi duka.


Erwin tak tahu lagi apa yang mesti dia lakukan. Matanya sembab, lengannya penuh luka gores karena terus menerus digosok gosok dengan kasar. Laki laki berambut gondrong itu akhirnya beranjak dari duduknya. Perlahan dia berjalan menyusuri sungai. Entah kemana tujuannya.


Sementara itu, Vivi yang keluar dari kamar dan hendak ke dapur menemukan seseorang tergeletak bersimbah darah. Seorang perempuan dalam posisi tengkurap berada di anak tangga paling bawah.


Sebuah pisau kecil tergeletak tak jauh dari sana. Vivi berteriak sekencang kencangnya. Semua penghuni rumah berdatangan, melihat apa yang telah terjadi.


Atas perintah dari Bayu, Damar segera memeriksa kondisi mayat Inge. Seperti biasa, petugas satu itu terlihat cekatan, dingin dan tanpa ekspresi. Seolah mayat manusia hanyalah patung manekin baginya.


Bu Rofida memeluk Vivi erat erat. Tangan anak gadisnya nampak gemetar. Rasa takut menyerang mentalnya bertubi tubi.


"Kita pulang ke kota! Kita pulang sekarang!" Vivi meracau dalam pelukan bundanya.


"Tenang sayang, tenang. Biarkan petugas kepolisian yang bekerja," Bu Rofida mengelus punggung Vivi. Mencoba menenangkan anak gadis satu satunya itu.


Pak Nyoto hanya berdiri tertunduk. Dia tidak berani memperhatikan sosok Inge yang sudah menjadi mayat. Hatinya masih terus percaya kalau penunggu hutan belantara lah yang telah melakukan semua ini.

__ADS_1


Dari lantai atas, terlihat Ferry tengah merangkul istrinya. Mereka berjalan turun menapaki anak tangga pelan pelan.


"Ada apa ini?" tanya Anggun lirih. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut.


"Inge Nggun," jawab Vita sembari menunjuk mayat yang tengah diperiksa Damar. Air mata Vita tumpah tak terbendung.


"Astaga! Siapa yang tega melakukan ini semua?" Anggun menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Ferry semakin erat merangkul Anggun. Khawatir istrinya itu tak kuat mental dan jatuh pingsan.


"Nyonya, tanah ini pasti dikutuk! Kematian se mengerikan ini bukan ulah manusia!" Pak Nyoto tiba tiba saja menyahut. Hatinya kalut, terbayang keselamatan anak istrinya.


"Ayok pulang ke kota, ayookkk!" Vivi ikut berteriak histeris.


"Dimana Erwin?" Vita ikut panik. Dia baru ingat, tadi Erwin tengah bersama Inge di ruang tamu. Tapi sekarang laki laki itu tidak nampak batang hidungnya.


Suasana mulai kacau. Setiap orang memiliki kegundahannya masing masing. Melihat beberapa kematian mengerikan dalam jangka waktu berdekatan nyatanya membuat mental setiap orang mulai terganggu.


"Saya harap semuanya tenang!" bentak Bayu. Suaranya kalem tapi penuh penekanan.


Seakan dihipnotis, setiap orang terdiam menurut.


"Biarkan Damar bekerja dengan tenang, agar lebih fokus," lanjut Bayu sambil mengedarkan pandangannya. Sedari tadi dia memperhatikan setiap detil dari mayat Inge dan area sekitarnya.


"Kita tunggu hasil pemeriksaan Damar. Setelah itu kita pindahkan mayatnya dan semuanya tanpa terkecuali, berkumpul di ruang tamu," perintah Bayu, memperhatikan satu persatu wajah penghuni rumah tepi sungai, rumah baru keluarga Ferry Lawanto.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2