Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXVIII. Cincin Ananta


__ADS_3

Setelah tanpa sengaja menemukan mayat Ali Sabet yang tergantung dengan kondisi mengerikan, perasaan Erwin tidak tenang. Dia sangat gelisah, merasa mual serta keringat dingin mengucur membasahi keningnya.


Erwin ingin sekali menghapus ingatan wajah pucat pasi Ali dari otaknya. Tapi semakin dia mencoba, maka detail kondisi mayat Ali semakin membekas di benak Erwin. Kedua bola mata yang memerah dan melotot, juga leher yang tertekuk tak wajar.


"Nak Erwin?" Pak Nyoto memanggil. Laki laki tua itu menepuk pundak Erwin perlahan. Pak Nyoto sadar, Erwin tengah terguncang mentalnya.


"Ah iya Pak?" Erwin nampak kaget.


"Nak Erwin nggak pa pa? Kok kelihatan pucat?" Pak Nyoto merasa khawatir.


"Badanku sedikit nggak nyaman nih Pak," jawab Erwin jujur.


"Jangan manja Win, kamu laki laki!" bentak Ferry tiba tiba. Suami Anggun itu selalu terlihat tidak suka pada Erwin.


"Maaf Mas," ucap Erwin sambil memijat mijat keningnya yang berdenyut.


"Aku tidak terlalu peduli dengan mereka yang mati. Karena mereka bukan urusanku, bukan sanak family. Yang lebih aku khawatirkan adalah keselamatan istri juga keluargaku. Aku menyesal memberimu tanggung jawab! Kamu tak bisa menjalankannya Erwin!" bentak Ferry.


"Maksud Mas Ferry apa ya?" Erwin bertanya tak mengerti. Kepalanya pusing, bahkan pandangannya pun terasa berputar putar.


"Sudah kukatakan padamu kan tadi malam, jaga Ibuk dan adik. Jangan tinggalkan kamar mereka. Tapi ternyata kamu malah keluyuran di lantai bawah semalaman. Dasar tak berguna!" Ferry marah marah.


Pak Nyoto hanya bisa mengunci mulutnya rapat rapat. Dia tak berani membantu Erwin. Meskipun dia tahu, Erwin semalaman berusaha menjaga semua orang yang ada di dalam rumah.


"Maaf Mas. Aku mengaku salah," Erwin menunduk dalam dalam.


"Ingat ya Win, kamu sedari masih 'piyik' aku yang memberi makan. Aku yang usia belasan tahun nggak sekolah, merintis usaha, demi kehidupan keluarga yang lebih baik. Dan kamu juga salah satu orang yang ikut menikmati hasil dari keringatku. Sekolah, kuliahmu aku yang tanggung. Seharusnya kamu nurut sama aku, nge bantu aku!" Ferry menunjuk nunjuk wajah Erwin. Tak ada perlawanan ataupun bantahan. Erwin pasrah karena memang apa yang diucap Ferry benar adanya.


"Kamu tahu kan pepatah, hutang emas bisa dibayar, hutang budi dibawa mati!" Ferry membuang muka. Dia membenarkan posisi duduknya.


"Huukkkk," Erwin merasakan mual. Dia menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Bayangan mayat Ali dengan wajah pucat kembali bersliweran di benaknya.

__ADS_1


"Permisi. . .huuukkkk!" Erwin berlari sempoyongan. Pak Nyoto hendak menyusul namun akhirnya duduk kembali. Ferry melotot tajam ke arahnya.


Erwin berlari menuju ke kamar mandi. Perutnya terasa seakan diaduk aduk. Saat sampai di ruang makan, denyut di kepalanya semakin menjadi jadi. Dia menjaga agar tidak ambrug dengan berpegangan pada dinding.


Sampai di dapur, dilihatnya Mak Surti tengah memasak. Duduk di kursi plastik, Miko yang terlihat bahagia bermain main dengan robot kecilnya. Erwin tersenyum masam. Mereka tidak tahu kalau sudah ada dua orang yang tewas dengan mengenaskan. Erwin buru buru masuk ke salah satu bilik kamar mandi.


"Huuwkkk hooweeekkk," Erwin memuntahkan isi perutnya.


Tidak ada makanan apapun di dalam perut Erwin. Hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Cairan yang terasa sangat pahit di lidah.


Setelah memuntahkan isi perutnya yang kosong, Erwin duduk di atas kloset yang tertutup. Dia mengatur nafas sejenak. Rasa berdenyut di pelipisnya sudah jauh berkurang.


Erwin merasakan sesuatu yang mengganjal di saku celananya. Dia teringat kembali dengan cincin bergambar ananta yang ditemukan oleh Inge di ruang makan tadi malam.


Setelah keadaan tubuhnya membaik, Erwin keluar dari kamar mandi. Dia menuju ke dapur dan mengambil segelas besar air minum dan menenggaknya hingga tandas.


"Nak Erwin, kalau minum duduk dong. Jangan sambil berdiri begitu," Mak Surti menasehati. Suaranya terdengar kalem.


"Adab makan dan minum itu jangan ditinggalkan lho. Kata simboknya Mak Surti dulu, itu juga demi kesehatan kita," lanjut Mak Surti. Erwin tersenyum, dalam hatinya membenarkan perkataan Mak Surti. Meskipun dulu Mak Surti tidak sekolah hingga jenjang yang tinggi, sepertinya perempuan itu diasuh oleh orangtua yang luar biasa.


"Mak, Inge sama Vita kemana?" Tanya Erwin kemudian.


"Tadi Nona nona itu langsung masuk kamar. Mungkin masih ngantuk Mas. Semalaman pasti sulit tidur ya. Kalau aku sih tidurku pulas Mas. Nggak tahu soalnya kalau ada kejadian Nona Andewi dan Tuan Ali ilang," terang Mak Surti. Mak Surti belum tahu kalau Ali tidak hilang, melainkan tewas di tali gantungan. Erwin begidik saat mengingat kembali kondisi mayat Ali.


"Mbak Anggun kemana Mak? Di kamar juga?" Erwin cepat cepat bertanya, mengalihkan fokus otaknya agar tidak terbayang kondisi Ali terus menerus.


"Iya," jawab Mak Surti singkat. Perempuan itu kembali sibuk dengan senjata pamungkasnya, telenan dan pisau daging.


Erwin berpikir sejenak kemudian beranjak dari duduknya. Dia sempat mengacak acak rambut Miko dengan gemas, sebelum melangkah pergi.


Erwin menaiki tangga menuju lantai dua. Dia tidak menuju ke kamar Bu Rofida namun malah pergi ke kamar Anggun. Ada sedikit rasa takut jika Ferry memergokinya menyambangi Anggun di kamar. Tapi dia merasa tak ada pilihan lain. Dia harus memastikan sesuatu.

__ADS_1


Tok tok tok


Erwin mengetuk pintu perlahan. Suasana sepi dan sunyi. Awalnya dia ragu Anggun ada di kamarnya. Namun beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki yang diseret.


Saat pintu terbuka, terlihat Anggun dengan penampilan yang acak acakan. Ada beberapa tetes keringat di keningnya. Entah kenapa nafasnya terdengar berat dan berjarak.


"Ada apa Win?" tanya Anggun lirih.


Erwin memperhatikan Anggun. Istri Ferry Lawanto itu tetap saja cantik, meski dengan penampilan yang semrawut. Mungkin kalau orang lain dengan rambut berantakan akan terlihat aneh, namun tidak dengan Anggun. Perempuan satu itu malah terlihat manis, lucu dan menggemaskan.


"Apa Win?" Anggun mengulangi pertanyaannya karena Erwin hanya berdiam mematung.


"Ah iya Mbak," Erwin terkesiap. Dia segera mengalihkan pandangannya. Merogoh saku celana, dan mengeluarkan sebuah cincin bersimbol ananta.


"Ini punya Mbak Anggun kan?" Erwin menyodorkan cincin di tangannya.


"Hah? Darimana kamu mendapatkan ini?" Anggun nampak terkejut. Matanya melotot. Ekspresinya terlihat tak percaya.


"Mbak Anggun tadi malam menjatuhkan cincin ini di suatu tempat di lantai bawah kan? Untuk apa Mbak Anggun berkeliaran di lantai bawah malam malam?" Erwin bertanya, mendesak Anggun.


"Apa maksudmu?" Anggun terlihat kebingungan.


"Ini cincin milikmu kan Mbak?" Tanya Erwin memastikan.


"Iya," jawab Anggun singkat.


"Kumohon Mbak, jawab pertanyaanku dengan jujur. Apapun itu aku akan membantumu Mbak. Aku akan melindungi keluarga Mas Ferry dengan segenap jiwa dan raga. Jadi tolong ceritakan semuanya Mbak, agar aku tahu apa yang mesti kulakukan selanjutnya," Erwin menghela nafas.


"Untuk apa Mbak Anggun berjalan jalan di dekat mayat Mas Erfan tadi malam?" Erwin meninggikan nada bicaranya.


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2