
Pergelangan kakinya mengucurkan darah segar. Bagian mata kaki terkelupas dengan tulang yang nampak menonjol memutih. Perih dan ngilu tak terperi dirasakan oleh Pak Nyoto.
Meski rasa sakit menyiksa raga dan batinnya, Pak Nyoto tak mau menyerah. Ingatan tentang si kecil Miko menguatkan semangatnya. Dengan langkah yang diseret, Pak Nyoto berjalan melewati semak belukar belantara.
Sesekali kaki Pak Nyoto yang terluka itu tergesek semak belukar berduri. Air mata menetes dengan sendirinya, menandakan rasa sakit sudah tak mampu ditahan oleh fisiknya yang mulai menua itu.
"Duh Gustiii," Pak Nyoto merintih. Suaranya memecah keheningan malam.
Jebakan babi hutan memang tajam dan kuat. Masih untung kaki Pak Nyoto bisa lepas dari pengait besi yang mencengkeramnya.
"Gustiii, paringi kuat. Beri aku kekuatan," Pak Nyoto kembali merintih sambil mendongak menatap langit.
Tak jauh dari tempat Pak Nyoto berdiri, nampak sosok perempuan berjalan terseok seok. Di bawah langit malam nan kelam, perempuan itu bagaikan sosok iblis dengan penampilan buruk rupa dan sorot matanya yang berkilat mengerikan. Pak Nyoto meraih dahan kering yang kebetulan tergeletak di bawah kakinya.
"Hei, perempuan laknat! Dimana kamu sembunyikan anakku?" teriak Pak Nyoto penuh amarah.
"Bocah itu sudah kukembalikan pada ibunya. Aku tak lagi membutuhkannya," sahut perempuan berwajah rusak dengan suaranya yang serak.
"Bohong! Jangan jangan kamu menggunakan anakku sebagai tumbal untuk kesaktianmu? Hah? Dasar iblis kau!" Pak Nyoto berjalan mendekat sambil mengacungkan dahan kering di tangannya.
"Dasar laki laki kolot! Jangan asal bicara ya. Kamu pikir aku seperti penyihir yang ada di dongeng dongeng itu hah?" Perempuan mengerikan itu terus melotot. Sisa rambut yang ada di kepalanya nampak berkibar diterpa angin malam.
"Pulanglah! Aku tak ada urusan denganmu!" lanjut perempuan itu sambil membentak.
"Kembalikan anakku!" Pak Nyoto berteriak. Dia terus melangkah mendekat pada perempuan berwajah rusak.
"Telingamu tak berfungsi kah? Anakmu sudah kukembalikan! Aku tak ada urusan denganmu!" Perempuan itu mendesis kesal. Dia merogoh saku bajunya yang lusuh.
__ADS_1
Sambil terseok seok, Pak Nyoto tiba tiba saja berlari seraya mengayunkan dahan kering di tangannya. Dia berusaha menyerang dan melukai perempuan mengerikan itu.
BUUGHHH
Serangan membabi buta dari Pak Nyoto ternyata berhasil menghantam lawannya. Perempuan mengerikan itu jatuh tersungkur mencium tanah. Pak Nyoto berdiri mengangkangi perempuan itu. Pikirannya kalap, dia berniat menghabisi perempuan yang telah menculik Miko.
Pak Nyoto hendak menghantam perempuan yang terlentang di bawah kakinya, namun sayang dia kurang waspada. Perempuan berwajah mengerikan itu mengambil pisau lipat di saku bajunya. Dengan cekatan menyayat mata kaki Pak Nyoto yang sudah terluka dari awal.
"Arrgghhh," Pak Nyoto mengerang kesakitan.
Saat Pak Nyoto menunduk memegangi kakinya yang terluka, perempuan itu dengan cepat menghantamkan kepalanya ke dagu Pak Nyoto. Laki laki berusia lebih separuh abad itu terjengkang. Kini keadaan berbalik, Pak Nyoto yang jatuh terlentang di tanah.
Perempuan berwajah mengerikan segera menubruk Pak Nyoto. Dia menekan leher Pak Nyoto menggunakan pisau lipat.
"Aku bukan penjahat. Aku terpaksa menculik anakmu karena salah satu penghuni rumah sialan itu mencuri uang milikku!" bisik perempuan berwajah mengerikan.
"Bohong! Pembual! Aku tidak bisa mempercayai orang sepertimu! Wajahmu sudah sangat jelas menggambarkan kamu adalah jelmaan iblis! Cuihh!" Pak Nyoto meludah tepat mengenai dahi perempuan berwajah mengerikan.
"Aaarrhhhhhh!" Perempuan itu tiba tiba menjerit kencang, menarik pisau lipat dari leher Pak Nyoto. Kemudian menghujamkan pada perut buncit laki laki tua itu.
Semburat warna kemerahan berhamburan ke udara, menetes ke wajah dan tubuh perempuan berwajah rusak. Setelah emosi mereda dan nafas terkontrol, dia menghentikan serangannya.
"Apa aku harus menjadi penjahat dengan penampilan seperti ini? Kenapa semua orang lebih suka menilai sesuatu dari yang terlihat saja? Bukankah baik dan buruk itu tergantung dari organ yang dinamakan hati?" Perempuan itu terlihat menangis. Air mata di pipinya bercampur darah dari tubuh Pak Nyoto.
"Kamu menculik anakku!" ucap Pak Nyoto dengan nafasnya yang tersengal.
"Aku hanya ingin hidupku normal kembali. Sama sepertimu yang ingin berkumpul dengan anak istri, aku juga punya keluarga yang menunggu kepulanganku," ucap perempuan itu terisak. Wajahnya semakin terlihat menyeramkan dengan warna merah yang begitu kontras dengan langit malam nan kelam.
__ADS_1
Pak Nyoto yang kehilangan banyak darah mengalami kondisi syok hipovolemik. Darah mulai berhenti beredar ke kulit, membuatnya nampak memucat dan terasa sangat beku. Tenggorokan terasa kering dan haus karena jantung bekerja lebih cepat untuk menarik oksigen. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Pak Nyoto mulai merasa pusing serta kehilangan kesadarannya.
Suara tepuk tangan tiba tiba saja terdengar. Sepasang kaki melangkah mendekat. Seringai di bibirnya membuat suasana malam semakin terasa mencekam. Iblis yang sesungguhnya telah datang menikmati pertunjukan berdarah di belantara milik sang Rich Man.
"Mella Mella Mella, kenapa dirimu menjadi jahat begini teman lamaku?" Bayu masih bertepuk tangan.
"Kamu! Semua ini gara gara kamu biad*b!" Perempuan berwajah rusak itu berteriak. Perempuan itu ternyata adalah Mella. Dia selamat dari kebakaran rumah tepi sungai milik Sang Rich Man. Mella mencabut pisau lipat dari mayat Pak Nyoto dan bersiap untuk menyerang Bayu.
"Sabar dong sabar! Aku kesini hanya ingin berbicara denganmu. Lagipula apa salahku hingga kamu membenciku kawan?" Bayu berpura pura memasang wajah sedih.
"Kamulah dalangnya Bayu. Kamu yang membuat semua orang dari club drama tewas. Kamu meminjam tangan orang lain untuk melakukan kejahatan!" Mella melotot mengerikan.
"Benarkah begitu? Apakah kamu mempunyai bukti atas ucapanmu itu kawan? Bukankah aku malah menolongmu? Kamu yang terpanggang di lantai 2 berhasil diselamatkan oleh Mak Ijah. Tapi tanpa pasokan obat obatan dariku, apa kamu pikir nafas itu masih ada di dalam tubuhmu? Apa kamu pikir oksigen itu masih mengalir ke otakmu? Seharusnya kamu berterimakasih padaku sayang," sahut Bayu sambil terkekeh.
"Tutup mulutmu!" Mella berteriak dan langsung berlari menubruk Bayu.
Polisi itu jatuh dan Mella menindihnya. Dengan mata berkilat Mella sudah siap mengakhiri hidup iblis yang ada di hadapannya. Namun, Bayu tak menunjukkan rasa takut sama sekali. Laki laki itu malah memejamkan mata dan membuka tangannya lebar lebar. Dia tersenyum bahagia.
"Sialan! Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Mella geram.
"Aku bahagia akan menyusul sahabatku Zainul. Lagipula ambisi kami sudah selesai kusebarkan pada orang orang yang membutuhkan," jawab Bayu santai.
"Kamu sudah gila!" Mella mendesis.
"Ha ha ha. Lampiaskan kebencianmu Mella! Sakiti aku dan jadilah lebih jahat lagi!" Bayu terus tertawa.
Malam semakin larut, belantara yang awalnya beraroma dedaunan dan lumut kini berubah anyir oleh bau darah.
__ADS_1
Bersambung___