Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
39. Fadlan dan Wignyo


__ADS_3

Dua pemuda desa yang terletak di pinggiran hutan wilayah kecamatan K, pagi ini tampak berpakaian necis dan wangi. Pemuda pertama berambut kribo bernama Fadlan. Pemuda kedua terlihat lebih berumur dengan dahi yang lebar mengkilat bernama Wignyo.


Fadlan dan Wignyo merupakan dua orang pengangguran yang biasanya ditugasi untuk berbelanja dan mengantarkan bahan makanan ke rumah besar di tengah hutan. Meskipun mereka berdua terlihat urakan, namun pada dasarnya mereka adalah pemuda 'utun' atau polos yang bisa dipercaya.


Seperti pagi ini, mereka berboncengan menaiki sebuah motor bebek butut menuju ke kota kabupaten. Helm hitam dengan cat mengelupas dikenakan oleh Fadlan di atas rambut kribo nya yang mengembang. Sementara Wignyo duduk di jok belakang mengenakan helm yang penuh dengan tempelan tempelan stiker.


"Nyo, cek nya kamu bawa kan? Nanti jauh jauh sampek kota, ceknya ketinggalan di bawah kasurmu," Fadlan memulai percakapan. Suaranya terdengar sangat cempreng.


"Ini lho tak bawaaa," jawab Wignyo sambil menunjukkan sebuah kertas lusuh di tangan kanannya. 


Sebuah cek atas nama Zainul yang diterimakan pada Wignyo. Cek tersebut diberi tanggal hari ini. Jadi memang hanya bisa dicairkan pada hari ini. Sementara Fadlan beberapa hari yang lalu memang menerima pesan WA untuk mencairkan uang tersebut dan harus segera diantarkan ke rumah sang Rich Man.


"Berapa sih Nyo nominal uangnya?" Tanya Fadlan lagi.


"Wahh, nggak bisa ngitung aku. Nol nya itu lho buanyak banget. Bisa buat beli mobil BWM kayaknya," jawab Wignyo asal asalan.


"Be eM Weeee Nyooo, bukan BWM," sahut Fadlan jengkel.


"Orang kalau udah banyak duitnya suka aneh ya," ucap Fadlan lagi.


"Aneh gimana?"


"Aneh Nyooo. Buat rumah gedhe di tengah hutan. Terus, ambil uang dalam jumlah banyak dipasrahin ke orang lain. Untung yang dipasrahin ini orangnya amanah, coba kalau nggak. Bisa habis ludes kan," Fadlan bergumam, Wignyo hanya manggut manggut setuju.


"Kamu bawa tas kan Nyoo, buat tempat uangnya?" Fadlan kembali bertanya.


"Aman. Aku bawa karung," jawab Wignyo sambil menyingkap kaosnya. Ada karung yang dilipat dan dijepit di antara CD dan celana cut bray nya.

__ADS_1


"Kok karung sih Nyoooo. Kita kan bukan mau ambil rumput atau jerami," Fadlan mengeluh. Wignyo hanya nyengir, tak peduli.


Empat puluh lima menit perjalanan mereka berdua lewati. Akhirnya sampailah di sebuah bank dengan cat warna biru dominan. Fadlan melepas helm, yang membuat rambut kribo nya langsung mekar mengembang seperti adonan kue terkena fermipan.


Fadlan dan Wignyo masuk ke dalam bank, dan mengambil nomor antrean. Masih cukup sepi karena hari masih pagi. Hampir semua pegawai bank sudah hafal dengan sosok Fadlan dan Wignyo. Dua pemuda nyentrik yang selalu mencairkan cek dalam jumlah yang besar dalam beberapa bulan sekali.


Namun kali ini, uang yang mereka cairkan jumlahnya jauh lebih banyak dari biasanya. Beberapa tumpuk kertas berwarna merah yang mampu membuat mata menjadi hijau, berjejer di meja teller. Pegawai bank membantu memasukkan uang uang tersebut ke dalam kertas karton berwarna cokelat. Kemudian, dimasukkan lagi pada karung kumal yang telah dibawa Wignyo.


"Besok besok bawa tas lah Nyooo, masak pake karung. Nggak mbois lah," gerutu Fadlan.


"Halahhh, nggak mbois pun yang penting isinya ini lhoo," Wignyo menjawab bangga. Membanggakan uang yang bukan miliknya sendiri.


Setelah transaksi selesai Fadlan dan Wignyo segera kembali ke tempat parkir. Motor bututnya terlihat semakin kusam ketika sinar matahari menerpa body dan catnya yang memang sudah lawas.


Seperti saat berangkat tadi, Fadlan duduk di depan membonceng Wignyo. Memang Wignyo nggak bisa naik motor. Dia sulit menjaga keseimbangannya, sehingga kemana mana selalu minta dibonceng oleh sahabat karibnya si Fadlan.


"Ini uang banyak banget. Mau buat apa yo? Jangan jangan si rich man udah bangkrut?" Ujar Wignyo sambil memegang erat karung di tangannya.


"Nggak usah banyak tanya. Aku khawatir nih. Kalau tiba tiba ada begal gimana?" Fadlan terlihat cemas.


"Ya kita lawan. Sudah jadi resiko pekerjaan kita. Lagian aku kan sudah minta 'timbul' (semacam jimat) sama dukun. Biar nggak ada yang berani ngeganggu," jawab Wignyo percaya diri.


"Kamu masih percaya begituan? Kita ini generasi milenial lho Nyoooo," gerutu Fadlan.


"Generasi minisial mbel opo!" Wignyo mencibir.


Saat mereka berdua sibuk berdebat, dua buah sepeda motor terlihat membuntuti. Sepeda motor dengan suara knalpot nyaring. Masing masing motor ada dua orang yang berboncengan. Jadi, ada 4 orang yang saat ini mengekor di belakang Fadlan dan Wignyo.

__ADS_1


Hingga sampailah, di sebuah jalanan sepi di area persawahan. Dua motor yang tadi di belakang Fadlan mulai menambah kecepatan. Saat motor orang orang asing itu sejajar dengan Fadlan tiba tiba sebuah tendangan dihantamkan ke body motor butut Fadlan.


Fadlan kehilangan kesimbangan dan oleng. Hingga akhirnya Fadlan dan Wignyo terjatuh. Orang orang asing tadi, langsung ikut berhenti dan turun dari motornya. Mereka berempat mengepung Fadlan dan Wignyo yang masih terjungkal mencium tanah.


"Jimatmu ra manjur Nyooo. As*!" Fadlan mengumpat jengkel.


Wignyo sudah berdiri dan memasang kuda kuda. Wignyo memang pemuda polos, namun dia cukup jago beladiri. Maka dari itulah, dia dipercaya oleh sang rich man di antara banyak pemuda lain di desanya. Sementara Fadlan terlihat ketakutan.


"Kalian mau apa? Gelud? Ayok" Wignyo menantang tak gentar.


"Serahkan barang bawaan kalian!" Bentak salah satu orang yang memakai setelan pakaian serba hitam.


"Ini rongsokan pak, cuma rongsokan untuk kami jual," Fadlan mencoba berbohong.


Namun, ucapan Fadlan tidak menyurutkan niat orang orang asing itu untuk berbuat jahat. Mereka mendekat dan mengepung Wignyo yang sedari tadi sudah memasang kuda kudanya.


Dan pertarungan tak bisa dihindarkan. Awalnya Wignyo berhasil memukul mundur dua orang. Dia terlihat cekatan dan kuat dalam mengayunkan tinju dan tendangannya. Namun 4 lawan 1 tetaplah tidak seimbang. Wignyo harus menerima beberapa pukulan hingga jatuh tersungkur.


Saat Wignyo dihajar dan dikeroyok datanglah sebuah mobil berwarna biru tua. Dua orang turun dari mobil membawa pentungan berwarna hitam. Para begal yang sadar dan mengenali dua sosok yang turun dari mobil, segera berlari berhamburan. Mereka segera pergi dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi.


"Kalian tidak apa apa?" Tanya salah satu orang berkaos putih. Wajahnya tampan dan bersih, badannya tegap dan terlihat berwibawa.


Wignyo segera bangkit. Dengan wajah yang penuh luka dia tetap memasang kuda kuda. Wignyo tidak percaya begitu saja pada sosok penolongnya.


"Hei tenanglah. Kami berdua petugas kepolisian yang kebetulan sedang bertugas menyisir daerah sini. Nama saya Adi dan rekan saya ini, namanya Tarji," ucap sosok yang ternyata seorang petugas kepolisian itu, sambil memperkenalkan diri. Petugas kepolisian yang bernama Tarji terlihat menunjukkan kartu anggotanya.


"Syukurlah, kita selamat Nyooo," teriak Fadlan lega.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2