Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XLVI. Kenyataan Damar


__ADS_3

Berjalan dalam pekatnya kegelapan hutan tidaklah mudah. Meskipun akses jalan sudah diperlebar, namun tetap saja akar dari beberapa pohon besar yang menembus bebatuan dan tanah bisa sewaktu waktu menjadi sandungan.


"Duh, sial! Jempol kakiku sudah sepuluh kali ini kesandung!" keluh Tarji dengan suara lantang.


"Jaga mulutmu Ji. Ingat kita itu di tengah hutan. Ngomong yang baik baik saja, apalagi ini kan surup," bentak Adi mengingatkan.


"Jalanan pake longsor segala. Masih jauh nggak sih?" Tarji mengatur nafasnya yang ngos ngos an.


"Ya mungkin tinggal 2 kiloan lagi. Kamu jarang olahraga ya Ji? Gitu aja udah ngos ngosan," cibir Adi mengejek.


"Aku kan fokus kerja Di, sulit menyisihkan waktu untuk olahraga," Tarji beralasan.


"Halah mbelgedes. Pagi sebelum berangkat kerja kan bisa. Kita itu masih muda Ji. Olahraga itu kebutuhan, biar usia tua nanti badan masih bugar," Adi menasehati.


"Baik coach, siap," jawab Tarji sewot. Adi tertawa mendengarnya.


Guntur mulai terdengar, mungkin hujan akan turun sebentar lagi. Udara yang memang dari awal sudah dingin, kini semakin terasa beku. Tarji memasukkan tangannya ke saku jaket.


"Di, gimana kalau ternyata dugaanmu tentang Bayu salah?" tanya Tarji tiba tiba.


"Bagiku semua hal yang terjadi di dunia ini tidak ada istilah kebetulan Ji. Saat bidan Nurma mengalami kecelakaan, bagaimana mungkin Bayu secara ajaib yang menemukannya?" tanya Adi.


"Menurutmu, Bayu sampai melakukan hal sejahat itu Di? Bukankah bisa membahayakan karirnya sendiri?" Tarji bertanya mendebat. Sebenarnya Tarji pun memiliki kecurigaan seperti Adi, hanya saja sudut hatinya masih merasa tak yakin polisi Bayu bisa sejahat dan se kejam itu. Terlalu banyak yang dipertaruhkan.


"Yah ini hanya feeling ku Ji. Aku sendiri ingin menyangkalnya, namun hati kecilku selalu mengatakan untuk mengawasinya. Mungkin perjalanan kita kesini kali ini hanya untuk memuaskan ego ku. Dan aku berjanji padamu, jika di tempat ini nanti dugaanku meleset, maka aku takkan mengganggu Bayu lagi," janji Adi.


Tarji manggut manggut mengerti. Mungkin Tarji bisa meragukan dugaannya sendiri, namun dia tak tak pernah meragukan Adi. Tarji sudah sangat lama ber partner dengan Adi. Laki laki lurus, baik, dan memiliki jiwa keadilan yang tinggi. Bagi Tarji kelemahan Adi hanya satu. Terlalu mengikuti kata hatinya, kadang tindakannya jadi terasa terburu buru. Meskipun memang hal itu lah yang sering memberi petunjuk untuk pemecahan suatu kasus.

__ADS_1


"Kamu tahu Ji, selama beberapa bulan ini aku juga mulai mengoleksi buku buku karya Zainul Rich Man," ucap Adi sambil tetap mengarahkan lampu senternya ke jalanan.


"Hah? Yang katanya novel best seller itu?" Tarji bertanya, merasa heran rekan kerjanya itu masih ada waktu untuk membaca novel. Padahal setahu dia setiap hari Adi selalu membolak balik tumpukan berkas kasus yang masih abu abu di meja kerjanya.


"Ya, dan kamu tahu isinya? Kisah fiksi perencanaan kejahatan yang detail dan terasa nyata. Aku baru membaca sampai seri yang ke tiga, dan kupikir pantas saja novel novel itu laris di pasaran," ujar Adi bersungguh sungguh.


"Kapan kamu ada waktu untuk baca novel Di? Aku heran sama kamu. Sehari itu 24 jam. Sekitar 8 jam untuk kerja, kamu kadang malah 10 sampai 12 jam di kantor. Tidur kurang lebih 6 sampai 8 jam. Belum kalau ada tugas dadakan yang mengharuskan lembur. Terus waktumu untuk istirahat, seneng seneng tuh kapan Di?" Tarji geleng geleng kepala.


"Ya itu, istirahatku dengan membaca buku Zainul Rich Man. Mengobati rasa penasaran sekaligus mencari petunjuk siapa tahu ada pesan tersembunyi di tulisannya," jawab Adi enteng.


"Oh Sinta, kamu punya pacar workaholic banget. Kalau jadi istri Adi, bukankah kamu akan jarang dapat belaian?" Tarji mendongak, seolah olah bicara dengan langit.


"Mulutmu! Jodoh itu cerminan diri Ji. Kalau orang seperti aku, mungkin memang dapatnya jodoh ya yang bisa mengimbangi, mengerti, memahami aku. Sama sepertimu nanti jodohmu juga yang ngerti kalau suaminya itu kayak anak kecil. Main PS, tamiya, yoyo, ya kan?" Adi membalas. Tarji nyengir cengengesan.


"Kembali ke novel Zainul Ji. Menurutku novel genre seperti itu, dengan cara penulisan yang detail, bisa menginspirasi orang yang memang punya benih dendam atau kejahatan di hatinya. Entahlah, menulis itu memang bebas, menyalurkan ide dan ekspresi kita. Namun sebagai penulis, Zainul Rich Man punya tanggung jawab moral terhadap tulisannya. Dia seperti memberikan ide bagi orang orang yang membaca bukunya untuk membalas dendam," Adi menghela nafas.


"Ngomong ngomong, aku kepikiran soal Damar," Tarji mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya agak aneh memang. Kenapa Bayu mengambil partner seorang petugas yang baru di skors kan?" Adi manggut manggut.


"He em. Damar petugas forensik yang tiba tiba saja kehilangan kendali saat melaksanakan tugas," sahut Tarji.


Adi dan Tarji termenung, melamun. Mereka teringat kasus itu. Damar adalah petugas forensik yang bertugas melakukan pemeriksaan jenasah sopir mobil travel yang membawa rombongan lansia berwisata ke pantai.


Mobil travel mengalami kecelakaan dan tidak ada seorang pun yang selamat. Termasuk seorang kakek berusia 70 tahun, yang merupakan kakek Damar. Pria tua bernama Mujio, satu satunya keluarga yang dimiliki Damar.


Saat pemeriksaan jenasah sang sopir travel, Damar menemukan fakta bahwa sopir mengemudi dalam keadaan mabuk. Damar kehilangan kontrol dirinya dan melakukan hal yang di luar batas. Dia mengacak acak jenasah sang sopir, hingga akhirnya di skors dari satuan tugasnya selama ber bulan bulan.

__ADS_1


Kini Damar kembali bertugas, dan langsung ikut menangani kasus bersama polisi senior terbaik, Bayu Khairil. Bayu sendiri yang memilih Damar untuk ikut bersamanya. Sebuah fakta yang membuat tengkuk Tarji terasa dingin.


Lamunan Adi buyar seketika, saat sorot lampu senternya mengenai sosok wanita yang tergeletak di tengah jalan. Sosok yang sudah tak bergerak, dengan wajah membiru.


"Ji!" teriak Adi pada Tarji yang berjalan agak jauh di belakangnya.


Adi segera berjongkok memeriksa sosok wanita itu. Sudah tak bernafas. Adi menemukan dompet di saku celana mayat wanita tersebut.


"Namanya Vita. Penyebab kematian kehabisan nafas, karena tekanan di leher," ujar Adi, mengarahkan senternya pada leher mayat Vita.


"Sialan! Sepertinya kali ini dugaanmu benar lagi Di! Kenapa sih feeling burukmu itu selalu tepat? Brengsek! Macam dukun saja kamu ini Di. Duh mana lagi senjataku," Tarji menggerutu, memeriksa senjata di saku celananya.


"Kita harus bergegas Ji. Aku khawatir, korban sudah berjatuhan di rumah baru itu!" Adi segera berdiri dan berlari.


"Ah tungguin dong. Gelap gelap kayak gini ngajakin lari, dasar gemblung!" Tarji berteriak jengkel. Namun, dia tak ada pilihan lain. Ikut berlari, mengekor rekan kerjanya itu.


Bersambung___


Disclaimer : Kisah ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh, sifat, tempat dan kejadian hanyalah kebetulan semata. Tidak ada unsur kesengajaan.



Yuk gaes baca KOBENG.


Saat ini sudah sampai di bab 8.


Karena KOBENG ikut event lomba menulis horor, saya mengharapkan dukungan dari teman teman semua. Segera berkunjung ke Kobeng. Klik like, dan favorit.

__ADS_1


__ADS_2