
Dinginnya udara pagi di tengah hutan memang serasa menusuk tulang, menyayat kulit. Namun sensasi sesak dan menggigil yang dirasakan oleh orang orang yang berada di rumah baru Anggun lebih disebabkan karena persona polisi Bayu yang begitu mengintimidasi.
Bayu mengedarkan pandangan pada semua orang yang ada di hadapannya. Bagi Bayu mereka semua adalah tersangka yang menyimpan hati busuk meski mencoba memakai pewangi di luarnya.
"Saya lanjutkan pertanyaannya," ucap Bayu menghela nafas.
"Jadi, siapa sebenarnya yang memberi ide menghidangkan ayam lodho kesukaan Erfan? Seandainya bukan ayam lodho menunya, misal saja berupa soto, tak mungkin Erfan makan tanpa sendok kan?" Bayu mengarahkan pandangannya pada Mak Surti Sang pembantu. Mak Surti langsung gelagapan, rasa takut membuatnya terdiam sesaat.
"Anu Pak polisi, soal menu masakan sudah menjadi kebiasaan di keluarga ini apa yang harus saya masak itu biasanya itu anu Pak, biasanya itu ditulis di kertas ditempel di pintu kulkas Pak polisi," Mak Surti menjawab dengan gugup. Bayu mengernyitkan dahi, mencerna penjelasan Mak Surti yang sedikit bertele tele.
"Berarti, Emak nggak tahu siapa yang meminta Emak untuk memasak ayam lodho?" Bayu kembali bertanya pada Mak Surti.
"Tidak tahu pak polisi," jawab Mak Surti sambil menggeleng cepat.
"Ibu Anggun, sebagai tuan rumah mungkinkah anda yang menulis menu ayam lodho yang dimasak Mak Surti?" Kini Bayu beralih pada Anggun.
"Aku tak ada permintaan khusus kemarin. Karena aku juga sibuk bersama dengan teman temanku berkeliling di sungai," jawab Anggun pelan.
"Hmmm, menarik. Jadi, siapapun bisa menuliskan permintaan menu makanan. Siapapun yang tahu kebiasaan dari keluarga Ibu Anggun," Bayu manggut manggut.
"Apakah tulisan menu yang harus Emak masak itu masih ada? Kita bisa mengidentifikasi siapa yang menulisnya bukan," Bayu kembali menatap Mak Surti.
"Maaf Pak Polisi, setiap petang sampah sampah saya yang bakar. Termasuk tulisan tulisan menu itu," Pak Nyoto menyela. Laki laki tua itu terlihat menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang berusaha dia tutupi.
"Benarkah?" Bayu memperhatikan gelagat Pak Nyoto.
"Be- benar Pak polisi," Pak Nyoto menyahut cepat. Bulir bulir keringat mulai menetes di keningnya.
"Oke," Bayu tersenyum masam.
__ADS_1
"Kita beralih ke pertanyaan berikutnya," Bayu kembali menghela nafas.
"Berdasar keterangan dari Tuan Erwin yang sempat aku tanyai tadi malam, katanya hampir semua orang yang mengenal Erfan kurang menyukai perangainya. Hanya ada 4 orang yang sama sekali tidak mengenal Erfan yaitu Bu Rofida dan Vivi, serta Pak Nyoto dan Mak Surti. Benar begitu Pak Nyoto, Mak Surti?" Bayu membenarkan posisi duduknya. Pak Nyoto dan Mak Surti kompak mengangguk.
"Lalu, Bu Rofida dan Vivi, benar tidak mengenal Tuan Erfan?" Bayu beralih bertanya pada mertua dan adik ipar Anggun itu.
"Benar Pak," jawab Bu Rofida cepat. Namun Vivi diam saja. Gadis itu nampak menunduk dengan kaki yang terus bergerak menghentak ke lantai. Terlihat jelas Vivi tengah gusar dan gundah.
"Nona Vivi? Lihat mata saya, dan jawab dengan jujur. Benarkah Nona tidak mengenal Tuan Erfan sama sekali?" Bayu bertanya penuh penekanan dengan tatapan tajam ke arah adik dari Ferry Lawanto itu.
"Vivi? Jawab dong, kamu kenapa sih?" Bu Rofida bertanya keheranan.
"Aku. . .aku sebenarnya sempat kenal dengan Erfan," ucap Vivi setelah menarik nafas panjang.
Semua orang menoleh pada Vivi. Timbul tanya dalam benak masing masing. Kok bisa? Kenal dimana? Sedangkan Ferry Lawanto terlihat sangat tidak suka dengan keterangan dari adiknya itu. Bayu tersenyum puas.
"Vivi? Kamu belum pernah cerita ke Ibuk soal ini!" Bu Rofida melotot kesal.
"Ya karena nggak penting juga Buukk," Vivi merengek.
"Aku pernah ikut kelas foto foto, terus salah satu mentornya itu ya Kak Erfan yang mati keracunan itu," jelas Vivi.
"Tolong jawab dengan detail Nona Vivi. Anda tidak mau kan saya curigai? Katakan sejujurnya pada kami," Bayu mendesak. Dia tahu, apa yang disampaikan Vivi hanya permukaannya saja.
"Oke, fine. Jadi, aku pernah suka pada Erfan. Aku nge fans sama dia. Lebih tua lebih dewasa, terlihat berpengalaman," ucap Vivi, tangannya sibuk mer*mas ujung kaosnya sendiri.
"Terus?" Bayu tidak memberi waktu Vivi untuk mengambil jeda dalam bercerita.
"Aku memberinya cokelat, mentraktirnya. Bahkan aku pernah meminta uang sama Mas Ferry dengan alasan untuk biaya belajarku. Uang itu sebenarnya kugunakan untuk membelikan Erfan kamera baru. Namun, setelah semua yang kuberikan, setelah aku bucin dan mengejar ngejarnya, dia menolakku. Katanya aku dan dia lebih cocok sebagai adik kakak an saja. Tapi aku dengar di belakangku, dia mengejekku, mengatakan bahwa aku tidak cantik untuk dirinya yang sempurna. Dia adalah laki laki sampah!" Wajah Vivi memerah menahan amarah. Tak pernah dia sangka menceritakan hal memalukan dan melukai harga dirinya sendiri di hadapan banyak orang.
__ADS_1
"Anda mendendam?" Bayu menyipitkan bola matanya.
"Tentu. Terus terang saja dalam hati kecil, aku senang laki laki itu mati. Tapi aku berani bersumpah bukan aku yang memberinya racun. Lagipula aku juga nggak tahu kalau dia bakal datang ke rumah ini. Aku nggak tahu, kalau ternyata laki laki itu begitu tergila gila dengan kakak iparku yang sakit sakitan," jawab Vivi ketus.
"Tutup mulut lancangmu itu Vivi!" Bentak Ferry tiba tiba.
"Ah sudahlah Mas, jangan terlalu kamu manjakan itu Mbak Anggun. Aku heran kenapa semua orang begitu tertarik dengan istrimu, jangan jangan sebenarnya di luar sana istrimu itu suka tebar pesona dan bermain api Mas!" Bantah Vivi sambil melotot. Tak mau kalah garang dari kakak laki lakinya.
"Kurang ajar!" Ferry benar benar marah, tangannya terkepal erat.
"Sudah cukup Nduk, Le! Kalian itu bersaudara, jangan bertengkar di hadapan banyak orang seperti ini, memalukan," Bu Rofida terlihat menahan tangis.
"Sudah Mas, sabar," ucap Anggun sembari menggenggam erat tangan Ferry. Dia menciumi punggung tangan suaminya itu. Ferry akhirnya melunak, hatinya luluh di hadapan Anggun.
"Wahh, menarik," Bayu tiba tiba saja bertepuk tangan. Semua orang menoleh pada Bayu.
"Setiap orang sepertinya menyimpan rahasia. Bisa saja di antara semua yang ada disini telah berdusta. Tapi untuk sementara, berdasar bukti dan keterangan anda semua sebagai saksi, kematian Erfan besar kemungkinan bunuh diri. Karena racun hanya menempel di kedua telapak tangannya, tidak ada di tempat lain," Bayu tersenyum.
"Hah? Untuk apa anda menanyai kami jika kesimpulan anda seperti itu pak polisi?" Vita berdiri memprotes.
"Aku mencari motif, aku perlu mendengar semua hal tentang korban berdasar sudut pandang anda semua. Lagipula, ini hanya kesimpulan sementara, kesimpulan awal. Bisa jadi nanti akan berubah, saudara Vita atau yang lainnya bisa sewaktu waktu menjadi tersangka. Apalagi ada dua orang yang hilang dan belum kembali hingga saat ini. Nona Andewi dan Tuan Ali. Mungkin juga mereka ada hubungannya, bisa jadi bukan?" Bayu terkekeh.
"Untuk saat ini proses pemeriksaan selesai, para laki laki dimohon untuk membantu memindahkan jasat Erfan dari ruang makan," lanjut Bayu.
"Mungkin bisa kita pindahkan ke rumah sebelah. Toh Erwin, Pak Nyoto dan Mak Surti juga tinggal di rumah ini," Ferry memberi saran.
"Ide bagus. Berlama lama satu rumah bersama mayat, juga tidak bagus untuk kondisi mental," Bayu menimpali, sebuah seringai sekilas nampak di antara barisan giginya yang putih.
Bersambung___
__ADS_1