
Asap hitam pekat membumbung tinggi. Langit yang berwarna abu abu kehitaman, terlihat semakin kelam. Si jago merah begitu dahsyat, membakar dan menghanguskan seluruh bagian rumah tepi sungai.
Adzan maghrib berkumandang, warga desa yang hendak pergi ke mushola dibuat kaget dengan penampakan gumpalan asap dari tengah hutan. Area tempat tinggal Sang Rich Man. Di antara para warga tersebut ada dua orang bapak bapak yang terlihat panik dan khawatir. Mereka adalah orangtua Wignyo dan Fadlan. Mereka ingat, anaknya sedari pagi pergi ke rumah sang Rich Man namun hingga kini belum juga kembali.
"Selesai sholat berjamaah, kita segera pergi ke rumah Tuan Zainul," ucap Pak Kasun memberi perintah. Semua warga kompak setuju.
Sekitar pukul setengah 7 malam, bapak bapak yang tinggal di dusun paling dekat dengan area hutan sudah berkumpul di lapangan. Mereka nampak khawatir dan tegang. Seumur hidup baru kali ini terjadi kasus kebakaran. Hutan tempat tinggal mereka memang tipe hutan hijau yang teduh dan lembab. Bahkan di musim kemarau pun aliran air tetap deras dan udara selalu sejuk nan dingin.
"Mustahil kalau terjadi kebakaran hutan tanpa disengaja. Ini musim penghujan lhoh, area tengah hutan lembab banget," ujar salah satu warga.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu di rumah Tuan Zainul? Tamu yang beberapa hari lalu berkunjung tidak juga pulang. Jangan jangan mereka itu komplotan penjahat yang mau merebut harta Tuan Zainul," Warga yang lain menimpali.
"Benar juga. Kita harus menyelamatkan Tuan Zainul. Beliau itu berjasa besar pada desa kita. Iya nggak Bapak bapak?" Teriak warga yang lain.
"Benar bapak bapak. Prioritas kita adalah menolong Tuan Zainul," ucap Pak Kasun menengahi.
"Pak Kasun, jangan jangan orang yang kita bawa ke polindes tadi pagi termasuk komplotan yang hendak mencelakai Tuan Zainul?" Seorang bapak berperut buncit bertanya.
"Jangan suuzon. Menyimpulkan sebuah hal buruk tanpa bukti itu namanya pitnah Pak. Pitnah lebih kejam daripada tidak mem pitnah!" Bapak bapak berkumis lebat menimpali.
"Sudah sudah, tenang. Yang jelas, laki laki yang terluka tadi dalam penanganan bidan, Dik Nurma. Tadi saya juga sudah pesan untuk segera telpon polisi," Pak Kasun menenangkan.
"Terus sekarang bagaimana Pak?" Bapak berkumis lebat bertanya kembali.
"Saya sudah telpon damkar. Tapi karena desa kita cukup terpencil butuh 45 menit untuk sampai sini. Lagipula mobil pemadam pun nggak bisa masuk hutan," Pak Kasun menghela nafas.
"Mbah lurah kemana Pak?" Tanya warga yang lain.
"Mbah Lurah kebetulan lagi nengok putrinya di kota sebelah. Katanya lagi sakit kena DBD," Pak Kasun nampak berpikir.
__ADS_1
"Kita nggak bisa menunggu DAMKAR tanpa bertindak. Melihat asap yang setebal itu, saya khawatir kebakaran meluas. Kalau seluruh hutan terbakar kita bakalan repot. Mata pencaharian kita kan dari hasil hutan," Pak Kasun gelisah.
"Terus gimana piye pak?"
"Kita semua pergi ke hutan, bawa jerigen, ember atau tempat air yang besar pokoknya. Nanti kita ambil air di sungai kita sirami dan padamkan apinya," Pak Kasun mengambil keputusan.
"Untuk para istri bapak bapak harus diingatkan, untuk di rumah saja dan mengunci pintu. Bagaimana?" Pak Kasun bertanya.
"Siap Pak!" Jawab warga serempak.
"Sekarang bubar, sepuluh menit lagi kita berangkat ke rumah Tuan Zainul!" Teriak Pak Kasun.
* * *
Warga berbondong bondong menuju ke hutan. Setiap orang berbekal satu buah senter untuk penerangan. Jika dilihat dari atas, nampak lampu senter kerlap kerlip berjejer di antara suasana gelap dan lebatnya pepohonan di malam hari.
"Pak Kasun, ada seseorang pak!" Teriak salah satu warga di barisan paling depan.
"Astagaaa!" Pekik Pak Kasun terkejut.
Fadlan dan Wignyo bersimbah darah dan diikat pada batang pohon sengon menggunakan tali dari bambu. Orangtua Fadlan dan Wignyo yang ikut dalam rombongan langsung berlari menubruk dan menggoncang goncangkan bahu putranya yang sudah menjadi mayat.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi disini Pak?" Salah seorang warga nampak ketakutan. Pemandangan mengerikan yang dilihatnya memang di luar perkiraan.
"Semua tetap tenang. Jangan panik," Teriak Pak Kasun mencoba menenangkan warga yang terlanjur heboh. Dalam hati, Pak Kasun pun ketakutan karena tidak tahu apa yang hendak mereka hadapi.
"Jumlah kita banyak. Jangan panik! Tetap bersatu, kita lanjutkan perjalanan ke rumah Tuan Zainul," perintah Pak Kasun.
"Bagaimana dengan Fadlan dan Wignyo Pak?" Tanya bapak bapak berkepala plontos.
__ADS_1
"Empat orang tinggal disini. Temani Bapaknya Wignyo dan Fadlan. Lepaskan jenasah dari ikatan, bersihkan dan tandu ke desa. Sampai desa, segera telpon polisi. Kalau perlu ada yang langsung ke polsek!" Perintah Pak Kasun.
Semua orang sekali lagi setuju dan menurut pada Pak Kasun. Mereka kembali meneruskan perjalanan. Pak Kasun kali ini berada di barisan paling depan. Ada sedikit kekhawatiran dan ketakutan di hatinya. Namun, dia sadar betul warga butuh seorang pemimpin kali ini.
Sementara itu, di depan Rumah Tepi Sungai yang terbakar hebat, sosok Hendra berdiri memandangi kobaran api. Dia menggenggam erat buku bersampul merah. Dia mendekapnya, seolah kumpulan kertas itu adalah benda paling berharga.
"Zainul, asap ini pasti sampai ke tempatmu di atas sana. Kamu pasti bangga bukan? Kamu puas dan bahagia bukan?" Hendra bergumam sendiri. Beberapa butir air mata menetes, membasahi pipinya.
Hendra mengambil kacamata yang ada di saku kaosnya yang penuh noda darah. Dia memakai kacamata, kemudian duduk bersila di tanah lapang depan pagar rumah.
Udara malam yang seharusnya dingin, kali ini terasa hangat menyengat. Hendra melamun, teringat kenangan dulu saat dirinya ikut ekskul pramuka di sekolah. Menyalakan api unggun di malam hari.
Hendra teringat, masa dimana dia bersama Zainul menikmati kegiatan jelajah malam. Dua siswa yang pada dasarnya sama sama penakut, tapi bisa melewati tantangan karena saling membantu. Hendra semakin kencang menangis kali ini. Tanpa dia sadari, sepasang kaki berjalan pelan di belakangnya.
"Setiap manusia sebenarnya memiliki sifat baik dan buruk. Dan setiap manusia diberi pilihan untuk memilih sisi yang mana. Sisi baik atau sisi yang buruk. Mereka yang telah kau habisi, pada masa itu memilih berada di sisi buruk. Dan inilah ganjarannya," ucap sosok di belakang Hendra.
Hendra dengan cepat menoleh.
"Bayu?" Hendra tersentak kaget, mendapati petugas kepolisian itu berdiri di belakangnya.
"Sebaiknya kamu berdiri dengan tangan di belakang kepala Hendra, atau kupanggil saja Tuan Zainul palsu?" Bayu tersenyum sembari menodongkan pistol kecilnya ke arah Hendra.
"Tujuanku sudah tercapai. Tangkap dan bawa aku. Aku tidak peduli dengan hukuman apa yang menantiku," ucap Hendra tersenyum.
"Kenapa aku harus menangkapmu?" Bayu nampak mengejek.
"Bukankah itu tugasmu dalam kisah ini?" Hendra menatap Bayu penuh tanya.
"Ha ha ha. . .kamu salah Hendra Asmara," Bayu menyeringai. Giginya yang putih berderet rapi terlihat menakutkan terkena sorotan warna merah kekuningan dari si jago merah.
__ADS_1
Bersambung___