Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXXI. Kecantikan Medusa


__ADS_3

Sinar matahari mulai terasa terik menyengat. Rindangnya pepohonan nyatanya tak sanggup membendung kehangatan dari pusatnya tata surya. Dedaunan hijau hanya bisa pasrah menikmati guyuran ultraviolet yang dibutuhkan untuk ber fotosintesis.


Genangan genangan air, di beberapa cekungan tanah akibat gerimis tadi malam pun mulai mengering. Beberapa biawak nampak berjemur di atas bebatuan sungai. Hewan reptil itu benar benar memanfaatkan sinar matahari yang sangat jarang menembus celah hutan.


Begitupun Erwin. Dia mungkin meniru tingkah biawak. Duduk selonjoran di atas batuan sungai. Matahari menerpa rambut gondrongnya sehingga nampak berkilauan. Erwin memejamkan mata, merasakan pipinya yang nyeri dan berdenyut akibat tamparan keras dari Ferry Lawanto, orang yang sangat dia hormati.


Tanpa Erwin sadari, ada seseorang yang berjalan mengendap endap di belakangnya. Telapak kakinya yang kecil nyaris tak terdengar saat melompati bebatuan sungai.


"Hiyaaaaa," Inge mendekap Erwin dari belakang. Kedatangannya yang tiba tiba membuat tubuh Erwin terlonjak karena kaget.


"Duh, bisa nggak sih nggak ngagetin," protes Erwin, namun bibirnya nampak tersenyum.


Inge memperhatikan wajah laki laki yang ada di dekapannya itu. Wajah tampan dengan kulit putih dan halus, namun harus ternoda oleh semburat keunguan di sudut bibirnya. Ada bekas darah yang sudah mengering, juga bengkak yang cukup terlihat mencolok di mata Inge.


"Kamu kenapa? Siapa yang jahatin kamu?" Inge bertanya. Ada kekhawatiran juga amarah yang tertahan di hatinya.


"Aku nggak pa pa kok," jawab Erwin singkat. Dia mengalihkan pandangan dari Inge.


"Lihat aku Win. Ceritakan padaku ada apa sebenarnya!" Inge meraih dagu kekasih barunya itu, menatapnya dalam dalam.


Erwin masih diam. Dia hanya menghela nafas. Dia sangat ingin bercerita, tapi masih ada keraguan di hatinya. Bukankah menceritakan perlakuan kasar Ferry sama halnya dengan membuka aib keluarga yang dihormatinya? Apalagi bercerita kepada orang yang baru saja dikenalnya kemarin siang.


"Hei, kamu menganggap aku apa Win? Jika kamu menghendaki hubungan kita berjalan lancar dan bertahan lama, seharusnya kita berbagi setiap hal, baik itu senang ataupun susah," Inge terlihat kesal.


"Oke, aku akan cerita. Aku hanya bingung, karena semua yang terjadi bisa dikatakan sebagai aib dari keluargaku," ucap Erwin mengalah. Dia diam sejenak dan menghela nafas panjang.


"Aku baru saja ditampar oleh Mas Ferry," lanjut Erwin sambil mendongak menatap langit.

__ADS_1


"Hah? Kenapa?" Inge terperanjat, dia benar benar kaget.


"Aku adalah keponakan Mas Ferry, yang diadopsi oleh Ibuk . . . emm, Bu Rofida maksudku. Sekolahku, kuliahku, biaya hidupku Mas Ferry lah yang mencukupinya. Aku sangat menghormati Mas Ferry. Aku ingin sekali bisa membalas budi. Mungkin caraku yang salah. Tanpa diminta oleh Mas Ferry aku berusaha mengawasi dan menjaga Mbak Anggun, karena setahuku Mbak Anggun adalah perempuan yang benar benar disayang oleh Mas Ferry. Sepanjang hidupku aku tak pernah melihat Mas Ferry memiliki kekasih, hanya Mbak Anggun satu satunya perempuan yang hadir dan akhirnya menetap di keluarga ini," Erwin kembali menghela nafas panjang.


"Jadi, kamu ditampar karena memata matai Anggun?" Tanya Inge sekali lagi.


"Yah bisa dikatakan begitu. Tapi jujur saja kini ada yang mengganjal di hatiku," Erwin menopang dagu.


"Apa itu?" Inge memandangi hidung mancung Erwin, terlihat menggemaskan.


"Tadi aku sempat berdebat dengan Mbak Anggun. Sepintas dia mengatakan hidupnya dengan Mas Ferry kurang bahagia. Kamu yang temannya Mbak Anggun pasti tahu, mungkin dia pernah cerita sesuatu padamu?" Erwin balik bertanya.


"Setahuku Anggun adalah tipe orang yang sangat setia. Dia adalah putri kampus, perempuan tercantik, anggun sesuai namanya. Sayang dia sakit sakitan, fisiknya lemah. Mungkin memang disitulah Tuhan memberikan keadilan pada ciptaan Nya. Karena memang tak ada yang sempurna di dunia ini," ujar Inge, dia meniru cara duduk Erwin sambil menopang dagu.


"Banyak laki laki yang mendambakannya, namun saat dia sudah memilih Ferry dia benar benar bertanggungjawab atas pilihannya. Sayangnya setelah itu Anggun menjadi pemurung, dan kesehatannya pun ikut memburuk. Dia nggak pernah mau cerita apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahannya. Terakhir kali dia menyinggung soal Ferry adalah beberapa hari setelah wisuda program S2 nya. Anggun mengatakan setelah selesai kuliah, dia ingin segera memiliki momongan namun suaminya jarang pulang ke rumah. Hanya sekali itu saja Anggun mengeluh padaku," kenang Inge. Erwin diam memperhatikan.


"Ya iyalah ribet. Menyatukan dua kepala dalam satu tujuan itu pasti sulit. Apalagi manusia itu memiliki ego. Jika tidak ada yang mengalah dan hanya menuruti ego masing masing tak mungkin bisa jadi sebuah keluarga harmonis," seloroh Inge.


"Berumah tangga itu hanya bisa dipelajari ketika sudah menjalani," lanjut Inge dengan wajah serius. Erwin manggut manggut setuju.


Erwin yang sebelumnya larut dalam percakapan tiba tiba saja teringat kembali dengan kondisi Ali Sabet yang telah menjadi mayat. Mimik wajah Erwin seketika berubah pucat.


"Nge, ada satu lagi yang perlu kamu tahu," ucap Erwin kemudian.


"Ada apa lagi?" Tanya Inge cepat.


"Tapi sebelumnya berjanjilah untuk tidak panik. Apapun yang kamu dengar dariku kamu harus tetap tenang. Mengerti?" tanya Erwin memastikan. Inge mengangguk meyakinkan.

__ADS_1


"Ali ditemukan mati tergantung di kamarku," bisik Erwin lirih.


"Hah? Bagaimana mungkin?" Inge terlonjak kaget.


"Pagi tadi saat para laki laki memindahkan mayat Erfan, aku berniat mengambil buku buku koleksi di dalam kamar. Dan tanpa sengaja aku menemukan mayat Ali yang tergantung dengan leher patah," jelas Erwin.


"Kenapa ini semua semakin mengerikan?" gumam Inge dengan ekspresi penuh kekhawatiran.


"Lalu, apakah kamu menemukan Andewi?" tanya Inge gusar. Dia mulai mengkhawatirkan keselamatan Andewi.


"Tidak. Hanya Ali yang ada disana. Semua kengerian ini membuatku merasa gila. Aku jadi bingung, tak tahu lagi harus percaya pada siapa," Erwin mengacak acak rambutnya sendiri dengan sedikit kasar.


"Kamu bisa mempercayaiku Win. Aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan pernah meninggalkan ataupun mengkhianatimu," Inge menatap Erwin dalam dalam.


Bola mata yang bulat begitu jernih yang membuat Erwin merasa seakan tersihir. Erwin tak mampu berpaling, setiap inci wajah Inge tak luput dari pengamatannya. Ada beberapa tahi lalat kecil di pipi Inge, membuatnya terlihat semakin manis. Inge memang tidak lebih cantik dari Anggun, tapi dia memiliki daya tarik yang berbeda. Wajah Inge bagaikan candu. Semakin dilihat, semakin Erwin tak bisa berpaling.


Inge tersenyum sekilas, kemudian memeluk Erwin. Dekapan yang mampu meluruhkan segala gundah dan pikiran pikiran suntuk yang sedari tadi berputar putar di kepala Erwin.


"Terimakasih," ucap Erwin lirih, masih dalam dekapan Inge. Aroma wangi yang memabukkan terendus oleh indera penciuman Erwin. Seperti feromon, yang membuat jantungnya berdebar dan berpacu lebih cepat.


"Untuk apa?" Tanya Inge.


"Kamu hadir disaat yang tepat. Kamu ada saat aku butuh seseorang yang mau mendengarkanku," Erwin melepas pelukan Inge.


Dua orang yang duduk di atas batu sungai itu masih saling berpandangan dalam diam. Erwin mendekatkan wajahnya. Inge pun melakukan hal yang sama, dengan sedikit mendongak Inge memejamkan mata. Pada akhirnya, di bawah terik matahari dua insan yang sedang dimabuk asmara itu saling memagut.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2