
Andewi masih melihat lihat isi karung lusuh yang ada di genggamannya. Seulas senyum sekali lagi tersungging di bibirnya yang berwarna ungu karena kedinginan.
"Aku kaya. Terimakasih Zainul Rich Man," Andewi mengecup buku merah maroon di tangannya.
Dalam keadaan senang hatinya, Andewi teringat kembali dengan kisah hidupnya. Bagaimana awalnya dia adalah seorang anak pengusaha kaya raya, bagaikan Tuan Puteri yang tinggal di istana.
Namun sayang, di usia Andewi yang menginjak 25 tahun kala itu, sang ayah menghianati keluarganya. Memang benar, godaan laki laki sukses adalah seorang perempuan. Dan ayah Andewi tidak berhasil melawan godaan dan hasrat di hatinya.
Selepas perpisahan ayah dan bundanya, kehidupan Andewi mengalami keterpurukan. Ekonomi sulit, usaha usaha yang dijalankan gagal, dan berakhir pada hutang yang menumpuk tak sanggup terbayarkan. Andewi tak mungkin merengek pada ayahnya. Sebaliknya dia ingin membuat ayahnya membuka mata bahwa dia dan bundanya bisa hidup sukses meski tanpa bantuan laki laki yang doyan berpesta itu.
Dalam keadaan benar benar terpuruk, beberapa bulan lalu Andewi mendapat sebuah paket tanpa nama dan alamat pengirim. Sebuah kotak kardus yang berisi buku bersampul merah maroon. Buku lusuh dan kumal, yang awalnya hendak dia abaikan. Namun saat dia melihat nama pengarang yang tercetak tebal di bagian atas, Andewi merasa buku itu berharga.
Buku karya Zainul Rikhman atau Zainul Rich Man. Penulis kaya raya, tersohor, namun menghilang tak tahu dimana rimbanya. Dan kabarnya, Zainul Rich Man menghilang bersama dengan sebagian uang tabungannya.
Andewi membuka buku aneh itu. Dia tidak terlalu menghayati cerita di dalamnya, karena pada dasarnya Andewi tak begitu suka kisah kisah fiksi. Hingga akhirnya dia menemukan sebuah tulisan aneh yang tertulis dengan tinta yang sebagian memudar di lembar terakhir buku.
Tulisan tangan yang menjadi petunjuk, yang akhirnya saat ini mengantarkan Andewi pada sebuah karung berisi uang dalam jumlah besar. Andewi kembali mengikat karung berisi uang tersebut.
"Jadi, siapa yang selama ini tinggal di dalam goa seperti ini?" Gumam Andewi sendirian. Suaranya lirih, namun terdengar menggema.
Ada sedikit perasaan takut, saat Andewi untuk kesekian kalinya mengedarkan pandangan pada dinding dinding goa. Siapapun yang tinggal di tempat seperti itu pastilah orang yang tidak waras.
Menyadari bahwa bisa saja sang penghuni goa kembali sewaktu waktu, Andewi bergegas memanggul karung lusuh dan berjalan keluar goa. Sama halnya saat dia masuk, saat keluar pun Andewi harus terguyur oleh dingin dan derasnya air terjun.
__ADS_1
Dengan sekujur tubuh basah kuyup dan menggigil kedinginan, Andewi berjalan sempoyongan. Dia melangkah kembali ke arah rumah baru Anggun. Namun, detik berikutnya dia berhenti dan termenung di tengah jalan.
"Aku harus menyembunyikan uang ini dulu. Kalau teman teman lain tahu aku menemukan uang sebanyak ini, bisa saja mereka meminta bagian," gumam Andewi manggut manggut.
Andewi mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di sebelah kiri tempat Andewi berdiri di antara semak belukar, dia melihat sebuah pohon pucung besar menjulang tinggi. Andewi segera melompat ke semak semak. Dia menurunkan karung dari pundaknya.
Sedikit tergesa gesa, Andewi meletakkan karung berisi uang tersebut di pangkal batang pohon pucung. Kemudian dia mencari dahan dan dedaunan kering, digunakan untuk menimbun karung agar tak terlihat.
"Fuuhhh, kurasa ini sudah cukup," Andewi mengusap peluh di keningnya. Udara malam memang begitu dingin, namun aktivitas fisik yang terburu buru nyatanya mampu membuat keringat mengucur dari pori pori kulit.
Andewi keluar dari semak semak, dia kembali ke jalan setapak menuju rumah Anggun. Tanpa Andewi sadari, tengah malam telah terlewati. Dia berjalan santai, sembari memikirkan alasan apa yang sebaiknya dia sampaikan pada teman temannya saat kembali ke rumah nanti. Pasti banyak pertanyaan, apalagi dari Vita. Perempuan berambut pendek itu memiliki insting yang lebih tajam dari seekor harimau.
Saat Andewi melamun, memikirkan alasan yang tepat kenapa dia keluar rumah di tengah malam, tiba tiba terdengar suara langkah kaki di depannya. Langkah kaki yang diseret, namun terdengar mendekat dengan cepat.
Sraakk sraakk sraakkk
Lagi, suara langkah kaki menginjak dedaunan kering. Namun kali ini dari arah belakang. Dengan sigap Andewi berbalik badan, mengarahkan senternya pada rimbunnya tanaman perdu.
Tidak ada apapun. Hanya tiupan angin malam yang berhembus, menyentuh tengkuk Andewi. Leher bagian belakang perempuan cantik itu langsung membesar. Bulu bulu halusnya berdiri, alarm waspada di tubuhnya telah aktif.
"Sialan," Andewi mengumpat tertahan.
Rasa takut mulai menyebar di hati Andewi. Siapapun juga akan merasakan ketakutan yang sama saat menyadari kalau dirinya saat ini berada di tengah hutan belantara sendirian. Bisa saja hewan buas, atau mungkin anjing liar menyerang dengan tiba tiba.
__ADS_1
Andewi kali ini memutuskan untuk mempercepat langkah. Meskipun dia saat ini belum menemukan alasan yang tepat kenapa keluar rumah di tengah malam, namun dia sudah tak terlalu peduli. Uang hasil temuan sudah di tangan, keselamatan diri menjadi prioritas saat ini.
"Persetan dengan pertanyaan Vita nanti. Yang penting aku harus kembali ke rumah dengan selamat. Percuma punya uang banyak, kalau aku mati ketakutan di tempat ini," ucap Andewi, kali ini dia berlari.
Berjalan di jalan setapak dengan kondisi gelap sudah sangat sulit. Apalagi kini Andewi mencoba berlari. Sesekali kakinya terantuk kerikil dan batu. Mungkin jempolnya sudah luka atau bahkan sobek. Rasa perih mulai terasa berdenyut di jari jari kakinya.
Andewi terus memacu langkah kaki, setengah melompat juga berlari. Puing puing rumah tepi sungai yang terbakar akhirnya terlihat di depan mata. Sebentar lagi Andewi sampai di rumah Anggun. Ketakutannya mulai mereda, kecepatan larinya mulai dikurangi.
Kewaspadaan Andewi mulai berkurang. Dan saat itulah pergelangan kakinya terantuk sesuatu.
Bruuggg
Andewi jatuh tersungkur mencium tanah. Rasa sakit dan aroma tanah basah menusuk hidungnya. Andewi menoleh, melihat apa yang baru saja menjeratnya. Ternyata ada sebuah benang nilon yang melintang di tengah jalan.
"Brengsek! Siapa yang main main denganku," Andewi mengumpat kesal. Dia meludahkan pasir dan tanah yang memenuhi mulutnya. Sudut bibirnya terasa anyir. Darah segar mengucur dari bagian tubuh yang merah ranum itu.
Andewi mencoba untuk berdiri kembali. Namun sayang, dari arah belakang sebuah pukulan keras menghantam tengkuknya. Andewi kembali ambrug ke tanah. Tubuhnya lemas, pandangannya berkunang kunang.
Sebelum pingsan, Andewi sempat melihat sosok yang menyerangnya. Sosok mengerikan, dengan kepala setengah botak dan luka bakar di sebagian wajahnya. Sosok itu berjalan membungkuk, meraih kaki mulus Andewi. Kemudian menariknya dengan kasar.
"Jangan ambil hartaku!" Gerutu sosok mengerikan yang menyeret tubuh Andewi.
Bersambung___
__ADS_1