
Erwin duduk di kursi pijat milik Bu Rofida. Dia memandangi ruang kamar megah di hadapannya. Sebuah kemewahan hasil kerja keras Ferry Lawanto yang dinikmati oleh ibu dan adiknya.
"Bagus kan kamarnya Tuan puteri?" Ucap Vivi tiba tiba. Wajah dan senyumnya terlihat menyebalkan.
"Bagus, selera Mas Ferry selalu luar biasa," sahut Erwin manggut manggut.
"Gara gara Mbak Anggun nih, kita semua kena getahnya," gerutu Vivi kemudian.
"Kok Mbak Anggun?" Erwin bertanya tak mengerti.
"Iya lah. Seandainya Mbak Anggun nggak ngundang temen temennya itu kesini, nggak bakalan ada yang mati. Mati kok di rumah orang lain, bikin angker saja!" Vivi melotot sebal.
"Bukan salah Mbak Anggun dong," sanggah Erwin.
"Halah, kamu bela Mbak Anggun terus Win. Kamu suka kan dengan kakak iparku yang penyakitan itu?" Vivi memutar bola matanya.
"Huusst! Vivi," Bu Rofida menyahut. Dia keluar dari kamar mandi. Wajah tanpa make up nya terlihat penuh kerutan dan pucat. Vivi diam memanyunkan bibirnya yang tebal.
"Win, Ibuk benar benar syok. Bagaimana bisa di depan kita ada orang tewas keracunan. Kayak di film film saja. Ibuk juga khawatir, kalau nanti polisi menyalahkan Masmu. Sebagai tuan rumah yang lalai, sampai ada tamunya yang mati," ucap Bu Rofida pada Erwin. Wajah tuanya nampak khawatir.
"Nggak lah Buk. Jangan khawatir berlebihan Buk. Sudah, tenang saja," ucap Erwin menenangkan Bu Rofida.
"Kamu sudah kuanggap sebagai anak ibuk sendiri. Kuharap kamu pun menganggap aku ini sebagai ibukmu. Mas Ferry adalah kakakmu Win, jadi tolong kamu ikut menjaga Mas mu, bantu Mas mu, lindungi Mas mu," ucap Bu Rofida.
"Baik Buk," jawab Erwin cepat. Tatapannya nampak kosong, melamun.
Drrtt drrtt drrttt
HP Erwin di meja bergetar hebat. Ada sebuah pesan whatsapp masuk. Erwin meraih Hp nya. Ternyata pesan dari Inge yang meminta Erwin untuk datang ke kamar tamu. Ada hal urgent katanya.
"Ada apa Win?" Tanya Bu Rofida melihat Erwin sedikit gelisah.
"Emm, aku perlu ke bawah Buk. Ada salah satu tamu yang meminta Erwin ke bawah, katanya penting," Erwin menjawab jujur. Tak ada gunanya juga berbohong.
"Wah wah, bisa bisanya kamu sudah dapat nomer WA perempuan perempuan teman Mbak Anggun Win. Kamu penyuka tante tante rupanya," Vivi mencibir.
"Iya, aku lebih suka perempuan dewasa. Daripada perempuan manja sepertimu," jawab Erwin sambil tersenyum. Dia merasa puas berhasil membalas olok olok Vivi.
"Ihhhhh," Vivi melipat tangannya. Bibirnya manyun dengan mata melotot ke arah Erwin.
__ADS_1
"Kalian berdua hentikan. Jangan seperti tom n jerry!" Hardik Bu Rofida.
"Aku ke bawah dulu ya Buk," ucap Erwin meminta ijin.
"Cepat kembali ya. Perasaan ibuk nggak enak," Bu Rofida memohon. Erwin mengangguk pelan.
Erwin beranjak dari kursi pijat. Dia keluar kamar dan menutup pintu dengan perlahan. Pintu kayu jati dengan warna pernis yang sedikit hitam.
Saat Erwin hendak melangkahkan kakinya di tangga dia berpapasan dengan Anggun yang terlihat terburu buru dari lantai bawah. Perempuan cantik itu mengenakan piyama berwarna putih tulang dengan hiasan renda renda di bagian dadanya.
Karena Erwin berada di bagian atas anak tangga, belahan dada Anggun yang putih dan mulus tertangkap oleh mata Erwin. Istri Ferry Lawanto itu sedang tidak memakai bra, Erwin tersipu dan segera mengalihkan pandangannya.
"Erwin? Ngapain disitu?" Anggun bertanya. Bibirnya terlihat pucat, dengan beberapa butir keringat terlihat di pelipisnya.
"Ah, mbak Anggun. Aku mau ke bawah Mbak. Mbak Anggun darimana malam malam begini?" Tanya Erwin sedikit tergagap. Anggun terdiam sesaat, dia nampak berpikir.
"Aku sedang mencari Mas Ferry," ucap Anggun kemudian.
"Hah? Lha Mas Ferry nggak ada di kamar to mbak?" Tanya Erwin lagi.
"Emmm, tadi aku ketiduran sebentar. Begitu terbangun, dia tidak ada di tempat tidur. Lalu kulihat di lantai bawah. Karena gelap, aku buru buru balik. Perasaanku nggak enak," jawab Anggun sembari merapatkan piyamanya. Dia sadar baju tidurnya itu sedikit terbuka.
Tiba tiba terdengar sebuah suara deheman dari lorong menuju kamar Anggun. Erwin dan Anggun menoleh bersamaan. Nampak Ferry Lawanto berdiri bersandar pada tembok. Dia mengawasi gerak gerik Erwin dengan tatapan mata yang terlihat tidak suka. Tubuh tambunnya terbungkus selimut tebal.
"Mas Ferry?" Anggun sedikit kaget melihat suaminya.
"Sedang apa kalian disini?" Ferry bertanya, ekspresi dan sorot matanya terlihat menakutkan. Erwin menelan ludah, dia merasa laki laki yang dihormatinya itu sedang jengkel.
"Aku mencarimu Mas. Mas darimana?" Tanya Anggun heran.
"Aku tidak kemana mana, sejak tadi di kamar saja kok," jawab Ferry cepat.
"Jangan bohong Mas. Aku tadi ketiduran, begitu bangun kamu tidak ada di sebelahku," sanggah Anggun.
"Aku hanya ke kamar mandi," kilah Ferry.
"Nggak ada Mas. Tadi Mas nggak ada di dalam kamar," Anggun kembali menyanggah. Ferry berjalan mendekati Anggun. Merangkul dan menutupi istrinya itu menggunakan selimut tebal yang dipakainya. Ferry tak rela kecantikan istrinya dipandangi Erwin. Tak ada yang boleh memandangi tubuh istrinya barang satu mili pun.
"Ayo kita kembali ke kamar. Mungkin kamu hanya bermimpi sayang," bisik Ferry pada Anggun. Dia menggandeng istrinya melangkah ke kamar. Meninggalkan Erwin yang masih terdiam mematung di ujung anak tangga.
__ADS_1
Setelah Ferry dan Anggun masuk ke dalam kamar, Erwin terkesiap. Seakan terlepas dari hipnotis, Erwin buru buru menuruni anak tangga. Setengah berlari Erwin menuju kamar tamu.
Pintu kamar tamu terbuka, dengan lampu yang menyala terang. Tanpa permisi Erwin segera masuk ke dalam kamar. Erwin menemukan Inge dan Vita yang tengah duduk di sudut ranjang. Wajah kedua perempuan itu nampak cemas dan khawatir.
"Erwin?" Panggil Inge saat melihat kedatangan kekasihnya itu.
"Ada apa sih?" Tanya Erwin.
"Andewi hilang," sahut Vita.
"Hah? Hilang gimana Mbak?" Erwin mengernyitkan dahi.
"Kita berdua tadi mau ngasih selimut Ali Sabet yang tidur di luar. Andewi kita tinggal sendirian di kamar ini. Saat kita kembali, Andewi sudah nggak ada," jelas Vita.
"Mungkin ke kamar mandi," jawab Erwin santai.
"Jalan ke kamar mandi kan melewati ruang keluarga Win. Kalau Andewi ke kamar mandi, pasti ketemu kita berdua dong," sela Inge.
"Emm, apa sudah dicari? Di ruang tamu mungkin?" Erwin memberi ide.
"Kita berdua takut ih. Malem ini Win, sepi pula," ucap Inge manja. Erwin menghela nafas.
"Begini saja, coba kita nyalakan semua lampu rumah. Kita cari Mbak Andewi. Kita ajak sekalian itu Mas Ali," usul Erwin, yang langsung disetujui oleh Inge dan Vita.
Erwin, Inge dan Vita segera keluar kamar. Mereka menyalakan lampu ruang tamu, lampu hias besar yang tergantung di tengah ruangan juga dinyalakan. Kini cahaya terang mengusir kegelapan, setiap sudut ruangan terlihat.
Mereka bertiga kemudian menuju ruang keluarga. TV dalam keadaan mati. Kasur lantai yang tergeletak di depan TV nampak kosong. Tidak ada Ali Sabet disana, tidak ada siapapun. Sunyi dan sepi.
"Lhah, kemana si Ali?" Vita terlihat heran.
"Tadi Mas Ali dimana?" Tanya Erwin.
"Kita melihatnya di kasur ini. Dia tidur dengan sekujur tubuhnya tertutup selimut tebal," jawab Inge.
"Hmm, kamu yakin itu Mas Ali Sabet?" Erwin bertanya penuh selidik. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Inge dan Vita. Mereka berdua hanya melihat seseorang tengah tidur mengenakan selimut. Tidak ada yang memastikan, apakah sosok dalam selimut itu Ali atau bukan. Seketika bulu kuduk Inge dan Vita merinding. Udara dingin malam berhembus entah darimana meniupkan kembali rasa takut yang sempat hilang. Udara malam juga membawa aroma tajam menyengat. Aroma mayat yang membusuk.
Bersambung ____
Gaes, update tersendat yak. Aku lagi pulang ke kampung isteri 😁. Sebentar lagi lebaran. Lagi demen nata nastar di toples nih. Nanti sehabis lebaran bakal rutin lagi kok updatenya . 🤩🤩🤩
__ADS_1