Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
I. Lembaran Baru


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Hampir satu tahun semenjak tragedi terbakarnya rumah tepi sungai, rumah Sang Rich Man. Kini lahan dengan luas ber hektar hektar itu telah berubah dan berbenah.


Sekitar satu bulan setelah tragedi, datanglah sebuah keluarga pengusaha kaya raya mengklaim kepemilikan tanah Tuan Zainul. Hal itu dibuktikan dengan sebuah sertifikat tanah, serta sepucuk surat yang dibawakan oleh seorang kuasa hukum.


Semenjak saat itu, lahan di tengah hutan tersebut dibangun dengan lebih baik. Jalan yang semula setapak, kini sudah bisa dilewati mobil dengan ban khusus offroad. Meskipun jalanan masih terjal dan menanjak, namun sudah diperlebar dan kesan menakutkan sedikit berkurang.


Puing puing rumah yang terbakar dibiarkan begitu saja. Seakan menjadi prasasti dari sebuah tragedi yang masih berselimut misteri. Di samping puing puing rumah tersebut, telah selesai dibangun dua rumah baru. Satu rumah berlantai dua dengan desain minimalis. Sedangkan satu rumah lainnya berupa rumah sederhana satu lantai.


Dan pada bulan mei, saat seharusnya musim penghujan sudah berakhir namun rintik air tetap turun dengan derasnya, tiga buah mobil jenis jeep dan dua pick up terlihat terparkir di halaman rumah tepi sungai. Keluarga besar sang pengusaha kain, Ferry Lawanto hari itu memutuskan untuk menempati rumah yang baru selesai dibangun tersebut.


Istri Ferry yang bernama Anggun, turun dari mobil dengan memakai payung berwarna hitam pekat. Anggun Eka Hasmi, perempuan cantik, berkulit putih pucat, dengan dagu dan hidung yang lancip. Perempuan itu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun. Dia memakai baju terusan berwarna hitam. Badannya yang kurus, dengan cekungan matanya yang menghitam seakan mengisyaratkan bahwa tubuhnya sedang tidak baik baik saja.


"Ini rumah kita Sayang," Ferry mendekat, menggandeng tangan istrinya dengan erat.


Ferry Lawanto adalah seorang pengusaha kain yang memiliki sejumlah toko besar di beberapa kota. Rambutnya ikal dan sedikit beruban. Perutnya terlihat membuncit seakan menegaskan bahwa usianya telah mencapai kepala tiga. Ferry bukanlah seorang yang kaya raya sejak dilahirkan. Dia adalah sosok laki laki pekerja keras, yang berhasil meraih kesuksesan dengan keringatnya sendiri.


"Mas yakin, nggak pa pa pindah dari rumah kita yang dulu ke rumah tengah hutan begini?" Anggun bertanya lirih. Suaranya begitu lembut, yang selalu bisa membuat dada Ferry berdesir.


"Ya yang penting kamu nyaman. Kamu butuh ini dan kamu layak mendapatkannya," ucap Ferry seraya mengecup kening istrinya.


"Terimakasih," balas Anggun singkat.


Anggun menatap rumah minimalis di hadapannya. Begitu indah, dengan cat putih dan beberapa jenis tanaman hias yang menunduk diterpa hujan. Anggun mengalihkan pandangannya pada puing puing rumah yang hangus terbakar, rumah yang berada di tepi sungai.


Teringat kembali, saat Anggun mendengar kabar rumah Sang penulis kaya raya, Zainul Rikhman terbakar habis. Beberapa hari setelahnya datang dua orang laki laki, yang satu adalah seorang petugas kepolisian dan satunya lagi adalah seorang kuasa hukum. 

__ADS_1


Ternyata Zainul Sang RichMan, melalui sepucuk surat yang dibawa oleh kuasa hukumnya, menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepada Anggun. Karena Anggun adalah satu satunya keluarga yang dimiliki oleh Zainul. Anggun adalah sepupu dari Zainul Rikhman. 


Orangtua Anggun adalah adik dari Ibunya Zainul. Baik orangtuanya Anggun dan orangtua Zainul bekerja di tempat yang sama, di sebuah pabrik plastik di kota sebelah. Setiap pagi mereka berangkat dengan sebuah mobil travel jemputan. Hingga akhirnya, pada hari jumat beberapa belas tahun yang lalu, mobil travel itu mengalami kecelakaan hebat.


Semua pekerja yang dibawa mobil tersebut tewas tak tersisa. Termasuk orangtua Anggun dan orangtua Zainul. Anggun dan Zainul menjadi bocah yatim piatu dalam waktu yang sama, dengan nasib yang sama. 


Pada akhirnya, Anggun dan Zainul diadopsi oleh orang yang berbeda dan menjalani kehidupan masing masing. Anggun sudah lama terlupa dengan Zainul Rikhman. Namun kini, tiba tiba saja Anggun berpijak di atas lahan pemberian dari saudara sepupunya itu.


"Kenapa kamu diam saja sayang?" Ferry menepuk bahu Anggun perlahan, membuyarkan lamunannya. 


Anggun tersenyum sekilas, kemudian berjalan ke teras rumah yang berlantai marmer. Ferry mengekor di belakangnya.


"Sesuai permintaanmu, marmer berwarna cokelat tanah," Ferry tersenyum puas. Anggun hanya diam saja.


"Aku cukup kaget sebenarnya, ternyata penulis kaya raya itu adalah saudaramu. Apalagi semua hartanya diwariskan untukmu. Aku cukup syok awalnya," ucap Ferry lagi. Anggun tidak menanggapi, dia sibuk memperhatikan langit langit teras rumah yang bergambar langit biru yang nampak realistis.


Bu Rofida adalah tipe mertua yang baik di depan tapi menjadi benalu saat berada di belakang menantunya. Salah satu alasan Anggun meminta suaminya untuk membangun rumah baru di lahan pemberian Zainul adalah untuk bisa terhindar dari mertuanya itu.


Namun siapa sangka, Bu Rofida malah meminta ikut pindah bersama menantunya itu. Anggun hanya bisa pasrah menyetujuinya.


"Ya ampun, tanah seluas ini semua jadi milikmu ya Nduk?" Bu Rofida mengelus elus punggung tangan Anggun.


"Iya Buk," jawab Anggun singkat.


"Tapi kita tinggal di tengah hutan, kayak Tarzan," Vivi menimpali.

__ADS_1


Anggun merem*s ujung bajunya. Ingin rasanya meraih bibir tebal adik iparnya itu kemudian membungkamnya dengan kuku tangan. Tidak ada yang meminta mereka untuk ikut pindah, Anggun hanya ingin memulai lembar baru kehidupannya dengan lebih tenang.


"Rasanya kayak lagi liburan di villa," seorang laki laki muda ikut nimbrung di percakapan.


Laki laki itu adalah Erwin Soemarwan. Keponakan dari Ferry Lawanto, yang sedari kecil diasuh dan dibesarkan oleh Bu Rofida. Kulitnya putih, dengan hidung yang mancung, badannya atletis, serta memiliki rambut gondrong yang indah. Ferry tak pernah menyukai keponakannya itu sejak dulu.


"Kuliahmu sudah rampung?" Tanya Ferry pada Erwin dengan ketus.


"Sudah Mas, tinggal nunggu wisuda," jawab Erwin cengengesan.


Masih ada dua orang dan satu balita yang turun dari mobil. Mereka adalah sepasang suami istri dan anak laki lakinya. Si tukang kebun Pak Nyoto dan istrinya yang juga seorang asisten rumah tangga Mak Surti. Serta bocah berusia 5 tahun bernama Miko.


Mereka berjalan tergopoh gopoh ke teras rumah. Pak Nyoto memanggul dua koper besar milik tuannya. Mak Surti terlihat menggendong Miko dan menenteng kardus bekas biskuit.


"Pak Nyoto, Mak Surti, juga Erwin tinggalnya di rumah sebelah ya," ucap Ferry sambil menunjuk rumah berlantai satu di sebelah rumah utama.


"Baik Tuan," jawab Pak Nyoto dan Mak Surti kompak.


"Lhoh Nak, Erwin kenapa nggak ikut ibuk saja?" Tanya Bu Rofida sedikit protes.


"Dia bukan anak ibuk," jawab Ferry dingin. Tidak ada yang berani membantah. Bu Rofida langsung terdiam. Sementara Anggun malas terjebak dalam perdebatan keluarga suaminya itu.


Anggun merogoh saku bajunya. Sebuah kunci pintu berwarna keemasan ada di tangannya. Perlahan, dia membuka pintu rumah barunya itu.


"Assalamualaikum, " ucap Anggun seraya mendorong daun pintu rumah.

__ADS_1


Anggun memejamkan mata sejenak, menarik nafas dalam dalam dan melangkah masuk ke dalam rumah. Dia berdoa dalam hati, agar memperoleh ketenangan dalam hidupnya. Dia memang dibuatkan istana di tengah kota oleh suaminya. Namun, Anggun tak pernah mendapatkan ketenangan berada di istana Ferry Lawanto. Anggun mengalami insomnia parah. Kenangan kenangan buruk di masa lalu, juga kehidupan yang kini tengah dia jalani terasa jauh dari rasa kepuasan batin dan kebahagiaan.


Bersambung ___


__ADS_2