
Beberapa puluh kilometer dari hutan, seorang petugas kepolisian tengah membaca buku lusuh berwarna merah maroon. Buku dengan tulisan dari tinta berwarna biru yang memudar di beberapa bagian.
Secangkir kopi susu mengepulkan asap putih tipis mengusir rasa kantuk dan udara dingin pagi hari. Sementara di luar kantor, terlihat mobil warna biru datang dengan embun tebal menutupi kaca sampingnya.
Tarji turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam kantor. Beberapa kali dia bersin dengan suara menggelegar. Hidungnya nampak memerah karena terus menerus dikucek menggunakan tangan kanannya. Petugas kepolisian yang satu itu memang memiliki alergi terhadap udara dingin.
"Sial! Makin tahun makin anyep udara kota sini. Tahun depan kayaknya salju turun deh," Tarji menggerutu. Dia melemparkan jaket kulitnya ke hadapan Adi, petugas kepolisian yang sedari tadi sibuk dengan buku merah maroon. Adi tak bergeming, mengacuhkan Tarji yang sekali lagi bersin dengan suara kerasnya.
"Aarrgghhh, hidungku meleeerr!" Tarji berteriak kesal.
"Pulang saja sana. Baru datang ngeluh terus. Kayak kakek kakek masuk angin kamu Ji!" sahut Adi. Kali ini dia nggak tahan juga untuk tidak berkomentar.
"Aku kan profesional kerja Diii. Meskipun lagi nggak enak badan, tetep semangat masuk dong," Tarji menepuk nepuk dadanya, detik berikutnya dia malah terbatuk batuk.
"Profesional kok ngeluh," Adi geleng geleng kepala.
"Daripada kamu Di, kerja kok isinya baca buku terus. Mana bukunya lusuh, jelek, kumal lagi!" protes Tarji kesal. Adi tak menyahut, dia kembali asyik membuka halaman demi halaman buku bersampul merah maroon.
"Perasaan sudah berbulan bulan kamu bolak balik baca itu buku Di, nggak bosen apa?" Tarji menjatuhkan badannya di kursi sebelah Adi.
"Kamu masih ingat kan kasus terbakarnya rumah tepi sungai di tengah hutan?" Adi balik bertanya.
"Yang kasus pembantaian ya? Tersangkanya mati bunuh diri di depan rumah yang terbakar itu kan?" Tarji mengingat ingat.
"Iya. Kasus memang sudah ditutup, tapi banyak hal aneh yang membuat perasaanku tak nyaman," ucap Adi. Kali ini dia nampak serius, berbicara sambil menatap Tarji yang sesekali masih mengucek ngucek hidungnya.
"Anehnya gimana Di?" tanya Tarji kemudian.
"Ada selisih jumlah daftar tamu yang berkunjung ke rumah tepi sungai dengan jumlah mayat yang ditemukan. Ada satu tamu yang lenyap. Bahkan hingga kini, pihak keluarganya masih terus meminta penjelasan pada kepolisian," ujar Adi sembari menghela nafas. Dia menutup buku merah maroon yang sudah dibacanya sedari subuh tadi.
"Lalu, yang paling janggal adalah kematian korban bernama Galang. Dia tewas di Polindes dengan beberapa serangga beracun di mulutnya. Padahal waktu itu, tersangka pembantaian sudah tewas bunuh diri di tengah hutan. Jadi, siapa yang telah mencelakai Galang?" Adi menatap tajam Tarji seolah olah meminta penjelasan darinya. Tarji garuk garuk kepala, salah tingkah.
"Benda ini adalah kunci Jii," ucap Adi sembari mengangkat buku merah maroon di tangan kanannya.
__ADS_1
"Bidan desa yang merawat Galang di polindes, yang memberikannya padaku. Buku ini ditemukan bersama tubuh Galang yang penuh luka. Tapi sayangnya waktu ditemukan, buku dalam keadaan basah oleh air sungai. Tulisannya sebagian besar luntur." Adi mendengus kesal.
"Isinya apa? Ada yang masih bisa terbaca Di?" Tanya Tarji penasaran. Dia merapatkan kursinya di sebelah Adi.
"Semacam diary. Yang jelas penulisnya adalah Zainul Richman. Kamu tahu Ji apa yang membuatku sangat penasaran dengan buku ini? Di salah satu halaman tertulis dengan jelas bahwa sang penulis, Zainul Richman tengah bersama seorang yang bernama Bayu Khairil di pondok tua tengah hutan," ucap Adi sambil mengelus elus janggutnya yang mulai tumbuh bulu bulu kasar. Dia lupa belum bercukur.
"Bayu Khairil?" Tarji terlonjak kaget.
"Petugas cerdas yang di akademi dulu mengalahkanmu itu?" Tanya Tarji lebih lanjut. Adi mengangguk cepat.
"Aku tidak tahu pasti, apakah tulisan ini benar. Atau apakah yang disebut Bayu ini adalah orang yang sama dengan polisi Bayu, aku juga tidak berani berspekulasi tanpa bukti kongkrit. Tapi, perasaanku benar benar nggak tenang," tukas Adi. Sekali lagi dia menarik nafas panjang.
"Jadi ingat sesuatu nih otakku," Tarji menepuk dahinya.
"Apa?" Adi bertanya penasaran.
"Tadi malam sebelum aku pulang, si Polisi Bayu itu ngajak Damar dari bagian forensik. Kamu tahu kan Damar? Anak baru yang sempat bermasalah karena trauma itu lho. Katanya mau menangani sebuah kasus," Tarji berbisik.
"Ya mana saya taahuuuu," bibir Tarji terlihat manyun.
"Kok aku nggak tahu cerita itu kemarin?" Adi kembali bertanya.
"Heh, samijo! Kamu kan kemarin ada janji tuh sama si Sinta. Ngacir paling duluan kamu, makanya nggak tahu. Dasar bucin!" Tarji menjawab sewot.
"Oh iya ya," Adi manggut manggut. Kemudian nyengir sembari menepuk nepuk bahu Tarji.
"By the way busway, Bayu jam segini juga belum datang ke kantor lho," ucap Tarji sambil melongok ke ruangan lain. Adi mengekor di belakangnya.
"Sialan! Kemana dia?" Adi memukul dinding dengan sedikit keras.
"Apa belum kembali ya dari kemarin?" Tarji ikut bertanya penasaran.
Adi tertegun, diam di tempatnya berdiri. Detik berikutnya dia teringat sesuatu. Dengan tergesa gesa dia beranjak ke meja kerjanya. Menarik laci paling atas dengan sedikit kasar.
__ADS_1
Tarji memperhatikan Adi, sedikit heran dengan rekan kerjanya yang nampak grusa grusu itu. Padahal biasanya laki laki yang disebut paling ganteng satu kantor itu kalem dan lebih tenang. Tarji tidak berani bertanya, dia menunggu dan melihat apa yang dilakukan Adi.
"Lihat ini," ucap Adi membuka selembar koran cetakan beberapa bulan lalu.
"Apa ini?" tanya Tarji nggak faham.
"Bungkus 'sego gegog' Jiii! Ini lho bacaen!" Adi sewot. Tarji nyengir.
Sebuah artikel tercetak tebal di bagian bawah koran. Tanah peninggalan Sang Rich Man diwariskan untuk istri pengusaha kain kaya raya.
"Lhah? Jadi tempat itu dihuni lagi?" Tarji terbelalak kaget.
"Kelihatannya begitu," sambung Adi singkat.
"Kita kesana Ji," lanjut Adi. Dia menepuk bahu Tarji cukup keras.
"Sudah gila. Adem banget Diii, aku bisa bersin bersin terus ini nanti," keluh Tarji. Kali ini dia enggan menuruti permintaan Adi.
"Katanya profesional? Masak kalah sama cuaca." Adi mencibir.
"Ya tapi kan, tidak ada indikasi terjadi apa apa disana Di. Ah, kamu suka aneh. Firasat kok dituruti," bantah Tarji.
"Sekarang coba sebutkan, kapan firasatku pernah salah?" Adi mendebat.
"Ya belum pernah. Aahh, suuzon mu itu lho pembawa aura negatif. Jadinya beneran terjadi," Tarji menggerutu.
"Yasudah kalau kamu nggak ikut. Aku mau pergi sendiri kesana," Adi menyambar jaketnya yang tergantung di sudut ruangan.
"Ini nih. Dasar kepala batu! Yasudah lah, yok aku ikut. Nggak tega aku melihatmu pergi sendirian. Tapi pake mobilku saja biar nggak terlalu dingin. Kamu yang nyetir," perintah Tarji.
"Siap bos!" Adi berpura pura memberi hormat. Tarji tertawa melihatnya.
Bersambung___
__ADS_1