
DOORRRRR
Suara letupan senjata api bergema di udara. Suara yang mampu membuat hening seisi hutan. Beberapa tetes cairan merah kental mengucur di rerumputan.
"Aarrgghhhh,"
Suara erangan kesakitan disertai ambrugnya tubuh gempal dan berotot. Hendra berlutut, memegangi pahanya yang berdarah. Timah panas bersarang di dagingnya yang memerah.
"Brengseekkk! Baj*ng*n!" Hendra menggeram menahan sakit, menumpahkan amarah.
"Saat ini aku berperan sebagai seorang penilai. Dan aku kecewa dengan hasil pertunjukanmu. Skenario indah yang telah disusun oleh Zainul dihancurkan oleh seorang amatir sepertimu!" Bayu menggeleng pelan.
"Aku yang seharusnya tidak ikut campur dan hanya sebagai penonton, terpaksa masuk di alur cerita. Galang menemukan makam Zainul. Mau tidak mau aku harus melenyapkannya," Bayu menghela nafas.
Bayu teringat saat dirinya mencari dimana posisi Galang yang tertinggal di hutan. Dia menemukan pegawai bank itu tengah tersesat di area makam Zainul. Akhirnya Bayu memutuskan untuk mencelakai Galang. Namun karena ada sedikit keraguan di hatinya, Galang malah berhasil melukai kaki kiri Bayu dan kabur.
"Apa kamu pikir aku tidak berupaya untuk mencari Galang, hah? Malam itu aku melepaskan anj*ng piaraanku untuk mencari Galang. Hewan itu memang sudah terlatih. Ketika kulepas dari kerangkengnya, pasti akan menyerang siapapun kecuali aku, Tuannya," Hendra masih memegangi pahanya yang terluka. Dia kesulitan mencoba untuk berdiri.
"Tapi sepertinya si brengs*k Galang itu punya sembilan nyawa," Hendra tersenyum masam.
"Apa maksudmu?" Bayu berjalan mendekati Hendra. Dia masih menodongkan senjatanya. Bayu ingat betul, pelurunya hanya tersisa satu butir saja.
__ADS_1
"Aku tadi bertemu warga desa. Mereka menemukan Galang dalam kondisi luka parah. Tapi dia masih hidup. Kupikir bukan hanya aku saja yang amatiran Bayu. Bahkan kamu pun gagal menghabisi nyawa satu orang. Setidaknya aku berhasil mencabut delapan nyawa manusia manusia terkutuk itu," Hendra terkekeh, mengejek Bayu.
"Kamu pun sadar bukan, menghilangkan nyawa satu orang manusia itu tidaklah mudah. Tidak seperti skenario ataupun tulisan novel yang begitu gampangnya membunuh satu persatu karakter yang ada. Mewujudkan mimpi Zainul dengan mementaskan skenario dramanya yang terakhir, setidaknya aku berhasil melakukannya bukan? Ha ha ha," Hendra tertawa. Suaranya terdengar nyaring, beban pikiran yang selama ini menyiksa batinnya seakan telah lenyap.
"Diam kamu!" Bentak Bayu.
"Apa? Aku sudah melakukan apa yang dituliskan oleh Zainul. Kalau kamu peduli padanya, seharusnya kamu berterimakasih padaku," Hendra terus saja menertawakan Bayu.
"Kita berasal dari SMP yang berbeda dengan mereka, dan selalu menjadi bahan bulan bulanan. Mereka menunjukkan superioritas karena merasa kita adalah minoritas. Aku yang awalnya malas bersosialisasi dan hanya ingin menyelesaikan pendidikan secepatnya, tiba tiba bertemu dan mengenal Zainul saat masuk di club drama. Aku langsung kagum padanya. Dia yang memang menyukai seni drama, juga cerita cerita fiksi terlihat sangat menonjol di club itu. Dia seakan berusaha mematahkan anggapan bahwa siswa minoritas tidak bisa berprestasi. Tapi, semua cita cita dan mimpinya direnggut paksa oleh manusia manusia biad*b itu. Bahkan melalui tanganku, dia mendapatkan luka bakar di separuh wajah dan tubuhnya," Hendra nampak melamun.
"Bertahun tahun aku menyalahkan diriku sendiri. Aku mendirikan lembaga dan yayasan sosial untuk membantu orang orang yang mengalami tekanan mental. Itu kulakukan juga untuk menyembuhkan lara hatiku. Hingga akhirnya aku tahu, bahwa Mella dan orang orang dari club drama lah yang bersalah. Maka saat skenario yang tertulis di buku ini diserahkan sepenuhnya oleh Zainul kepadaku, tanpa berpikir dua kali aku setuju untuk melakukannya. Inilah penebusan dosaku, penghilang laraku," Hendra terlihat berbinar binar. Dia menunjukkan buku bersampul merah yang ada di genggaman tangannya.
"Dan akhirnya kamu memakai identitas Zainul, mendatangi warga desa dan membangun rumah tepi sungai ini kan?" Bayu memicingkan matanya.
"Aku tidak menebak, tapi aku tahu," Bayu menimpali.
"Apa maksudmu?" Hendra nampak terkejut.
"Ha ha ha. . .ternyata kamu benar benar tol*l Hendra. Bukankah sudah jelas kalau aku juga mengetahui skenario yang telah disusun oleh Zainul. Aku juga memiliki buku yang sama," ucap Bayu sambil menunjukkan sebuah buku dengan warna sampul yang serupa dengan milik Hendra.
"Bagaimana bisa?" Hendra melotot tak percaya.
__ADS_1
"Jadi, aku adalah penikmat karya karya Zainul. Sewaktu sekolah dulu aku tidak ikut di ekskul drama. Tapi aku selalu menjadi penggemar nomor satu dari cerita dan skenario yang dia ciptakan. Pada akhirnya aku dan Zainul memiliki sebuah hubungan persahabatan yang saling membutuhkan. Aku butuh karyanya untuk aku nikmati dan dia butuh aku sebagai penggemar setia karya karyanya. Aku satu satunya orang yang bersamanya saat dia terpuruk. Aku menemaninya saat dia memutuskan untuk keluar dari sekolah. Aku membantunya untuk mempromosikan tulisan tulisannya pada penerbit," Bayu menghela nafas perlahan.
"Hingga pada akhirnya, dia menyusun cerita ini. Sebuah skenario pembalasan dendam yang dia tulis dengan begitu rapi. Dia meminta tolong padaku, agar aku berusaha masuk menjadi anggota kepolisian. Kenapa demikian? Itu semua demi memudahkan mencari informasi tentang anggota club drama. Jadi, selama bertahun tahun aku dan Zainul mengawasi kalian semua. Kami tahu kamu adalah satu satunya orang yang menyesal dan terpukul dengan tragedi Zainul tersiram air kimia. Maka, kami memilihmu untuk menjadi eksekutor. Dan untuk meyakinkanmu, Zainul memutuskan mengakhiri hidupnya di pondok tua tengah hutan. Kamu yang merasa bersalah, akhirnya semakin termotivasi untuk melaksanakan skenario yang ditulis oleh Zainul," Bayu terlihat menyeringai lebar.
"Kamu bohong!" Bentak Hendra.
"Buat apa aku berbohong? Itu adalah kenyataannya," sergah Bayu.
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu membiarkan dia mengakhiri hidupnya? Sahabat macam apa kamu?" Hendra mengepalkan tangannya dengan erat.
"Aku adalah pendukung nomor satu karya karya Zainul. Apapun yang akan dia lakukan atas nama karyanya, maka aku akan mendukungnya. Bahkan aku berada di sampingnya saat dia meregang nyawa di tali gantungan," ucap Bayu santai.
"Kamu benar benar gila!" Hendra menunjuk nunjuk Bayu.
"Kenapa kamu tidak curiga sama sekali, saat kamu tahu dalam skenario pembalasan dendam ini ada satu orang luar club yang ikut diundang yaitu aku?" Bayu bertanya.
"Oiya, tentang Mella. Zainul tidak pernah menganggap Mella sebagai penyebab wajahnya yang melepuh. Waktu itu Mella sebagai ketua bagian properti memang telah menyiapkan cairan kimia itu. Namun, air itu seharusnya dipakai waktu pementasan drama. Kamu tahu siapa sebenarnya target Mella agar tersiram cairan kimia? Targetnya adalah Dipta. Waktu itu Dipta berperan sebagai anakmu Hendra. Air kimia itu memang untuk digunakan saat pementasan. Namun gara gara kamu yang cerewet ingin menghafal dialog, pada akhirnya malah Zainul yang tersiram air kimia berbahaya itu. "
"Jadi, terbakarnya Zainul salah siapa Hendra Asmara?" Bayu bertanya dan sekali lagi bersiap menarik pelatuknya.
*Bersambung ___
__ADS_1
BTW dua hari ini yang nulis lagi nggak sehat, maaf ya baru sempat up 🙏*