Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXI. Tamu jam satu malam


__ADS_3

Dok dok dok


Tepat pukul 1 malam, pintu diketuk dari luar. Erwin dan Pak Nyoto yang tengah duduk di ruang keluarga cukup kaget mendengarnya. Mereka berdua bertukar pandang dalam diam. Siapa gerangan yang berada di luar rumah dan mengetuk pintu?


"Siapa ya Pak? Mas Ali atau Mbak Andewi ya?" Erwin bertanya setengah berbisik.


"Atau jangan jangan memedi penunggu hutan Nak Erwin," sela Pak Nyoto dengan cepat.


Erwin berusaha mengingkari kemungkinan yang disampaikan oleh Pak Nyoto, namun hati kecilnya merasa ketakutan. Karena memang saat ini mereka tinggal di hutan yang jauh dari pemukiman warga. Besar kemungkinan ada hal hal mistis yang terjadi.


"Duh, Pak Nyoto bukannya membuat berani dan merasa aman, malah bikin bulu kudukku berdiri," gerutu Erwin kesal.


"Terus bagaimana ini Nak Erwin?" Pak Nyoto bertanya. Dia memperbaiki posisi duduknya agar semakin dekat dan nempel nempel pada Erwin.


"Kita laki laki lho Pak, kudu berani dong. Ya kita lihat lah. Ayuk," Erwin memberanikan diri. Dia beranjak dari duduknya.


Glekk


Pak Nyoto menelan ludah. Dia benar benar takut. Lututnya terasa lemas, namun tentunya dia tak punya pilihan lain. Dia mengekor di belakang Erwin.


Dengan ragu ragu, dua laki laki itu berjalan menuju ke pintu depan. Erwin menarik nafas dalam dalam, berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdetak tak beraturan.


Sampai di pintu depan, Erwin menguatkan hatinya. Jika ada sesuatu yang buruk di balik pintu, maka dia sudah menyiapkan tinju ataupun tendangannya. Erwin menggenggam gagang pintu dan segera menariknya dengan cepat.


Graakkk


Pintu terbuka. Hembusan udara malam yang dingin langsung masuk ke dalam rumah. Dua orang laki laki nampak berdiri di teras depan. Erwin agak terkejut melihatnya. Sementara Pak Nyoto menutup mata dan menggenggam ujung kaos Erwin dengan erat.


"Si- siapa?" Tanya Erwin setelah menguasai ketakutannya.


"Kami dari kepolisian yang tadi malam di telepon oleh Nona Anggun," jawab sosok yang terlihat lebih dewasa. Sosok bertubuh tegap dengan setelan jaket dan celana hitam. Bola matanya terlihat biru terkena pantulan lampu teras rumah.


"Ohhh, polisii," gumam Pak Nyoto segera melepas cengkeraman tangannya di kaos Erwin.


"Maaf, boleh saya lihat tanda pengenalnya?" Erwin bertanya penuh kewaspadaan. Dia tidak mau kecolongan, asal memasukkan orang asing ke dalam orang.

__ADS_1


Sosok berjaket hitam di hadapan Erwin tersenyum sekilas. Kemudian merogoh saku celananya, menunjukkan tanda pengenal yang ada di dompetnya.


"Kewaspadaan yang bagus. Perkenalkan nama saya Bayu," ucap sang polisi setelah menunjukkan tanda pengenal anggota kepolisian miliknya.


"Dan ini rekan saya dari bagian forensik, namanya Damar," lanjut Bayu. Laki laki yang bernama Damar tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Silahkan masuk," Erwin segera membuka pintu lebar lebar.


Udara malam benar benar terasa dingin menusuk tulang. Dua orang petugas kepolisian yang baru datang terlihat kelelahan. Wajar saja, mereka harus menempuh perjalanan melewati hutan dengan berjalan kaki.


Bayu dan Damar duduk di kursi ruang tamu. Mereka melepas jaket yang sedikit basah terguyur gerimis yang tadi sempat turun dari langit malam.


"Tadi kami menerima telepon dari Ibu Anggun, kalau ada kematian mendadak dari tamu yang berkunjung ke rumah ini," ucap Bayu sembari melipat lengan kemejanya.


"Ya, saat makan malam salah satu tamu dari Mbak Anggun bernama Erfan tiba tiba saja mengejang dan meninggal di meja makan. Tidak ada yang berani menyentuhnya setelah itu. Mayat masih tetap dibiarkan di meja makan," jawab Erwin menjelaskan.


"Mohon maaf, anda berdua siapanya Ibu Anggun?" Bayu bertanya kembali.


"Ah, saya Erwin. Keponakan dari suami Mbak Anggun. Sedari kecil saya tinggal bersama dengan keluarga ini," jelas Erwin.


"Ada berapa orang di rumah ini? Bisakah kalian menceritakan detailnya?" Bayu melanjutkan pertanyaannya.


Erwin mengangguk pelan. Kemudian dia mulai menceritakan, dimulai dari kepindahan keluarga Ferry Lawanto ke rumah barunya. Kedatangan tamu yang merupakan teman teman dari Anggun. Hingga peristiwa kematian Erfan yang mendadak. Bayu manggut manggut mendengarkan. Sedangkan Damar beberapa kali terlihat mencatat di buku sakunya.


"Baiklah. Sekarang, tolong tunjukkan dimana mayat itu berada," pinta Bayu kemudian.


"Mari ikut saya," ajak Erwin seraya bangkit dari duduknya.


Bayu mengangguk, meskipun rasa lelah terasa di sekujur tubuh, dia tetap berusaha melaksanakan tugasnya. Ada rasa berdebar di hatinya saat diajak untuk melihat mayat Erfan. Rasa berdebar yang telah lama dia nantikan. Seulas senyum tersungging di bibirnya tanpa disadari oleh orang lain.


Erwin berhenti di ruang makan. Tangannya menunjuk pada mayat Erfan yang terbujur kaku dalam posisi tengkurap di atas meja makan.


"Damar, coba periksa," perintah Bayu pada Damar. Sedangkan dirinya berkeliling mengamati ruang makan yang beraroma bangkai itu.


"Siap Pak," ucap Damar sigap.

__ADS_1


Damar segera mengeluarkan sarung tangan khusus, kamera untuk memotret, juga alat alat forensik lainnya. Petugas forensik yang terlihat belia itu tak menunjukkan ekspresi sama sekali. Raut wajahnya tetap datar, meskipun tengah memegangi mayat manusia.


"Setelah ini mungkin kami butuh istirahat barang satu atau dua jam. Besok pagi buta, tolong bangunkan semua orang. Aku ingin meminta keterangan pada semua orang yang berada di rumah ini," ucap Bayu pada Erwin setelah berkeliling di ruang makan.


"Tapi Pak. . .," Erwin terlihat ragu dengan apa yang hendak dia ucapkan.


"Ada apa? Ada yang belum kamu ceritakan padaku? Atau kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Bayu penuh selidik.


"Sebenarnya setelah kematian Mas Erfan, ada dua orang tamu Mbak Anggun yang hilang," jawab Erwin.


"Hilang?" Bayu mengernyitkan dahi.


"Pertama Mas Ali dan yang kedua Mbak Andewi. Sejak sekitar jam 10 malam, dua orang tersebut hilang Pak Bayu," jelas Erwin.


"Menarik," Bayu tersenyum sesaat.


"Pak polisi" tiba tiba Pak Nyoto memanggil Bayu.


"Iya Pak? Ada yang mau bapak sampaikan juga?" Bayu menatap tajam Pak Nyoto. Tatapan mata yang membuat Pak Nyoto kikuk dan kurang nyaman.


"Anu Pak. Maafkan sebelumnya, ini hanya pandangan saya sebagai orang sepuh. Mungkin semua kejadian ini karena ulah penunggu hutan ini Pak Polisi. Mereka nggak suka ada yang tinggal dan mengusik wilayah mereka," ucap Pak Nyoto sambil menunduk.


Bayu mengangkat alisnya, dahinya terlihat mengkerut. Wajahnya memerah menahan tawa. Dia menggaruk garuk pelipisnya yang tak gatal.


"Pak Nyoto, hal hal yang njenengan sampaikan barusan itu tidak pernah ada dalam kamusku. Dan aku berani menjamin tidak ada hal mistis di hutan ini. Asal Bapak tahu saja, aku sangat mengenal dan hafal dengan hutan ini. Lebih dari siapapun," Bayu tersenyum penuh arti.


"Sebaiknya kita kembali ke ruang depan untuk beristirahat. Biarkan rekan saya yang bekerja," ajak Bayu pada Erwin dan Pak Nyoto.


"Damar . . . setelah selesai, kesimpulan awal darimu segera laporkan padaku," Bayu memberi perintah.


"Baik, siap Pak," jawab Damar sigap.


Dari yang terlihat, petugas forensik bernama Damar itu begitu cekatan dan sangat menurut pada Bayu. Erwin sedikit kagum dengan gerak cepat petugas kepolisian yang sudah dihubungi oleh Anggun itu.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2