
Miko, balita yang sangat aktif dan lincah. Bicaranya yang masih belum bisa mengucapkan 'R' dengan jelas membuatnya semakin menggemaskan. Anak Mak Surti itu juga sangat jarang rewel. Bahkan saat diajak pindah rumah pun dia tidak protes, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
Sebenarnya Miko sudah mulai di sekolahkan di PAUD. Ketika Mak Surti dan Pak Nyoto harus ikut pindah majikannya ke tengah hutan, sempat muncul keraguan. Haruskah mengorbankan pendidikan anaknya? Bagaimana cara Miko sekolah jika mereka tinggal jauh di dalam belantara?
Mak Surti hampir saja memutuskan berhenti bekerja di keluarga Ferry Lawanto. Dia berencana untuk tetap tinggal di kota, mungkin nge kos atau ngontrak bersama Miko. Sedangkan Pak Nyoto tetap mengabdi pada keluarga Ferry Lawanto. Seminggu atau sebulan sekali Pak Nyoto akan pulang ke kota mengunjungi keluarga.
Rencana yang sudah cukup matang akhirnya diurungkan. Anggun memohon mohon pada Mak Surti untuk ikut pindah ke rumah barunya.
"Kumohon ikut aku Mak. Aku akan sangat kesulitan di rumah baru nanti kalau Mak nggak ada," Anggun menciumi tangan Mak Surti. Sulit dipercaya, majikan sampai bersikap seperti itu pada asisten rumah tangganya.
Mak Surti tak enak hati dan merasa tak tega juga pada Anggun. Majikannya itu selalu baik dan dekat dengan dirinya. Apalagi saat Mak Surti bertanya bagaimana dengan pendidikan Miko, Anggun menjamin Miko tetap sekolah dengan cara homeschooling. Anggun sendiri yang akan memilihkan dan memanggil guru yang profesional.
Pada akhirnya Mak Surti tetap mengikuti majikannya, pindah ke rumah tepi sungai di tengah belantara. Meskipun kini, ada rasa penyesalan di hati Mak Surti. Rumah baru Anggun mengundang malapetaka. Keselamatan semua orang dipertaruhkan.
Mak Surti duduk di dapur mengawasi Miko yang riang dengan mainan lego. Mainan pemberian Anggun di hari ulang tahunnya yang lalu. Sesuai permintaan Anggun pada polisi Bayu, Mak Surti berpindah ke dapur bersama Miko. Majikannya itu benar benar perhatian, tidak ingin balita se usia Miko mendengar paparan sebuah tragedi kejahatan.
Sebenarnya Mak Surti sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan polisi Bayu. Siapa kira kira penjahat yang tega menyerang Inge dengan begitu brutal. Apakah benar kalau Erwin pelakunya? Padahal setahu Mak Surti, Erwin merupakan pemuda yang sangat baik. Kalau seandainya benar Erwin pelakunya, apa yang membuatnya bisa berubah sejahat itu? Perasaan Mak Surti campur aduk. Dia menjadi semakin yakin dan percaya ucapan suaminya kalau tanah yang mereka tempati saat ini dikutuk.
Mak Surti beralih memperhatikan meja dapur. Makanan yang dia siapkan sedari pagi tadi belum ada yang menyentuhnya. Padahal siang sudah terlewati. Semua orang sibuk dengan pikirannya masing masing, lupa dengan urusan perut.
__ADS_1
"Miko mau mamam?" tanya Mak Surti pada Miko.
"Miko mau mainan," sahut Miko tanpa menoleh. Balita itu sedari pagi juga belum makan nasi. Hanya segelas susu di pagi hari dan beberapa potong buah yang masuk ke dalam perutnya. Mak Surti akhirnya diam, membiarkan Miko riang dengan mainannya.
Setelah beberapa saat hanya diam mematung, Mak Surti mulai bosan. Rasa penasaran pada topik percakapan di ruang tamu semakin terasa. Mak Surti benar benar ingin tahu apa yang disampaikan dan ditanyakan oleh polisi Bayu. Jangan jangan Pak Nyoto suaminya, karena grogi jadi salah jawab. Ada juga kekhawatiran seperti itu di benak Mak Surti.
"Miko, ibuk tak ke depan dulu sebentar boleh? Miko mainan disini saja," Mak Surti berjongkok di depan Miko.
"Boleh buk," Miko mengangguk.
"Kamu disini saja lhoh ya, jangan kemana mana," ucap Mak Surti sambil mendaratkan ciuman di pipi tembem putranya yang beraroma bedak bayi itu.
Mak Surti segera beranjak, berjalan perlahan menuju ruang tamu. Melewati lorong ruang makan yang terasa sunyi. Saking sepinya, Mak Surti dapat mendengar suara pintu belakang di bagian dapur terbuka.
Detak jantung Mak Surti berdegup tak beraturan. Lorong di bawah tangga yang memisahkan ruang makan dengan dapur terasa panjang dan tak ada habisnya. Sekuat apapun Mak Surti berlari, jarak dapur terasa menjauh. Nafasnya tersengal, dada serasa sesak. Saat panik berlebihan, pandangan mata pun berubah buram.
Kekhawatiran Mak Surti benar benar terjadi. Di dapur tidak ada siapapun. Miko lenyap bersama mainan legonya. Ada jejak lumpur kotor di lantai granit dapur. Pintu ke arah luar terbuka lebar, meniupkan udara hutan yang terasa dingin menggigil.
"Tolloooooongg!" teriak Mak Surti sekuat tenaga. Berharap semua orang mendengar dan sudi menolongnya. Mak Surti berlari ke pintu keluar, namun tiba tiba lututnya terasa kehilangan tenaga. Lemas, seolah olah otot dan daging yang membalut tulang tulangnya melunak. Mak Surti limbung dan ambrug di lantai saat orang orang dari ruang tamu berhamburan datang.
__ADS_1
Sementara itu, Anggun masih duduk di sofa ruang tamu. Dia memegangi keningnya yang berdenyut. Ferry juga tidak beranjak dari duduknya, meski dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Mak Surti. Ferry merangkul Anggun, namun Anggun malah mendorongnya agar menjauh.
"Kamu kenapa?" Ferry bertanya tak mengerti.
"Aku punya pertanyaan padamu Mas. Sekarang kamu harus jujur padaku!" Anggun melotot. Ferry merasa aneh, tak biasanya Anggun bersikap kasar dan keras padanya.
"Ada apa? Tanya saja, akan kujawab" tanya Ferry lirih.
"Mas Ferry kan yang menyerang Inge? Kamu kan yang telah mem . . .," Anggun menutupi mulutnya, tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
"Ngomong apa kamu?" sanggah Ferry, wajahnya nampak memerah. Dia sama sekali tak menduga Anggun akan menuduhnya seperti itu.
"Sesaat sebelum Vivi menemukan mayat Inge, Mas Ferry turun ke bawah, terus kembali ke kamar buru buru. Waktu itu aku lihat di tanganmu ada cairan berwarna merah Mas. Kamu kan Mas pelakunya?" air mata Anggun menetes. Amarahnya tak terbendung, karena dia yakin Ferry lah yang telah mencelakai teman temannya. Bagaimana mungkin suami yang begitu lembut itu, berubah menjadi sosok penjahat berdarah dingin?
Ferry menghela nafas. Dia hanya diam mematung, menatap dalam dalam pada mata istrinya yang nampak bergetar.
"Lalu, Erwin menemukan cincin Ananta milikku di lantai ruang makan. Cincin yang kukira telah hilang. Jadi selama ini, cincin warisan satu satunya dari ibu kandungku itu kamu yang bawa Mas? Kamu yang menyembunyikannya dariku, kenapa Mas? Dan, itu artinya kamu juga yang sudah meracuni Erfan Mas. Kamu berkeliaran malam malam di ruang makan, untuk menghilangkan barang bukti yang entah apa itu. Benar begitu kan, Mas?" Anggun melotot, dan terus mendesak suaminya.
"Ikut aku, akan kujelaskan," tukas Ferry dengan ekspresi wajahnya yang terlihat datar.
__ADS_1
Tanpa Anggun sadari, percakapannya dengan Ferry didengarkan oleh Vita yang tengah berada di ruang keluarga. Saat teriakan Mak Surti terdengar, Vita memang ikut beranjak dari duduknya. Tapi dia tidak ikut berlari ke dapur, melainkan malah berhenti di balik tembok antara ruang tamu dan ruang keluarga.
Bersambung___