
Tepat tengah malam, suasana hutan begitu riuh dan ramai. Warga desa, juga petugas kepolisian sudah memenuhi area rumah baru keluarga Ferry Lawanto. Sejumlah kantong mayat sudah berisi jasad korban kegilaan sang Tuan rumah.
Ferry Lawanto ditetapkan sebagai satu satunya pelaku yang telah menghilangkan nyawa orang orang yang berkunjung ke rumah tepi sungai. Diduga akibat trauma masa lalu, Ferry kehilangan akal dan menghabisi semua orang, termasuk keluarganya sendiri. Beruntung istrinya yang bernama Anggun berhasil selamat setelah mengurung diri di dalam kamar. Sedangkan sang Ibu bernama Rofida dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma.
Sang penjahat juga ditemukan dalam keadaan tak bernyawa setelah bertarung melawan adik angkatnya sendiri bernama Erwin. Saksi kunci adalah seorang pembantu bernama Mak Surti yang berhasil lolos bersama anaknya yang masih berumur lima tahun setelah diselamatkan oleh polisi Adi dan Tarji.
Dari pihak kepolisian sendiri harus mengalami kehilangan yang begitu besar. Setelah anggotanya yang masih muda dengan beragam prestasi yang diraih harus gugur saat bertugas di tempat kejadian. Bayu Khairil harus kehilangan nyawa dengan beberapa luka di bagian perutnya.
Pagi hari headline berita penuh dengan cerita heroik seorang Bayu Khairil. Pemakamannya dipenuhi oleh pencari warta, juga masyarakat yang pernah merasakan kebaikan hati dari laki laki itu. Namanya dielu elukan, disanjung, dan dipuji setinggi langit sebagai salah satu pemuda paling berpengaruh di kota T.
Adi dan Tarji berada di dalam rombongan, mengantarkan jasad Bayu ke liang lahat. Mereka memakai setelan baju berwarna hitam yang mengisyaratkan perasaan duka yang mendalam. Selesai pemakaman, Adi dan Tarji duduk di atas kap mobil di parkiran. Adi nampak termenung, entah mengapa hatinya masih merasa gundah.
"Suram banget wajahmu. Kehilangan saingan berat membuatmu terluka rupanya," ujar Tarji.
"Entahlah. Aku merasa ada yang salah. Kamu tahu kan feelingku nggak pernah meleset? Bahkan dalam kasus ini pun firasatku benar," Adi tersenyum masam.
"Apa yang kamu harapkan Di? Asumsimu bahwa Bayu tidak sebaik yang orang pikirkan tidak pernah terbukti. Kecurigaanmu padanya aku harap kini sudah berakhir. Bayu sudah tiada. Aku berkawan denganmu sudah cukup lama. Dan kupikir kamu harus menerima kenyataan kalau Bayu adalah seorang petugas yang nyaris sempurna. Di atasmu dalam segala hal," Tarji menepuk nepuk bahu Adi. Entah apakah dia berniat memberi nasehat sahabatnya itu, atau malah mengolok oloknya.
"Aku nggak memiliki prestasi apapun Tarji. Kali ini pun aku terlambat. Terlalu banyak kematian. Seandainya aku bergerak lebih cepat mungkin Bayu tak perlu gugur dalam tugas," Adi mendengus kesal.
"Instingmu dan firasatmu selalu bagus Di. Mungkin harus aku ralat, kamu tidak kalah dalam semua hal dari Bayu. Lain waktu aku akan lebih percaya pada firasatmu itu. Aku akan selalu bergerak di sampingmu Di. Kali ini kita boleh lengah, lain waktu kita akan lebih cepat. Wush wush wushh," Tarji menggerakkan telapak tangannya seperti gerakan ular. Adi tertawa geli.
"Gimana keadaan Mak Surti dan Miko?" tanya Adi mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sudah membaik. Pagi ini diantarkan untuk mendapat pendampingan dari dinas perlindungan perempuan dan anak. Mereka pasti segera pulih," ucap Tarji yakin.
"Eh, katanya istri pelaku yang bernama Anggun tetap kekeuh menempati rumah tepi sungai itu ya? Aneh, apa nggak serem tinggal disana sendirian?" Tarji geleng geleng kepala.
"Anggun memiliki riwayat penyakit dan dikatakan hidupnya tak lama lagi. Mungkin dia ingin menghabiskan sisa waktunya di tempat yang tenang, jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Bu Rofida, mertua dari Anggun masih belum sadarkan diri hingga saat ini. Benar benar kasus yang mengerikan," sambung Adi sambil menghela nafas.
__ADS_1
Sebuah mobil berwarna hitam mendekat dan berhenti tepat di sebelah mobil Tarji terparkir. Laki laki muda tampan, memakai kemeja putih turun dari mobil. Damar, dengan wajah sedingin es membawa sebuah benda terbungkus kertas kado berdiri di hadapan Adi.
"Damar, kebetulan kita bertemu. Ada yang ingin kutanyakan padamu," ucap Adi sambil menjabat tangan Damar.
"Apa Pak Adi?" Damar mengernyitkan dahi.
"Perempuan berwajah rusak akibat luka bakar yang sudah menyerang Bayu hingga tewas, siapa sebenarnya perempuan itu? Apakah hasil pemeriksaan sudah keluar?" tanya Adi penasaran.
"Berdasar hasil pemeriksaan gigi, perempuan itu bernama Mella. Salah satu tamu undangan Sang Rich Man yang hilang saat peristiwa terbakarnya rumah tepi sungai," jawab Damar menjelaskan.
"Saya permisi dulu," ucap Damar kemudian. Dia menunduk sebentar kemudian melangkah menyusuri jalanan makam dengan rumput hijau yang tumbuh subur. Area pemakaman yang benar benar terawat.
Damar menghentikan langkah di depan gundukan tanah merah dengan taburan bunga yang menggunung. Dia melepas kacamatanya, tanpa terasa butir butir air menetes di sudut netra.
"Maafkan aku. Seharusnya tak menangisi kepergianmu Pak Bayu. Tujuanmu sudah tercapai. Buku buku itu akan aku sebar untuk orang orang yang membutuhkan. Tinggal mempercayai mereka akan mementaskan skenario indah yang ditulis oleh Sang Rich Man. Kepergianmu adalah awal, keadilan untuk orang orang yang 'sakit' akan didapatkan," ucap Damar mengusap air matanya.
"Sebuah kado perpisahan untukmu Pak. Salah satu dari 100 buku merah maroon karya Sang Maestro. Terimakasih sudah mempertemukan aku dengan buku luar biasa ini," Damar mendongak menatap langit berwarna biru terang. Hanya ada beberapa titik mendung putih di angkasa yang tak berujung.
* * *
Satu bulan berlalu. Kisah kehebatan Bayu Khairil sudah tak lagi dibahas. Semua orang sibuk dengan kehidupannya masing masing. Mereka mencoba memperoleh kebahagiaan dengan berbagai cara. Melangkahkan kaki ke depan hari demi hari tanpa rasa khawatir. Meskipun hari esok tetaplah menjadi misteri. Tak ada yang tahu, apakah nasib sial akan menimpanya satu jam, menit, detik berikutnya?
Anggun mengemudi mobil jeep melewati belantara yang sunyi. Di kursi belakang nampak Bu Rofida mertuanya, duduk diam dengan wajah ketakutan. Anggun baru saja menjemput mertuanya dari rumah sakit. Bu Rofida sudah siuman beberapa hari yang lalu dan diperbolehkan untuk pulang.
Anggun kini terlihat lebih bugar. Wajahnya berseri seri dan lebih berisi. Bahkan dia bisa mengemudi sebuah mobil sendirian. Perempuan yang dulu selalu terlihat lemah itu kini nampak tegar dan bertenaga.
Sedangkan Bu Rofida setelah terjatuh dari tangga lantai dua, dia tak mampu lagi berdiri. Bahkan dia juga kehilangan kemampuan untuk berbicara. Tak ada lagi keluarga yang tersisa. Dan kini dia dibawa menantu yang sudah tak waras itu, menuju rumah di tengah lebatnya hutan.
Mobil Anggun menepi di sebelah rumah yang nampak lebih suram dibandingkan satu bulan sebelumnya. Banyak tanaman merambat yang tumbuh menyelimuti dinding teras depan. Anggun turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Maakkk! Ambilkan kursi roda!" teriak Anggun. Dia mengulangi teriakannya sambil mengarahkan pandangan ke arah rumah.
Bu Rofida sedikit bingung. Siapa yang dipanggil oleh Anggun? Apa mungkin Mak Surti sudi kembali ikut mengabdi pada Anggun?
Setelah teriakan Anggun menggema, seorang perempuan tua berambut putih keluar dari pintu samping rumah sambil mendorong sebuah kursi roda. Perempuan berwajah datar dan dingin. Seolah perempuan itu bukan manusia, terlihat bagai mayat hidup.
"Ibuk, perkenalkan pembantu Anggun. Dia juga yang akan mengurus keperluan Ibuk. Namanya Mak Ijah," ucap Anggun sambil tersenyum.
__ __ __
Kisah ini belum berakhir. Meski untuk saat ini merupakan akhir (eh, gimana)
Rumah Tepi Sungai selesai untuk Season ini. Dan akan berlanjut mungkin di bulan depan atau tahun depan??
Buku merah maroon telah disebar. Rumah tepi sungai disiapkan untuk pementasan skenario skenario karya Sang Rich Man.
Banyak juga yang komen, kenapa Bayu cuma begini doang akhirnya? Ya karena kisah ini pemeran utamanya sang antagonis.
Kisah ini terlalu kelam, tidak ada hal positif yang bisa diambil. Emmm, yah perlu digaris bawahi kisah ini hanyalah fiktif ya teman teman. Tidak ada niat untuk memberikan nasehat untuk teman teman semua. Kisah ini murni dari hasil menghalu di jam istirahat kerja. Tapi, kalau mau ditarik dari awal aku hanya ingin menyampaikan stop pembullyan. Kisah ini juga diawali oleh pembully an di masa sekolah, dan berakhir se tragis ini.
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, tempat, kejadian hanya kebetulan semata.
Komen, kritik, saran tetap ditunggu demi perbaikan.
Tak ada gading yang tak retak. Tapi tulisanku kebanyakan retaknya ya (duhh). Tapi please, dukung, dengan klik like, favorit, vote dan share. Dukung juga karya aku yang lain. Aku tanpa kalian hanyalah butiran debu yang menghalu.
Sampai jumpa di season berikutnya yaahh.
Byeeeee~~~~
__ADS_1