
Jam 7 malam, hujan gerimis rintik rintik membasahi jalanan aspal di wilayah kecamatan K. Sebuah mobil berwarna biru tua terparkir di tepi jalan, menghadap tenda dari terpal yang terpasang di trotoar.
Asap mengepul menghasilkan aroma wangi dan manis. Perpaduan bumbu dan kecap, mampu membuat siapapun yang lewat menelan ludah merasakan lapar. Udara begitu dingin, namun pengunjung warung makan tenda itu masih saja ramai.
Dua orang petugas kepolisian nampak tengah asyik menikmati sajian makan malam. Ceker, sayap dan kepala ayam yang dibakar tersedia di piring. Begitupun sambal berwarna merah pekat tersaji di sebuah cobek besar yang terbuat dari tanah liat.
"Bener bener pas. Hujan, dingin, makan yang bakar bakar, minumnya wedang jahee. . .beeehhhh," seloroh Tarji, petugas kepolisian yang terlihat lahap menyantap makanannya.
"Jii nyebut Jii. . .kamu itu kayak nggak makan tiga hari saja bentukanmu," ucap Adi, petugas kepolisian yang berwajah tampan dan berwibawa.
"Tapi serius deh. Disin tuh masakannya nggak ada lawan. Rasanya enak, dapatnya banyak pula," Tarji berbicara dengan mulutnya yang penuh.
"Diam deh. Muncrat semua itu mulutmu," Adi memperingati, tampak sedikit jengkel.
"Aaeeghhhhh," Tarji bersendawa cukup kencang, setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Habis ini kita kemana Di?" Tanya Tarji. Sesekali mulutnya mendesis karena rasa pedas yang masih tersisa di indera pengecapnya.
"Ya pulang lah," sahut Adi singkat.
"Nggak ngapel ke Sinta?" Tarji tersenyum meledek.
"Kalau mau ngapel, ngapain ngajakin kamu," jawab Adi lirih.
"Ngomong ngomong, ini pihak bengkel yang tadi aku titipi motor WA aku. Nanyain pemilik motor kok nggak WA atau menghubungi bengkel ya," Adi menatap layar androidnya.
"Mungkin dua pemuda desa itu lagi sibuk Di. Siapa tahu ya kann," Tarji menanggapi dengan santai.
"Ah, firasatku nggak enak," Adi termenung.
"Kamu itu kalau terus terusan pakai firasat bisa bisa jadi dukun Di," Tarji terkekeh.
__ADS_1
"Desa tempat tinggal dua pemuda tadi kan dekat dengan rumah orang paling kaya di kabupaten kita. Penulis ternama, Sang Rich Man. Andai saja aku sekaya itu ya," Tarji menyesap wedang jahenya perlahan.
"Nggak usah berandai andai. Yang kaya pun belum tentu hidupnya bahagia kok," Adi menimpali.
"Katanya si Bayu juga berkunjung ke rumah Rich Man itu ya. Dia cuti beberapa hari kan?" Tarji nampak mengingat ingat.
"Entahlah, dia cuma ngomong mau berkunjung ke rumah saudaranya," Adi terlihat enggan membicarakan orang lain. Berbeda dengan Tarji yang memang suka bergosip.
"Tapi dari awal aku bertemu dengan si Bayu, entah kenapa aku merasa orang itu agak aneh," imbuh Adi.
"Hadeehh, lagi lagi pake perasaan. Kalau menurutku sih dia orang yang baik, tapi tiap hari baca buku terus. Ya memang sih buku itu jendela dunia," Tarji geleng geleng kepala.
"Buku bersampul merah itu kan maksudmu? Bahkan beberapa teman pengen pinjam nggak boleh," Adi menimpali, kali ini Tarji mengangguk cepat.
"Bayu itu termasuk lulusan terbaik akademi kan? Di tes wawasan dan pengetahuan kamu kalah darinya kan Di?" Tarji tersenyum mengejek.
"Iya, bener. Aku hanya unggul di tes fisik. Tapi sebenarnya, laki laki itu hampir saja tidak lulus," Adi kali ini sudah terpengaruh Tarji, membicarakan rekan kerjanya satu instansi.
"Oh ya, kok bisa?" Tarji penasaran.
"Ini gimana ya, kita ke bengkel yuk. Mungkin lebih baik aku bayarin dulu deh biaya reparasinya," Adi menepuk bahu Tarji.
"Hayukkk," Sahut Tarji cengengesan.
Dua petugas kepolisian itu bergegas masuk mobil. Hujan semakin deras saja. Tarji memacu mobilnya menuju bengkel langganan Adi. Namun baru berjalan beberapa ratus meter, mereka berpapasan dengan 3 mobil pemadam kebakaran dengan kecepatan penuh. Suara sirine nya berbunyi nyaring, mengalahkan suara riuh hujan.
"Dimana nih ada kebakaran?" Tarji memperlambat laju mobilnya.
"Bukannya itu jalan ke arah desanya dua pemuda yang tadi pagi ya," Adi mengernyitkan dahi. Belum sempat rasa penasaran terjawab, HP Adi dan Tarji bergetar bersamaan. Sebuah pesan masuk, dari salah seorang rekan polisi yang bertugas jaga di kantor.
"Ada WA apa Di?" Tarji bertanya, karena dia dalam keadaan mengemudi tidak mungkin melihat HP nya. Tapi dia yakin WA yang masuk secara bersamaan ke HP nya dan HP Adi, menandakan ada sebuah informasi penting atau perintah yang datang dari instansinya.
__ADS_1
"Putar arah Ji," perintah Adi. Tarji segera menginjak rem, dan memutar arah mobilnya.
"Ikuti mobil damkar tadi," lanjut Adi. Adi dan Tarji mendapat informasi bahwa warga desa K menemukan orang asing yang terluka parah. Dan saat ini, terjadi kebakaran di wilayah hutan desa tersebut.
Malam yang terasa begitu ramai. Namun, suara sirine membuat keramaian itu terasa mencekam. Di tengah rintik hujan beberapa orang mengintip jalanan melalui jendela rumahnya. Mereka panasaran, ada apa gerangan, jalan kecamatan yang biasanya sepi, kini terdengar begitu gaduh.
Mobil Tarji diparkir di sebuah tanah lapang di pintu masuk desa. Meskipun di jalan tadi hujan cukup deras, nyatanya di area desa tidak ada satupun setitik air yang jatuh dari langit.
"Asap hitam dari tengah hutan Di," Tarji menunjuk kepulan asap di kaki bukit.
"Kita ke POLINDES Ji, cepat!" Adi bergegas, meninggalkan Tarji yang masih berdiri mematung.
Jalanan yang terjal membuat langkah kaki dua petugas kepolisian itu terasa lambat. Beberapa kali Tarji tersandung kerikil yang berserakan di jalan.
"Sial*n! Kerikil kerikil jar*n!" Tarji mengumpat kesal.
"Huuss, jaga bicaramu! Jangan bicara kotor. Ingat, dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung," Adi menasehati. Sebenarnya beberapa kali mulutnya juga hendak mengumpat, saat jempol kakinya terantuk batu.
"Aku nyesel Di. Ngapain juga aku kemarin mobil tak bikin ceper. Kalau tahu kayak gini, mending dibiarin standar saja deh. Nggak bakal gasruk kan, kita nggak perlu jalan kaki seperti ini," Tarji menggerutu. Adi diam saja mendengarkan. Dia lebih memilih untuk fokus dengan pijakan kakinya.
Setelah beberapa kali Tarji menggerutu dan menumpahkan kekesalannya, akhirnya mereka sampai di sebuah kantor kepala desa yang terlihat luas. Ada sebuah kentongan yang sangat besar di bagian aula nya. Dan di samping kantor kepala desa tersebut, berdiri sebuah bangunan minimalis mungil dengan lampu yang menyala terang.
"Nah itu POLINDES nya," ucap Adi, sembari mengelap peluh di dahinya.
Ada dua perempuan yang berada di POLINDES. Seorang bidan desa bernama Nurma dan asistennya yang bernama Rinda. Adi dan Tarji segera memperkenalkan diri. Mereka juga menunjukkan identitasnya sebagai anggota kepolisian.
Bidan desa mempersilahkan Adi dan Tarji untuk melihat kondisi pasiennya yang belum sadarkan diri. Bidan desa juga menjelaskan tempat ditemukannya laki laki asing yang tengah terluka itu berdasar apa yang disampaikan Pak Kasun padanya.
Saat Adi dan Tarji tengah mendengarkan penjelasan bidan, sayup sayup terdengar suara tangis di kejauhan.
"Ada apa lagi ini?" Adi bergegas keluar ruangan.
__ADS_1
Di salah satu rumah warga tak jauh dari Polindes, terlihat beberapa orang berkerumun. Dan suara tangisan pilu terdengar dari sana.
Bersambung ___