
Seakan berjodoh dengan sebuah tragedi, Adi dan Tarji kali ini juga masuk ke dalam sebuah kasus yang berbalut misteri. Mereka berdua berada di sebuah desa terpencil, di halaman rumah salah satu warga. Jerit tangis di malam hari membuat Adi dan Tarji mau tidak mau melihat dan bertanya ada apa sebenarnya?
Dua jasad pemuda ditandu oleh 4 orang warga menggunakan kain sarung. Jasad yang penuh luka sayatan benda tajam. Cairan merah kental yang telah mengering melumuri sekujur tubuhnya.
Saat Adi dan Tarji datang mendekat, terlihat beberapa warga memandangi mereka dengan tatapan waspada. Bidan Nurma akhirnya memberi penjelasan bahwa dua orang tersebut adalah petugas kepolisian.
Di bawah cahaya lampu halaman rumah yang temaram, Adi dan Tarji memperhatikan jasad yang telah terbujur kaku. Adi nampak terkejut melihat sosok yang sudah tak bernyawa itu.
"Ji, mereka kan yang tadi siang," Adi menepuk pundak Tarji. Tarji diam saja, karena dia masih sulit mengenali mayat yang berlumuran darah itu.
"Pak polisi kenal dengan mereka?" Tanya bidan desa penasaran.
"Ya kalau nggak salah namanya Fadlan dan satunya lagi aku lupa. Kebetulan mereka berdua tadi pagi bertemu kami di jalan," jawab Adi sedikit ragu. Tarji masih diam saja tak menyahut.
"Bapak bapak, mohon maaf. Apa yang sebenarnya terjadi?" Adi bertanya pada warga.
"Kami tidak tahu Pak Polisi. Kami pergi ke hutan hendak melihat kebakaran, di tengah jalan kami menemukan Fadlan dan Wignyo sudah seperti itu. Badannya diikat dengan tali yang terbuat dari bambu di bawah pohon sengon," jawab salah seorang warga yang berambut ikal.
"Anak kami adalah orang kepercayaan Tuan Zainul. Setiap bulan mereka selalu ke rumah Tuan Zainul untuk mengantarkan segala kebutuhannya. Kami tak mengira nasib anak kami begitu tragis seperti ini. Terkutuklah penjahat yang tega melakukan semua ini," sambung Bapak berpeci hitam sembari menahan tangis. Pria berusia setengah abad itu adalah Bapak dari Wignyo.
"Tuan Zainul?" Adi mengernyitkan dahi.
"Iya, Tuan Zainul adalah penulis kaya raya yang tinggal di tengah hutan di ujung desa. Beliau orang yang sangat berjasa terhadap pembangunan desa. Banyak dana hibah yang dia sumbangkan untuk sekolah, jalan, bahkan perpustakaan umum desa. Dan kebakaran itu kemungkinan berasal dari rumah Tuan Zainul. Kami khawatir terjadi sesuatu disana, mengingat beberapa waktu lalu ada beberapa orang yang berkunjung kesana dan belum kembali," terang warga desa berambut ikal. Di antara beberapa orang yang lain, sepertinya Bapak bapak berambut ikal itu seorang tokoh masyarakat.
"Orang yang tengah terluka dan kami rawat kemungkinan besar juga salah satu pengunjung rumah Tuan Zainul," imbuh Nurma, bidan desa.
__ADS_1
"Berarti semua tregedi ini berasal dari rumah penulis itu," gumam Adi.
"Bukankah Bayu ada disana Di?" Tarji berbisik.
"Entahlah," Adi menggeleng pelan.
"Pak, apakah njenengan bisa mengantarkan kami ke rumah Tuan Zainul itu?" Pinta Adi pada bapak berambut ikal.
"Siap Pak," Bapak berambut ikal menyanggupi.
"Maaf, Bapak namanya siapa?" Tanya Tarji.
"Ah, iya Pak. Perkenalkan saya biasa dipanggil Lik Wo," Bapak berambut ikal itu tersenyum memperkenalkan diri.
Bayu sangat hafal detail wilayah hutan tersebut. Lahan yang dibeli oleh Zainul saat mendapatkan penghasilan dari novel pertamanya. Warga desa sekitar tidak pernah tahu, bagaimana sosok sebenarnya Zainul sang Rich Man yang telah membeli tanah berhektar hektar milik mereka.
Zainul dan Bayu seringkali berkunjung ke hutan tersebut, namun tidak pernah memperkenalkan diri pada warga. Kalaupun kebetulan bertemu dengan warga sekitar, baik Zainul maupun Bayu menerangkan mereka hanya ingin berkemah di hutan.
Warga desa baru tahu sosok sang Rich Man setelah Hendra datang dan memperkenalkan diri sebagai Zainul.
"Keinginanmu telah terwujud Tuan Zainul," ucap Bayu sambil mendongak menatap langit yang hitam kelam. Dia tersenyum di sela sela nafasnya yang tersengal. Rupanya, rasa letih kini dia rasakan.
Bayu melanjutkan mendaki tanah perbukitan yang gembur. Sedangkan sorot lampu senter warga nampak sudah mencapai bagian bawah bukit. Sepertinya, warga sudah berada di halaman depan rumah tepi sungai.
Bayu berhenti sejenak saat melihat sesosok perempuan tengkurap di tanah yang berlumpur. Bayu menunduk, dengan berhati hati menghidupkan senter di HP nya. Dia tidak ingin cahaya senternya terlihat oleh warga.
__ADS_1
Sebuah senyuman tersungging di bibir Bayu. Rupanya sosok perempuan yang dia temukan adalah mayat Ellie. Tubuh Ellie terasa dingin dan kaku. Hendra benar benar mengeksekusi teman temannya tanpa ampun.
Bayu kembali berjalan, hingga akhirnya sampai di bagian puncak bukit. Tanah lapang dan rumput gajah menyambutnya. Sedikit was was juga Bayu melangkahkan kakinya. Ada rasa khawatir jika kakinya menginjak ular berbisa atau hewan malam lainnya yang berbahaya.
Rasa dahaga membuat Bayu melepas tas ransel di pundaknya. Dia mengambil sebuah botol minuman. Belum sempat dia menenggaknya, sayup sayup terdengar suara orang yang tengah berbincang. Diikuti oleh sorot lampu senter.
"Sialan!" Umpat Bayu pelan. Dia tidak menduga akan ada rombongan warga yang lain.
Bayu segera melompat ke semak semak dan berjongkok. Dia tidak boleh terlihat oleh siapapun. Di tengah gelapnya hutan, Bayu mengerjap ngerjap mencoba mengamati siapa yang mendekat.
Ada tiga orang sedang berjalan dengan tergesa gesa. Dua di antaranya Bayu kenal dan hafal, mereka adalah Adi dan Tarji. Dua orang petugas kepolisian yang acap kali tanpa sengaja terjebak dalam kasus kasus yang rumit. Petugas kepolisian nyentrik yang terkenal akan dedikasinya pada instansi tempatnya bernaung. Sementara satu orang yang berjalan di depan Adi dan Tarji sepertinya adalah warga sekitar.
"Sialan! Ngapain dua orang itu kesini? Aku harus cepat mengakhiri semua ini!" Gumam Bayu dalam hati.
Setelah Adi dan Tarji pergi serta keadaan dirasa aman, Bayu mengendap ngendap kemudian setengah berlari menuruni bukit. Ada satu tugas yang mesti dia selesaikan, atau skenario dari Zainul akan hancur berantakan.
Beberapa kali Bayu jatuh dan terpeleset, tapi dia mengacuhkannya. Tak ada waktu untuk mengaduh, Bayu terus berjalan meskipun tulang keringnya terasa linu terhantam kerikil. Saat terdengar bunyi gemericik air, Bayu bernafas lega. Tempat tujuannya sudah dekat. Wilayah perkampungan di depan mata.
Dibalik pepohonan, Bayu mengganti pakaiannya yang kotor. Dia memakai kemeja batik motif khas kepolisian tempatnya bekerja. Juga mengambil dompet, buku bersampul merah, sepucuk pistol dan sebuah plastik hitam kecil.
Kemudian Bayu menyalakan korek api dan membakar tas ranselnya. Dia tidak boleh meninggalkan jejak. Bayu harus menghilangkan bukti keterlibatannya dengan rumah tepi sungai.
Bayu merapikan rambutnya, menarik nafas perlahan, menepuk nepuk pipinya sendiri kemudian berjalan santai menuju ke pemukiman warga.
Bersambung___
__ADS_1