Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
II. Senja Pertama


__ADS_3

Sore tiba, gelap terasa datang lebih cepat. Orang orang yang terbiasa hidup di pusat kota dengan keramaian dan terangnya cahaya lampu cukup terkejut dengan suasana petang di tengah hutan. Bayangan pohon pohon besar di sekitar rumah menghalangi cahaya matahari masuk, sehingga jam setengah lima sore bagaikan jam delapan malam.


Suara dengung nyamuk nyamuk besar, nyamuk khas hutan beterbangan di sekitar telinga. Terasa mengganggu dengan gigitan yang cukup menyakitkan. Pak Nyoto mengibas ngibaskan tangannya dengan ekspresi wajah yang nampak kesal.


"Buk ee, nggak ada obat nyamuk kah?" Pak Nyoto berteriak memanggil Mak Surti.


"Lupa Pak tadi nggak beli. Nih, si Miko juga badannya bentol bentol digigit nyamuk," Mak Surti menimpali.


"Ajak si Miko ke rumah utama, sekalian kamu kan waktunya nyiapin makan malam. Disana ada pengusir nyamuk elektrik, pasti aman," Pak Nyoto memberi saran.


"Tapi Bapak yakin disini sendirian?" Tanya Mak Surti ragu ragu.


"Lah, emang kenapa? Mbok pikir aku takut apa sendirian disini?" Pak Nyoto sewot.


"Bukan e begitu Pak ee, maksudku itu yakin nih ditinggal sendirian nata tempat ini. Kamarnya Mas Erwin juga masih berantakan," Mak Surti geleng geleng kepala.


"Nggak pa pa. Setengah jam juga beres, tinggal ngangkat kasur terus diletakkan di dipan kan, sama pasang sprei," Pak Nyoto mengelus elus janggutnya, berpikir.


"Ho oh. Yaudah, kalau gitu tak tinggal ke rumah utama. Kalau ada apa apa, butuh apapun, panggil saja," Mak Surti menggendong Miko, berjalan keluar menuju rumah utama.


Sepeninggal Mak Surti, Pak Nyoto melanjutkan kesibukannya menata kasur. Suara serangga serangga malam terdengar bersahutan memulai konsernya.


"Di kota berisik suara mobil lewat. Di tengah hutan kayak gini, kuping isinya kumbang dan teman temannya," Pak Nyoto geleng geleng kepala. Dia bergumam sendirian.


Selesai menata kasur, Pak Nyoto menuju ke halaman belakang. Dia hendak memeriksa genset penyuplai aliran listrik rumah. Saat membuka pintu belakang, Pak Nyoto cukup kaget melihat Erwin tengah berdiri di bawah pohon beringin. Keponakan majikannya itu terdengar sedang berbicara sendirian.


Pak Nyoto mendekat ragu ragu. Ada rasa takut sekaligus khawatir. Mengingat mereka saat ini tinggal di tengah hutan, bisa saja ada yang kerasukan atau semacamnya.


"Kutemukan bukumu," sepenggal kalimat yang terucap oleh Erwin samar samar tertangkap oleh indera pendengaran Pak Nyoto.


"Nak. . .Nak Erwin?" Pak Nyoto memanggil ragu ragu. Dia menjaga jarak beberapa langkah dengan pria muda itu.

__ADS_1


Erwin terdiam, mendadak suasana menjadi hening. Pria muda berambut gondrong itu berdiri mematung memunggungi Pak Nyoto. Dia hanya berdiri, tak menoleh tak bergeming.


Glekk


Pak Nyoto menelan ludah. Perasaan takut mulai menyelimuti hatinya. Apalagi hawa dingin hutan yang membuat tengkuknya semakin merinding hebat.


"Nak Erwin?" Sekali lagi Pak Nyoto memanggil. Tenggorokannya terasa butuh tetesan air. Detak jantungnya pun berdegup tak beraturan.


"Iya Pak?" Erwin tiba tiba saja menyahut. Dia menoleh, dengan bibir yang tersenyum lebar.


"Ahh," Pak Nyoto terkejut dan mundur beberapa langkah.


"Ada apa Pak?" Erwin menggaruk garuk kepalanya.


"Anu, Nak Erwin ngagetin saja. Untung jantung tua saya nggak berhenti mendadak," Pak Nyoto mengel*s elus dadanya.


"Ha ha ha. . .jangan gitu dong Pak. Ada apa sih? Kok kelihatan kayak takut begitu" Erwin bertanya sembari cengar cengir.


"Ini lho Pak, aku sedang menghafal teks drama," Erwin menunjukkan selembar kertas di tangan kanannya.


"Ohhhhh," Pak Nyoto manggut manggut.


"Sebentar lagi kan kuliahku rampung Pak. Aku mulai nyari nyari tempat kerja. Pengennya sih ikut sanggar drama atau teater gitu, mungkin bisa juga ke ibukota buat ikut casting," jelas Erwin.


"Jadi artis gitu? Masuk tv?" Pak Nyoto bertanya.


"Badanku nggak muat Pak masuk TV. .ha ha ha ha," seloroh Erwin disusul tawanya yang bergema.


Erwin sebentar lagi wisuda. Dia telah berhasil menyelesaikan studinya. Erwin akan menyandang gelar S.Sn atau sarjana seni. Pikirannya saat ini tengah disibukkan untuk mencari kerja sesuai bakat dan minatnya. Dia ingin segera mempunyai penghasilan sendiri, agar tidak terus menerus merepotkan keluarga Ferry Lawanto.


Sementara itu Mak Surti masuk rumah utama melalui pintu belakang. Suasana rumah begitu senyap. Mungkin majikannya tengah berada di kamarnya masing masing di lantai atas.

__ADS_1


Mak Surti menurunkan Miko dari gendongan. Dia memberi Miko beberapa robot mainan, kemudian segera membuka tas kresek besar yang tergeletak di atas meja dapur. Ada bermacam macam sayuran segar di dalamnya. Juga daging, telur dan beberapa potong tuna, serta seafood mentah.


Mak Surti mengangkat satu persatu bahan makanan tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam lemari es besar dengan dua pintu.


"Miko, kamu mainan disitu saja ya. Ibuk mau masak dulu," Mak Surti tersenyum menatap putra semata wayangnya.


"Iya Bukk," jawab Miko dengan wajah polosnya.


Mak Surti mengecup pipi Miko, kemudian beranjak ke depan meja dapur. Dengan cekatan Mak Surti mengiris iris kangkung dan buncis. Beberapa papan tempe dan tahu juga dipotongnya dengan bentuk kotak sempurna.


Tangan Mak Surti beralih meraih bawang merah, bawang putih, cabe, serta bumbu bumbu lainnya. Menumisnya sebentar, kemudian mencampurkan semuanya di sebuah cobek yang terbuat dari kayu.


Saat Mak Surti sibuk dengan masakannya, terdengar langkah kaki menuruni anak tangga yang terletak di sebelah dapur. Mak Surti menoleh, memperhatikan siapa gerangan yang datang. Ternyata majikannya yang cantik terlihat berjalan dari lantai atas.


Anggun, majikan Mak Surti itu benar benar perempuan yang cantik. Tanpa make up, dan hanya memakai piyama putih saja aura kecantikannya tetap tidak terbantahkan. Namun sayang, siapapun yang melihatnya sekarang pasti langsung menduga perempuan cantik itu sedang tidak baik baik saja.


Wajahnya kuyu, tatapan matanya sayu. Tulang pipinya terlihat sedikit menonjol, sementara kelopak matanya terkadang terlihat sangat hitam. Bibirnya semburat merah namun kesan pucat tidak bisa dipungkiri. Beberapa bulan terakhir berat badannya pun turun drastis.


"Ah Nyonya, apa saya mengganggu istirahat njenengan?" Mak Surti sedikit membungkuk.


"Ah tidak Mak. Seperti biasa aku sedang tidak bisa memejamkan mataku. Meski badan ini terasa letih," ucap Anggun lirih.


Anggun beralih menatap Miko yang tak peduli dengan kedatangannya. Balita itu tetap asyik memainkan Robot, begitu riang bercakap cakap dengan benda yang terbuat dari plastik itu.


"Ahh, Miko. . .enak ya jadi anak kecil," Anggun berjongkok di depan Miko.


Miko mendongak, memperhatikan sekilas wajah Anggun kemudian kembali asyik dengan mainannya.


"Yaahh, Tante dicuekin nih," Anggun tersenyum, perlahan dia berdiri dan melangkahkan kakinya ke ruang keluarga.


Mak Surti memperhatikan punggung majikannya yang berjalan menjauh. Mak Surti tidak pernah tahu, bahwa saat ini Anggun menggigit bibirnya sendiri menahan rasa sedih di hati. Kesedihan yang dipendam dan hanya dia sendiri yang tahu.

__ADS_1


Bersambung ___


__ADS_2