Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XIII. Sajian lezat


__ADS_3

Pak Nyoto tengah membakar sampah plastik di halaman belakang, saat Mak Surti datang membawa dua piring nasi goreng. Miko nyaman berada di gendongan Mak Surti, asisten rumah tangga yang sudah bertahun tahun mengabdi di keluarga Ferry Lawanto itu.


"Menunya nasi goreng Buk?" Pak Nyoto melirik piring yang diletakkan pada bangku kayu di belakangnya.


"Ada yang lain juga sih Pak. Tapi nunggu selesai Tuan dan Nyonya makan, baru nanti jatah kita," ucap Mak Surti. Dia menurunkan Miko dari gendongan.


"Hyuh Buk, si Erwin mulai macem macem. Padahal tak pikir anaknya kalem," gerutu Pak Nyoto. Dia masih mengaduk ngaduk beberapa plastik bekas snack yang terbakar.


"Macem macem gimana Pak?" Mak Surti mengernyitkan dahi.


"Tadi bawa perempuan masuk ke kamar. Lama pisan," Pak Nyoto geleng geleng kepala.


"Ya mbok biarin to Pak. Dosa ditanggung sendiri, kamu bukan orangtuanya Pak. Nggak ada kewajiban untuk menasehati," Mak Surti menepuk nepuk punggung suaminya itu.


"Ya tapi nggak bener Buk yang kayak gitu itu. Erwin beda ya, nggak kayak Tuan Ferry dulu. Kalau Tuan Ferry dulu orangnya fokus kerja, nggak neko neko, nggak macem macem, makanya bisa sukses," Pak Nyoto menggerutu.


"Ya mungkin Bapak saja yang nggak tahu," bantah Mak Surti.


"Lhah, aku yakin se yakin yakinnya, kalau Tuan Ferry itu nggak pernah ngajak perempuan ke dalam kamar kecuali istrinya. Aku tahu betul Buk. Dan hidup itu selalu membawa karma. Ketika kita berkelakuan baik dan terhormat maka kita akan mendapat jodoh orang terhormat juga. Makanya Tuan Ferry bisa berjodoh dengan Nyonya Anggun yang cantik, baik, kalem seperti itu. Wong urip iku ngundhuh wohing pakerti Buk," ucap Pak Nyoto sungguh sungguh. Mak Surti menghela nafas, dan akhirnya mengangguk tanda setuju. Atau mungkin Mak Surti sedang malas berdebat dengan suaminya.


"Nasi gorengnya buruan dimakan Pak. Keburu dingin nanti," Mak Surti mengingatkan.


"Sebentar lagi Buk, nunggu sampahnya habis ini lho," Pak Nyoto masih mengaduk ngaduk sampah plastik menggunakan sebuah tongkat kayu. Mak surti memperhatikan dan indera penglihatannya menangkap sebuah benda yang tidak asing.


"Lhah Pak itu bukannya plastik biskuit cokelatnya Non Vivi ya?" Mak Surti menunjuk plastik yang terbakar sebagian.


"Lhah, mana Bapak tahuu," sergah Pak Nyoto.


"Darimana Bapak dapat itu tadi?" Tanya Mak Surti.

__ADS_1


"Bungkus bungkus plastik ini berceceran di bawah pohon beringin sana Buk," jawab Pak Nyoto. Mak Surti termenung, ekspresinya nampak bingung.


"Ada apa sih Buk?" Pak Nyoto mengguncang guncangkan pundak istrinya yang melamun.


"Begini Pak. Tadi tuh, Non Vivi nyari biskuit cokelatnya. Katanya belum sempat dimakan, tapi sudah nggak ada di kulkas, hilang gitu. Terus ada lagi Pak, persediaan daging ayam juga berkurang di freezer. Aneh banget," Mak Surti bergidik. Pak Nyoto mendengarkan dengan serius.


"Eh eh, Bapak jadi teringat cerita keponakan Bapak si Broto. Tahu kan Broto?" Pak Nyoto bertanya dengan mata melotot.


"Iya, tukang bangunan yang ikut ngerjain pembangunan rumah ini kan? Kenapa Broto Pak?" Mak Surti balik bertanya, tak kalah antusias.


"Broto cerita waktu ngerjain rumah ini dulu, setiap jam makan siang selalu ada pekerja yang kehilangan nasi bekalnya. Itu terjadi setiap hari. Para pekerja sempat punya rencana untuk menyelidiki siapa yang mencuri, namun akhirnya tidak mereka lakukan. Karena salah satu pekerja mengaku melihat penampakan menyeramkan di sekitar sungai. Broto dan kawan kawannya yakin, ada sosok lain yang minta 'jatah' sajen di area ini Buk," Pak Nyoto bercerita sambil berbisik.


"Hiiii," Mak Surti merinding ketakutan. Dia beranjak menggendong Miko masuk ke dalam rumah.


"Buk, kok malah ninggalin Bapak," Teriak Pak Nyoto jengkel.


_


Inge beberapa kali mencuri pandang ke arah Erwin. Tidak ada yang menyadari tingkah perempuan glamor itu kecuali sang sahabat yaitu Vita. Sedari tadi Vita memperhatikan gelagat aneh Inge. Apalagi sekilas terlihat tanda merah di leher Inge yang tertutup kerah baju.


"Kamu dari mana Nge?" Tanya Vita penuh selidik.


"Main main bentar," jawab Inge sambil tersenyum.


"Aku sudah bisa menebak apa arti bermain bagimu," ucap Vita geleng geleng kepala.


"Sstttt," Inge meletakkan telunjuk di bibirnya.


Tinggg

__ADS_1


Ferry mengetuk gelas di hadapannya menggunakan gagang sendok.


"Semua sudah berkumpul, silahkan menikmati sajian sederhana dari kami," ucap Ferry mempersilahkan para tamunya untuk makan. Matanya memandang satu persatu tamu di hadapannya.


Jamuan makan yang mewah. Ada tiga ekor ayam yang dipanggang dan dibumbu 'lodho', urap, juga udang udang kecil yang digoreng crispy. Mak Surti juga mengolah tiga jenis nasi. Ada nasi merah, nasi kuning, juga nasi goreng. Untuk minuman telah disiapkan jus jambu dan jus alpukat. Semua makanan benar benar menggugah selera.


"Duh, Tuan rumah benar benar tahu makanan kesukaan tamunya," ucap Erfan sambil mengarahkan pandangannya pada Anggun. Hampir semua orang menyadari tatapan Erfan yang tak biasa dan terasa kurang sopan itu. Erwin menggenggam sendok erat erat, sedangkan Ferry terdengar beberapa kali berdehem.


"Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, saya terbiasa makan langsung pakai tangan tanpa sendok. Saya permisi mencuci tangan dahulu," ucap Erfan kemudian.


"Silahkan pakai wastafel di sebelah sana," Ferry menunjuk tempat cuci tangan di sudut ruangan. Erfan mengangguk kemudian segera berdiri dari duduknya. Beberapa saat kemudian Erfan telah kembali di kursinya.


"Sepertinya saya juga ingin mencoba makan langsung pakai tangan sepertimu Erfan," Ferry beranjak menuju tempat cuci tangan. Anggun menatap suaminya penuh tanya. Sikap Ferry sedikit aneh kali ini. Suasana berubah hening.


"Duh, ayamnya utuh ya. Gimana cara ngambilnya nih?" Celetuk Ali tiba tiba memecah kesunyian.


"Ah iya, karena Mak Surti sedang mengurus Miko, sebagai gantinya biar saya saja yang memotong daging ayamnya," Erwin mengajukan diri.


Erwin segera mengambil pisau besar di dapur, kemudian dengan cekatan memotong dan membelah tiga ekor ayam 'lodho' menjadi beberapa bagian. Lalu membagikannya di piring semua orang. Inge memperhatikan Erwin dengan lekat. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok pemuda berambut gondrong itu.


"Mari, silahkan," Anggun tersenyum.


Semua orang secara bersama sama menikmati sajian makan di rumah baru keluarga Ferry Lawanto. Tak ada satu patah katapun yang terucap, semua orang benar benar menikmati masakan dari Mak Surti. Ali Sabet terlihat menambah nasi di piringnya dengan sedikit malu malu.


Namun saat semua orang mengagumi hasil masakan Mak Surti, Erfan tiba tiba saja merasakan sesak di dadanya. Lehernya seperti tersumbat dan tercekik. Dia hendak menyambar air putih di hadapannya tapi pandangannya berubah kabur.


Praangggg


Gelas di hadapan Erfan jatuh dan pecah. Semua orang menoleh, menatap Erfan yang memegangi lehernya.

__ADS_1


"Ack ack ack," Erfan berdiri, mulutnya terbuka seperti mencoba menarik nafas, sedangkan matanya memerah dan melotot. Raut wajahnya terlihat begitu kesakitan. Detik berikutnya, tubuh pria yang hobi foto itu ambrug ke meja makan.


Bersambung___


__ADS_2