
Mak Surti tergeletak lemas di kamarnya. Air mata telah kering, kelopak mata bengkak memerah. Sesekali terdengar rintihannya yang parau memanggil Miko.
Dalam hati Mak Surti menyesali keputusannya yang memilih untuk menemani Anggun pindah ke rumah baru di pedalaman hutan. Tinggal di tengah belantara jauh dari keramaian yang awalnya demi mendapatkan ketenangan, nyatanya malah membawa malapetaka.
"Huuuu. . .Miko anakku. Andai saja kita tidak pindah kemari, nggak bakal terjadi seperti ini Nak. Andai kita tetap di kota, kamu pasti sudah jadi siswa yang pintar di sekolah. . .huuuuu," Mak Surti menangis tersedu.
Dengan penuh emosi, Mak Surti mencakar rambutnya sendiri. Miko adalah lentera kehidupan bagi Mak Surti. Bertahun tahun lamanya berumah tangga tak juga mendapat keturunan. Di usianya yang semakin tua dia mendapatkan anugerah, bocah laki laki sehat dan tampan yang dia beri nama Miko.
Mengasuh Miko sambil mengabdi pada keluarga Ferry Lawanto bisa Mak Surti lakukan dengan lancar. Bocah laki lakinya itu jarang sekali rewel. Bahkan saat diajak pindah ke rumah baru Anggun, Miko tak perlu waktu lama untuk beradaptasi. Kini, Mak Surti hanya bisa memeluk foto dari jagoan kecilnya itu.
"Huuu. . .Mikoo, pulang Nak. Peluk bundamu ini. Maafkan aku nggak bisa menjagamu Nak," Mak Surti kembali meratap. Dia memukul mukul dadanya sendiri. Menyiksa diri sendiri terkadang menjadi pilihan sebagian orang untuk melampiaskan rasa bersalahnya.
Di tengah keputusasaan Mak Surti merasakan tangan kecil membelai kepalanya. Jari jarinya yang lembut dengan aroma minyak telon yang khas, membuat Mak Surti terhenyak. Mata Mak Surti terlanjur sembab parah, sulit untuk melihat dengan jelas.
Dalam pandangan mata yang buram, Mak Surti samar samar melihat bayangan anak kecil duduk di sampingnya. Mak Surti berhenti menangis, memandangi sosok anak kecil yang mirip Miko, duduk tersenyum dengan mata berbinar.
"Miko? Apa ini mimpi?" Mak Surti mengucek ngucek matanya.
Perlahan Mak Surti menyentuh tangan mungil anak semata wayangnya itu. Sentuhan yang terasa nyata. Mak Surti yakin dia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Dan akhirnya perempuan itu mendekap Miko dan menangis sejadi jadinya.
"Huuuu. . .kamu pulang Nak," Mak Surti menangis bahagia. Dia tidak memperhatikan ada sosok perempuan bersandar di ambang pintu kamarnya.
Setelah beberapa saat Mak Surti akhirnya tersadar dengan kehadiran sosok mengerikan dengan sebagian wajahnya yang mengkerut bekas luka bakar. Mak Surti segera berdiri, mengangkat Miko dan menyembunyikan balita itu di belakangnya.
__ADS_1
"A apa maumu? Aku nggak ada urusan denganmu! Jangan ganggu anakku!" bentak Mak Surti dengan suara parau. Tenggorokannya terasa perih akibat terlalu lama menangis.
"Aku mengembalikan anakmu. Membawanya tak membuatku mendapatkan apa yang kuinginkan. Membawanya hanya akan membuatku menjadi seorang penjahat. Sedangkan aku bukanlah seorang penjahat. Aku hanya orang yang ingin kembali pada keluargaku seperti dulu. Jangan salah sangka," sosok perempuan mengerikan itu terlihat menitikkan air mata, kemudian berjalan pergi dengan menyeret sebelah kakinya.
Mak Surti terdiam mematung. Dia sama sekali tak mengerti dengan ucapan sosok mengerikan yang telah menculik Miko itu. Yang pasti sosok perempuan dengan luka bakar di sebagian wajahnya telah lenyap ditelan kegelapan malam.
"Nak, ayo kita pergi dari rumah ini," ucap Mak Surti pada Miko.
Mak Surti segera menyambar tas jinjing yang ada di atas lemari. Dia memasukkan baju baju milik Miko, dan mainan lego kesayangan putra nya itu. Mak Surti juga mengambil sebuah gendongan berbahan katun pemberian Anggun dari dalam lemari. Dengan terburu buru dia mengangkat Miko dan menggendongnya.
"Ayo kita pergi dari rumah terkutuk ini!" ucap Mak Surti sekali lagi dan segera keluar kamar sambil menjinjing tas yang telah diisi dengan peralatan dan pakaian Miko.
"Bapak mana?" tanya Miko dengan wajah polosnya. Mak Surti tak menyahut. Baginya kini yang terpenting adalah keselamatan Miko. Dia akan mengirim pesan WA pada suaminya nanti saat keadaan sudah aman.
Melewati ruang makan yang sunyi Mak Surti mempercepat langkahnya. Lampu lampu ruangan yang lupa belum dinyalakan menambah kesan menakutkan dari rumah baru majikannya itu.
"Maaf Tuan, Nona, saya pamit. Semoga njenengan tenang nggeh," Mak Surti menangis terisak.
Meski lututnya terasa lemas, seolah tulang penyangga tubuhnya menghilang, Mak Surti tetap memaksa kakinya untuk melangkah melewati tubuh majikannya yang tak bernyawa. Satu hal yang menguatkan Mak Surti, keinginannya untuk membawa Miko pergi menjauh dari rumah tepi sungai yang terkutuk itu.
Saat sampai di teras depan rumah, Mak Surti menghentikan langkahnya. Dua orang laki laki asing nampak berlari mendekat ke arahnya. Mak Surti memasang kuda kuda waspada.
"Siapa kalian? Mau apa?" teriak Mak Surti menjaga jarak. Miko memeluk erat ibunya yang terlihat ketakutan itu.
__ADS_1
"Ah, maaf kami dari kepolisian. Nama saya Adi dan yang ada di belakang itu rekan saya namanya Tarji," ucap sosok laki laki yang sampai lebih dulu sembari menunjukkan kartu identitasnya.
"Pak polisi, tolong antarkan saya pergi dari rumah terkutuk ini," pinta Mak Surti sambil menangis. Perasaannya sedikit lega, tapi dia masih belum tenang selama Miko belum benar benar menjauh dari rumah baru Anggun. Rumah yang membawa malapetaka.
"Tenang Bu. Coba ceritakan secara singkat apa yang terjadi?" tanya Adi mencoba menenangkan Mak Surti.
"Saya pembantu di rumah ini pak. Ada perempuan berwajah rusak di belakang rumah. Tadi perempuan itu menculik anak saya Pak. Makanya saya harus segera membawa anak saya pergi dari rumah pembawa malapetaka ini," jawab Mak Surti terbata bata.
"Terus di ruang tamu, semua majikan saya mati Pak. Saya nggak tahu, pokoknya antarkan anak ini keluar dari hutan sekarang juga Pak," Mak Surti berteriak teriak histeris.
"Haahhh haaa haaahh, sial! Capek lari lari!" Tarji baru sampai di teras rumah sambil menyeka keringat di dahinya.
"Ji, antarkan ibu dan anaknya keluar dari hutan. Begitu sampai di pemukiman warga, mintai ibu ini keterangan. Kamu harus menjaganya, dan jangan biarkan ibu ini pergi kemanapun. Tetaplah di desa sampai aku kembali!" tukas Adi memberi perintah. Tarji masih mengatur nafasnya.
"Kami akan membawa ibu keluar dari tempat ini. Tapi tolong ibu kooperatif, tetaplah di desa dan jangan kabur," Adi menatap tajam pada Mak Surti.
"Saya mengerti Pak. Asalkan saya bisa keluar dari tempat ini, saya akan menurut. Saya siap menjadi saksi untuk kepolisian," Mak Surti memohon.
"Tarji, ada motor di samping rumah. Meski tanpa kunci kamu bisa kan menyalakannya?" tanya Adi.
"Aku sudah dapat ilmunya kalau soal begituan sih nggak usah kamu tanya Dii," jawab Tarji membanggakan diri.
"Bu, silahkan ikut rekan saya!" perintah Adi pada Mak Surti.
__ADS_1
"Di, hati hati. Kalau sampai tengah malam kamu belum kembali ke desa aku akan menyusulmu kesini!" ucap Tarji menatap Adi dengan ekspresinya yang serius. Adi terkekeh melihat Tarji yang biasanya berwajah kocak kini menampilkan ekspresi tanpa senyuman.
Bersambung___