Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XVIII. Jejak Kaki di dapur


__ADS_3

Ctiikkk


Erwin menekan saklar lampu ruang makan. Cahaya bersinar dengan terang, menampakkan wajah pucat pasi Erfan dengan mulut terbuka. Lalat lalat hijau mulai keluar masuk di lubang hidung laki laki penyuka foto itu. Aroma tak sedap juga menguar di udara. Membuat Inge dan Vita mual. Refleks mereka menutupi hidungnya.


"Tidak ada siapapun disini kecuali mayat Erfan," Erwin mengedarkan pandangannya.


Vita dan Inge pun ikut mengawasi. Dan benar saja, tidak ada tanda tanda Ali disana.


"Perasaanku nggak enak," ucap Vita pelan.


Erwin termenung, baru juga sehari keluarganya pindah ke rumah baru tersebut. Sudah terlalu banyak kejadian mengerikan yang terjadi.


"Hei, aku menemukan sesuatu," ucap Inge tiba tiba. Vita dan Erwin kompak menoleh.


Inge terlihat berjongkok dan memungut sesuatu. Sebuah cincin berwarna putih dengan gambar ananta, atau lambang tak terhingga terukir di permukaannya.


"Cincin yang indah," ucap Inge memperhatikan cincin di tangannya.


"Milik siapa kira kira?" Tanya Vita penasaran.


"Entah," Inge mengangkat kedua pundaknya.


"Biar kusimpan," ucap Erwin buru buru. Dia mengambil cincin di telapak tangan Inge. Inge terlihat tak peduli, sementara Vita memperhatikan gerak gerik Erwin.


"Kamu kenal pemilik cincin itu Win?" Tanya Vita penuh selidik.


"Ah, tidak. Aku baru kali ini melihatnya," ucap Erwin terbata bata. Vita sadar, Erwin tengah berbohong. Namun, dia tak ingin mendesak Erwin kali ini.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Vita lebih lanjut. Erwin berpikir sejenak.


"Kita coba ke dapur. Kemudian memeriksa kamar mandi juga. Siapa tahu Mas Ali ada disana," ucap Erwin kemudian. Vita dan Inge mengangguk setuju.


Perlahan, mereka bertiga berjalan menuju ke dapur. Suasana kembali gelap dan muram. Tak ada suara apapun. Hanya kesunyian yang terasa menguasai setiap sudut ruangan.


Anehnya, bagian dapur terasa lebih dingin. Semilir angin yang entah berasal darimana, berhembus dengan cukup kuat. Dalam kegelapan, Erwin meraba raba dinding dapur. Mencari keberadaan saklar lampu.

__ADS_1


Ctiikkk


Dapur pun menyala terang, mengusir kegelapan yang menutup netra. Terlihat jelas pintu belakang yang mengarah keluar terbuka lebar. Rupanya dari sanalah angin malam nan dingin berhembus.


"Mungkin nggak sih Mas Ali keluar?" Tanya Erwin ragu ragu.


"Ngapain malam malam gini keluar rumah? Nyari nyamuk?" Vita geleng geleng kepala.


"Yah mungkin saja ngerokok, cari angin," jawab Erwin.


Erwin berjalan perlahan menuju pintu belakang. Sedikit ragu dia melongok keluar. Hawa dingin langsung menerpa wajah maskulin Erwin. Suara beberapa serangga malam juga terdengar lirih di kejauhan. Tak ada apapun di halaman belakang. Erwin segera menutup pintu.


"Tak ada apapun. Tak mungkin Mas Ali diluar. Dingin banget," ucap Erwin kemudian.


"Dua orang hilang dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Apalagi sebelumnya ada yang mati keracunan. Kupikir memang ada yang nggak beres dengan rumah ini," wajah Vita terlihat pucat ketakutan.


"Mungkin lebih baik kubangunkan Pak Nyoto di kamarnya. Kita butuh lebih banyak laki laki untuk berjaga," Erwin memberi ide. Vita mengangguk setuju.


"Gaes, sebentar!" Inge menyela. Nada bicaranya sedikit membentak.


"Kalian juga lihat kan?" Inge menunjuk lantai dapur yang kotor.


Semua orang tertegun. Pemandangan aneh tersaji di hadapan mereka. Lantai dapur yang tersusun atas granit berwarna cokelat muda nampak kotor belepotan.


Di mulai dari pintu belakang, terlihat jejak kaki penuh lumpur yang menghitam. Jejak kaki yang mengarah dan berhenti di bawah lemari es dua pintu yang terletak di sudut dapur.


"Sialan! Ini semakin menakutkan!" Gumam Erwin. Lehernya terasa dingin. Bulu bulu halus di sekujur tubuhnya meremang bersamaan.


"Win, aku takut," Inge menghambur pada Erwin. Dia menggenggam erat lengan Erwin.


"Ayo kita bangunin Pak Nyoto. Semakin banyak laki laki, maka semakin aman," Vita menatap wajah Erwin. Dari sorot matanya, perempuan itu juga tengah ketakutan.


Setengah berlari, Erwin, Inge dan Vita menuju ke kamar pembantu yang terletak tak jauh dari dapur dan kamar mandi.


Dok dok dok

__ADS_1


Erwin mengetuk pintu kamar Pak Nyoto dengan tergesa gesa. Hening, tak ada jawaban. Namun sesekali terdengar suara dengkuran kencang khas bapak bapak yang tidur dengan badan kecapek an.


Dok dok dok


Kembali Erwin mengetuk pintu kamar. Kali ini dengan lebih keras. Beberapa saat setelahnya terdengar suara langkah kaki yang diseret.


Pak Nyoto membuka pintu dan keluar kamar. Wajah bantalnya terlihat cukup kaget saat tahu ada tiga orang yang berada di depan pintu kamarnya. Laki laki dengan rambut penuh uban itu hanya mengenakan sarung lusuh bermotif kotak kotak. Perutnya yang buncit menyembul menggemaskan.


"Ada apa nih? Nak Erwin dan nona nona kok ada di depan kamar saya?" Tanya Pak Nyoto sambil mengucek ngucek matanya.


Erwin segera menjelaskan keadaan rumah yang aneh. Hilangnya Ali dan Andewi, serta jejak kaki berlumpur di dapur. Pak Nyoto terlihat manggut manggut. Laki laki tua itu telah kehilangan rasa kantuknya.


"Bagaimana kalau ternyata hutan ini penuh memedi," ucap Pak Nyoto setelah Erwin selesai berbicara.


"Hah? Maksud Bapak?" Vita mengernyitkan dahi. Vita adalah tipe orang yang mengedepankan logika. Dia sulit mempercayai cerita cerita mistis yang tidak bisa dijelaskan akal dan pikiran manusia.


"Ya semua ini ulah setan Non. Yang masukin racun, yang nyulik teman teman nona semua itu memedi. Ingat lho, kita itu sekarang tinggal di tengah hutan belantara. Sebelumnya tidak ada yang tinggal disini. Tiba tiba saja, kita tanpa permisi, tanpa sesaji tinggal di tempat ini. Pasti penunggu asli nggak terima dengan kehadiran kita," Pak Nyoto terlihat serius dengan pendapatnya.


"Pak, yang meracuni Mas Erfan memang setan. Tapi setan yang merasuki hati manusia. Manusia itu ada di antara kita," sanggah Erwin. Dia sedikit jengkel dengan Pak Nyoto. Membangunkan laki laki tua itu nyatanya tidak membuat masalah terkendali, namun malah menambah persoalan dengan teori teori liarnya.


"Sekarang gini saja Pak. Aku sama Pak Nyoto berjaga malam ini, sampai polisi yang dihubungi Mbak Anggun tiba. Kita kunci semua pintu, dan kita berdua berjaga di depan TV. Nggak boleh ada yang tidur. Gimana?" Erwin menepuk pundak Pak Nyoto.


"Baiklah, apa kata Nak Erwin saja. Saya tak pake baju dulu nek gitu," Pak Nyoto menyanggupi, meskipun raut wajahnya terlihat enggan dan malas.


Pak Nyoto masuk ke dalam kamar, mengenakan kaos oblong hadiah dari toko bangunan dan tak lupa mengecup kening istrinya yang tidur mendengkur.


"Terus, Ali dan Andewi gimana Win,?" Tanya Vita.


"Besok pagi saja kita cari. Kalian butuh istirahat. Tidurlah. Biarkan aku dan Pak Nyoto yang berjaga. Oke?" Erwin bertanya, sambil bergantian menatap Vita dan Inge. Dua orang perempuan itu hanya bisa mengangguk setuju. Rencana Erwin memang terasa paling masuk akal yang bisa dilakukan untuk saat ini.


Bersambung___



Selamat Hari Raya Idul Fitri

__ADS_1


Mohon Maaf Lahir dan Batin


__ADS_2