
Tidak ada kejahatan yang sempurna. Bangkai disimpan se rapat apapun, akan tetap tercium kebusukannya. Vita memegang prinsip itu dalam hati. Meski demikian, dia merasa kasus kejahatan di rumah baru Anggun begitu rumit dan belum ada titik terang.
Dugaan dari Bayu, Erwin lah yang memiliki kemungkinan paling besar untuk melakukan kejahatan. Namun entah bagaimana, di sudut hatinya Vita tak percaya kalau Erwin adalah penjahat keji yang mencelakai teman temannya. Apa motifnya? Apa untungnya? Bahkan kenal pun baru 2 hari belakangan. Apa ada manusia yang begitu tega bertindak sekejam itu tanpa sebuah alasan?
"Senjata yang digunakan untuk menyerang korban adalah sebuah pisau kecil. Pisau buah yang sebelumnya ada di meja makan. Pisau itu dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai, setelah digunakan untuk menyerang. Tidak ada sidik jari yang tertinggal. Sepertinya sengaja dilap atau dihapus dengan sangat teliti," ucap Bayu setelah terdiam beberapa saat lamanya.
"Kematian Inge belum terlalu lama. Mungkin sekitar 15 menit yang lalu," lanjut Bayu.
"Sekarang, saya ingin mendengar keterangan semua orang, sekitar 15 hingga 20 menit yang lalu, anda sedang apa dan dengan siapa?" tanya Bayu sembari sekali lagi mengedarkan tatapan matanya yang tajam. Bagaikan seekor elang yang terbang tinggi tengah memindai anak ayam di daratan.
"Dimulai dari Nona Vivi, orang yang menemukan korban pertama kali. Ceritakan kronologi anda menemukan mayat korban," perintah Bayu. Vivi yang masih syok berat terlihat menggenggam tangan Bu Rofida.
"Awalnya, aku bersama Ibuk di kamar. Ak aku, hanya bermain HP. Kemudian karena sedari pagi aku belum makan, aku berniat turun untuk ke dapur. Sampai di tangga aku melihat perempuan itu kejang kejang dan bersimbah dar*h," ucap Vivi agak terbata bata.
"Lalu, apakah ada yang aneh? Atau apapun yang kamu lihat dan dengar, bahkan mungkin apa yang kamu cium, adakah keanehan?" tanya Bayu sambil memutar mutar pulpen di jari tangannya. Vivi menggeleng ragu ragu. Dia terdiam beberapa saat.
"Sepertinya aku mendengar suara langkah kaki menapaki tangga," jawab Vivi kemudian.
"Oh ya? Berarti bisa jadi, suara itu langkah kaki menuju kamar sebelah. Kamar Sang Tuan rumah, Ferry Lawanto. Bagaimana Tuan Ferry, Nona Anggun? Apa yang anda lakukan di sekitar 15 menit hingga 20 menit yang lalu?" Bayu beralih menatap Bayu dan Anggun.
"Kami di kamar," jawab Anggun cepat. Ferry sekilas menoleh pada istrinya itu.
"Terus berada di kamar? Tidak ada salah satu yang keluar kamar?" tanya Bayu penuh selidik.
"Kami terus berada di dalam kamar," jawab Anggun tegas.
"Jadi, suara langkah kaki siapa yang Vivi dengar? Mungkinkah ada seseorang yang datang ke kamar Anda Nona Anggun?" Bayu memperhatikan Anggun dengan seksama. Perempuan cantik itu hanya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Tidak ada seorang pun yang berkunjung ke kamar kami. Hanya ada kami berdua. Mungkin Vivi salah dengar," sahut Ferry.
"Baiklah. Sekarang, Nona Vita. Anda sedang ada dimana sekitar 20 menit yang lalu?" kini Bayu beralih pada Vita.
"Saya ada di kamar membaca buku," jawab Vita.
"Buku?" Bayu memperbaiki posisi duduknya. Gestur tubuh yang mengisyaratkan dia tertarik dengan jawaban Vita.
"Iya, buku koleksi milik Erwin karya dari Zainul Rich Man," ucap Vita lugas.
"Oohhh, anda menyukai kisah semacam itu rupanya," Bayu tersenyum sekilas.
"Anda sendirian waktu itu? Tidak ada seorang pun yang bersama dengan Anda, nona Vita?" Bayu melanjutkan pertanyaannya.
"Awalnya saya bersama Erwin dan Inge," sahut Vita. Bayu menyimak, menyiapkan pulpennya untuk mencatat.
"Kemudian Erwin keluar, disusul Inge. Waktu itu Erwin tiba tiba saja uring uringan gara gara salah satu buku koleksinya hilang," lanjut Vita.
"Oohh, ayolah. Kenapa pembahasan ini jadi melenceng pada sebuah buku? Sudah jelas kan dari pernyataan Vita barusan, Inge bersama Erwin. Jadi pastilah Erwin pelakunya," Ferry tiba tiba memprotes, ekspresinya nampak geram.
"Tenang Tuan Ferry. Saya butuh setiap keterangan dari semua orang. Jujur saja, kejahatan yang tejadi di rumah anda sangatlah rumit. Bahkan nona Andewi yang menghilang pun, belum diketahui pasti apakah berhubungan dengan kematian teman temannya? Apalagi Tuan Erwin juga ikut menghilang hari ini," terang Bayu.
"Berarti anda tidak becus!" bentak Ferry marah.
"Boleh saja Anda berkesimpulan seperti itu. Lalu, apa yang anda mau? Saya menelpon anggota yang ada di kantor. Kemudian semua berbondong bondong kemari, begitukah? Anda yakin kasus ini akan terpecahkan saat semakin banyak yang terlibat?" Bayu terkekeh. Laki laki berbadan kekar itu terlihat menakutkan saat tertawa. Kalimat yang keluar dari mulutnya selalu terasa mengintimidasi. Ferry terdiam karenanya.
"Lanjutkan cerita anda, nona Vita," ucap Bayu kemudian.
__ADS_1
"Yaaa, Erwin keluar kamar setelah kehilangan bukunya. Seri ketiga karya Zainul Rich Man," jawab Vita mengingat ingat.
"Seri ke tiga ya? Anda sudah membaca buku itu?" Bayu terlihat semakin antusias. Vita menggeleng pelan.
"Setelah mereka berdua keluar kamar, saya tetap berada di atas tempat tidur. Hingga akhirnya teriakan nona Vivi yang membuat saya tersentak kaget," Vita mengakhiri ceritanya.
"Cerita Anda semakin memperkuat dugaan kalau Erwin lah pelakunya. Karena dia adalah orang terakhir yang bersama korban. Lalu, kenapa anda tadi merasa yakin Erwin bukan pelakunya?" Bayu terus menjejali Vita dengan pertanyaan.
"Entahlah. Hati saya mengatakan demikian. Apalagi tak ada alasan bagi Erwin untuk menyakiti teman teman saya," tukas Vita.
"Oke, dimengerti. Terakhir, untuk Pak Nyoto. Anda sedang apa, dimana dan dengan siapa sekitar 20 menit yang lalu?" Bayu beralih menatap laki laki yang selalu terlihat ketakutan itu.
"Saya di belakang Pak polisi, nyabutin rumput sama 'dangir'," jawab Pak Nyoto sambil tertunduk.
"Sendirian?" Bayu bertanya, yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Pak Nyoto.
"Adakah yang aneh, apapun yang anda rasakan atau ketahui?" lanjut Bayu.
"Pak polisi percayalah kita semua harus segera pindah dari sini. Tempat ini terkutuk. Anak saya Miko, berkali kali mengatakan melihat nenek nenek berambut putih. Anak kecil itu masih suci, inderanya kuat jadi pasti bisa melihat sesuatu yang lain. Terus, hampir setiap malam stok makanan di lemari es berkurang. Jajan milik nona Vivi juga kan? Ada jejak kaki di lantai. Ini semua ulah setan Pak polisi, saya yakin sekali!" Pak Nyoto meracau. Dia beberapa kali mengusap tengkuknya karena merinding.
"Yang melakukan kejahatan ini memang iblis Pak. Iblis yang bersemayam di hati manusia," sanggah Bayu. Dia meletakkan pulpennya. Tidak ada yang bisa dicatat dari keterangan si tukang kebun itu.
"Damar, bagaimana menurutmu?" Bayu menoleh pada Damar yang duduk di sampingnya.
"Dari semua keterangan dan bukti forensik, kemungkinan pelaku kejahatan kali ini saudara Erwin adalah 90%," jawab Damar. Bayu manggut manggut.
"Toloooonggg!" tiba tiba terdengar suara teriakan dari dapur yang mengagetkan semua orang.
__ADS_1
"Surti!" Pak Nyoto melompat dari tempat duduknya. Dia segera berlari ke dapur. Bayu dan Damar serta yang lainnya juga segera menyusul. Hanya Anggun dan Ferry yang masih duduk di tempatnya. Tubuh Anggun semakin lemah. Secara bertubi tubi kejadian mengerikan terjadi di rumah baru Anggun, menyerang mental dan batinnya.
Bersambung___