
Ellie merasakan tubuhnya diseret, kepalanya beberapa kali menghantam benda keras. Ellie mulai tersadar. Dia bisa membuka mata, namun tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Sinar matahari mulai nampak meredup. Hari beranjak petang. Ellie melihat sekeliling. Ternyata tubuhnya tengah terbungkus sebuah kain berbahan parasit dan diseret dengan kasar oleh seseorang di depannya.
"Hendra?" Panggil Ellie lirih.
Sosok yang menyeret Ellie mendadak berhenti. Dia menoleh, dan benar dugaan Ellie. Sosok itu adalah Hendra. Dia memperhatikan Ellie dengan mimik wajah yang dingin.
"Syukurlah kamu sudah bangun," Hendra menghela nafas.
"Apa yang telah kamu lakukan?" Ellie bertanya sembari berusaha menggerakkan badannya. Namun seluruh persendian tubuhnya terasa kaku, tak bisa digerakkan.
"Aku hanya menyuntikmu dengan cairan sejenis anestesi. Jadi memang kamu akan sadar Ellie. Tapi kamu nggak bisa apa apa untuk beberapa saat," Hendra berjongkok di hadapan Ellie.
"Duh, dahimu berdarah. Mungkin terkena kerikil Ellie. Maafkan aku jika perlakuanku padamu sedikit kasar," Hendra mengusap darah di dahi Ellie.
Ellie tak berkutik. Dia hanya bisa melotot menatap Hendra. Jantungnya berdetak sangat cepat. Rasa khawatir dan takut berkecamuk. Tapi, Ellie berusaha menguasai dirinya. Ellie berusaha untuk tegar dan tidak menunjukkan kelemahan dan rapuhnya.
"Apa tujuanmu Hendra? Kenapa kamu melakukan semua ini?" Tanya Ellie berusaha mengorek informasi sekaligus mengulur waktu.
"Kamu pasti tahu Ellie, dalam hidup di dunia ini, ada yang namanya konsep hak dan kewajiban," Hendra merebahkan badannya di rerumputan sebelah Ellie.
"Tapi, sekarang aku tanya padamu Ellie. Memperoleh kebahagiaan dalam hidup itu merupakan hak atau kewajiban?" Tanya Hendra sembari menatap langit.
Ellie diam saja tak menyahut. Dia masih sulit menebak jalan pikiran dari laki laki di sebelahnya itu.
"Manusia berhak bahagia atau wajib bahagia? Apapun jawabannya, pada intinya kebahagiaan itu menjadi sebuah tujuan dalam kehidupan. Dan bagaimana jika ada orang lain yang merenggut kebahagian kita Ellie? Apa yang harus kita lakukan?" Hendra menoleh, menatap Ellie. Tatapan yang terasa aneh, dan asing.
__ADS_1
"Aku. . .aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud pertanyaanmu Hendra," jawab Ellie lirih, lebih seperti sebuah bisikan.
"Kita harus memperjuangkan kebahagiaan bukan? Namun bagaimana jika kita tidak memiliki kemampuan untuk berjuang?" Hendra menggaruk garuk kepalanya.
"Zainul berhak bahagia Ellie. Zainul wajib bahagia. Namun, apa yang telah kalian lakukan?" Hendra kali ini terlihat begitu emosional. Dia menitikkan air mata.
"Aku hanya menolak pernyataan cintanya," Sela Ellie.
"Hanya? Kamu boleh berkata hanya menolaknya, jika saja kamu tidak mempermalukannya di depan umum Ellie. Kamu menceritakan penolakanmu pada semua teman di club drama. Lalu apa yang terjadi? Orang orang yang sebelumnya sudah tidak suka dengan Zainul semakin merasa harus merundungnya. Kisah Zainul yang mengungkapkan perasaannya padamu adalah awal mula. Penolakanmu adalah katalis. Hingga perundungan itu terjadi dan berlarut larut. Dan kamu yang tahu Zainul dihancurkan mentalnya oleh teman temanmu, apa yang kamu lakukan? Kamu membiarkannya bangs***!" Hendra tiba tiba saja berdiri. Giginya terdengar gemeretak beradu.
"Sungguh Hendra, akupun menyesalinya. Aku pun datang kemari untuk meminta maaf padanya," ucap Ellie dengan suara bergetar. Dadanya terasa sesak dan sakit mendengar ucapan Hendra.
"Semua sudah terlambat Ellie. Sudah kukatakan sebelumnya, dalam kehidupan manusia memiliki konsep hak dan kewajiban. Jika kita berbuat salah, sudah menjadi kewajiban kita untuk meminta maaf. Namun untuk orang yang dimintai maaf, itu menjadi haknya untuk memaafkan atau tidak. Dan Zainul, tidak pernah memaafkan kalian," Hendra mengusap air matanya.
"Darimana kamu tahu Zainul tidak memaafkanku? Bahkan akupun belum pernah bertemu lagi dengannya!" Bantah Ellie.
"Biarkan aku bertemu dengannya Hendra," pinta Ellie.
"Ya, semua orang memang akan kukirim untuk menemui Zainul dan meminta maaf padanya di alam kematian," jawab Hendra.
"Apa maksudmu?" Ellie terbelalak.
"Zainul sudah tiada Ellie. Dia mengakhiri hidupnya di sebuah pondok tua di hutan ini. Tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang mengulurkan tangan padanya," Hendra menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Kamu jangan bohong Hendra. Bukankah dia mengirim undangan untuk kita semua agar datang ke rumahnya? Bukankah menurut teman teman, Zainul menyambut semua orang dari lantai dua rumahnya?" Ellie tidak mempercayai perkataan Hendra.
"Ha ha ha ha . . .aku tidak mau menjawabnya. Tidak semua hal di dunia ini ada penjelasannya. Jadi, pergilah dari dunia ini dengan otakmu yang penuh pertanyaan!" Hendra tertawa lebar.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu lakukan Hendra? Dan kenapa kamu melakukan semua ini? Apa hubunganmu dengan Zainul, hingga berbuat seperti ini?" Ellie terus meminta penjelasan.
"Ha ha ha. . .kamu tahu Ellie, apa yang membuat Zainul dirundung? Kenapa harus Zainul?" Hendra balik bertanya. Ellie hendak menggeleng, namun kepalanya tak bisa digerakkan. Saraf dan sendinya seakan terputus.
"Jawabannya karena Zainul berbeda. Sekolah kita dulu, sebagian besar siswanya berasal dari SMP yang sama. Kamu, Yodi, Mella dan yang lainnya adalah teman satu sekolah sejak SMP. Waktu itu di kelas kita hanya ada 3 siswa yang berasal dari SMP yang lain. Hanya ada aku, Bayu dan Zainul. Lalu, di antara 3 siswa ini Zainul yang paling menonjol. Dia memang terlihat katrok, culun dan unik. Tapi dia cukup hebat di akademis, juga sangat luar biasa di bidang sastra dan drama," Hendra nampak melamun, mengingat masa yang telah lalu.
"Pada akhirnya, siswa dari golongan minoritas yang terlihat hendak bersinar membuat Yodi dan kawan kawan brengs*knya itu mulai tak senang. Apalagi, ternyata siswa culun itu menyukaimu Ellie. Siswi paling famous sedari SMP. Bahkan aku tahu, Yodi dan Dipta, diam diam menyukaimu, namun mereka ternyata tak seberani Zainul untuk menyatakan perasaannya padamu," Hendra menatap Ellie dengan matanya yang terlihat buas.
"Ah, kukira cukup itu saja yang perlu kamu tahu," Hendra tersenyum licik.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Pekik Ellie.
Hendra tiba tiba saja mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku celananya. Dengan cekatan, dia mencabik dan merobek pakaian Ellie. Perempuan naas itu hanya bisa menjerit tertahan, tak sanggup bergerak apalagi melawan.
Hendra mengambil HP Ellie, menyentuhkan ibu jari perempuan itu pada layar, sehingga kunci layar HP nya terbuka. Hendra kemudian asyik memotret keadaan Ellie yang tengah terlentang dengan pakaian yang robek dan acak acakan.
"Aku nanti akan mengunggah foto ini di akun media sosialmu Ellie. Kamu memberi rasa malu pada Zainul, sekarang rasakanlah. Di akhir hidup, kamu pun dipermalukan," Hendra tersenyum puas.
Ellie hanya bisa menangis. Ketegaran hidupnya telah runtuh. Dia berusaha kuat, namun perlakuan yang diterima kali ini menghancurkan kekuatan mental dan hatinya.
"Bunuh saja aku Hendra!" Ellie menjerit.
"Tanpa kamu minta pun, akan aku lakukan," Hendra tertawa.
Petang akhirnya datang. Bersama dengan tenggelamnya sang surya, di antara kegelapan hutan, penulis wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Bersambung ___
__ADS_1