
Mobil berwarna biru tua bergerak pelan menapaki jalanan yang penuh dengan lubang. Sesekali terdengar bunyi roda depan beradu dengan material aspal yang terkelupas.
Sang pemilik mobil, petugas kepolisian dengan bentuk wajahnya yang oval nampak tersenyum masam. Dia ingat betul, kemarin siang mobilnya itu baru saja dibawa ke tempat servis sekaligus pencucian di sekitar kantor. Sayangnya, bemper yang kemarin mengkilat itu harus penuh dengan bercak lumpur cokelat kehitaman.
"Selamat datang di lokasi wisata terbaru 'Jeglongan Sewu'," ucap Tarji dengan suara yang dibuat seolah olah dia sebagai pemandu wisata.
"Tadi kamu sendiri lho ya yang minta pake mobilmu," ucap Adi terkekeh.
"Ya kita kan sudah lama Di, nggak lewat daerah sini. Kupikir kan ya dunia ini semakin maju. Era five point O lhoo, lha kok ini jalanan hancur lebur kayak begini," gerutu Tarji kesal.
"Ya kan prioritas pembangunan tiap wilayah itu beda beda Ji. Sudahlah jangan banyak ngedumel, fokus nyetir dan syukuri apa yang ada. Toh kiri kanan jalan pemandangan hijau seger," Adi tersenyum.
"Omonganmu kontradiktif Di. Masak suruh fokus nyetir sama ngelihat pemandangan kiri kanan," bantah Tarji dengan wajah cemberut. Adi hanya tertawa mendengarnya.
Mobil Tarji sampai di sebuah pertigaan dan mengambil arah ke kiri. Jalanan terasa lebih rata, meskipun tak sebaik aspal wilayah perkotaan. Di sepanjang jalan nampak pedagang bunga berjejer menjajakan dagangannya. Bukan bunga hias yang dijual, melainkan bunga untuk keperluan 'nyekar'.
Mawar merah, melati, kenanga, juga bunga kantil menghasilkan wangi yang khas. Aroma berbagai macam bunga itu masuk ke dalam kabin mobil karena kaca jendela yang sengaja diturunkan. Tarji enggan memakai AC, lebih irit katanya.
"Ck ck ck Rame banget," Tarji berdecak kagum. Tarji memperhatikan, pasar bunga dadakan yang pedagangnya hanya berjualan di hari hari tertentu saja. Terkesan ramai dan padat.
"Pasar kayak gini nggak setiap hari kan Ji?" tanya Adi kemudian.
"Nggak lah, cuma hari hari tertentu saja. Eh, hari ini jumat pahing kan ya?" Tarji balik bertanya.
"Iya kayaknya. Ada apa?" Adi mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Hari yang bagus untuk pergi ke makam Di. Kamu ingat kan dua pemuda yang meninggal di tengah hutan sekitar rumah Rich Man? Yang siangnya ketemu kita hendak di begal itu lho," Tarji memperlambat laju mobilnya.
"Fadlan dan Wignyo maksudmu? Ada apa?" Adi nampak mengingat ingat.
"Kita ke makamnya yuk, mumpung hari jumat pahing nih. Lagipula aku masih merasa bersalah pada mereka. Seandainya saja waktu itu kita tahu kalau mereka mau ngantar uang ke tengah hutan. Uang dalam jumlah banyak pula, kita pasti sudah mengawalnya kan. Dan kejadian buruk mungkin bisa dihindari," ucap Tarji seraya menginjak rem. Mobil berhenti tepat di depan kios bunga sederhana dengan seorang nenek renta yang tengah berjualan.
"Kamu bener Ji," Adi menghela nafas. Dia mengingat kembali kejadian malam pembantaian di rumah Sang Rich Man. Sebuah kasus mengerikan yang sempat menjadi berita besar. Namun pengungkapan dan hasil investigasinya jauh dari kata memuaskan bagi Adi.
Tarji turun dari mobil, sedikit berlari menuju ke kios bunga. Nenek penjual bunga tersenyum sumringah melihat ada pelanggan yang datang. Deretan giginya yang memerah karena 'kinang dan susur' nampak berjejer dengan rapi.
"Mbah, tumbas kembang. Damel nyekar. Kalih adhah nggeh. (Mbah beli bunga, buat nyekar, dua)," ucap Tarji kalem.
"Nggeh Mas, 15 ribu," nenek penjual bunga dengan cekatan membungkus campuran bunga mawar, kantil dan kenanga menggunakan daun pisang berwarna kekuningan. Sang nenek nampak menuangkan dan menciprat cipratkan sejenis cairan parfum di dalam sebuah botol bening besar pada bunga dagangannya.
Tarji membayar dan segera berlari kembali ke dalam mobil. Sementara Adi tetap berdiam diri di tempat duduknya, nampak asyik memperhatikan orang orang berlalu lalang di sekitar pasar 'tumpah' tersebut.
"Hmmm. . .aku teringat kasus rumah Sang Rich Man. Bagaimana bisa kasus itu ditutup dengan menyisakan banyak pertanyaan. Salah satu dari sekian misteri yang hingga kini masih menjadi catatanku adalah kemana hilangnya uang yang dibawa oleh Fadlan dan Wignyo? Kepolisian menyimpulkan uang itu ikut terbakar bersama rumah Sang Rich Man. Kenapa tidak dilakukan investigasi juga penelusuran wilayah hutan dengan lebih detail?" Adi menyandarkan kepalanya pada jendela mobil.
"Jangan mengulang pertanyaan yang sama berkali kali Di. Meskipun aku menyetujui dugaanmu, namun pada akhirnya banyak orang yang menuduhmu tak suka atau bahkan iri dengan pemimpin investigasi kasus Sang Rich Man," sahut Tarji sambil menepuk nepuk pundak Adi.
"Ya aku pun awalnya berpikir mungkin saja aku iri dengan 'nya'. Kemudian setelah kupikir pikir lagi, memang terlalu banyak keanehan yang dibiarkan begitu saja. Anehnya lagi semua orang percaya saja padanya," Adi memijat mijat keningnya.
"Yah, karena dia petugas paling berprestasi. Petugas polisi yang diproyeksikan menjadi pemimpin masa depan kan. Cakap, smart, hubungan dengan masyarakat pun terkenal baik dan ramah. Pemimpin investigasi kasus terbakarnya rumah tepi sungai, rumah Sang Rich Man, Bayu Khairil," Tarji menghela nafas.
Mobil Tarji masih berhenti di tepi jalan. Mesin mobil dibiarkan menyala, sementara pengemudinya masih bergulat dengan pikirannya yang kalut.
__ADS_1
"Yang jelas kita ke makam Wignyo dan Fadlan dulu ya Di?" Tarji bertanya meminta persetujuan Adi.
"Ya, baiklah," Adi mengangguk setuju.
Mobil kembali bergerak perlahan menapaki jalanan semen dengan beberapa lumut tebal menempel di bagian yang jarang dilewati roda kendaraan.
"Eh, aku jadi kepikiran Ji," ucap Adi tiba tiba.
"Apa lagi?" sambung Tarji cuek.
"Nanti sehabis dari makam Wignyo dan Fadlan kita mampir Polindes dulu ya," jawab Adi, kepalanya masih bersandar pada jendela mobil yang terbuka. Udara pedesaan terasa nyaman menerpa belahan rambutnya.
"Hah? Ingat Sinta Di. Duh duh, kamu jangan macam macam. Aku ngomong begini sebagai temanmu Di, nggak baik bermain main dengan hati. Luka luar bisa diobati, luka di hati dibawa mati Diii," Tarji geleng geleng kepala.
"Hah? Apa sih Ji? Apa hubungannya sama Sinta? Aku kan cuma minta mampir Polindes," sanggah Adi heran.
"Lha ke polindes mau ketemu sama bu bidan desa yang dulu itu kan?" cerca Tarji.
"Iya," jawab Adi singkat.
"Lha itu. . .ituuu, kasihan Sinta Di kalau mbok dua in," Tarji menunjuk nunjuk wajah Adi.
"Hah? Otakmu isinya kok pikiran negatif terus Ji. Aku mau menanyakan detail soal buku ini kok. Juga beberapa hal terkait kematian salah satu pengunjung rumah Sang Rich Man," Adi menunjukkan buku merah lusuh yang dibawanya dalam sebuah tas kecil.
"Ooohhh, kirain," Tarji tersenyum cengengesan.
__ADS_1
"Tolong ya, itu kepala perlu di charge ke tempat accu deh. Biar muncul kutub positifnya. Isinya kok negatif terus," Adi balas menunjuk nunjuk kepala Tarji. Tarji hanya tersenyum, sedikit malu karena kecele.
Bersambung___