Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXIV. Kamar Erwin


__ADS_3

"Para laki laki silahkan membantu Damar untuk menyimpan jasad Erfan. Masukkan dalam kantong mayat, dan simpan di rumah sebelah, seperti usul Tuan rumah," Bayu berdiri dari duduknya.


"Anda mau kemana Pak polisi?" Anggun bertanya.


"Saya mau berkeliling sebentar untuk berpikir sekaligus mengenang masa lalu. Seperti yang sudah pernah saya sampaikan dulu, waktu mengantar surat wasiat Tuan Zainul pada Bu Anggun, wilayah ini menyimpan banyak kenangan saya dengan Tuan Zainul," jawab Bayu sopan dan tenang.


"Anda kenal dengan Zainul Rich Man sang penulis?" Erwin bertanya antusias.


"Ya, kami adalah dua serangkai sejak SMA," Bayu tersenyum penuh kebanggaan.


"Saya penggemar berat karya karyanya. Bisakah saya tahu, bagaimana keadaan Tuan Zainul sekarang? Dimana beliau berada?" Erwin terus bertanya menggebu gebu.


"Ha ha ha," Bayu tiba tiba saja tertawa keras. Sudut matanya sedikit berair. Tawa itu entah tawa bahagia atau sebuah tawa kesedihan.


"Tidak semua hal di dunia ini ada penjelasannya anak muda. Yang namanya misteri biarlah tetap menjadi misteri. Karena itulah kesenangannya hidup. Seni dari kehidupan," ucap Bayu masih sedikit terkekeh. Erwin manggut manggut, meskipun hatinya tidak puas dengan jawaban Bayu.


"Pak Bayu mau kemana? Bisakah saya ikut?" Tanya Damar tiba tiba.


"Kamu urus saja jasad korban. Aku perlu waktu untuk berpikir, aku butuh waktu sendiri. Kamu mengerti?" Ucap Bayu setengah berbisik pada Damar. Nada bicaranya terdengar mengintimidasi.


Damar dengan cepat mengangguk. Raut wajahnya begitu ketakutan mendengar suara Bayu yang tegas dan terasa tak mau dibantah.


"Anda semua boleh bersantai, rileks, menghilangkan pikiran pikiran buruk, tapi jangan ada yang coba coba pergi dari tempat ini. Karena saya sudah mencatat alamat anda semua. Siapapun yang lari dari tempat ini, berarti dialah tersangka kasus ini," Bayu mengedarkan pandangan pada semua orang.


"Setelah saya kembali nanti, saat hari sudah cukup siang dan terang, kita berkeliling mencari Tuan Ali dan Nona Andewi," lanjut Bayu. Bayu hendak melangkah pergi, namun kembali memutar badan dan menatap orang orang.


"Satu lagi, emm. . .Mak Surti tolong tetap masak ya untuk sarapan. Meskipun kemarin ada yang keracunan, kita semua tetap butuh asupan energi. Lagipula saya bisa menjamin saat ini sudah aman. Oke?" Bayu tersenyum pada Mak Surti. Pembantu berwajah kalem itu mengangguk tanda mengerti.


Bayu berjalan keluar rumah. Saat pintu depan terbuka, sejuk dan dinginnya udara pagi kian terasa. Jarum pendek jam besar yang terpasang di dinding ruang tamu berada di angka 6. Sementara jarum panjangnya bergerak ke angka 3. Masih cukup pagi, kabut di halaman rumah juga masih enggan pergi.

__ADS_1


Damar bersama Erwin, Pak Nyoto dan Ferry sedikit kesusahan memasukkan tubuh Erfan ke kantong mayat yang berwarna orange itu. Tubuh Erfan sudah terlanjur kaku dengan posisi tengkurap dan tertekuk. Sementara aroma aroma tak sedap mulai menguar, aroma racun yang telah merenggut nyawa sang fotografer itu.


Setelah tubuh Erfan dimasukkan ke dalam kantong mayat, mereka berempat memanggul dan memindahkan mayat Erfan dari ruang makan. Melalui pintu belakang mereka berjalan menuju ke rumah tempat tinggal Pak Nyoto. Tepat saat itu Miko bangun tidur dan keluar dari kamarnya bersama Mak Surti.


"Buk itu apa?" Miko bertanya sambil menunjuk nunjuk kantong mayat Erfan.


"Ah itu anu, apa namanya ya, ah iya. . .sisa makanan Nak," Mak Surti memutar otak untuk menjawab pertanyaan anak laki lakinya itu.


"Mau dibawa kemana Buk?" Tanya Miko lagi.


"Ya sementara disimpan di rumah sebelah. Jadi Bapak, Ibuk dan Miko tidur disini, bareng Nyonya Anggun juga, asyik deh," Mak Surti tersenyum dan mendaratkan kecupan di pipi bakpao Miko.


"Lha Om Elwin (Erwin)?" Miko terus bertanya. Balita lima tahun memang sangat aktif bertanya.


"Om Erwin juga di rumah ini. Semua disini. Asyik kan?" Mak Surti mengusap rambut Miko. Miko mengangguk girang.


Sementara itu, mayat Erfan disimpan di bagian belakang rumah Pak Nyoto. Kantong mayat diletakkan di atas meja dapur.


"Itu nanti sesuai instruksi Pak Bayu. Anda tidak usah ikut campur kalau mau kasus cepat terselesaikan," jawab Damar ketus. Raut wajahnya nampak tidak suka.


"Apa nggak kasihan nanti, soalnya kalau lama lama kan bisa membusuk Pak polisi?" Pak Nyoto kembali bertanya.


"Sudah kukatakan anda nurut saja. Pak Bayu itu polisi terbaik di bidang kriminal," tukas Damar. Matanya menatap tajam Pak Nyoto.


"Ah iya Pak, saya mengerti," Pak Nyoto menunduk ketakutan.


"Ehem," Erwin berdehem, mengalihkan perhatian.


"Karena rumah ini tidak ditempati lagi, aku mau ambil buku dan barang barangku di kamar," ucap Erwin sambil nyengir.

__ADS_1


Erwin bergegas menuju kamarnya. Dia sedikit buru buru karena takut ditinggalkan oleh yang lain. Nyalinya menciut jika harus sendirian di rumah dengan satu kantong mayat di meja dapur.


Erwin berdiri di depan pintu kamar dan menyadari ada sebuah jejak kaki yang samar samar terlihat di lantai. Hatinya semakin gundah. Dia melongok ke dapur, memastikan orang orang masih ada disana.


"Fuuhhhh," Erwin menghela nafas kuat kuat. Orang orang masih ada di dapur. Perasaannya sedikit lebih tenang.


Dengan ragu ragu, Erwin mendorong pintu kamarnya perlahan.


Kriieettt


Suara pintu berderit terdengar nyaring. Sensasi pertama yang Erwin rasakan saat membuka kamarnya adalah pengap dan gerah. Erwin hendak masuk ke dalam kamar. Namun pada akhirnya dia malah berdiri mematung di ambang pintu.


Apa yang Erwin lihat mampu membuat lutut kehilangan otot ototnya. Sekujur tubuh Erwin terasa lemas. Dia sangat ketakutan, namun tidak bisa memalingkan pandangan dari sesuatu yang mengerikan di depannya.


Di hadapan Erwin, terlihat sosok Ali melotot tak bernyawa. Wajahnya membiru, dengan bola mata semburat kemerahan yang terlihat nyaris keluar dari wadahnya. Lehernya terikat dengan benang kawat yang terpasang pada atap plafon yang dijebol. Kerangka plafon yang terbuat dari besi galvalum menjadi tempat benang kawat itu diikatkan.


Kaki Ali terjuntai ke bawah, nampak kaku dengan warna kulit yang memucat. Kepalanya sedikit menoleh ke kanan dengan tulang leher yang patah. Beberapa saat lamanya Erwin tertegun, diam membisu. Dan saat ketakutan di hatinya mulai mereda, Erwin mengumpulkan semua energi di tenggorokannya.


"Wooyyyy toolooongggg!" Erwin berteriak sekuat kuatnya. Hanya kalimat itu yang terlintas di pikirannya saat ini.


"Toolooonggggg," Erwin sekali lagi berteriak.


Damar, Ferry dan Pak Nyoto yang mendengar teriakan Erwin langsung berlari kesetanan. Mereka menghambur ke tempat Erwin.


"Ada apa Nak Erwin?" Tanya Pak Nyoto yang berlari paling depan.


"Ada Ali, Ali Sabet mati! Mati di dalam kamar!" Erwin menunjuk nunjuk kamarnya sembari berjalan mundur perlahan.


"Hah? Bunuh diri?" Sambung Ferry sambil melongok ke dalam kamar Erwin.

__ADS_1


Belum genap 3 hari rumah baru Anggun ditempati. Namun sudah dua orang ditemukan tak bernyawa dalam kondisi yang mengenaskan.


Bersambung___


__ADS_2