
Erwin kembali mengenakan pakaian yang tadi sempat dia lempar begitu saja di atas bebatuan sungai. Peluh membasahi punggung dan dadanya. Nafasnya masih terdengar berat dan terengah engah.
"Jangan lagi melakukannya di tempat terbuka seperti ini. Aku nggak bisa fokus, takut ada yang lihat," ucap Erwin mengatur nafasnya.
"Nggak bakal. Semua orang di dalam rumah kan? Ini juga pertama kalinya buatku, sejujurnya aku juga gugup Win. Tapi sensasinya beda, aku suka," Inge tersenyum nakal.
Inge membetulkan kancing bajunya yang berantakan, juga menyisir rambutnya memakai jari. Matahari terasa semakin terik. Mendung yang menutupi langit tadi malam, sudah tak tersisa barang satu helai pun. Langit berwarna biru muda, jernih tanpa noda.
Erwin menyandarkan tubuhnya di bebatuan berwarna hitam pekat. Dia merasakan dahaga. Tenggorokannya kering, sementara air sungai begitu bening. Erwin berdiri dan menepuk nepuk celananya karena sedikit berdebu.
"Balik rumah yok. Haus banget nih," ajak Erwin. Inge hanya mengangguk.
Dengan manja Inge bergelayut di pundak Erwin. Seperti anak balita yang meminta untuk digendong.
"Apa sih ayang?" tanya Erwin sambil mencolek mesra dagu Inge.
"Gendoongg," jawab Inge manja.
"Hupp," Erwin langsung menarik pinggang Inge, dan mengendong dengan punggungnya yang bidang. Perempuan manis itu langsung melingkarkan tangannya di leher Erwin, mendekap dengan erat.
Inge tertawa riang. Kebahagiaan memang mampu menghapus rasa takut di hati Inge karena kehilangan sahabat sahabatnya. Rasa sayang dan cinta pada Erwin membuat Inge yakin bisa hidup bahagia, meski hanya berdua saja di dunia bersama pria berambut gondrong itu.
Inge senyum senyum sendiri berada di gendongan Erwin. Dia begitu menikmati semilir angin yang meniupkan aroma tubuh pria yang digandrunginya itu. Pepohonan di sekitar sungai berayun ayun tertiup angin, seakan ikut menari dan merasakan bahagianya Inge saat ini.
Di tengah rasa bahagianya, mata Inge menangkap seseorang di bagian atas tepian sungai. Sosok yang sekilas terlihat berdiri di bawah pohon jambu biji. Seorang perempuan berambut putih, memandang ke arah Inge dan Erwin dengan tatapan mata yang kosong.
"Win win win," Inge menepuk nepuk pundak Erwin. Rasa takut menjalar di hatinya.
"Ada apa ayangg?" Erwin bertanya, tak tahu apa yang tengah dilihat oleh Inge.
"Lihat, ada nenek nenek serem disana!" Inge menunjuk nunjuk tepian sungai. Wajahnya pucat, nampak ketakutan.
Erwin mendongak, sedikit sulit karena tengah menggendong Inge. Meskipun tubuhnya ramping tentu saja perempuan dengan tinggi hampir 170 cm itu memiliki berat badan tidak kurang dari 50 kilogram.
__ADS_1
"Mana?" Erwin tidak melihat apapun. Hanya pepohonan berayun ayun yang terlihat di hadapannya.
"Turunin aku," pinta Inge.
"Tadi disana Wiiin," Inge kembali menunjuk nunjuk pohon jambu biji di tepian sungai. Dia sudah turun dari gendongan Erwin.
"Nggak ada apa apa Ngee," bantah Erwin, karena memang tidak ada apapun di tempat itu saat ini. Sepi dan sunyi, hanya terdengar gemericik aliran sungai.
"Sumpah Win. Tadi ada nenek nenek. Rambutnya putih, panjang, seremm!" teriak Inge menahan tangis. Hati manusia memang sangat mudah berubah. Baru beberapa saat yang lalu merasakan bahagia yang seakan bertahan selamanya. Tiba tiba saja ketakutan menghempaskan rasa bahagia itu.
"Oke oke. Sebaiknya kita segera kembali ke rumah," Erwin memeluk dan berusaha menenangkan. Melihat Inge histeris seperti itu membuat Erwin pun sedikit gentar. Bulu kuduknya berdiri, meskipun dia tidak yakin dengan apa yang Inge lihat. Bisa saja terik matahari membuat kekasihnya itu berhalusinasi.
Erwin menggamit lengan Inge, berjalan menuju ke rumah. Dari dekat, halaman depan terlihat sangat sepi. Entah kemana perginya semua orang. Erwin segera membawa Inge masuk ke dalam kamar tamu. Ternyata di dalam kamar, Vita tengah tiduran sembari membaca buku bersampul merah maroon. Buku koleksi milik Erwin yang awalnya ada di dalam kamar dimana jenasah Ali Sabet ditemukan tergantung mengenaskan.
"Kenapa Inge Win?" Vita terlihat panik melihat wajah Inge yang pucat.
"Nggak tahu. Coba tak ambilin air minum dulu," ucap Erwin langsung mengambil gelas dan menuang air dari dalam dispenser yang terletak di sudut kamar.
"Kamu kenapa Nge?" tanya Vita khawatir.
"Aku baru lihat nenek nenek aneh di tepi sungai Vit. Entah apakah itu manusia atau setan. Tatapannya yang kosong membuatku ngeri," Inge menyandarkan kepalanya di pundak Vita.
"Please lah, itu halusinasimu saja. Nggak mungkin ada setan di siang bolong. Lagian ngapain kamu panas panas kayak gini kluyuran di sungai sih? Tadi pamitnya kan mau ke toilet," Vita menepuk nepuk pipi sahabatnya itu.
"Ya pengen jalan jalan saja sama Erwin. Tapi sumpah aku nggak bohong, tadi ada nenek nenek aneh pokoknya," Inge tetap yakin telah melihat penampakan nenek nenek yang menyeramkan.
"Emang iya Win? Kamu juga lihat itu hantu nenek nenek?" Vita beralih bertanya pada Erwin.
"Enggak ada kok," Erwin menggeleng yakin.
"Tuh kan, kepalamu kena panas berlebih tuh. Muncul fatamorgana, terus halusinasi," Vita menoyor dahi Inge pelan.
Inge tampak lebih tenang. Dia masih nyaman menyandarkan kepalanya di pundak Vita. Sedangkan Erwin sibuk merapikan koleksi buku bukunya yang masih berserakan di lantai kamar. Karena tergesa gesa, Erwin belum sempat membereskan buku buku itu saat memboyongnya dari kamar tadi.
__ADS_1
"Vita, Ali sudah nggak ada," ucap Inge tiba tiba.
"Hah? Gimana gimana?" Vita terperanjat.
"Erwin yang cerita, mayatnya ditemukan gantung diri di kamar Erwin," jelas Inge. Erwin hanya mengangguk mengiyakan.
Vita terlihat tenang mendengar kematian Ali. Mungkin perempuan itu sudah menebak sebelumnya kalau Ali tidak akan selamat.
"Aku khawatir dengan Andewi. Semoga dia baik baik saja," Inge mendongak, berdoa dengan tulus.
"Mbak Vit. Berapa buku yang kamu pinjam?" Erwin memotong pembicaraan. Dia membolak balik tumpukan buku koleksinya.
"Satu," jawab Vita singkat.
"Lhah, kok jadi kurang satu, hilang satu nih," ucap Erwin, sekali lagi melihat dan menghitung tumpukan bukunya.
"Yang mbak baca tadi, bukunya Zainul Rich Man seri ke berapa?" tanya Erwin kemudian.
"Seri pertama yang judulnya reuni penghuni rumah tepi sungai. Tuh di pojokan kasur," jawab Vita sambil menunjukkan letak buku.
"Berarti yang nggak ada seri ketiga ini. Kemana ya?" Erwin celingak celinguk.
Sayangnya buku yang dicari cari Erwin tidak ketemu, tidak ada di seluruh sudut kamar tamu. Erwin duduk bersimpuh di lantai, mengingat ingat isi buku seri ketiga karya Zainul Rich Man.
"Hmm, judulnya 'Racun Hubungan'. Kemana buku itu?" gumam Erwin sendirian.
Erwin berpikir sejenak, mengingat ingat barangkali buku tersebut terjatuh di suatu tempat. Tiba tiba saja dia teringat salah satu Bab di dalam buku karya Sang Richman.
Raut wajah Erwin langsung berubah. Dia tengah menyadari sesuatu. Detail pembunuhan Erfan di ruang makan, mengingatkannya pada cerita di dalam buku ke 3 Sang Richman.
Erwin kini tahu siapa pelaku yang telah membunuh Erfan. Namun, itu hanya dugaannya saja tanpa satu pun bukti.
Bersambung____
__ADS_1