
Pintu kamar Erwin terbuka. Mayat Ali sudah diturunkan dan direbahkan di tempat tidur dengan sprei bermotif pulkadot. Bayu masuk ke dalam kamar, memperhatikan kondisi mayat yang terlihat begitu mengerikan. Tapi laki laki itu tak menunjukkan ekspresi takut sama sekali.
"Damar, jelaskan padaku hasil pemeriksaan mayat, juga kondisi saat mayat pertama kali ditemukan!" Bayu memberi perintah. Damar membuka buku sakunya dan bersiap membacakan kesimpulan pemeriksaannya.
"Mayat pertama kali ditemukan oleh Tuan Erwin yang hendak mengambil buku bukunya," Damar mulai menerangkan, namun Bayu tiba tiba saja meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri. Dia meminta Damar untuk berhenti.
"Sebentar. Buku apa yang mau diambil oleh bocah bernama Erwin itu?" Tanya Bayu penuh selidik. Meskipun dalam benaknya dia sudah dapat menebak buku yang dimaksud, tapi dia benar benar ingin memastikan.
"Setelah mayat diturunkan, tadi Tuan Erwin langsung memindah mindahkan bukunya. Beberapa buku bersampul merah maroon, karya sastra ciptaan Zainul Rich Man," jawab Damar sembari melihat catatannya.
Bayu menutup mulutnya, mengelus janggutnya dan sekilas tersenyum puas. Tebakannya benar.
"Menarik. Silahkan lanjutkan laporanmu," ucap Bayu dengan mata berbinar.
"Baik. Mayat Ali ditemukan dalam kondisi gantung diri. Ada sebuah balok kayu yang sepertinya digunakan sebagai pijakan di bawah kakinya," Damar menunjuk balok kayu yang tergeletak di lantai.
"Alat yang digunakan untuk gantung diri adalah seutas kawat yang dipaku pada rangka galvalum langit langit kamar," Damar menunjuk langit langit yang terlihat dijebol dengan sembarangan. Terlihat tidak rapi dan tergesa gesa.
"Lalu kesimpulanmu?" Bayu memicingkan matanya.
"Awalnya saya menduga kematian Ali karena bunuh diri. Tapi, bekas jeratan di leher korban terlihat aneh. Ada bekas jeratan membiru di bagian atas leher yang merupakan penyebab kematian. Sementara jeratan dari tali gantungan letaknya sedikit di bagian bawah leher. Lalu di bagian rambut korban ada beberapa helai benang wol, sepertinya berasal dari baju hangat atau mungkin sebuah selimut," jawab Damar sedikit ragu ragu.
"Bagus Damar. Kamu cukup jeli. Tapi mungkin kamu melupakan sebuah detail," sambung Bayu sambil tersenyum. Damar nampak bingung, baru kali ini dia menunjukkan ekspresi setelah sepanjang waktu mimik mukanya selalu datar dan dingin.
__ADS_1
"Berapa tinggi badan korban?" Tanya Bayu.
"Emm, sekitar 170 cm." Damar menjawab sambil memperhatikan mayat Ali.
"Lalu berapa jarak lantai dengan tali gantungan?" Bayu kembali bertanya. Tangannya menunjuk pada tali gantungan di atas tempatnya berdiri.
"Cukup tinggi Pak. Lebih dari 2 meter," jawab Damar mengira ngira.
"Tinggiku 180 cm Damar. Bukankah langit langit kamar ini terlihat hampir dua kali dari tinggi badanku? Katakanlah tali gantungan itu setinggi 2,5 meter. Lalu, berapa tinggi balok kayu yang disangka sebagai pijakan ini?" Bayu mengelus elus janggutnya.
"Balok kayu ini tak lebih dari 30 cm. Kalau dijumlah kan dengan tinggi badan korban berarti sekitar 2 meter," Damar manggut manggut.
"Nah, dapat dipastikan balok kayu ini hanya kamuflase agar seolah olah korban terlihat bunuh diri. Tapi sayang sang tersangka tidak teliti," Bayu tersenyum.
"Berarti korban sudah tewas dengan cara dicekik, TKP bisa jadi di tempat lain. Kemudian dibawa kesini dan digantung oleh pembunuhnya?" Damar bertanya memastikan.
"Pak Bayu benar benar hebat. Analasis tajam, padahal baru melihat tempat kejadian. Pantas saja Pak Bayu karier nya sangat cepat menanjak," ucap Damar kagum.
"Ha ha ha, yah kebetulan teman seangkatanku tidak banyak yang menonjol. Makanya aku lebih cepat naik dibanding mereka." Bayu tergelak, tawanya pecah.
"Pesaing terdekat pak Bayu mungkin Pak Adi ya?" tanya Damar dengan wajah polosnya.
"Ya orang itu sepertinya mampu mengimbangi pemikiranku. Sayangnya dia kurang punya ambisi. Ingat, manusia tanpa ambisi akan kekurangan motivasi dalam hidup. Pada akhirnya orang yang seperti itu takkan pernah maju. Dia tidak akan pernah bisa mengejar, selamanya akan berada di belakang dan hanya bisa melihat punggungku," jawab Bayu penuh keyakinan.
__ADS_1
Damar manggut manggut. Dia begitu kagum pada pribadi dan persona Bayu Khairil. Cerdas, cerdik dan ambisius. Cara bicaranya pun sanggup mempengaruhi orang lain.
"Menurut Pak Bayu, siapa yang telah melakukan pembunuhan sekeji ini? Leher korban sampai patah. Bukankah ini perbuatan orang yang nggak waras?" Damar tiba tiba bertanya.
"Ha ha ha. . .Damar Damar, setiap individu itu pasti punya sisi gelap di hatinya. Tinggal bagaimana cara pengelolaannya. Ada yang menunjukkan sisi gelapnya secara nyata, ada juga yang bermain di balik bayangan. Jangan sebut mereka yang berbuat jahat tidak waras. Mereka sebenarnya waras, hanya saja tidak mampu menahan sisi gelap di hatinya. Sisi gelap yang sudah mengakar kuat," Bayu menyeringai mengerikan. Damar menelan ludah. Lehernya terasa dingin. Ketakutan menjalar dari dasar hatinya.
"Waa ha ha ha, jangan menatapku ketakutan begitu Damar," Bayu tertawa terbahak bahak kali ini.
"Pak Bayu, apakah anda juga sama? Memiliki sisi gelap yang ingin dilampiaskan?" Damar kembali bertanya. Dia merasa gugup. Meskipun udara terasa dingin, nyatanya keringat membasahi keningnya.
"Tentu. Bukankah kamu juga begitu Damar? Ada kegelapan yang ingin kamu lampiaskan. Dadamu terasa sesak oleh kebusukan dunia. Hidup hanya sekali Damar, jangan biarkan diri kita menderita sendirian. Harus ada orang lain yang tahu bagaimana rasanya menjadi kita." Bayu memutar bola matanya. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar yang terasa dingin.
"Aku tidak punya cukup nyali dan kekuatan untuk menuruti keinginan hatiku Pak Bayu," jawab Damar lirih.
"Besok setelah kita kembali ke kantor, kuberi kamu beberapa buku yang sangat bagus untuk menguatkan tekadmu. Buku yang akan menyadarkan setiap orang bahwa manusia tidak akan pernah bisa saling memahami, kecuali mereka merasakan penderitaan yang sama," Bayu menepuk nepuk bahu Damar.
"Sekarang tugas kita adalah mencari pelaku dari dua pembunuhan di rumah tepi sungai ini," tukas Bayu mengalihkan pembicaraan.
"Emm, apa tidak sebaiknya kita menelpon kantor, Pak Bayu? Supaya ada tim lain yang dikirim kesini untuk membantu kita." Damar memberi ide. Namun Bayu dengan cepat menggeleng penuh keyakinan.
"Kita harus menyelesaikan kasus ini berdua Damar. Ada posisi yang ingin aku tuju dan ku raih. Kesuksesan individu mutlak diperlukan," jawab Bayu lugas.
"Sekarang lebih baik kita kembali ke depan. Jangan katakan apapun tentang hasil penyelidikan pada orang orang itu. Karena jika sang penjahat tahu kita sudah mengendus kebusukannya, tentu sang penjahat akan lebih berhati hati dalam bertindak. Hal itu malah akan membuat kita kesulitan. Biarkan sang penjahat merasa menang terlebih dahulu, untuk membuatnya bertindak ceroboh, lalu kita akan menangkap ekornya," pesan Bayu pada Damar.
__ADS_1
Damar mengangguk tanda mengerti. Rasa kagum pada Bayu semakin membesar di hatinya. Damar baru menyadari bahwa Bayu sangat faham setiap langkah yang mungkin dilakukan oleh seorang penjahat. Bayu selalu bertindak satu langkah di depan lawan lawannya. Insting yang benar benar tajam dan mengerikan.
Bersambung___