
"Target Mella adalah Dipta. Cairan itu memang disiapkan olehnya untuk mencelakai Dipta. Namun, yang tidak Mella tahu adalah tiga hari sebelum pementasan, kamu gunakan cairan itu untuk berlatih bersama Zainul," ucap Bayu di antara api yang berkobar semakin liar.
"Jadi menurutmu, siapa yang bersalah atas luka bakar yang diderita Zainul? Jawabannya adalah kamu!" Bayu menyeringai dengan mata yang melotot.
"Kamu bohong! Kamu membual!" Teriak Hendra. Dia berusaha menyangkal ucapan Bayu.
"Tidak ada untungnya aku berbohong," sergah Bayu.
"Bullsh*t! Untuk apa Mella berusaha mencelakai Dipta?" Hendra bertanya meminta penjelasan.
"Karena Mella pernah ditolak oleh Dipta. Si gadis penyuka kimia itu merasa sakit hati. Ditambah rasa penasaran dan pengetahuannya tentang cairan kimia yang hanya seujung jari, dia meracik cairan itu. Dia sama sekali tidak menduga kalau zat kimia yang dibuatnya mampu menimbulkan luka bakar permanen. Apalagi ternyata melalui tanganmu dia salah target. Zainul yang akhirnya harus menjadi korban salah sasaran," Bayu menggeleng pelan.
"Bohong! Tahu darimana kamu?" Hendra terus menyangkal.
"Aku menyelidiki semuanya. Asal kamu tahu saja, aku memantau kalian semua. Aku berteman dengan Mella dan dia menceritakan semuanya," Bayu tersenyum sekilas.
"Berarti buku ini bohong? Zainul membohongiku?" Hendra melotot. Sorot matanya masih terlihat ragu untuk mempercayai ucapan Bayu.
"Buku itu adalah skenario drama terakhir dari Sang Maestro. Dia tidak berbohong, hanya menuliskan cerita berdasarkan sudut pandangmu, Hendra. Sudut pandang tokoh antagonis utama."
"Namun sayang sekali. Kamu tidak bisa mengeksekusinya dengan sempurna," Bayu memasang wajah seolah olah tengah bersedih.
"Sialan! Kamu menjebakku! Kalian nggak waras!" Hendra berteriak. Wajahnya merah padam.
__ADS_1
"Aku dan Zainul adalah penikmat drama. Cita cita Zainul adalah menjadi penulis skenario film. Dan kupikir sekarang, dia telah berhasil. Dengan buku bukunya dia menjadi kaya raya. Kemudian skenario drama mahakarya nya dia pasrahkan padamu. Dan panggung besarnya adalah rumah tepi sungai ini," Bayu memandangi api di hadapannya. Ada rasa takjub dan bangga dari ekspresi wajahnya.
Hendra termenung. Dia teringat kembali dengan pemberian Zainul pada waktu hujan deras di yayasan sosial miliknya. Sebuah buku bersampul merah, sebuah buku tabungan dan sertifikat tanah, serta kartu identitas milik Zainul. Semua sudah diatur agar Hendra mau berperan menggantikan Zainul di kehidupan sehari hari.
Beberapa hari setelahnya, Hendra mengunjungi lahan yang begitu luas di area hutan yang tertulis di sertifikat tanah. Pada waktu itu dia menemukan Zainul tergantung tak bernyawa di pondok tua tengah hutan.
Dengan rasa sakit di hatinya, rasa bersalah yang tak berujung, Hendra bersumpah di hadapan mayat Zainul untuk melaksanakan pembalasan dendam. Dia membangun rumah impian Zainul, rumah tepi sungai yang sejuk, jauh dari keramaian. Dan akhirnya melaksanakan skenario yang telah ditulis oleh Zainul Rikhman.
Namun kini, Hendra merasa diperalat. Dia telah berdosa, tangannya berlumuran darah orang yang tak bersalah. Fadlan, Wignyo, juga Mella serta Pak Mardoyo. Wajah wajah mereka terbayang di pelupuk mata Hendra. Wajah yang tak berdosa harus dia renggut hak asasinya untuk hidup.
"Sialan kamu Bayuu!" Hendra berteriak geram. Namun dia tak bisa bergerak. Di hadapannya, sebuah moncong pistol kecil mengarah tepat ke bagian tengah dahinya.
"Buku yang kamu baca itu, sama dengan buku yang dibaca oleh Bu Ami sebelum dia mengakhiri hidupnya," ucap Bayu santai.
"Dan ternyata Bu Ami memiliki rasa bersalah yang cukup besar terhadap Zainul. Setelah membaca buku yang sama dengan yang kamu bawa itu, Bu Ami mengakhiri hidupnya. Ahh, senangnya . . . Aku tak perlu mengotori tanganku kaannn?" Bayu menahan tawa.
"Gila kamu!" Pekik Hendra.
"Siapa yang gila? Aku atau kamu? Ingat, kamulah yang membunuh teman temanmu sendiri, bukan aku! Kamu melakukan pembunuhan berdasar sebuah buku yang kamu baca. Itu gila meenn. Kamu Gila!" Bayu berbicara dengan nada suaranya yang terdengar mengejek.
"Kalau kamu hendak melakukan penebusan dosa, seharusnya kamu melakukan apa yang Bu Ami lakukan," lanjut Bayu.
"Ingat, seandainya saja kamu tidak memaksa Zainul untuk berlatih dialog, seharusnya saat ini Zainul masih hidup dengan karya karyanya yang mentereng. Dia tidak perlu mendapat luka bakar di tubuhnya. Juga, kamu tidak perlu membunuh teman teman dari club drama. Mereka semua bisa hidup tenang dengan kesibukan duniawinya masing masing. Semua kegaduhan ini adalah salahmu Hendra Asmara," Bayu duduk berjongkok di hadapan Hendra.
__ADS_1
Hendra nampak benar benar terguncang. Perkataan Bayu, mempengaruhi hatinya. Rasa bersalah yang beberapa waktu lalu sudah menghilang, kini muncul kembali. Bahkan terasa lebih besar dan menyesakkan.
"Kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan dari dulu Hendra," Bisik Bayu sembari meletakkan pistol kecilnya di hadapan Hendra.
"Jangan hidup dengan penyesalan. Lakukan apa yang mesti kamu lakukan. Panggung drama sang maestro Zainul Rikhman membutuhkan penutup yang epic untuk membuatnya menjadi sebuah mahakarya."
"Aku pergi dulu Hendra Asmara," ucap Bayu berbalik badan. Dia melepas sarung tangannya kemudian pergi berlalu meninggalkan Hendra yang duduk bersimpuh sendirian.
Sepeninggal Bayu, Hendra masih terdiam mematung. Beberapa bulir air mata menetes membasahi pipinya. Hendra masih belum tahu keputusan apa yang sebaiknya diambil. Sementara di puncak bukit, nampak banyak sekali sorot lampu senter milik warga.
"HHAAAAAAAAAAHHHH"
Hendra berteriak sekuat kuatnya. Mentalnya hancur, nilai moral di benaknya kacau. Dia benar benar merasa telah kotor dan bersalah. Hendra menatap kedua tangannya. Dia seakan melihat darah yang menghitam dan kering di kedua telapak tangannya.
Hendra meraih pistol kecil di hadapannya. Dia menangis tersedu. Dia mendongak, menatap langit yang kelam. Dia bertanya dalam hati, bagaimana menghilangkan rasa bersalah yang membuat dadanya sesak. Rasa bersalah yang sempat lenyap kini datang dengan lebih menyakitkan.
"Kenapa aku mencoba memperbaiki sesuatu yang rusak parah? Bukankah seharusnya kuakhiri saja semua ini dari awal?" Hendra bergumam sendiri.
Dengan tangan yang gemetar, Hendra meletakkan ujung pistol di dagunya. Dia menangis, matanya menatap langit. Tidak ada bintang disana, hanya ada kegelapan. Gelap yang tak berdasar, seperti halnya hatinya yang telah menelan semua kebaikan.
Doorrrrr
Suara tembakan ke tiga hari ini. Suara yang asing bagi penghuni hutan. Suara yang membuat warga desa semakin mempercepat langkahnya. Rasa penasaran, ngeri dan was was bercampur di hati masing masing orang yang berlari menuju ke pusat kobaran api.
__ADS_1
Bersambung ___