
Mendengar percakapan dan perdebatan Anggun dengan suaminya, Vita tak terlalu terkejut. Dari awal feelingnya memang mengarah pada Ferry sebagai pelaku kejahatan. Vita sadar betul, dari dulu Ferry tak suka dengan circle pertemanan istrinya.
Meskipun semuanya masih abu abu, terlalu dini untuk menyimpulkan kalau Ferry penjahatnya, namun tuduhan Anggun yang Vita dengar tadi sangatlah masuk akal. Sekarang, Vita jadi ragu dan bingung langkah apa yang seharusnya dia ambil. Sangat berbahaya jika dia ketahuan menguping.
Vita beringsut mundur. Setengah berlari dia menuju ke dapur, namun ternyata tak ada orang disana. Pintu belakang terbuka lebar. Udara berhembus dingin dari halaman belakang yang temaram. Padahal sore belum datang tapi kegelapan sudah menyelimuti wilayah hutan.
Tak mau berpikir lama, Vita keluar dari dapur dan menuju ke halaman belakang. Setengah berjingkat dia memutar ke halaman depan rumah dan terus melangkah menyusuri jalanan. Untuk saat ini, Vita merasa pilihan paling tepat adalah menjauh dari rumah tepi sungai itu, menjauh dari sosok Ferry.
Vita tak mempedulikan langit yang mulai gelap. Menginap di hutan jauh lebih aman daripada bersama seorang pembunuh berdarah dingin. Meskipun ada 2 orang petugas kepolisian di rumah itu namun terasa kurang berguna. Sudah ada 3 kematian dan 1 orang yang menghilang, tapi belum ada tindakan yang berarti dari dua petugas kepolisian tersebut.
"HP dan dompet sudah kubawa. Barang barang lain biar sajalah," gumam Vita sambil memeriksa saku celananya.
Beruntung alas kaki yang Vita pakai adalah sandal gunung. Jalan yang terbuat dari susunan batu batu terjal tidak mengganggu langkah kakinya. Vita berjalan setengah berlari, ingin segera pergi menjauh dari rumah baru Anggun.
Teringat kembali sahabat sahabatnya yang tewas mengenaskan di rumah itu. Vita masih merasa hidupnya bagai di alam mimpi. Mimpi buruk yang membuatnya kesulitan untuk terbangun.
Sambil tetap melangkah, angan Vita kembali ke beberapa hari yang lalu. Saat Andewi dengan begitu antusias mengajak kawan kawannya untuk mengunjungi rumah baru Anggun. Entah apa tujuan Andewi, dia sangat bersemangat untuk berkunjung ke rumah yang kabarnya ada di tengah hutan.
Sebuah ajakan yang disambut hangat oleh Erfan. Apapun yang berhubungan dengan Anggun, Erfan selalu bersemangat. Vita cukup heran hingga kini, bisa bisa nya dia berteman dengan laki laki berotak mesum itu.
Pada akhirnya semua orang setuju untuk berkunjung ke tempat antah berantah ini. Ternyata ajal telah menanti. Kini hanya tersisa Vita seorang, menyusuri jalanan gelap di tengah hutan.
Vita memperlambat langkahnya. Dia berjalan sudah cukup jauh dari rumah Anggun. Tenggorokannya terasa kering, dahaga mencekik, Vita butuh air. Sedikit menyesal kenapa dia tidak menunggangi salah satu motor trail untuk kabur. Malah memilih berjalan kaki supaya tidak ada yang tahu kepergiannya.
__ADS_1
Kunci motor trail ada di dalam kamar. Tak ada waktu untuk mengambilnya, keinginan Vita untuk kabur dari rumah muncul spontan saat melihat pintu belakang terbuka. Lagipula suara knalpot berisik motor trail tentu akan membuat orang orang tersadar. Apalagi Vita ragu jangan jangan penghuni rumah itu tidak waras semua, sama halnya dengan Ferry.
Teringat kembali novel karya Zainul Rich Man yang tadi dia baca. Ketika suatu tempat menjadi ajang kejahatan yang mengerikan maka aura negatif akan menyebar, dan tidak menutup kemungkinan semua orang yang berdiam di tempat tersebut akan terpengaruh. Salah satu kalimat di buku merah maroon itu, terngiang di benak Vita.
Rasa haus semakin menyiksa. Tanpa pikir panjang Vita melompat keluar dari jalur utama, dan turun ke sungai. Sungai yang airnya bersumber dari bagian atas air terjun sekitar rumah baru Anggun.
Air sungai begitu jernih, memantulkan bayangan langit yang mulai semburat kemerahan. Vita menangkupkan tangannya, mengambil air sungai untuk diminum. Jarinya yang putih dan panjang meruncing terasa sangat dingin saat bersentuhan dengan air.
Tenggorokan yang semula terasa kering, kini berubah sejuk dan segar. Vita duduk di tepian sungai, meresapi kelegaan kerongkongannya. Namun rasa lega itu tak berlangsung lama.
Seseorang berjalan mendekat, dengan sekujur tubuhnya yang basah kuyup. Rambutnya gondrong, lepek dan berantakan. Tatapan matanya kosong, berjalan tanpa alas kaki di bebatuan yang terjal.
"Erwin?" pekik Vita tak percaya.
Sosok Erwin dengan penampilan berantakan terlihat seperti orang yang tak waras. Dia berhenti di hadapan Vita. Dan hanya berdiri mematung tanpa sepatah kata pun.
"Win, kamu kenapa?" Vita kembali bertanya. Erwin hanya bengong.
"Win, Inge sudah mati Win," ucap Vita, masih menjaga jarak dengan sosok Erwin.
Erwin yang sedari tadi diam saja, kini tiba tiba menoleh pada Vita. Dia menangis, bahunya nampak bergoncang. Tangisan tak bersuara yang terlihat begitu menyakitkan.
"Aku menyerang Inge Vit. Aku, aku, aku menyayanginya. Tapi gara gara buku itu, aku menus*knya," ucap Erwin di antara isak tangis.
__ADS_1
"Hah? Apa maksudmu? Jadi, kamu yang telah membuat Inge seperti itu?" Vita kembali mundur beberapa langkah.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku tak bermaksud. Aku gelap mata, seperti ada yang berbisik di telingaku. Aku menusuknya dua kali. Aku tak berniat begitu hu huu," Erwin menangis sejadi jadinya.
"Tega kamu Win! Kupikir orang lain yang melukai Inge! Ternyata kamu! Sudah gila kamu! Sebaiknya kamu menyerahkan diri pada polisi," Vita berbalik, memunggungi Erwin dan segera mengayunkan kakinya sekuat tenaga.
"Aku tak bermaksud!" Teriak Erwin dan langsung ikut berlari, mengejar Vita.
"Tunggu aku, biarkan aku menjelaskannya!" Erwin berteriak sambil terus berlari.
Vita tak mau berhenti. Tak sudi mendengarkan orang yang telah kehilangan akalnya. Dia melompat keluar dari area sungai dan kembali ke jalan utama.
Ada sedikit keraguan di hati Vita. Haruskah dia kembali ke rumah Anggun atau berlari terus hingga sampai di perkampungan warga.
"Siaaaalll!" Vita berteriak sekuat kuatnya. Begitulah caranya mengusir keraguan di hati. Vita memutuskan kembali ke rumah Anggun. Jarak yang lebih dekat, membuatnya mengambil keputusan itu.
Vita terus berlari sambil sesekali menoleh, memastikan Erwin masih mengejarnya atau tidak. Nafasnya mulai tersengal. Meskipun udara begitu dingin terasa, namun keringat sebesar biji jagung mulai menetes dari pelipis, leher, juga ketiaknya yang mulai basah.
"Hah hah hah," Vita menghentikan langkah, mengatur nafas dan memegangi lututnya yang gemetar. Air sungai yang baru dia minum, sudah kering menguap bersama keringat. Dahaga kembali menyiksa tenggorokannya.
Langit mulai menghitam, sore telah datang. Area hutan mulai temaram. Sementara serangga dan beberapa hewan nokturnal mulai menunjukkan suaranya, bersahut sahutan, menggema memekakkan telinga.
Vita mengedarkan pandangan, mencari sosok Erwin yang tadi mengejarnya. Sepi dan sunyi, tak ada siapapun. Vita menghela nafas, sedikit merasa lega. Vita merogoh HP di sakunya, membuka kunci layar, dan tak menemukan sinyal disana.
__ADS_1
"Brengs*k!" umpat Vita jengkel.
Bersambung___