Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
41. Pesan Galang


__ADS_3

"Ada orang pingsan Nyooo," ucap Fadlan gusar. 


"Warga desa sini?" Tanya Wignyo.


"Bukaaann. Orang asing. Badannya penuh luka, kayak baru diserang hewan buas," Fadlan menjelaskan.


"Ah masak? Orang beneran apa dedemit c*k? Merinding aku," Wignyo mengusap usap lehernya.


"Beneraan. Kita tolongin yok. Bisa mati kalau dibiarkan," Fadlan meraih tangan Wignyo, menyeretnya.


"Sek too, sebentar," Wignyo menghardik.


"Karungnya dibawa lho. Duit ini, amanah," ucap Wignyo sambil memanggul karung berisi uang dari bank.


Wignyo setengah berlari, mengikuti Fadlan. Wignyo sebenarnya menahan tawa melihat teman berambut kribonya itu berlarian hanya mengenakan sebuah CD kumal dan lusuh. Fadlan dan Wignyo menyusuri tepian sungai, hingga akhirnya sampai di tempat Galang tersungkur kesakitan.


"Waduh, masih bernafas nggak nih?" Wignyo ragu ragu mendekat. Dia memperhatikan dengan seksama, ada sedikit gerakan pada sosok Galang yang tergeletak tak berdaya.


Wignyo buru buru meletakkan karung bawaannya. Dia menyentuh bagian leher Galang. Masih ada nafas dan denyut nadi, meskipun terasa sangat lemah.


"Gimana Nyoo?" Tanya Fadlan panik.


"Anu, telpon bu bidan desa. Cepeeett!" Perintah Wignyo.


Fadlan segera mengambil celananya yang tergeletak di atas batu. Dia merogoh HP di saku celana. Fadlan mencari cari nomor bidan desa di HP nya. Namun ternyata, dia tidak menemukan apa yang dia cari.


"Aku nggak ada nomernya Nyooo. Nggak nyimpan nomernya bu bidan," Fadlan garuk garuk kepala.


"Cengooohhh, Mendhooo. HP mu itu gunanya buat apa sih? Cuma buat nyimpan nomer e cabe cabean kampung sebelah," Wignyo berteriak kesal.


"Mulutmuuu," protes Fadlan.


"Uughhh," tiba tiba Galang merintih.


"Nyoo, kayaknya Masnya mau ngomong sesuatu," Fadlan menunjuk mulut Galang yang terlihat bergerak gerak pelan.

__ADS_1


"Ambilin air sungai coba," Wignyo kembali memberi perintah.


"Ngambilnya pake apa?" Fadlan nampak bingung.


"Pakek tanganmu lah. Mau pake apa lagi, nggak ada wadah juga. Coba kita kasih minum. Siapa tahu kan dia bisa lebih seger nanti," Wignyo sewot.


Fadlan buru buru terjun ke sungai. Menangkupkan tangannya mencoba mengambil air sebanyak yang dia bisa. Sedangkan Wignyo membantu Galang untuk duduk bersandar pada batu. 


"Nih," Fadlan menyodorkan telapak tangannya ke hadapan Wignyo.


"Ya minumkan sama Mas nya to Fadlaaann. Kok malah aku yang kamu suruh minum," Wignyo geleng geleng kepala. Fadlan nyengir.


Fadlan memang orang yang mudah panik. Apalagi melihat kondisi mengerikan dari Galang. Baju yang compang camping, penuh noda darah. Juga bekas cakaran cakaran hewan buas, dengan luka yang masih basah. Jelas nyali Fadlan menciut.


Galang meminum air di telapak tangan Fadlan. Tenggorokannya terasa sedikit lega. Meskipun nafasnya terasa berat, dada terasa sesak. Galang tidak mengenali dua pemuda konyol yang ada di hadapannya. 


"Kalian siapa? Cepat tolong orang orang. . .uhuukk," Galang terbatuk. Galang sulit mempertahankan kesadarannya. Ingin rasanya dia menyerah saja. Mungkin kematian lebih nyaman daripada bertahan dalam kondisi sekarat seperti saat ini.


"Ah kami warga sini. Kami kebetulan hendak pergi ke rumah besar sang Rich Man. Dan menemukan anda. Apa yang terjadi? Anda siapa?" Wignyo menghujani Galang dengan pertanyaan.


Galang dalam kondisi sekarat. Sulit rasanya untuk menjelaskan apa yang telah terjadi padanya. 


"Bayu. . .Bayu penjahat," ucap Galang sekali lagi. Suaranya semakin lirih. Dan pada akhirnya dia kembali tidak sadarkan diri.


"Bayu? Bayu itu siapa Mas?" Wignyo bertanya tak mengerti. Namun lawan bicaranya itu kini sudah terdiam. Matanya terpejam, hanya menyisakan hembusan nafas yang pelan.


"Pingsan lagi," Wignyo menyentuh leher Galang. Masih terasa denyut nadinya.


"Terus gimana ini Nyo?" Fadlan kembali bertanya, setelah terdiam beberapa saat.


"Telpon siapa kek gitu. Suruh bawain tandu atau apalah. Pak carik atau pak kasun, punya nomernya nggak?" Tanya Wignyo memberi ide.


Fadlan mengangguk. Kemudian menekan sebuah nomer di HP nya. Telepon Fadlan tersambung dengan salah satu perangkat desa. Fadlan menceritakan kalau dirinya dan Wignyo menemukan sosok asing penuh luka di tepian sungai.


"Gimana?" Tanya Wignyo setelah Galang selesai menelpon.

__ADS_1


"Pak No Kasun mau kesini. Ngajak warga juga. Kita tunggu saja Nyo," jawab Fadlan sambil mengenakan celananya.


Akhirnya Fadlan dan Wignyo menunggu kedatangan warga. Wignyo beberapa kali menyentuh bagian leher Galang, untuk memastikan bahwa laki laki itu masih bernafas.


Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya datanglah Pak No kasun, bersama beberapa warga. Mereka terlihat membawa dua bilah bambu dan beberapa lembar kain sarung.


"Pak No, sini Pak!" Teriak Fadlan memanggil.


Pak Kasun dan beberapa warga bergegas menuju ke tempat Fadlan dan Wignyo. Mereka cukup terkejut saat melihat sosok laki laki yang tengah terluka dan dalam kondisi tak sadarkan diri.


"Pak No, ini gimana enaknya?" Tanya Fadlan sembari menunjuk Galang yang tengah pingsan.


"Tenang. Begini saja, kita bawa Mas nya ini ke Polindes. Nanti biar dapat pertolongan pertama dari bu bidan. Nah, setelah itu kita laporan sama pihak kepolisian, enaknya gimana," ucap Pak No Kasun.


"Kami nggak bisa bantu, soalnya aku sama Wignyo harus ke rumah Rich Man nganterin duit," sambung Fadlan menunjuk karung di dekat Wignyo.


"Iya aku mengerti. Biar bagaimanapun Tuan Zainul adalah orang yang berjasa di desa kita. Kita punya banyak hutang budi padanya. Jadi, kalian berdua jalankan perintah dan permintaan Tuan Zainul. Biarkan kami yang membawa Mas nya yang luka ini. Ayo Pak Lik, kita tandu Mas nya dan bawa ke Polindes!" Pak No Kasun memberi perintah pada warganya.


Serempak warga membentangkan beberapa lembar kain sarung yang mereka bawa. Kemudian ditali pada dua bambu yang telah disiapkan. Dan jadilah, sebuah tandu yang cukup kuat. Wignyo membantu mengangkat sosok Galang yang lemas ke atas tandu. Setelahnya, warga dengan kompak mengangkat dan membawa pergi Galang yang tengah terluka agar segera memperoleh pertolongan.


"Semoga masih tertolong ya Nyo," ucap Fadlan setelah rombongan Pak No Kasun sudah pergi.


"Kamu ingat kan apa yang disampaikan Mas nya sebelum pingsan tadi?" Wignyo menimpali.


"Selamatkan orang orang yang ada di rumah itu. Bayu penjahatnya. Begitu kalau aku nggak salah dengar," Fadlan mengingat ingat.


"Perasaanku jadi nggak enak lho ini," Wignyo menghela nafas.


"Bukannya kamu mati rasa?" Fadlan terkekeh mengolok olok.


"As**!" Wignyo mengumpat.


"Sudahlah, pokoknya tugas kita mengantar duit ini ke rumah Rich Man. Setelah itu kita dapat upah. Lumayan deh, bisa ngajak Neng Rika nongkrong di cafe kecamatan," ucap Fadlan sambil tersenyum.


"Rikaaaaaaa saja yang ada di otakmu itu," Wignyo geleng geleng kepala, dan kembali memanggul karung yang berisi uang tersebut.

__ADS_1


Akhirnya, dua pemuda kampung itu kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan kaki melewati jalan setapak menuju ke rumah Sang Rich Man. Fadlan tak henti hentinya bersiul sepanjang jalan. Sementara Wignyo sedari tadi terdiam. Entah apa yang dia rasakan, firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang buruk terjadi.


Bersambung . . .


__ADS_2