
Jalan utama menuju area rumah baru Anggun memang telah dibangun, dan diperlebar. Namun jalan setapak yang dulu merupakan jalur tikus dan lebih dekat ke pemukiman penduduk jadi tidak terawat. Rumput gelagah setinggi dada orang dewasa, juga semak berduri, tumbuh liar dan menutup jalan.
Kabut tebal tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan udara pagi di hutan milik Zainul Rich Man itu. Di lereng bukit, sebuah pondok tua dengan beberapa bagian tiang kayu nya yang mulai lapuk digerogoti rayap. Pondok yang masih berdiri meskipun sudah tidak layak disinggahi.
Bayu Khairil, polisi dengan masa lalu yang penuh misteri itu berdiri tegap di depan pondok. Matanya nyalang memperhatikan tempat terakhir dia bersama sahabat karibnya, Zainul Rich Man.
Pondok kayu tempat Zainul menyepi, mencari inspirasi menulis novel novel kelam nan kejam. Sementara Bayu selalu menjadi orang pertama yang membaca karya karya Sang Maestro sebelum tercetak dan menjadi best seller di pasaran.
Setelah puas memandangi pondok reyot itu, Bayu kembali melangkahkan kakinya. Menuruni jalanan berbatu yang sedikit licin dengan tanah gembur khas pegunungan yang lengket di pijakan sepatu. Beberapa kali Bayu hampir terpeleset. Refleks, tangannya mencoba meraih tanaman di sekitar sebagai pegangan agar tidak jatuh. Naas, yang dia raih adalah mawar liar penuh duri.
"Ha ha ha," tiba tiba saja Bayu tertawa. Darah segar mengucur dari telapak tangannya yang putih bersih.
Bayu menghisap ibu jarinya yang berdarah. Aroma anyir dan rasa aneh seperti besi berkarat memenuhi rongga mulutnya. Bayu kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah beberapa turunan terjal dilewati, sampailah Bayu di sebuah tanah lapang. Di bagian tengah diantara rumput gajah yang rimbun, terlihat sebuah gundukan tanah merah. Dengan batu penuh lumut diletakkan di atasnya sebagai penanda.
Sebuah batu nisan berwarna putih kecokelatan, dengan beberapa lumpur yang menempel masih tertancap kokoh di samping batu. Meskipun samar, masih bisa terbaca sebuah pahatan bertuliskan Zainul Rikhman.
Bayu berjongkok, memandangi pusara sahabatnya itu. Ada rasa sesak di dadanya, rasa sedih, sekaligus rindu yang tak terucap. Dia mengelus lembut nisan Zainul Rikhman.
"Heii, aku datang kawan," ucap Bayu dengan suara yang terdengar tertahan di kerongkongan. Sudut matanya basah berair.
__ADS_1
"Kamu melihatnya kan dari sana? Karyamu yang luar biasa itu menginspirasi hati hati yang tersesat. Menawarkan solusi pada jiwa jiwa yang marah," Bayu mengusap matanya yang terasa pedih.
Bayu melamun, ingatannya terseret pada kejadian yang telah berlalu. Kenangan masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi yang seperti sekarang ini.
Kedua orangtua Bayu adalah pengusaha sukses di masanya. Selalu sibuk dengan kegiatan dan pekerjaannya masing masing. Meskipun bergelimang harta, dan apapun yang dia mau terpenuhi, Bayu merasa ada yang kosong dari hidupnya.
Bayu kecil pernah berdoa dalam hati, agar orangtuanya lebih banyak waktu dengannya. Nyatanya doa itu cepat terkabul. Sang Ayah menjadi lebih sering berada di rumah. Namun tidak seperti yang dibayangkan oleh Bayu. Ayahnya banyak waktu di rumah membawa neraka pada kehidupannya.
Perusahaan yang dikelola Ayah Bayu mengalami kebangkrutan. Perasaan terpuruk dan tekanan batin merubah perangainya. Saat usaha sang istri berjalan lancar, harga dirinya sebagai laki laki terluka. Perasaan kalah tidak membuatnya ingin bangkit, namun malah membuatnya berlari ke kubangan minuman keras.
Pengaruh alkohol membuat sang ayah menjadi pribadi yang rusak secara moral. Setiap pagi Bayu menyaksikan ayahnya mabuk mabukan. Kian hari kian menjadi. Seringkali Bayu juga mendapatkan kekerasan baik secara verbal maupun secara fisik.
Bayu pernah mengadu pada ibunya. Tak ada tanggapan dari perempuan workaholic itu. Ibunya hanya menjawab dan berpesan agar Bayu tidak nakal. Tak ada perhatian, tak ada kepedulian. Bahkan memar di pipinya yang terasa berdenyut pun dihiraukan oleh sang ibu. Ibunya terlalu sibuk mengurus bisnis, seluruh energi dan pikirannya sudah terkuras. Tak ada lagi kasih sayang untuk Bayu.
Bayu mulai berkenalan dengan Zainul. Bagi Bayu, Zainul adalah seorang maestro. Penulis cerita dengan kisah kisah yang serupa dengan jalan hidupnya. Kisah yang sesuai dengan realita bahwa sebuah kesengsaraan belum tentu membawa kebahagiaan di akhir cerita. Bahwa kebaikan belum tentu menang melawan kebusukan. Karena itulah kehidupan, itulah dunia.
Bayu tersadar dari lamunan. Tanpa terasa air mata menetes deras di kedua pipinya. Dia kemudian memeluk nisan Zainul. Bayu sudah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi pendukung nomor satu Zainul Rikhman. Penikmat maha karya sahabat sekaligus mentari yang bersinar dalam hidupnya yang penuh kabut hitam.
"Aku sudah menebar benih kisahmu pada orang orang yang tepat. Mereka adalah orang terpilih untuk mementaskan skenariomu menjadi sebuah mahakarya di dunia nyata. Aku akan menikmatinya Nul. Menikmati setiap hal yang tertuang dalam bukumu. Menikmati setiap titik koma dari ide yang terukir dari penamu," Bayu mengusap usap nisan Zainul.
Bayu mengusap dan menyeka air mata yang membasahi pipinya. Kemudian dia berdiri, menghamburkan bunga kantil yang dia simpan di balik jaketnya. Aroma wangi menyeruak di udara. Begitu tajam dan terasa memabukkan.
__ADS_1
Bayu berbalik badan, dan berjalan gontai meninggalkan pusara Sang Richman. Sebuah makam di kaki bukit, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Kegelapan dan kesunyian terasa abadi di area yang tak pernah terjamah sinar matahari itu.
Tak lebih dari dua jam, Bayu sudah kembali. Dia telah sampai di pelataran rumah baru Anggun. Tampak para laki laki duduk di luar rumah dengan wajah yang sulit digambarkan. Wajah wajah penuh ketakutan. Hanya Damar seorang yang terlihat tenang dengan mimik muka datar.
"Ada apa ini? Wajah anda semua tampak begitu suram," ucap Bayu santai. Tak ada yang menjawab, semua terdiam.
"Damar? Ada apa?" Bayu menatap Damar meminta penjelasan.
"Kami menemukan Ali Pak," jawab Damar singkat.
"Oh ya? Terus, dimana sekarang laki laki itu?" Bayu kembali bertanya.
"Ali sudah meninggal Pak. Kami menemukan mayat Ali tergantung di kamar Tuan Erwin," Damar tetap berwajah datar tanpa ekspresi.
Bayu sedikit terkejut mendengarnya. Dirinya tak menduga tragedi kali ini bergulir dengan cepat.
"Damar, kita perlu berbicara empat mata. Tunjukkan dimana mayat Ali, sekaligus jelaskan kronologi penemuan mayatnya!" Bayu memberi perintah.
"Siap Pak," ucap Damar sigap. Dia langsung berdiri hendak menunjukkan tempat mayat Ali berada.
"Tuan tuan semuanya harap tetap tenang. Beri kami waktu untuk memeriksanya," ucap Bayu pada Ferry, Erwin dan Pak Nyoto. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Senyum yang nampak ramah dan menenangkan.
__ADS_1
Bersambung___