Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?


__ADS_3

Sorot lampu senter berpendar di kegelapan hutan. Dua orang melangkah perlahan di antara semak dan tanaman perdu. Orang yang berjalan di depan terlihat santai, seakan sudah sangat hafal dengan wilayah tersebut. Orang itu adalah Bayu. Sementara orang yang mengekornya di belakang adalah Damar.


"Pak Bayu, kita mau kemana?" tanya Damar memecah keheningan.


Bayu hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaan Damar. Beberapa waktu sebelumnya, saat terdengar teriakan Mak Surti, semua orang berlari menghambur ke dapur. Mereka menemukan Mak Surti tergeletak di lantai dapur dengan tubuh lemas dan menangis.


"Miko dibawa orangg, Miko diculik, tolongg," Mak Surti meracau sambil terisak waktu itu.


Bayu langsung mengambil keputusan, memerintahkan orang orang untuk membawa Mak Surti yang syok dan pingsan ke kamarnya. Sedangkan dirinya dan Damar segera mencari Miko menyisir hutan. Pak Nyoto sempat kekeuh meminta ikut serta ke hutan mencari Miko, namun Bayu melarangnya. Kondisi Pak Nyoto terlihat sama kacaunya dengan Mak Surti. Dalam pencarian korban penculikan, perlu untuk hati hati, dan waspada. Emosi dan terburu buru hanya akan mengacaukan petunjuk yang ada.


"Kamu tahu Damar, hutan ini adalah tempatku bermain dengan kawan lamaku. Jadi aku hafal betul setiap jengkal tanah yang ada disini," ucap Bayu tiba tiba.


"Aku mungkin tahu kemana si kecil Miko dibawa oleh penculiknya, namun sebelumnya kita harus mengunjungi sebuah tempat," lanjut Bayu. Damar diam saja tak menyahut karena tidak memahami topik obrolan Bayu.


"Kita sampai," Bayu tersenyum sumringah.


Mereka sampai di bagian hutan sekitar 300 meter di belakang rumah baru Anggun. Terbentang tanah lapang dengan rumput gelagah dan gajahan yang rimbun. Damar mengedarkan pandangan, menatap langit. Dia bingung arah mata angin saat ini. Kegelapan hutan benar benar mengerikan, terasa menyesatkan.


"Apa yang kita lakukan disini Pak Bayu?" tanya Damar penasaran, menatap aneh pada Bayu yang terlihat melipat lengan kemejanya.


"Kemarilah, ada di sekitar sini," Bayu meminta Damar mendekat, dan mengarahkan senternya ke tanah. Damar hanya menurut, masih dengan segudang pertanyaan di benaknya.


Terdapat sebuah batu bening mengkilap tergeletak di tanah. Sejenis batu lintang yang biasanya banyak ditemukan di aliran sungai. Bayu berjongkok, menepuk nepuk tanah di sekitar batu tersebut.


Bug bug bug


Ada bagian tanah yang mengeluarkan bunyi aneh. Seakan tanah berongga di bagian tersebut. Bayu tersenyum sekilas. Damar semakin penasaran.

__ADS_1


Dengan menggunakan tangan kosong Bayu mengais ngais tanah. Tak butuh waktu lama, sebuah benda berbentuk lingkaran terbuat dari besi yang sudah berkarat menyembul dari dalam tanah. Bayu segera menariknya.


Ternyata besi berbentuk lingkaran itu merupakan pegangan dari sebuah penutup kotak kayu dengan ukuran yang cukup besar. Setelah penutup terangkat, nampak sebuah kotak persegi terbenam di dalam tanah.


Damar mengarahkan senternya ke dalam kotak kayu. Sebuah plastik besar terlihat membungkus tumpukan suatu benda. Bayu dengan matanya yang berkilat di bawah lampu senter, membuka bungkusan plastik tersebut. Damar heran dengan tingkah polisi panutannya itu. Belum pernah Damar melihat Bayu menunjukkan ekspresi yang demikian.


"He he he, aku hanya menunjukkan ini padamu Damar," ucap Bayu terkekeh.


Beberapa tumpukan buku bersampul merah maroon ada di dalam bungkusan plastik. Awalnya Damar menduga Bayu menyimpan harta karun disana, namun ternyata hanya tumpukan buku. Damar semakin bingung.


"Kukira akan ada harta karun, ternyata hanya tumpukan buku?" Damar mengernyitkan dahi.


"Hah? Ha ha ha ha, kamu tak mengerti Damar. Buku ini jauh lebih berharga dari emas permata. Buku buku ini adalah sumber inspirasi untuk jiwa jiwa kosong seperti aku dan sepertimu," Bayu tergelak. Tawanya pecah di antara kesunyian hutan belantara.


Damar terdiam. Meskipun dia belum faham apa yang dimaksud oleh Bayu, tapi memang benar kalau jiwanya sedang terasa hampa.


"Buku ini akan mengisi kekosongan jiwamu, juga orang orang di luar sana yang membutuhkan bantuan. Ada rasa lega setelah membacanya. Buku ini menceritakan apa yang sudah dialami penulisnya. Penderitaan dan rasa sakit raga dan jiwa. Orang orang hampa seperti kita, hanya bisa dipahami oleh orang yang mengalami hal serupa," Bayu mengambil satu buku di tumpukan.


"Kamu sama sepertiku Damar," Bayu tersenyum menyeringai.


Damar menerima buku itu ragu ragu dan menyimpannya di balik baju. Bayu terkekeh sesaat kemudian kembali menutup kotak kayu dan menguburnya seperti semula.


"Sekarang, kita jemput Miko," ucap Bayu membetulkan kancing lengan kemejanya. Damar hanya bisa mengangguk dan menurut.


Kembali, dua orang berbadan tegap itu melangkah menyibak semak belukar di hutan dengan bermodalkan senter kecil dan cahaya flash handphone. Langit terlihat kelam, malam datang bersama gumpalan gumpalan awan hitam. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Hujan yang datang pada musim kemarau.


Tak terlalu lama berjalan, mereka sudah keluar dari lebatnya belantara. Tepat di tepian sungai di bawah derasnya air terjun. Damar masih belum mengerti untuk apa Bayu mengajaknya ke air terjun?

__ADS_1


Belum sempat Damar membuka mulut untuk bertanya, Bayu melepas sepatunya dan melompat lincah dari satu batu ke bebatuan yang lain. Tak ada waktu untuk ragu dan bingung, Damar pun mengikuti langkah seniornya itu. Bahkan saat Bayu melompat ke dalam air terjun, Damar pun mengikutinya.


Sungguh di luar dugaan. Ternyata di balik air terjun terdapat semacam ceruk yang cukup luas. Damar mengira tempat itu kosong, namun ternyata ada sosok manusia tergeletak di sudut goa.


Sosok perempuan tergeletak tak sadarkan diri. Dengan cairan merah membasahi bagian kepalanya. Terdengar nafas yang berat dan tersengal. Bayu dan Damar mendekat memeriksa.


"Mungkin ini salah satu tamu yang hilang. Andewi namanya," Bayu mengeluarkan catatannya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Pak?" tanya Damar sambil memeriksa kondisi Andewi.


"Dia kritis," lanjut Damar.


Bayu diam saja, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut goa. Dia tidak menemukan benda yang dicari.


"Hmmm, mungkin itu sebabnya perempuan ini diserang," Bayu manggut manggut.


"Diserang? Oleh siapa Pak? Apa maksud Pak Bayu? Aku benar benar tak mengerti," Damar yang biasanya tenang, kini terasa banyak bertanya. Rasa penasaran menguasai hatinya. Terlalu banyak rahasia yang disembunyikan oleh polisi Bayu. Orang seperti apa sebenarnya Bayu Khairil ini? Damar benar benar ingin tahu.


"Ha ha ha. Kamu jadi banyak tanya Damar," Bayu tertawa, bergema di dalam goa.


"Sekarang tugasmu duduk disini, menunggui perempuan itu. Kalau ada yang bisa kamu lakukan untuk memberi pertolongan pertama segera lakukan!" perintah Bayu.


"Pak Bayu mau kemana?" Damar terus bertanya.


"Melihat keadaan rumah. Sekaligus menuntaskan pekerjaan yang telah lalu," Bayu memeriksa senjata di saku celananya, kemudian beranjak keluar goa. Damar hanya bisa menurut, duduk diam di dalam goa.


Bersambung ___

__ADS_1



Jangan lupa Baca KOBENG gaes. Horor misteri yang bikin deg deg an dan penasaran. Beneran, nggak boong.


__ADS_2