
Kamar tamu ternyata cukup luas untuk ditempati Inge, Andewi, dan Vita. Ada sebuah ranjang lebar, juga sofa minimalis yang terletak di sudut ruangan. Lemari kecil dan sebuah dispender di sudut yang lain.
Vita merebahkan badannya di tepian ranjang. Menatap langit langit yang bernuansa hijau tosca. Pikirannya kembali teringat pada sosok Erfan yang tiba tiba saja ambrug di meja makan dengan mulut yang menganga.
Andewi menggambil gelas dan menuang air dari dispenser. Dia merasakan tenggorokannya kering dan sedikit panas.
"Andewi jangan minum!" Bentak Inge sambil melotot. Andewi dan Vita menoleh bersamaan, memandang Inge dengan wajah heran.
"Apaan sih Nge?" Andewi bertanya, dahinya nampak mengkerut.
"Mungkin nggak sih air itu ada racunnya?" Inge balik bertanya.
Andewi hanya menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian menenggak segelas air di tangannya.
"Ngee, please. Jangan jadi parnoan," Vita setengah membentak.
"Apa kalian nggak takut mati?" Tanya Inge terlihat khawatir.
"Saat ini yang harus kita lakukan adalah waspada. Waspada dan parno itu beda Nge. Parno atau rasa khawatir berlebihan malah akan membuatmu salah dalam bertindak. Karena pikiranmu tak jernih," Vita menasehati.
"Gaes, bisa nggak sih aku mempercayai kalian?" Tanya Andewi tiba tiba.
"Hah? Apa maksudmu?" Vita terhenyak.
"Bukan salah satu dari kalian kan yang sudah meracuni Erfan?" Andewi menatap dua orang sahabatnya itu bergantian.
"Hah? Gila ni orang!" Bentak Vita.
"Kamu sendiri Vit yang ngomong, kalau kita semua punya motif untuk mencelakai Erfan. Dan aku sadar betul, di circle pertemanan kita, di antara kita berlima memang Erfan lah yang paling brengsek," Andewi berkacak pinggang.
"Iya, tapi kita sudah saling kenal sangat lama. Tentunya kalian sudah hafal, tidak ada di antara kita yang kehilangan akal sampai begitu nekat meracuni Erfan hingga mati," Vita menghela nafas.
"Bagaimana denganmu Nge?" Andewi beralih menatap Inge yang kini duduk di sofa.
__ADS_1
"Bukankah kamu begitu dipermalukan. Dijadikan piala bagi laki laki playboy macam Erfan," lanjut Andewi.
"Ya, sejujurnya ada sudut hatiku yang senang dia mati. Tapi kalian tahu aku kan? Dipermainkan satu laki laki seperti itu, tidak akan bisa menjatuhkanku. Hari ini aku disakiti satu laki laki, maka esok hari sepuluh laki laki akan datang padaku memohon untuk bersamaku," Inge tersenyum sinis.
"Termasuk si brondong itu?" Vita mengedipkan matanya.
"Hah? Brondong? Apa maksudmu?" Andewi yang tidak faham bertanya menuntut penjelasan.
"Kamu terlalu tidak peka Dewi. Kamu nggak tahu kalau si playgirl ini baru dapetin getah muda?" Vita terkekeh. Suasana sedikit mencair kali ini. Andewi menggeleng cepat.
"Inge baru saja memberi pembelajaran yang berharga pada Erwin," Vita tersenyum. Inge tertawa puas.
"Hah? Bisa bisanya ya, gila kamu Nge!" Andewi geleng geleng kepala.
"Kita kembali ke topik soal Erfan. Kalau menurut kalian, siapa yang sudah meracuni Erfan?" Vita setengah berbisik. Perempuan berambut lurus itu terlihat paling penasaran dibanding dua temannya yang lain.
"Anggun tak mungkin. Dia berhati lemah lembut, membunuh seekor nyamuk pun dia takkan sanggup," sahut Inge.
"Ali?" Vita dan Andewi bertukar pandang bersamaan.
"Setahuku, perempuan yang disukai Ali sedari semester satu dulu malah ditaklukkan oleh Erfan. Yang lebih gila lagi, Erfan sebenarnya tahu perasaan Ali. Entah untuk apa Erfan mengencani perempuan itu. Dan hubungan mereka pun sangat singkat tak lebih dari satu bulan," Andewi menghela nafas.
"Emm, aku nggak tahu ini benar atau tidak. Tapi, waktu aku dekat dengan Erfan dulu, dia pernah cerita. Kalau dia sengaja merebut perempuan itu dari Ali untuk menunjukkan bahwa perempuan itu matre dan tidak baik untuk Ali," Inge mengingat ingat.
"Benarkah? Atau itu hanya ucapan seekor buaya darat untuk mencari simpati?" Tanya Vita sinis.
"Yah Erfan memang buruk sebagai pasangan, tapi kupikir dia tidak sejahat itu pada Ali, sahabatnya dari awal kuliah hingga sekarang. Mungkin saja Erfan nggak bohong," Inge mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Sudah hentikan pembahasan tentang Erfan. Dia sudah mati. Tempat ini jadi muram gara gara topik obrolan kita," sergah Andewi tiba tiba.
"Bagaimanapun perasaanku nggak enak. Kita berada di tengah hutan, dan akses ke tempat ini katanya tertutup longsor. Artinya kita sedang terisolasi. Ditambah ada salah satu teman kita yang mati. Cerita yang terasa seperti di sebuah film horor," Vita mengusap usap lengannya yang merinding. Bulu bulu halus terlihat berdiri di kulitnya yang mulus.
"Gaes, coba dengarkan!" Inge tiba tiba meletakkan telunjuk di bibirnya, mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sedari tadi suara TV terdengar sangat kencang, saat ini sepi banget. Apa mungkin Ali sudah tidur?" Lanjut Inge.
"Yah sudah jam sepuluh. Mungkin Ali sudah ngantuk," sahut Vita.
"Kasihan juga itu si Ali. Nggak dapat kamar, dan harus tidur depan TV dengan udara sedingin ini. Dia ada selimut nggak sih?" Tanya Andewi.
"Tadi sih aku lihat di ruang depan TV hanya ada dua bantal kecil saja," Vita mengingat ingat.
"Kasih dia selimut deh. Nggak lucu juga kalau dia sampai masuk angin. Gimana cara kita pulang coba kalau dia nggak ada. Aku dan Inge kan nggak bisa naik trail. Masak kita mau bonceng tiga kayak cabe cabean," Andewi sedikit terkekeh.
Inge tersenyum menahan tawa. Dia mengambil selimut yang tergeletak di sudut tempat tidur.
"Yuk antar selimut buat Ali," ajak Inge.
"Kamu sendiri saja," sahut Andewi.
"Yuk Vit," Inge beralih merengek pada Vita.
"Aku nggak berani, ini udah malem. Lampu lampu udah dimatiin, gelap Vitt," lanjut Inge.
"Ah, ayuklah," akhirnya Vita mengalah.
Inge dan Vita keluar kamar. Dan benar saja ruang depan benar benar gelap. Hanya sorot lampu dari lantai atas yang temaram sedikit memberi penerangan. Inge dan Vita berhenti sejenak, mengerjap ngerjap, membiasakan matanya melihat di tengah kegelapan.
Mereka berdua berjalan di ruang tamu. Benar benar sunyi dan sepi. Langkah kaki yang pelan pun terdengar bergema, semakin menambah kesan menakutkan.
Sampai di ruang keluarga, TV sudah tak lagi menyala. Sementara di depan TV, nampak seseorang tengah tidur di atas kasur lantai. Sosok itu menggunakan selimut tebal di seluruh badan bahkan menutupi bagian kepalanya.
"Lhah, kupret! Ternyata sudah punya selimut!" Gerutu Vita.
"Yasudah Vit, biarkan Ali istirahat," ajak Inge. Dia menarik lengan Vita mengajaknya kembali ke kamar. Selimut yang semula hendak diberikan pada Ali, pada akhirnya dibawa Inge kembali.
"Lhoh? Kemana Andewi?" Tanya Vita kaget.
__ADS_1
Saat mereka berdua sampai di kamar, ternyata Andewi sudah tidak ada disana. Andewi hilang.
Bersambung___