Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XLVIII. Hujan merah maroon


__ADS_3

"Arrghhhh!" Ferry mengerang kesakitan. Sendi di bahunya terlepas. Sedangkan Erwin tertawa puas melihat saudara sepupunya itu merintih menahan rasa sakit.


"Kamu benar benar brengsek Mas! Aku yakin, alasan kenapa kamu memilih kamarku untuk menggantung Ali Sabet adalah agar aku yang tertuduh sebagai tersangka. Kamu hendak menjebakku! Kamu mau mengorbankan aku kan Mas?" Erwin melotot. Liur menetes di antara nafasnya yang mendesis.


"Ahh ahh ah, kamu sudah gila Win!" Ferry merintih kesakitan. Dia tak bisa menggerakkan bahu dan sebelah tangannya.


"Aku gila? Aku Mas? Kamu yang gila! Waktu kamu menggantung mayat Ali di kamarku, kamu menyadari koleksi buku karya Zainul Rich Man milikku. Kamu yang merasa khawatir kejahatanmu akan terbongkar jika ada yang baca buku seri ketiga, akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan buku itu. Tapi tindakanmu itu malah menuntunku untuk mengingat kisah apa yang ada dalam buku. Dan aku akhirnya sadar, kamu lah penjahat yang telah meracuni Erfan!" Erwin menekan leher Ferry.


"Hilangnya buku koleksiku itu juga mendorong Inge untuk mencari tahu apa sebenarnya isi buku seri ketiga. Saat Inge mengetahuinya, aku merasa punya tanggungjawab untuk melindungi keluargamu Mas. Aku sempat berpikir inilah saatnya untuk balas budi. Di tengah kebimbangan aku menyerang dan melukai Inge," Erwin nampak menitikkan air mata.


"Kupikir aku telah membunuhnya. Kuyakin aku adalah penjahatnya. Ternyata aku keliru. Vita mengatakan jika Inge tewas karena sayatan di leher. Padahal aku hanya menyerang perutnya. Lalu siapa yang merenggut nyawa Inge sebenarnya? Jawabannya adalah kamu! Manusia yang mencoba memakai topeng iblis. Manusia yang mencoba meniru sifat dan kejahatan Sang iblis!" Erwin terus menekan leher Ferry hingga wajahnya nampak memerah.


Buuggg


Sebuah pukulan menghantam kepala belakang Erwin. Laki laki itu jatuh tersungkur. Vivi berhasil menyerang Erwin menggunakan tongkat besi.


"Aarrghhhh," Erwin meringis kesakitan. Cairan merah kental menetes mengotori lantai ruang tamu.


"Mas Ferry! Kamu tidak apa apa?" teriak Vivi, memegangi bahu Ferry yang terlihat melorot ke bawah.


"Erwin sudah gila!" pekik Ferry sambil menahan rasa ngilu.

__ADS_1


Erwin ternyata masih sanggup berdiri, meskipun kepalanya terluka cukup parah. Wajahnya terlihat memerah dengan darah yang bercucuran mengalir membasahi dahi hingga ke pipi. Dia menyeringai, seperti serigala yang siap menerkam mangsa.


"Mungkin aku akan ke neraka. Tapi aku nggak mau sendirian. Aku akan menyeret kalian semua bersamaku," ucap Erwin. Cairan merah mengalir di sudut netra nya seolah Erwin tengah menangis darah.


"Ayo Mas Ferry, bangun. Kita harus lari," pinta Vivi. Namun, Ferry kesulitan untuk berdiri. Rasa nyeri di bahunya menjalar ke punggung, pinggang dan ruas ruas tulang belakang.


"Jangan mendekat! Atau aku akan menghajarmu lagi!" Vivi mengayun ayunkan tongkat besinya, berusaha menakut nakuti Erwin.


Sebenarnya Vivi lah yang saat ini sedang ketakutan. Dia tak pernah menyangka, Erwin yang selama ini sangat kalem dan penurut, nyatanya memiliki sisi gila yang tak terduga. Kematian Inge bagaikan pemantik untuk membakar kemarahan dan kegilaan di hati Erwin.


Kini, baik rupa, sikap, dan sifat Erwin benar benar terlihat berbeda. Tidak ada lagi wajah rupawan, aura gagah yang dulu terpancar, telah berubah menjadi kelam. Sorot mata yang terlihat kosong, seperti manusia tanpa jiwa.


"Bukankah kamu yang sudah menusuknya Win?" Ferry balik bertanya sambil memegangi bahunya.


"Ya, aku memang berniat untuk membalas budi padamu Mas. Inge yang hendak memberitahu mbak Anggun tentang kejahatanmu, aku merasa tak bisa membiarkannya. Aku sudah meyakinkan diriku sendiri akan menghabisi Inge dengan tanganku. Aku sudah siap pergi jauh dari kehidupanmu setelahnya. Ternyata pada akhirnya tangan iblismu itu yang ditakdirkan untuk merenggut nyawa Inge. Aku lega mengetahui bahwa aku bukanlah seorang pembunuh. Namun di sisi lain darahku terasa mendidih mengetahui orang yang kusayangi harus menjadi korban kegilaanmu!" Erwin geleng geleng kepala.


Tiba tiba saja Erwin melompat dan berusaha menyerang Ferry. Vivi dengan sigap menghantamkan tongkat besinya ke wajah Erwin. Tongkat besi mengenai hidung Erwin dengan telak, namun laki laki itu tak terlihat kesakitan. Kewarasannya sudah lenyap. Dengan membabi buta dia menjambak rambut Vivi, dan sekuat tenaga membanting adik perempuan Ferry itu.


Tubuh Vivi jatuh berdebum ke lantai. Erwin berlari dan menubruk Ferry sekuat tenaga. Mereka berguling guling di lantai, hingga akhirnya kepala Erwin terbentur kaki meja. Didera rasa lelah dan fisik yang terluka, Erwin mulai melemah.


Ferry kini duduk di atas Erwin. Dengan sikunya dia menekan tenggorokan Erwin. Erwin hanya mendesis desis berusaha untuk tetap bernafas.

__ADS_1


"Kamu tahu Win, kenapa aku tak pernah suka padamu?" tanya Ferry dengan seringai di bibirnya.


"Alasannya karena setiap manusia tanpa ikatan darah, tak ada yang bisa dipercaya. Berbeda dengan seekor anj*ng. Ketika kamu memberi tulang, maka hewan itu akan selalu ingat dan menurut padamu. Sedangkan manusia, bahkan diberi hati pun mereka tetap meminta jantung,"Ferry menekan tenggorokan Erwin semakin kencang.


"Hidupku yang kacau, ayahku yang biadab membuat aku tak punya nilai dalam kehidupan kecuali untuk menunjukkan kesuksesan padanya. Sayangnya, dia menghilang. Sesukses apapun aku laki laki itu tak pernah tahu. Laki laki itu tak pernah punya rasa menyesal telah menelantarkan dan menyakitiku. Aku yang kehilangan tujuan akhirnya menemukan pelabuhan hidup yang baru. Pelabuhan hati yang bernama Anggun. Aku mencintainya, dan tidak boleh ada yang menyentuhnya, menyakitinya atau membuatnya terluka. She is mine. Dia milikku seutuhnya. Bahkan tak boleh ada orang lain yang memikirkannya kecuali aku!" Ferry terus menekan tenggorokan Erwin.


Erwin yang mulai merasa kehabisan nafas, kesadarannya memudar. Pandangannya mulai buram dan berkunang kunang. Tangannya mengejang dan meraba raba sekitar dengan sisa tenaga yang ada. Hingga akhirnya jari tangan Erwin meraih sebuah guci keramik kecil yang diletakkan di samping meja ruang tamu.


Sebelum tarikan nafasnya habis Erwin mengangkat guci kecil itu dan menghantamkannya tepat di bagian kepala belakang Ferry.


Praangggg


Ferry jatuh tersungkur. Guci pecah berhamburan bersama dengan cipratan cipratan warna merah maroon yang menghujani area ruang tamu. Tiga orang tergeletak meregang nyawa dalam satu waktu.


Erwin masih bernafas, meskipun terdengar semakin pelan. Pikirannya mengawang jauh di masa lalu. Saat kedua orangtuanya masih ada. Meskipun sederhana bahkan terkadang terasa kekurangan, namun kebahagiaan yang didapat tidak ada duanya.


Ingatan yang terlihat samar samar, karena Erwin waktu itu masih sangat kecil. Kehangatan pelukan orangtua merupakan hal yang dirindukan oleh Erwin. Materi masih bisa dicari, namun keutuhan sebuah keluarga nyatanya menjadi hal yang mustahil untuk Erwin dapatkan. Bayangan kedua orangtuanya lenyap bersama dengan berakhirnya hembusan nafas Erwin.


Bersambung___


Jangan lupa, dukung karya terbaru berjudul KOBENG. Searching KOBENG atau klik profil aku yah.

__ADS_1


__ADS_2