
Seorang laki laki berpeci, tubuhnya kurus tinggi, dengan kulit kuning bersih berjalan bersama bidan Anggi menuju Polindes. Usia laki laki itu sekitar enam puluh an tahun. Dari pakaian yang dikenakan terlihat bermerk menandakan dia termasuk orang terpandang di desa.
"Selamat siang Pak," Adi menyalami laki laki itu, jabatan tangannya terasa erat dan hangat. Pun demikian dengan Tarji.
"Selamat siang, perkenalkan saya Pak Nyamin orangtua dari Nurma," laki laki yang bernama Nyamin itu memperkenalkan diri. Raut wajahnya terlihat sendu.
Adi, Tarji dan Pak Nyamin duduk di ruang tamu Polindes. Sedangkan Bidan Anggi tergesa gesa ke ruang belakang, hendak membuatkan kopi. Sejurus kemudian bidan Anggi kembali ke ruang tamu.
"Ah, Mas Mas, Pak Nyamin saya tak ke warung dulu ya. Mau beli sesuatu," bidan Anggi sedikit membungkuk, berjalan keluar Polindes. Saat hendak membuat kopi ternyata persediaan gula di toples habis.
"Masak tamu tak bikinin kopi pahit. Nanti dikira tamunya bukan sebangsa manusia dong," bidan Anggi bergumam sendiri sambil menahan senyum.
Di ruang tamu Polindes, Pak Nyamin menatap Adi dan Tarji bergantian. Dia tidak mengenali dua petugas kepolisian di hadapannya. Bahkan meski sudah berusaha mengingat ingat, nyatanya Pak Nyamin tetap merasa belum pernah bertemu dengan dua orang tersebut.
"Maaf, njenengan berdua siapa dan ada perlu apa dengan anak saya?" tanya Pak Nyamin setelah beberapa saat.
"Nama saya Adi Pak. Ini rekan saya, namanya Tarji. Kami ingin bertemu anak Bapak, yang pertama untuk menjalin silaturahmi. Kami pernah berkenalan dan bertemu dengan bidan Nurma saat kasus terbakarnya rumah milik Tuan Zainul yang di hutan itu. Yang kedua, saya pribadi ingin sekali lagi ngobrol dengan anak bapak perihal buku bersampul merah yang sempat dibawa oleh salah satu tamu di rumah Tuan Zainul. Saya sangat berharap bisa mendapatkan detail cerita yang lebih lengkap, karena kasus tersebut masih mengganjal di hati saya," tukas Adi sopan. Pak Nyamin mendengarkan dengan seksama.
"Begini Pak, eh, Mas polisi," Pak Nyamin terlihat bingung.
"Panggil saja kami Adi dan Tarji Pak," sahut Adi.
"Emm, Mas Adi perlu tahu bahwa anak saya sudah lama tiada," Pak Nyamin berbicara dengan kepala tertunduk. Dia menyembunyikan kesedihannya.
"Maksud Bapak?" Adi dan Tarji bertanya hampir bersamaan. Mereka berdua saling bertukar pandang. Rasa kaget dan tidak percaya terlihat jelas dari raut wajah dua petugas kepolisian itu.
Suasana hening. Pak Nyamin terlihat mengusap sudut matanya. Dia menghela nafas panjang. Pada saat itu, bidan Anggi telah kembali dari warung, berjalan sambil menenteng kresek berwarna hitam.
"Mas mas nya minum kopi kan?" tanya Bidan Anggi tiba tiba. Pertanyaan yang muncul di waktu yang kurang tepat. Adi dan Tarji segera mengangguk saja. Bidan Anggi tersenyum dan beranjak ke ruangan belakang polindes.
"Pak?" Adi memanggil Pak Nyamin yang masih terdiam.
"Beberapa minggu setelah kejadian terbakarnya rumah Tuan Zainul, anak saya, Nurma mengalami kecelakaan," Pak Nyamin kembali menarik nafas dalam dalam. Adi dan Tarji diam menyimak.
"Motor yang dikendarai Nurma mengalami rem blong. Motor matic kalau lewat turunan memang kadang suka begitu kan Mas. Saya dan ibuknya Nurma sebenarnya sangat terpukul dengan kejadian itu, tapi ya mau bagaimana lagi garis takdirnya anak kami memang seperti itu. Nurma itu anak kami satu satunya, baik, nurut, sekolah dulu rajin banget sampek lulus jadi bidan desa," Pak Nyamin terdengar sedikit terisak. Wajahnya tertunduk, menutupi air matanya yang jatuh berderai.
__ADS_1
"Innalillahi, maafkan kami Pak. Kedatangan kami malah membuat Bapak bersedih," ucap Adi merasa bersalah.
"Tak apa Mas. Tadi pas Bu Anggi datang ke rumah, ngomong kalau ada polisi yang nyari Nurma, saya pikir ada apa begitu. Ternyata njenengan berdua kenalannya alamarhum anak saya. Saya senang kok njenengan datang, itu menandakan anak saya tetap dikenang, banyak temannya," sahut Pak Nyamin mencoba tersenyum.
"Oh iya, waktu Nurma kecelakaan itu yang menemukan pertama kali juga seorang petugas kepolisian. Beliau baik banget, tiap malam datang ke rumah sampek 7 hari an nya anak kami," lanjut Pak Nyamin. Adi dan Tarji bertukar pandang penasaran.
"Mungkin njenengan berdua kenal," Pak Nyamin tersenyum.
"Maaf, siapa nama polisi yang Bapak maksud?" Adi bertanya, meskipun dalam benaknya sudah bisa menebak.
"Saya ingat sekali, beliau orang baik, sopan dan ramah. Cara bicaranya halus dan menenangkan. Namanya Mas Bayu Khairil," jawab Pak Nyamin tanpa keraguan.
Tebakan Adi benar adanya. Tangan kanannya terkepal erat di balik meja. Dia semakin yakin, Bayu adalah orang yang memiliki andil dalam kasus terbakarnya rumah Sang Rich Man. Adi menduga Bayu sengaja membuat bidan Nurma celaka, untuk menutupi kejahatannya.
Suasana kembali hening. Tak ada yang bersuara, semua sibuk dengan pikirannya masing masing. Saat itulah datang bidan Anggi membawa tiga cangkir kopi di atas nampan, menyuguhkannya bersama satu kaleng biskuit.
"Mari dipun unjuk Mas, Pak," ucap Bidan Anggi sambil tersenyum.
Tarji yang sedikit kesal dengan kedatangan bidan Anggi yang tak tepat waktu itu, buru buru menyeruput kopi yang ada di cangkir.
"Ah ah ah auwwhh," Tarji berteriak, kopi di cangkir masih sangat panas.
"Ah, rekan saya ini biasa debus kok bu bidan," seloroh Adi, disambut gelak tawa Pak Nyamin dan bidan Anggi. Suasana mencair kali ini.
Setelahnya obrolan beralih pada pembahasan ringan seputar keadaan desa, musim panen buah duku yang akan datang, juga kondisi keamanan lingkungan.
"Terus Mas Adi dan Mas Tarji tadi memang sengaja datang kemari hanya untuk mencari anak saya, atau ada keperluan yang lain?" tanya Pak Nyamin setelah menyesap tetes terakhir kopi di cangkirnya.
"Kebetulan kami bermaksud untuk berkunjung ke bekas rumah Tuan Zainul. Konon beritanya ada yang baru pindah kesana ya Pak?" Tarji kali ini bertanya.
"Yaa, keluarga seorang pengusaha kaya raya. Namanya kalau nggak salah Ferry gitu pokoknya. Warga desa belum pernah bertemu sih. Aneh ya orang orang kaya jaman sekarang. Lha mbangun rumah kok di tengah hutan," Pak Nyamin menjelaskan.
"Butuh ketenangan Pak. Orang kaya itu beban kerjaannya banyak, dunia persaingannya berat. Jadi butuh rumah yang bisa dibuat refreshing sekalian mungkin," sahut bidan Anggi.
Satu jam berlalu, akhirnya Adi dan Tarji pamit undur diri.
__ADS_1
"Pinarak ke rumah lho Mas. Nanti kita lanjutin ngobrolnya," ucap Pak Nyamin saat Adi bersalaman untuk pamit.
"Waduh Pak terimakasih banyak. Lain waktu pasti kami berkunjung," janji Adi. Tarji hanya mengangguk dan tersenyum.
"Jalan ke tengah hutan sudah lebar Mas sekarang," sambung bidan Anggi.
"Iya, tapi katanya semalam ada sedikit longsor yang menutup sebagian jalan," tambah Pak Nyamin.
"Masih bisa lewat kan Pak?" tanya Adi memastikan.
"Jalan kaki bisa Mas, tapi jauh, malam lho sampai sana nanti," Pak Nyamin melirik arloji berwarna perak di pergelangan tangan kirinya.
"Iya Pak nggak pa pa. Terimakasih banyak atas jamuannya. Kami pamit," tukas Adi mengakhiri.
"Iya Mas, hati hati," Pak Nyamin dan bidan Anggi menyahut bersamaan.
Bersambung___
'Maaf nih Gaes.
Lagi pengen cerita saja sih.
Jujur menulis kisah misteri kayak gini menyenangkan dan mendebarkan buatku.
Ya meskipun kisah ini mungkin terasa kurang greget atau berantakan di beberapa bagian, namun sudah kucoba menulis (eh mengetik) sebaik mungkin.
Ucapan terimakasih sebesar besarnya untuk kalian yang sudah setia baca, atau mungkin nungguin ya, karena jam, juga hari upload bab baru yang kurang bisa konsisten.
Entah mengapa kisah kisah misteri terasa sulit mendapat kesempatan untuk lebih tinggi lagi (ini bagian curhat). Atau mungkin memang kisah yang kutulis (eh kuketik) ini yang masih jauh dari rasa mendebarkan.
Aku sebenarnya pengen banget menyuguhkan bacaan untuk teman teman kisah yang mendebarkan, bikin penasaran, dan bisa dibuat ajang perdebatan di kolom komentar (hehe).
Sejauh ini RTS cukup memuaskan performanya bagiku, tapi karena aku manusia biasa tetep saja merasa kurang.
Fuuhh, apapun itu untuk yang sudah baca RTS, untuk yang nge like, untuk yang komen, nge vote, ngasih hadiah, thank you so much much much more.'
__ADS_1
Oh iya, jangan lupa juga baca RTS 1 dan 2 ya.