Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
60. Pembalasan dan Penebusan


__ADS_3

Sepasang mata mengerjap, memandangi langit langit dengan sebuah lampu LED yang terpasang di bagian tengah. Lampu yang menyala dan beberapa kali berkedip, mungkin karena termakan usia. Sudah waktunya untuk diganti dengan yang baru.


Galang mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun percuma, dia merasa lemas tak bertenaga. Luka di sekujur badannya tiba tiba saja berdenyut. Galang hanya mampu mendesis, menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.


Beberapa menit berikutnya, rasa sakit itu perlahan lahan berkurang. Galang menoleh, memperhatikan seluruh ruangan. Kosong, tidak ada siapapun kecuali dirinya di ruangan itu.


Di sebelah kiri tempat tidur Galang terdapat sebuah jendela persegi kecil. Galang akhirnya menyadari bahwa saat ini malam hari. Namun, jam berapa? Dan berapa lama dia tertidur di ruangan itu? Galang tak tahu.


Sayup sayup terdengar suara orang tengah bercakap cakap. Namun, suara itu terdengar lirih di kejauhan. Di sela percakapan terdengar pula suara tangisan. Galang penasaran, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa. Bahkan untuk sekedar membuka mulutnya saja, tak ada lagi energi yang tersisa.


Galang memejamkan mata kembali. Setidaknya dia sudah tidak lagi berada di rumah Sang Rich Man. Hatinya sudah merasa lega. Dia sudah aman, jauh dari mara bahaya.


Entah berapa menit Galang tertidur. Cukup tenang dan lelap rasanya. Galang terbangun saat terdengar suara orang berbicara di luar ruangan. Suara seorang perempuan dan seorang laki laki. Galang menajamkan pendengarannya.


"Saya polisi. Apa ada orang asing yang sedang dirawat di tempat ini?" Suara laki laki bertanya.


"Iya, benar. Anda teman dua polisi yang tadi?" Suara perempuan balik bertanya. Suasana hening sesaat.


"Bu bidan juga dimintai tolong untuk ke lokasi kebakaran untuk mengobati orang orang yang terluka disana," ucap suara laki laki.


Suasana kembali hening. Tak ada lagi percakapan. Detik berikutnya terdengar sebuah suara langkah kaki yang berjalan menjauh. Dan sekali lagi, suasana sunyi.


Ceklek Kriieeetttt


Kali ini suara pintu di hadapan Galang terbuka perlahan. Entah mengapa Galang merasa takut dan ngeri. Firasatnya memberi tahu ada bahaya tengah mendekat. 


Di ambang pintu, terlihat seorang laki laki berdiri dengan kepala tertunduk, memakai sebuah baju batik yang pas di badannya yang tegap. Laki laki itu berbalik badan, kemudian menutup pintu.


Glekk


Galang menelan ludah. Firasatnya benar, kini dia dalam bahaya. Beberapa saat yang lalu dia sempat merasa lega sudah berada di tempat yang aman. Namun kini, Galang yakin tidak akan bisa lolos dari iblis yang hendak merenggut hak hidup dirinya.


"Haloo, apa kabar? Kupikir kamu cukup beruntung," ucap laki laki berbaju batik itu. Dia menatap Galang dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Laki laki yang ada di hadapan Galang tak lain dan tak bukan adalah Sang polisi, Bayu Khairil. Kawan lama yang beberapa waktu lalu mencoba mencelakai Galang di hutan. 


Bayu menghela nafas. Memandangi Galang dengan wajah yang seolah olah prihatin. Tangan Bayu terlihat memakai sarung tangan kain berwarna navy. Kemudian dia menyeret kursi dan duduk di samping tempat tidur Galang.


"Dengan luka seperti ini, kamu masih cukup sehat dan kuat. Apa rahasianya? Semangat hidupmu lebih strong dibanding teman temanmu yang lain sepertinya," Bayu tersenyum.


"Kamu. . .sudah membunuh semua orang?" Galang membuka mulutnya. Dia memaksa tenggorokannya terbuka dan bersuara. 


"Aku tidak membunuh siapapun. Kamu, salah faham Galang," Bayu menggeleng pelan.


"Yang membunuh semua orang adalah Hendra," imbuh Bayu.


"Bohong! Kamu berusaha membunuhku. Kamu bukan anggota club drama. Kamu tidak ada di dalam foto lama kita. Di buku catatan harian yang ditulis tangan oleh Zainul, kamu disebutkan bersama dengannya saat dia menulis untuk terakhir kali sebelum mengakhiri hidup," Galang berbicara semakin lirih. Kepalanya terasa pusing.


"Ohh, kamu menemukan pondok itu rupanya. Waahh, kamu tahu terlalu banyak. Dan pengetahuan itu bisa membahayakanmu," Bayu mengusap usap punggung tangan Galang.


"Ngomong ngomong, dimana buku catatan harian milik Zainul itu?" Tanya Bayu. Galang diam saja tak bergeming.

__ADS_1


"Percayalah kalau kamu memberitahuku, nyawamu akan selamat. Aku adalah orang yang tidak akan berbohong. Pantang menjilat ludah sendiri," tukas Bayu meyakinkan.


"Aku tidak tahu. Aku pingsan, dan begitu terbangun sudah seperti ini. Pakaianku sudah diganti. Aku benar benar lupa," Galang menghela nafas, terasa berat. Dia telah pasrah. Pandangan matanya pun buram.


"Sayang sekali. Yaahh, sepertinya kamu tidak berbohong sih. Namun, buku itu seharusnya tidak boleh kamu ambil dari pondok di hutan. Itu adalah peninggalan Zainul lho. Kamu lancang Galang," ucap Bayu kalem, namun nada bicaranya penuh tekanan.


"Kamu ingat kan, dulu pernah memasukkan serangga ke dalam tas Zainul?" Lanjut Bayu.


Galang tak menjawab, kesadarannya mulai menurun. Dia benar benar telah pasrah akan hidupnya. Semangat dan cahaya kehidupan di hatinya telah memudar.


Bayu berdiri dari duduknya. Dia mengambil plastik hitam di sakunya. Ada beberapa serangga beracun disana. Semut api, dan beberapa jenis kelabang. Tangan kiri Bayu meraih mulut Galang, kemudian membukanya dengan paksa. Sementara tangan kanannya meraih plastik hitam dan menumpahkan isinya ke dalam mulut Galang. Terakhir, Bayu membekap mulut Galang.


"Hmmmmhh hmmhhh hmmhhhh," Galang mengerang tertahan. Bola matanya yang bulat perlahan memutar ke atas menyisakan warna putihnya saja. Hanya beberapa detik Galang mengejang, kemudian terkulai lemas.


"Dunia ini adalah tempat pembalasan dan alam setelahnya adalah tempat penebusan," Bayu menyeka keringat di dahinya.


Bayu keluar ruangan dan menghilang di tengah kegelapan.


*


Malam itu adalah malam yang sibuk bagi warga desa. Mereka sangat kaget melihat Tuan Zainul yang mereka kenal, tergeletak di halaman rumahnya sendiri dalam keadaan tak bernyawa, dengan sepucuk pistol kecil di tangannya. Rumah megah di tepi sungai milik Sang Rich Man juga hancur dilahap si jago merah. Hanya menyisakan puing puing dan fondasinya saja. Beberapa warga sempat merasakan sesak saat menghirup sedikit asap dari pohon manchinell yang ikut terbakar.


Sementara kedatangan polisi Adi dan Tarji bisa dikatakan sudah terlambat.


* * *


Beberapa hari setelah kejadian, ditemukan fakta fakta yang membingungkan. Mayat laki laki yang bunuh diri di halaman rumah yang dikenal oleh warga sekitar dengan nama Zainul, nyatanya adalah seorang yang bernama Hendra Asmara. Ada 5 mayat yang dapat diidentifikasi dari bekas rumah yang terbakar, setelah dilihat dari susunan giginya. Mayat itu adalah orang yang bernama Mardoyo, Yodi, Dipta, Tia dan Denis. Sementara di tempat terpisah juga ditemukan tiga mayat lainnya yaitu Ellie, Iva dan Norita yang berada di tengah hutan. Korban tewas bertambah saat Galang ditemukan tidak bernyawa di Polindes dengan mulut penuh serangga. Bidan desa mengatakan kalau sempat bertemu dengan seorang petugas kepolisian yang hendak melihat kondisi Galang, namun tidak bisa memastikan siapa petugas kepolisian tersebut.


* * *


"Ji, kamu nggak merasa aneh dengan kasus rumah Rich Man beberapa waktu yang lalu?" Adi bertanya sambil melihat lihat file di komputer.


"Aneh apanya Di?" Tarji bertanya, mulutnya penuh dengan martabak manis.


"Jika Hendra yang menjadi dalang pembunuhan, Hendra kan tewas di halaman rumahnya. Lalu, siapa yang membunuh Galang di Polindes? Terus juga, siapa polisi yang menemui bidan desa itu?" Adi mengusap usap dagunya. Dia terlihat berpikir.


"Entahlah, otakku malas diajak mikir nih," sahut Tarji santai.


"Satu lagi, dimana Zainul yang asli? Karena semua orang yang datang kesana mendapat transferan uang dalam jumlah besar dari rekening Zainul Rikhman. Zainul yang asli," lanjut Adi. Tarji tidak menyahut, hanya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh iya, ada lagi nih yang aneh. Seharusnya masih ada satu lagi nama yang diundang ke rumah itu. Seorang perempuan bernama Mella. Keluarga Mella sudah membuat laporan kehilangan. Mella menghilang dan jasatnya tidak ditemukan di puing puing rumah yang terbakar, juga di area hutan itu. Dan pikiranku sangat terganggu dengan fakta bahwa, Mella dan Bayu berteman cukup dekat. Beberapa hari sebelum menghilang, pihak keluarga Mella mengatakan bahwa dia sempat ijin keluar rumah untuk ngopi bareng Bayu," Adi masih memandangi layar komputer dengan serius.


"Bayu polisi? Rekan kita?" Tarji mengernyitkan dahi.


"Iya. Waktu kasus ini terjadi, bertepatan dengan Bayu yang mengajukan izin cuti ke rumah saudaranya yang tak jelas dimana. Kebetulan yang sangat tidak lazim," Adi menyandarkan badannya di kursi, dia mendongak menatap langit langit ruang kerjanya.


Tok tok tok


Tiba tiba saja pintu diketuk. Seorang rekan petugas kepolisian tersenyum di depan pintu.


"Ada yang mencari Pak Adi di depan," ucap petugas kepolisian tersebut.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Adi. Dia merasa tidak mempunyai janji dengan siapapun.


"Seorang perempuan muda Pak."


Adi berpikir sejenak dan segera beranjak dari kursinya.


"Suit suit. . .saingan Sinta nih kayaknya," ledek Tarji sambil tertawa.


"Nenekmu saltooo!"


Adi bergegas keluar ruangan. Dia penasaran siapa gerangan yang mencarinya?


Dan ternyata sosok perempuan yang mencari Adi itu adalah Nurma, sang bidan desa. Sikapnya nampak malu dan ragu ragu.


"Mbak Nurma apa kabar? Ada perlu apa ya Mbak?" Adi bertanya sopan.


"Maaf, Mas. . .eh, Pak Adi. Ada sesuatu yang perlu saya berikan kepada njenengan," ucap Nurma terbata bata. Dia membuka tas slempangnya, kemudian mengeluarkan sebuah buku bersampul merah. Nurma menyodorkan buku itu pada Adi.


"Apa ini?" Adi bertanya keheranan.


"Ini barang yang dibawa oleh orang yang saya rawat di Polindes itu Pak Adi. Maaf, saya sedikit terlupa dengan barang ini," Nurma menunduk.


Sebuah petunjuk, begitu pikir Adi. Nurma segera berpamitan setelah menyerahkan buku itu. Adi tersenyum sambil melambaikan tangan sekilas. Dan sebuah foto terjatuh dari dalam buku itu. Adi memungutnya kemudian memperhatikan foto itu. Semua terlihat asing, tak ada yang dia kenali.


"Ahh, aku sepertinya harus lembur lagi," gumam Adi.


Sementara itu di kejauhan, Bayu mengamati gerak gerik Adi. Tangannya terkepal erat. Giginya gemeretak beradu.


SELESAI???


__________


Jangan kemana mana, karena kisah ini masih akan berlanjut.


Bab Berikutnya yang jelas akan membawa kisah dan kasus baru untuk menuntaskan kasus yang lama. ahh, gimana sih kok ruwet? ya pokoknya tunggu saja yah.


Yang jelas aku masih nulis dan ngatur plotnya, semoga lebih seru.


untuk kasus pertama selesai dulu yak


Kita bertemu lagi di kasus kedua Rumah Tepi Sungai.


Beri aku waktu beberapa hari dulu untuk mengatur nafas sejenak. Jangan berpindah ke lain hati, tetaplah disini 😀.


Klik vote, like dan komen.


Tidak semua kisah berakhir bahagia. Dan tidak semua cerita ada penjelasannya.


Bung Kus, Maret 2022


Sampai bertemu lagi di bulan puasa.

__ADS_1


Syeeeeemmmaaangaaaaattttt


__ADS_2