Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
VIII. Mari berfoto


__ADS_3

Anggun dan kelima tamunya kini berada di bibir sungai. Bebatuan besar dan jernihnya air, merupakan pemandangan asing bagi mereka. Sungai di wilayah perkotaan memang cenderung kotor, keruh dan berpasir. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sungai yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Ini sih wisata hidden gem banget nih. Tempat indah yang masih perawan. Belum terjamah tangan tangan manusia," Ali Sabet berdecak kagum.


"Pemilihan kata yang lebay Ali," Andewi geleng geleng kepala.


"Lha tapi bener kan?" Ali mendebat.


"Ya salah. Lihat tuh, ada bekas rumah. Jadi sebelumnya sudah ada yang menjamah sungai ini dong. Bisa jadi malah udah ber*k disini tuh yang punya rumah," Andewi menjawab asal asalan.


"Sialan!" Ali tersenyum kecut.


"Eh, puing puing rumah bekas terbakar ini punya kamu juga Nggun?" Tanya Erfan seraya mengarahkan lensa kameranya pada fondasi rumah tepi sungai yang hangus.


"Ya sekarang punyaku. Kalau dulu sih ini rumah . .," Jawab Anggun.


"Zainul Rich Man. Ini rumah penulis terkenal itu. Benar benar penuh misteri," Potong Inge. Dia geleng geleng kepala, berdecak kagum.


"Hadeh, kenapa kamu jadi terobsesi banget sama yang namanya Zainul itu Nge? Terakhir kali seperti ini, kalau nggak salah kamu tergila gila sama si Presiden BEM kampus kan?" vita menyahut.


"Yeee, kali ini beda. Aku terpesona dengan karya Sang Rich Man. Ah, kalian nggak bakal ngerti. Makanya baca dong baca," Inge sewot.


"Sudah sudah, dari tadi ngomongin Rich Man Rich Men. Mending cari spot foto di tengah tengah batu sana, terus action deh kalian biar aku fotoin," Erfan menunjuk batu besar di tengah sungai.


"Ayuk lah," Andewi menimpali.


Akhirnya semua orang turun ke sungai. Ali terlihat paling antusias. Celana jeans birunya dilipat ke atas, kemudian dia berlari lari kecil menyeberangi sungai yang airnya hanya setinggi betis orang dewasa.


"Dingin banget," ucap Vita saat kakinya menyentuh air sungai yang bening.


"Kelihatannya kalau musim hujan debit airnya lebih tinggi lagi ya," ucap Erfan sambil memperhatikan bebatuan di sekelilingnya.


"Ngomong ngomong, meskipun seharusnya saat ini sudah musim kemarau, tapi kemarin daerah sini hujan cukup deras," Anggun mendongak memperhatikan langit yang terlihat biru muda.


"Padahal di kota seharian kemarin puanas banget," sambung Erfan.


"Hooeeh, ini batunya bisa dibikin cincin akik nih," teriak Ali tiba tiba. Kini dia berada di tengah sungai. Tangannya terlihat menggenggam sebongkah batu berwarna kehijauan.

__ADS_1


"Eh gengs, batu besar belakangnya si Ali kayaknya bagus tuh view nya. Coba kalian kesana, terus aku fotoin. Lumayan kan buat dipajang di sosmed," ucap Erfan mengarahkan. Semua setuju, kemudian beranjak ke lokasi yang ditunjuk.


Anggun, Vita, Andewi dan Inge berdiri di depan sebuah batu besar berwarna abu abu. Erfan sibuk mengarahkan lensa kamera pada teman temannya itu. Namun, beberapa kali bidikannya selalu fokus mengarah pada Anggun. Hati tak bisa berdusta. Erfan masih sangat tertarik pada Anggun, meskipun dia sadar bahwa Anggun sudah kepunyaan orang.


Saat tengah asyik berpose bersama sahabat sahabat perempuannya, tiba tiba Anggun merasakan seperti ada yang mengawasi. Ada rasa tidak nyaman, seolah seseorang tengah memperhatikan setiap gerakan Anggun.


Anggun memperhatikan sekeliling, dan sudut matanya menangkap seorang laki laki memakai hoodie tengah mengamati Anggun dari atas sungai. Anggun cukup kaget, matanya bertemu pandang dengan sosok itu. Dan saat pandangan mereka saling bertemu sosok itu tersenyum.


"Itu kan laki laki yang tadi," ucap Vita menunjuk Erwin yang tengah berdiri menghadap sungai.


"Itu pembantumu ya Nggun?" Tanya Vita pada Anggun.


"Ah, itu anu. . .keponakan suamiku," Anggun terkesiap, sedikit tergagap mendengar pertanyaan Vita. Sosok yang sedari tadi terasa mengawasi Anggun memang tak lain adalah Erwin.


"Ohhh kirain," Vita menutup mulutnya. Dia menahan tawa karena salah menyangka laki laki ganteng itu pembantu Anggun.


"Heii! Daripada kamu disitu, mending turun sini! Tolong fotoin kami ber enam!" Teriak Erfan pada Erwin.


Erwin mengangguk, kemudian berjalan perlahan turun ke sungai. Sinar matahari mengenai rambut gondrong Erwin. Rambut bergelombang yang semburat memerah saat tertimpa cahaya sang surya.


"Bibit unggul ya," Vita terkekeh.


Anggun diam saja. Dia tengah memperhatikan gerak gerik Erwin dengan rasa penasaran. Apa tujuan keponakannya itu? Apakah Ferry suaminya, meminta Erwin untuk mengawasi Anggun dan teman temannya? Tapi bukankah Ferry tidak suka pada Erwin? Mana mungkin Ferry meminta tolong pada Erwin? Pertanyaan pertanyaan itu berkecamuk di benak Anggun.


Sementara itu, Erwin kini tengah memegang kamera milik Erfan. Erfan berlari lari kecil, kemudian berdiri di sebelah Anggun. Ali Sabet berdiri di sisi lainnya.


"Tukar posisi Vit," Anggun meminta bertukar posisi dengan Vita. Dia merasa risih berdiri di sebelah Erfan.


"Jangan, nggak pas Nggun. Vita sedikit lebih pendek dari kamu. Ini sudah tak tata lho, dari lensa foto pose kita akan terlihat sempurna," cegah Erfan. Anggun menghela nafas dan akhirnya menurut.


Erwin mengarahkan lensa pada enam sahabat yang tengah berdiri di depan batu besar itu. Erwin memotretnya beberapa kali. Pose tersenyum, juga dua jari yang terangkat menjadi pose yang wajib ada.


Dalam beberapa kali jepretan kamera, Erfan mencuri kesempatan menggamit pinggul Anggun. Perempuan itu sebenarnya merasa tidak nyaman, namun enggan menolak. Teman teman yang lain tak ada yang menyadarinya. Hanya Erwin yang tahu detail dari lensa kamera yang dipegangnya.


Selesai berfoto, Erfan melihat lihat hasil bidikan Erwin. Dia tersenyum puas, hasilnya sesuai keinginannya.


"Wihh, bagus hasilnya. Kamu berbakat rupanya. Siapa namamu?" Erfan bertanya pada Erwin.

__ADS_1


"Erwin Mas," jawab Erwin datar.


"Kuliah? Kerja?" Erfan bertanya lebih lanjut.


"Selesai skripsi Mas. Tinggal nunggu wisuda saja," wajah Erwin tetap terlihat datar.


"Jurusan apa?"


"Seni," jawab Erwin singkat.


"Gimana hasilnya? Lihat doongg," Andewi menyahut. Dia nampak tidak sabar.


"Eiitts, nanti saja lah. Biar tak pilih pilih dulu. Nanti tak pindahin dulu ke HP, aku share deh. Sabar sabar," ucap Erfan.


"Disini nggak ada sinyal ya Nggun?" tanya Inge setelah melihat HP nya.


"Ya, nggak terjangkau sinyal," Anggun mengangguk.


"Lhah, terus? Gimana cara WA mu kemarin masih bisa on?" Tanya Ali Sabet penasaran.


"Di rumah pakai wifi. Kalau disini wifinya nggak nyampek lah," Anggun menerangkan.


"Mas mas, Mbak mbak nya nggak ingin lihat air terjun?" Tanya Erwin tiba tiba.


"Ada air terjun kah?" Semua bertanya serempak.


"Ada. Di atas sana tak jauh kok," jawab Erwin. Kali ini seulas senyum nampak tersungging dari bibirnya yang memerah.


"Darimana kamu tahu ada air terjun Win?" Anggun bertanya penuh selidik. Rasa curiga dan was was kini tertuju pada keponakan suaminya itu.


"Aku tadi pagi sudah keliling keliling Mbak," Erwin tersenyum menatap Anggun. Senyuman yang membuat Anggun merasa tidak nyaman.


"Yookk, antarkan kami kesana," ucap Erfan menepuk nepuk pundak Erwin. Erwin mengangguk mengiyakan.


Semua orang terlihat senang dan antusias, kecuali Anggun.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2