
Dengan langkah gontai sepasang kaki berjalan menuju ke rumah tepi sungai. Jalanan yang tersusun atas bebatuan terjal membuat tumit dan tungkainya terluka. Nafasnya memburu dengan tatapan mata sayu.
Erwin telah kehilangan cahaya hidupnya. Kehidupan keluarganya kacau berantakan. Usaha balas budi yang harus mengorbankan perasaan cinta membuat Erwin terluka secara mental.
Awalnya Erwin yakin, dia telah menghilangkan nyawa Inge dengan tangannya sendiri. Namun saat mendengar perkataan Vita sesaat sebelum meregang nyawa, Erwin jadi sadar siapa iblis sesungguhnya. Hutang budi memang dibawa mati, namun hutang nyawa harus dituntaskan di dunia. Begitulah dalam benak Erwin. Amarah dan keputus asaan membuatnya menggila.
"Ha ha ha ha," sebuah tawa memecah kesunyian hutan. Mulut Erwin terbuka lebar. Entah apa yang dia tertawakan saat ini.
Perlahan, Erwin memasuki teras depan rumah baru Anggun. Dengan kuku kakinya yang menghitam penuh lumpur sungai, Erwin terseok seok mengotori lantai granit yang mengkilap. Erwin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk.
Dengan tatapan kosong Erwin mengamati rumah bergaya minimalis nan megah milik Anggun. Membayangkan hari harinya yang serba cukup, tak kurang apapun. Cinta kasih Bu Rofida yang luar biasa. Juga materi yang mengalir tak henti dari Ferry.
Semua kebaikan itu tertutup oleh kegelapan dan kejahatan dari salah satu penghuni rumah. Bagaimana kejahatan itu akhirnya menggelapkan hati Erwin hingga dia harus melukai Inge, cinta pertamanya. Bahkan kini Erwin telah menjadi seorang pembunuh Vita.
Suara langkah kaki dari dalam rumah membuat Erwin berdebar debar. Dia yakin orang yang akan membukakan pintu untuknya kali ini adalah sosok sang penjahat. Erwin tersenyum menyeringai, namun netra nya meneteskan air mata.
Dan benar saja. Saat pintu terbuka, seseorang yang sangat Erwin hormati berdiri di hadapannya. Orang yang berjasa dalam hidup Erwin hingga bisa tumbuh dan mengenyam pendidikan, sampai gelar sarjana tinggal beberapa waktu lagi Erwin dapatkan.
Ferry Lawanto, berdiri di ambang pintu menatap Erwin. Seperti biasa, laki laki itu nampak dingin dengan sorot mata yang tajam mengerikan.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu Erwin?" tanya Ferry setengah membentak.
"Kamu adalah tersangka yang telah membunuh Inge, berani beraninya menunjukkan wajah kotormu itu di hadapanku!" hardik Ferry dengan wajahnya yang bengis.
"Tak tahu diri! Tak tahu malu! Aku membiayai hidup seorang penjahat! Cuihh!" Ferry meludah tepat di hadapan Erwin.
__ADS_1
Erwin tak bergeming. Berdiri tersenyum senyum sambil menggaruk kepalanya sendiri. Wajah tampan dan keren yang biasanya mampu membius kaum hawa, kini sudah tak ada lagi. Senyuman aneh dengan tatapan mata kosong, menandakan kalau Erwin telah rusak.
"Kamu sudah gendeng ya Win? Senyum senyum sendiri tak jelas!" bentak Ferry.
Erwin tak menjawab. Tidak pula membuka mulutnya. Dia hanya mendesis desis tak karuan. Tiba tiba saja dia berlari dan mendorong Ferry masuk ke dalam rumah. Tenaga Erwin yang menggila membuat Ferry terpental dan jatuh berdebum di lantai ruang tamu.
"Auuhhh!" Ferry mengaduh.
Belum sempat Ferry bangun, Erwin langsung menubruk dan menindih saudara sepupunya itu. Tangan kiri Erwin menekan leher Ferry. Sedangkan tangan kanannya memelintir lengan kiri Ferry.
"Ahhh! Ap apa yang kamu lakukan?" Ferry mengerang.
"Kamu penjahatnya Mas Ferry! Kamu biadab!" pekik Erwin. Ludahnya berhamburan kemana mana.
"Kura kura dalam perahu, pura pura tidak tahu," Erwin terkekeh.
Ferry yang sedari tadi tenang, kini mulai merasa ketakutan. Ferry tahu betul kalau Erwin selama ini menaruh hormat padanya. Ferry terlalu percaya diri, jika Erwin akan selalu berada di bawah ketiaknya. Namun kini, pemuda yang sebentar lagi wisuda itu sudah kehilangan akal dan kewarasannya.
"Aku tahu semuanya Mas. Kamu adalah orang yang telah meracuni Erfan! Aku tahu trikmu dari buku seri ketiga karya Sang Rich Man," Erwin berbisik di telinga Ferry.
"Kamu yang tahu kebiasaan Erfan dari Mbak Anggun mulai menyusun rencana. Kamu menuliskan menu yang harus dimasak Mak Surti, ayam bumbu lodho. Kamu juga sudah tahu kalau makanan itu akan memancing Erfan untuk menyantap hidangan tanpa sendok, langsung pakai tangan. Lalu dimana kamu menaruh racunnya Mas Ferry Lawanto?" Erwin bertanya sambil menyeringai lebar. Ferry diam tak berkutik.
"Kamu mengoleskan racun di kran wastafel. Kran adalah benda yang akan disentuh oleh orang, baik sebelum dan sesudah mencuci tangan. Erfan tanpa sadar menyuapkan tangan yang penuh racun itu ke mulutnya, dan eekkhhh, dia mati," tukas Erwin.
"Kamu jangan asal bicara Erwin! Tak ada bukti, jangan meracau nggak jelas! Kamu mabok atau sudah gila? Hah?!" Ferry melotot tak terima dengan segala tuduhan Erwin.
__ADS_1
"Kamu adalah orang yang cerdas Mas Ferry. Aku ingat betul selepas Erfan mencuci tangan, kamu pun buru buru ke wastafel. Beralasan mau mencuci tangan dan meniru kebiasaan makan Erfan. Padahal sebenarnya kamu mengelap kran untuk menghapus sisa sisa racun dan memastikan tidak akan ada orang yang keracunan, kecuali Erfan. Bukankah begitu Mas ku yang baik hati?!" Erwin terkekeh.
"Aku tahu kamu mendapat semua ide itu, dari buku seri ketiga karya Zainul Rich Man. Kamu mempraktekkan sebuah cerita fiksi ke dalam dunia nyata. Bukan aku yang gila Mas, tapi kamu!" Erwin terus memelintir lengan Ferry.
"Aaargghhhh," Ferry mengaduh.
"Malam itu pun, kamu yang telah menghabisi Ali Sabet. Kamu yang khawatir ada racun yang tersisa di wastafel, sekali lagi memeriksa ruang makan malam hari. Mengira tak ada orang yang berani mendekat ke ruang makan karena masih ada mayat Erfan disana. Sayangnya, ternyata Ali Sabet berkeliaran di ruang makan. Dia berada di tempat dan waktu yang salah. Tanpa pikir panjang, kamu pun mencekiknya dengan tali kawat yang sebelumnya memang sudah kamu bawa untuk berjaga jaga. Dan kamu mencoba memanipulasi kematiannya seolah Ali melakukan bunuh diri. Sayangnya, karena terburu buru dan diluar skenario, perhitunganmu kurang rapi. Sehingga polisi menemukan bukti bahwa Ali tidak bunuh diri. Kamu pun resah dan khawatir topeng iblismu itu bakal terbuka. Apa ada yang salah dari tuduhanku?" Erwin terkekeh.
Ferry tak bisa menjawab. Tangannya benar benar terasa sakit. Sesekali dia mencoba memberontak namun tenaga Erwin jauh lebih besar.
Klaakkkkk
"Aarrgghhhhhh!" Ferry berteriak kesakitan. Sendi di bagian bahunya terlepas.
Pada saat itu, Vivi tengah turun dari lantai atas. Dia mendengar teriakan kakaknya dan segera berlari mengendap ngendap ke arah asal suara.
Sesampainya di ruang tamu, dia melihat Erwin tengah menyiksa Ferry. Vivi menutup mulutnya. Dia kaget dan tak percaya dengan penglihatannya. Apa yang membuat Erwin menggila seperti itu?
Vivi tak bisa membiarkan Ferry mati disiksa oleh Erwin. Selain memang ada rasa empati di hati Vivi pada kakaknya, tapi juga dia tak mau sumber uangnya, pencari nafkahnya menghilang. Vivi menemukan besi penyangga sound system mini di ruang keluarga. Dia bermaksud untuk menghantam Erwin dari belakang untuk menolong kakaknya.
Bersambung___
Jangan lupa baca judul terbaru bung Kus berjudul KOBENG.
__ADS_1