Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XII. Lenyapnya isi kulkas


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam di kaki bukit. Meninggalkan warna kemerahan di antara awan putih tipis di langit. Senja datang bersama dengan peluh dan nafas yang memburu.


Inge menyandarkan kepalanya di dada Erwin yang penuh bulu bulu halus. Tubuh mereka hanya tertutup satu selimut tebal bercorak polkadot. Erwin membuka buku merah maroon di tangannya. Sebuah buku karya ketiga dari sang Rich Man. Buku fiksi yang berjudul 'Keluarga bertopeng'.


"Apa yang membuatmu suka karya Zainul Rich Man?" Tanya Inge sambil membelai lembut belahan dagu Erwin yang unik.


"Imajinasi dan kekuatan magisnya. Setiap kali aku baca buku bukunya, entah bagaimana seolah olah aku berada di dalam cerita. Aku seperti terkena sihir, saat tokoh 'aku' dalam cerita marah aku pun bisa merasakan kemarahannya. Entahlah," ucap Erwin, pikirannya mengawang jauh.


"Untuk orang yang belum pernah membaca bukunya, mungkin itu terasa berlebihan ya," sambung Inge.


"Kadang aku meyakini bahwa cerita yang tertulis disini bukanlah kisah fiksi. Aku jadi penasaran dan ingin sekali bertemu dengan Zainul Rikhman," lanjut Erwin menggebu gebu. Inge manggut manggut setuju.


Tok tok tok


Tiba tiba saja pintu kamar diketuk dari luar. Erwin dan Inge terkesiap, kaget bukan kepalang. Tubuh mereka hanya tertutup selembar selimut. Baju dan celana masih berserakan di lantai.


"Si siapa?" Erwin bertanya ragu ragu. Sedangkan Inge memeluk erat selimut di dadanya. Suasana hening sesaat. Erwin dan Inge bertukar pandang dalam kesunyian sekejap yang terasa begitu lama.


"Mohon maaf, Nak Erwin dan semuanya diminta ke rumah utama. Sajian makan sudah siap," ucap suara bapak bapak, yang tak lain adalah Pak Nyoto. Suara terdengar ragu ragu, mungkin takut mengganggu.


"Ah iya Pak. Baik. Terimakasih," jawab Erwin terbata bata.


Tidak ada lagi jawaban dari Pak Nyoto. Suasana kembali hening. Erwin menghela nafas pelan. Perasaannya campur aduk, seperti seorang pencuri yang hampir ketahuan.


"Ayok kita segera ke rumah utama. Nggak enak sama Mbak Anggun dan Mas Ferry," ajak Erwin.


Namun Inge rupanya punya rencana lain. Dia meraih lengan Erwin yang hendak berdiri, menyeretnya kembali ke ranjang. Erwin kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tempat tidurnya.


"Hei hei," Erwin hendak memprotes. Namun, Inge segera merangkul dan menindihnya.

__ADS_1


"Satu kali lagi," ucap Inge dengan senyumannya yang nakal. Erwin tak kuasa untuk menolak.


_


Aroma masakan Mak Surti menyeruak di udara. Ada beberapa jenis masakan yang disiapkan olehnya. Sedangkan Bu Rofida duduk di samping lemari es sambil memperhatikan polah tingkah Miko yang menggemaskan.


"Kapan ya Mak aku punya cucu," Bu Rofida menghela nafas kasar. Sorot mata dan raut wajahnya nampak kecewa.


"Sabar Nyonya. Tuan Ferry dan Nyonya Anggun kan masih muda, mungkin masih ingin menikmati masa masa indah bagaikan pengantin baru," ujar Mak Surti kalem.


"Apa iya? Aku khawatir lho, jangan jangan si Anggun itu nggak bisa ngasih aku cucu. Lihat saja fisiknya lemah, lembek, sakit sakitan," sambung Bu Rofida ketus.


"Waktu itu kan Nyonya Anggun sudah periksa ke dokter dan hasilnya sehat lho Nyonya. Mungkin belum rejeki Nyonya, sabar," Mak Surti menenangkan.


"Sok tahu kamu Suurr. Aku itu semakin tua Surti. Sebelum mati, aku pengen menimang cucu dulu. Kalau Ferry nggak segera punya anak, aku keburu jompo tahu. Kalau nungguin Vivi nikah ya masih lama. Bocah itu kebanyakan milih. Maunya yang ganteng, kaya, pengusaha sukses. Ya susah, wong dia kurang cantik gitu," lanjut Bu Rofida menggerutu.


"Ihh, jadi aku nggak cantik Bukk?" Tiba tiba Vivi sudah berdiri di belakang Bu Rofida. Mak Surti menutup mulutnya menahan tawa.


"Iya, tapi tetep kalah kan sama Mbak Anggun. Setiap aku bawa cowok pulang ke rumah, semuanya melirik mbak Anggun. Apa sih hebatnya perempuan penyakitan itu?" Vivi meluapkan kekesalannya.


"Huusss! Jangan keras keras," Bu Rofida melotot.


"Kenapa kita kemarin ikut pindah kesini Buukk. Kan di rumah lama lebih enak, tengah kota, ahhh," Vivi menghentak hentakkan kedua kakinya.


"Ya kan ibuk mau lihat rumah baru Mas mu. Lagipula ibuk itu dari bayi sudah hidup di tengah kota. Sebelum menua setidaknya Ibuk pengen merasakan hidup di pedesaan," jawab Bu Rofida berasalan.


Dengan mulut yang cemberut Vivi membuka lemari es. Dia melihat lihat isi di dalamnya. Sejurus kemudian, wajahnya terlihat jengkel.


"Siapa yang ngambil biskuit cokelatku?" Vivi melotot ke arah Mak Surti.

__ADS_1


"Bukan saya Non. Saya nggak tahu," jawab Mak Surti cepat.


"Pasti nih si Miko," Vivi kali ini mengarahkan jari telunjuknya pada balita yang tak tahu apa apa.


"Nggak Non, Miko nggak pernah buka buka kulkas sendirian Non," Mak Surti mulai ketakutan.


"Sudahlah Vi. Lagipula jangan terlalu banyak makan cokelat, nanti wajahmu jerawatan lagi lhoh," Bu Rofida mencoba menenangkan.


"Tapi kan Buukk. Cokelatnya tuh ada banyak, masak nggak tersisa satu pun!" Vivi merengek.


"Atau jangan jangan tertinggal di rumah lama. Kemarin nggak kebawa ya," Bu Rofida mengelus elus punggung tangan putrinya itu.


"Au ah. Ini semua gara gara ibuk juga. Ngapain juga kita ikut pindah ke tengah hutan kayak gini. Temenan sama babi hutan tiap hari. Kapan dong aku bisa dapat kenalan cowok ganteng kalau begini teruuss," Vivi melengos pergi. Dia berjalan ke lantai atas dengan kaki yang dihentakkan keras.


"Duh, nurun siapa itu bocah? anak gadis kelakuan kok kasar," gumam Bu Rofida.


"Anu Nyonya, sebenarnya memang ada yang aneh," ucap Mak Surti. Ekspresinya sedikit kebingungan.


"Aneh apa Mak?" Tanya Bu Rofida penasaran.


"Pagi tadi saya kan nyiapin makanan ya. Saya ingat betul persediaan daging ayam utuh masih ada 5 ekor. Namun, saat sore ini saya mau masak hanya tersisa 3 ekor di freezer," jelas Mak Surti.


"Apa mungkin di masak sama Anggun?" Tanya Bu Rofida.


"Tidak Nyonya. Setahu saya Nyonya Anggun siang tadi cuma makan roti panggang. Dan lagipula tidak ada bekas dagingnya di masak. Pokoknya daging daging itu hilang Nyonya. Saya khawatir biskuit cokelatnya Non Vivi juga ikut lenyap bersama daging ayam itu Nyonya," Mak Surti setengah berbisik.


"Lha terus, siapa yang ngambil? Erwin? Ada ada saja," Bu Rofida tersenyum.


"Anu Nyonya, gimana kalau ada makhluk halus yang ngambil Nyonya? Rumah ini kan berada di tengah hutan. Kalau kata mbah saya dulu, tempat kayak gini disebutnya 'wingit' Nyonya," Mak Surti mengusap tengkuknya yang mulai terasa dingin.

__ADS_1


"Ha ha ha. . .owalah Surtiii surtiii, mana ada setan nyolong cokelat sama daging ayam? Kamu itu kalau ngomong mbok ya pake logika, jangan pake lo gila. . .ha ha ha," Bu Rofida tergelak. Tawanya pecah, terdengar serak. Perempuan tua itu puas menertawakan kekolotan pembantunya sore itu.


Bersambung___


__ADS_2