
Semua orang telah berkumpul di depan kamar Tia, termasuk Denis yang datang paling akhir. Bayu dan Hendra sudah mendapatkan pertolongan pertama dengan cukup baik. Luka di kaki mereka sudah dibersihkan dan diobati sebagaimana mestinya.
Ellie telah menjelaskan kepada semua orang bahwa Tia kemungkinan terinfeksi rabies akibat gigitan anjing liar kemarin malam.
"Sangat berbahaya membiarkan Tia dalam kondisi seperti ini. Dia perlu mendapatkan injeksi anti rabies," ucap Ellie.
"Mungkin Mella lebih faham bagaimana cara penanganan untuk hal seperti ini. Apa Mella belum kembali?" Bayu bertanya kemudian.
"Dia tak mungkin kembali Bay. Karena semua yang terjadi di rumah ini pelakunya adalah Mella. Dia pasti sedang bersembunyi di sekitar rumah ini, mengincar satu persatu dari kita yang sedang lengah," sambung Denis menahan amarah.
"Apa maksudmu?" Bayu tak mengerti.
"Aku menemukan tas ransel Yodi di kamar Mella," jawab Denis penuh penekanan.
"Kematian Dipta, dan hilangnya Yodi pasti ulah perempuan itu. Dia seorang petugas kesehatan, pasti dia tahu suatu cara untuk membuat Dipta mati seolah tengah tersedak. Dia juga kan yang memberi pengobatan pada luka Yodi. Bukankah Yodi sampai di rumah ini dalam keadaan terluka? Sangat mungkin Mella memasukkan semacam bius waktu mengobati Yodi," Denis menyampaikan kecurigaannya dengan berapi api.
"Iya juga ya. Dugaanmu masuk akal," Hendra manggut manggut.
"Ada satu kelemahan dari dugaanmu Denis," sanggah Bayu.
"Apa?" Denis mengernyitkan dahi.
"Yodi menghilang dari kamar tamu. Kalau memang dia dibuat tak sadarkan diri, bagaimana cara Mella dengan tubuh kurusnya itu membawa Yodi yang mungkin memiliki bobot tubuh dua kali lipat dari Mella. Mella bukan semut yang bisa mengangkat beban dua kali berat tubuhnya," Bayu menatap tajam pada Denis, yang membuat laki laki selebritis lokal itu salah tingkah.
"Yodi. . .Yodiii," Norita tiba tiba saja histeris. Sorot matanya nampak ketakutan.
Semua orang menatap Norita penuh tanda tanya.
"Sebenarnya, Yodi tidak pernah keluar dari kamar tamu," ucap Ellie setelah menarik nafas dalam dalam. Pada dasarnya dia enggan menceritakan keadaan Yodi. Teringat bagaimana kondisi Yodi membuat Ellie gelisah dan trauma. Namun melihat Norita yang mulai histeris, Ellie merasa punya tanggung jawab untuk menjelaskan apa yang dia lihat di kamar tamu.
__ADS_1
"Sebenarnya, apa saja yang telah terjadi selama aku ke hutan mencari Galang? Please, ceritakan semua yang kalian ketahui," ucap Bayu memohon.
"Mari kita ke kamar tamu. Aku dan Norita menemukan sesuatu yang mengerikan disana," Ellie mengajak teman temannya ke kamar yang ada di lantai bawah.
Semua orang segera beranjak menuruni tangga. Kecuali Hendra yang masih saja berdiam di tempatnya.
"Kamu nggak ikut Hen?" Tanya Iva.
"Kamu duluan saja. Kakiku berasa nyeri. Aku akan nyusul, nggak mungkin aku berjalan beriringan dengan yang lain, khawatir lukaku tersenggol," ucap Hendra lirih.
"Butuh bantuan untuk berjalan?" Tanya Iva kemudian.
"No. Aku tidak apa apa. Serius aku akan nyusul, paling belakang. Kamu duluan saja," jawab Hendra dengan cepat.
"Oke, baiklah."
Lalat hijau terlihat semakin banyak dan menjijikkan mengerubuti lemari dalam kamar tamu. Ellie membuka lemari di hadapan semua orang. Semua mata tertuju pada isi lemari yang mengerikan.
Separuh tubuh Yodi yang mulai membusuk, membuat Iva menjerti histeris. Denis menutup mulutnya agar tidak muntah, Hendra nampak tenang memperhatikan dari kejauhan, sedangkan Bayu malah mendekat dan mengamati. Dia juga mengambil beberapa foto untuk penyelidikan.
"Sebaiknya kita keluar dari tempat ini. Aku sudah cukup mengambil beberapa gambar," ucap Bayu sambil menutup lemari.
Semuanya setuju untuk keluar dari kamar tamu. Iva sedikit lemas dirangkul oleh Ellie, sedangkan Denis berlari tunggang langgang ke kamar mandi. Perutnya terasa diaduk aduk tak tertahankan. Hendra dan Bayu paling belakang keluar kamar. Dua laki laki itu terlihat sama sama kesulitan untuk berjalan akibat luka di kakinya.
"Siapa yang tega melakukan hal sekeji itu. Itu. . .itu tidak manusiawi. Itu bukan perbuatan manusia. Iblis! Jelas iblis yang melakukannya!" Iva berteriak penuh amarah. Mereka semua duduk di sofa ruang tamu kali ini.
"Ngomong ngomong soal iblis, bukankah kamu pernah berperan menjadi iblis dipertunjukkan teater mu?" Bayu tiba tiba saja bertanya sinis pada Iva.
"Apa maksudmu Bay?" Iva melotot, kesal mendengar pertanyaan dari Bayu.
__ADS_1
"Tidak ada iblis dalam kasus ini. Yang ada hanyalah manusia dengan topeng dan peran iblis. Dan manusia itu saat ini memakai topeng wajah polosnya, seolah olah tidak tahu apapun, berkamuflase di antara kita," ucap Bayu memandangi teman temannya satu persatu yang terdiam membisu.
"Ya aku pun merasa demikian," tiba tiba saja Denis menyahut sembari berjalan dari kamar mandi. Wajahnya tampak pucat, mungkin karena perutnya yang mual.
"Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ellie bertanya. Dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Pusing dan mual juga dia rasakan saat ini. Bayangan mayat Yodi seakan berputar putar di dalam otaknya.
"Kalian menemukan tas Yodi di kamar Mella bukan?" Tanya Hendra tiba tiba.
"Ya, lalu?" Ellie dan Denis kompak bertanya.
"Kalau memang Mella yang melakukan kejahatan ini. Aku yakin, dia tidak sendirian. Dia pasti memiliki komplotan. Bagaimana kalau kamar kita semua, diperiksa satu persatu? Bukan berarti aku mencurigai kalian ya, tapi benar apa yang disampaikan Bayu. Mungkin salah satu di antara kita ada yang sedang bersandiwara," Hendra menyampaikan usulannya.
Semua orang mengangguk setuju, kemudian mereka kembali ke lantai atas. Secara berurutan mereka mulai memeriksa kamar satu persatu. Dimulai dari kamar Ellie, Mella, Iva, Tia dan Norita. Tidak ada keanehan apapun di kamar para perempuan, kecuali di kamar Mella ditemukan tas ransel milik Yodi.
Kemudian, pemeriksaan kamar berlanjut ke kamar para laki laki. Kamar Dipta dilewati mengingat disana tersimpan mayat. Pemeriksaan dimulai dari kamar Hendra, kemudian kamar Denis. Di dua kamar itu pun tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan.
Selanjutnya, kamar Galang terpaksa harus didobrak karena Galang masih belum kembali. Dan ternyata di kamar itupun tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
"Kamu tadi kan mencari Galang Bay. Kamu yakin tidak bertemu dengannya?" Hendra bertanya pada Bayu.
"Aku menyusuri kembali jalan yang sudah kulalui di hutan. Aku tak melihat Galang di manapun. Dan pada akhirnya aku jatuh terpeleset. Beruntung Pak Mardoyo menemukanku," jawab Bayu sambil membuka pintu kamarnya.
Kamar Bayu adalah kamar terakhir yang diperiksa. Ellie, Iva, Norita, Denis juga Hendra, memeriksa secara seksama setiap sudut ruangan. Bayu sangat yakin tidak ada apapun yang akan mereka temukan di kamarnya. Namun ternyata, keyakinannya itu keliru.
"Bayu. . .apa ini?" Ucap Hendra tiba tiba. Dia menunjukkan sebuah benda pada Bayu dan yang lainnya.
"Hah? Apa ini? Bagaimana mungkin benda ini ada di kamarku?" Bayu melotot tak percaya dengan yang dilihatnya.
Bersambung ___
__ADS_1