Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
38. Amarah Ellie


__ADS_3

Pagi tiba, matahari mulai mengintip di timur perbukitan. Bukan kokok ayam bekisar yang mengawali suasana pagi di rumah tepi sungai, melainkan sebuah tangis yang terdengar dari salah satu kamar di lantai atas.


Suara tangis pilu dari Ellie. Iva tergesa gesa keluar dari kamarnya. Sementara penghuni kamar yang lain tak terlihat batang hidungnya. Pintu kamar Tia sudah dalam keadaan terbuka. Iva dapat melihat dengan jelas dari ambang pintu, Tia terbujur kaku di kasurnya.


Eliie telah selesai membetulkan posisi tubuh Tia. Ibu rumah tangga itu nampak pucat, dengan mata tertutup. Tak ada lagi hembus nafas, tak ada lagi rintihan kesakitan dari bibirnya. Kini, dia terlihat tenang dan damai.


"Ell, Tia?" Iva menutup mulutnya. Ellie hanya mengangguk perlahan.


Hanya Ellie seorang yang menemani Tia di detik terakhirnya. Dalam kegelapan, Ellie tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi Tia. Dia hanya bisa mendengar pesan dan kata kata terakhir dari Tia. 


Iva masuk ke dalam kamar, ikut menitikkan air mata. Sama halnya dengan Iva, Tia juga datang ke rumah tepi sungai ini demi mendapatkan imbalan uang yang dijanjikan sang rich man. Namun, bayarannya sungguh mahal.Tia harus berkorban nyawa.


"Va, harus berapa orang lagi yang mati Va??" Ellie, mengusap kedua matanya yang basah.


"Orang itu harus bertanggungjawab. Zainul harus bertanggungjawab atas semua ini!" Ellie menggenggam dan mengepalkan tangan kanannya dengan erat.


Dengan wajah merah padam karena memendam amarah, Ellie berjalan keluar kamar. Dia menuju pintu kamar paling besar, kamar sang Tuan rumah.


Dok Dok Dookk


Ellie memukul mukul pintu kamar yang megah itu secara kasar. Dia tidak peduli meski tangannya harus berdarah ataupun terluka karena pukulan kasarnya pada kayu berukiran indah itu. Yang dia inginkan hanya satu, Zainul keluar dari kamar dan bertanggungjawab atas kematian teman teman SMA nya dulu.


"Keluar! Hei Zainul, keluar kamu!" Ellie berteriak kesetanan. Urat di lehernya nampak hijau meliuk di kulitnya yang putih bersih. Air mata sudah tak terbendung lagi, menetes bersama amarah yang telah mendidih di lubuk hatinya.


Dukk Dukkk


Ada sebuah suara, seperti benda jatuh dari dalam kamar sang Rich Man. Namun tak ada jawaban. Kelihatannya sang Tuan rumah juga enggan untuk berdebat.


Iva tergopoh gopoh menyusul Ellie. Dia tidak menduga, Ellie akan mengamuk seperti itu. Padahal selama ini, Ellie selalu bersikap tenang dalam kondisi apapun. Namun kali ini, emosinya telah meledak, menggantikan logika dengan amarah dan ketidaksabaran.


"Hei, hentikan Ellie. Apa yang kamu lakukan?" Iva merangkul Ellie dari belakang. Dia sedikit memaksa Ellie untuk menjauhi pintu kamar Zainul.


"Semua ini gara gara dia Vaaa!" Ellie masih sulit untuk ditenangkan. Dia menunjuk nunjuk kamar Zainul dengan telunjuknya yang terlihat bergetar.


Pada saatt itulah, dari lantai bawah terdengar suara langkah kaki yang berlari. Mak Ijah datang dengan tatapan matanya yang tajam. Perempuan tua itu terlihat menakutkan dengan celemek yang dia kenakan nampak berlumuran cairan berwarna merah.


"Apaa yang kalian lakukan?!" Mak Ijah melotot menatap Ellie dan Iva.

__ADS_1


"Suruh majikanmu keluar dari kamarnya, aku mau bicara!" Bentak Ellie.


PLLAAAKKKKK


Sebuah tamparan melayang telak mengenai pipi Ellie. Mak Ijah mengayunkan tangannya dengan sekuat tenaga. Ellie jatuh tersungkur. Sudut bibirnya terasa anyir karena darah.


"Lancang!" Mak Ijah melotot, hingga bulatan bola matanya terlihat sangat menonjol keluar.


"Hei! Jangan main kasar Mak," ucap Iva tak terima.


Mendengar perkataan Iva, Mak Ijah beralih memandangi pementas drama itu. Dan sekali lagi, Mak Ijah hendak mengayunkan tangannya dengan sekuat tenaga.


"Hentikan!" Sebuah teriakan berasal dari tangga.


Ternyata Hendra datang. Dengan setengah berlari dan kaki yang pincang, dia melewati anak tangga berbahan marmer itu. Keringat membasahi kaosnya yang berwarna hitam.


Mak Ijah terlihat menunduk, tak melanjutkan serangannya pada Iva. Sementara Ellie masih terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang memar. Hendra mengulurkan tangannya membantu Ellie untuk berdiri.


Ellie benar benar terkejut dengan perlakuan Mak Ijah. Tanpa diduga perempuan itu sama sekali tidak ragu mengayunkan sebuah tamparan. Dan yang lebih membuat Ellie heran, perempuan tua dan kurus itu memiliki tenaga yang luar biasa. 


"Kamu tidak apa apa Ellie?" Hendra memandangi pipi Ellie yang nampak sedikit bengkak.


"Dua perempuan ini menggedor gedor pintu kamar Tuan Zainul," jawab Mak Ijah. Ekspresi Mak Ijah nampak datar, seperti biasanya.


"Hah? Kalian ngapain sih?" Hendra bertanya pada Iva dan Ellie dengan tatapan heran.


"Saya harap, tidak ada lagi yang mengganggu Tuan Zainul. Saya permisi," ucap Mak Ijah, segera beringsut pergi.


Hendra menatap punggung Mak Ijah yang berjalan menuruni tangga.


"Tia, Tia telah tiada. Dia tewas Hen. Tanpa bisa menolongnya, aku hanya bisa meratapi kepergiannya," ucap Ellie lirih.


"Mungkin itu yang terbaik baginya Ellie. Tia tak lagi menderita dengan rasa sakitnya," Hendra menimpali.


"Ini nyawa manusia Hendra! Kamu terlalu menganggapnya sepele!" Ellie melotot.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan Ellie. Bukankah kematian seseorang itu sudah ditakdirkan," Hendra menghela nafas.

__ADS_1


"Tapi Zainul yang sudah mengundang kita kemari. Sudah sewajarnya dia bertanggungjawab," Ellie tetap bersikeras dengan pendapatnya.


"Sudah Ell. Tenangkan dirimu dulu. Lebih baik kita segera pergi dari rumah ini. Bukannya aku tak peduli dengan teman teman kita yang sudah mati, namun yang utama adalah menyelamatkan nyawa kita sendiri," Iva menyahut, menggenggam tangan Ellie.


"Ngomong ngomong dimana Norita dan Denis?" Ellie tiba tiba teringat dengan pasangan biduan cantik dan selebgram lokal itu.


Ellie bergegas ke kamar Norita. Dengan sedikit kasar dia mengetuk ngetuk pintu kamar Norita. Beberapa detik berikutnya, nampak Norita membuka pintu kamar dengan ragu ragu.


"Ellie?" Ucap Norita seraya mengedarkan pandangannya.


"Ada apa Nori? Kenapa kamu terlihat ketakutan?" Ellie bertanya.


"Maafkan aku. Aku hanya mengikuti saran dari Denis," jawab Norita sambil menunjukkan kertas di genggaman tangannya.


Ellie mengambil kertas di tangan Norita dan membacanya.


'Tetaplah di kamarmu Nori. Jangan pernah keluar. Aku mengetahui sesuatu. Subuh nanti lampu akan padam, dan mungkin akan ada seseorang yang berusaha mengunjungimu. Pokoknya jangan buka pintu kamarmu sebelum pagi tiba.


Denis'


"Darimana Denis tahu lampu akan padam?" Ellie mengernyitkan dahi.


Hendra dan Iva ikut membaca surat di tangan Ellie. Ellie kemudian beranjak menuju kamar Denis. Ternyata pintu terbuka dan kamar dalam keadaan kosong.


"Jadi, penjahat yang sebenarnya adalah Denis?" Hendra bertanya.


"Belum tentu. Aku tidak yakin surat itu, tulisan tangan Denis," jawab Ellie.


"Kapan kamu menerima surat ini Nori?" Tanya Ellie kemudian. Norita berjalan mengekor di belakang Ellie.


"Tadi malam sekitar jam 11. Aku benar benar ketakutan, karena apa yang tertulis di surat itu benar benar terjadi. Sekitar jam 2 pagi, pintu kamarku diketuk ketuk, entah oleh siapa. Dan setelahnya lampu benar benar padam. Aku takut Ellie, aku benar benar takut. Aku nggak mau mati seperti yang lain," Norita memelas ketakutan.


"Tidak. Tidak ada lagi yang akan mati. Kita harus mencari Denis, mengeluarkan Bayu dari kamarnya, dan segera pergi dari tempat ini!" Ucap Ellie sembari menatap teman temannya satu persatu.


"Kurasa kita harus mencari Denis terlebih dahulu. Karena kunci pintu kamar Bayu, Denis yang membawanya," usul Hendra kemudian.


"Kita bagi dua tim gimana?" Ellie bertanya, semua mengangguk setuju.

__ADS_1


Tanpa mereka semua sadari ada seseorang di dalam kamar sang Tuan rumah. Seseorang itu tengah meringkuk, memandangi pintu kamar tanpa mampu berbuat apapun.


Bersambung___


__ADS_2