
Hendra mengangkat tubuh Mella yang tersungkur di lantai. Kini Mella kembali duduk tegak menghadap Hendra yang menatapnya penuh kebencian. Sudut bibir Mella nampak berdarah. Tubuhnya lemah dan lemas.
"Apakah kamu masih berpura pura lupa dengan perbuatanmu pada Zainul?" Tanya Hendra sambil menepuk nepuk pipi Mella.
"Jawab aku! Sialan!" Bentak Hendra.
Plakkkk
Sebuah tamparan di hantamkan Hendra sekuat tenaga. Pipi Mella sebelah kanan langsung terlihat memerah.
"Aku tidak mengerti maksud ucapan dan segala tuduhanmu," ucap Mella lirih.
"Ha ha ha ha dasar picik!" Hendra tertawa lantang.
"Bulan juli, pementasan kedua dari club drama di acara perpisahan sekolah dipersiapkan oleh Zainul dengan matang. Waktu itu skenario drama ditulis sendiri oleh Zainul, kisah tentang seorang anak yang dilarang oleh orangtuanya untuk menjadi seorang penyanyi. Aku baca draft skenarionya, seharusnya drama itu jika dijalankan dengan benar akan membuat penonton menangis terharu. Aku yang baru masuk ke dalam ekskul drama, diberi peran pembantu sebagai sang ayah yang arogan. Dalam salah satu adegan aku harus menyiramkan air yang seolah olah itu air panas pada tubuh tokoh utama. Dan disitulah petaka terjadi," Hendra terlihat melamun. Emosinya terasa sangat tidak stabil. Dia bisa tiba tiba tenang, namun sesaat kemudian meledak ledak tak terkendali.
"Tiga hari sebelum pementasan dilakukan, aku meminta Zainul untuk membantuku mendalami peran, juga menghafal dialogku yang tak seberapa. Karena aku anak baru, Bu Ami memang menyuruhku untuk belajar lebih keras dibanding yang lain," Hendra menghela nafas.
"Aku mempraktekkan beberapa adegan, hingga akhirnya sampai pada adegan penyiraman. Zainul membantuku, dia berperan menjadi tokoh sang anak. Aku menyiramkan air dari botol yang telah disiapkan. Zainul mengerang kesakitan. Awalnya kupikir dia hanya berakting, namun ternyata kulit wajahnya, juga sebagian lengan dan tangannya melepuh!" Hendra memukul tembok di sebelahnya dengan sekuat tenaga. Tangan Hendra nampak terluka, namun dia tidak peduli. Amarah dan emosi telah menghilangkan rasa sakit dari otak Hendra.
"Zainul diantar pulang oleh Bu Ami. Aku benar benar syok waktu itu. Aku tidak menduga, air yang disiapkan oleh bagian properti adalah air yang berbahaya. Sejak hari itu, Zainul tak pernah terlihat datang ke sekolah. Pementasan dibatalkan, dan club drama dibubarkan."
"Bertahun tahun aku hidup penuh penyesalan dan rasa berdosa yang menggerogoti hatiku. Hingga akhirnya aku tahu, karena ulahmu Zainul mendapatkan luka bakar. Air properti yang kamu siapkan ternyata adalah larutan hidrogen peroksida yang kamu campur dengan senyawa kimia lainnya. Zainul menderita luka permanen akibat ulahmu, dia keluar dari sekolah, meninggalkan mimpinya akibat perbuatanmu!" Hendra menggeram menakutkan.
__ADS_1
"Darimana kamu tahu itu semua Hendra?" Mella menatap Hendra penuh tanya.
"Zainul yang mengatakannya padaku," jawab Hendra singkat.
"Asal kamu tahu saja, aku pun menyesali perbuatan isengku yang keterlaluan itu Hendra. Waktu itu, aku memang siswa yang paling menonjol dalam mata pelajaran kimia. Aku ingin tahu, rasa penasaranku besar. Aku mencoba coba, dan pada akhirnya aku membuat Zainul celaka. Tapi sungguh, aku tidak bersekongkol dengan teman teman yang lain untuk membuat Zainul seperti itu Hen," Mella menangis, terisak.
"Menyesal katamu? Pernahkah kamu dan teman temanmu itu mencoba meminta maaf pada Zainul?" Hendra melotot.
"Aku berusaha mencarinya Hendra. Tapi Zainul menghilang setelah kejadian itu. Aku tidak tahu dimana dia, sungguh," ucap Mella lirih.
"Bullsh*t! Pembohong! Bangs**!" Hendra mengumpat.
Braakkk!!
"Kamu dan teman temanmu itu tak pernah menyesal. Sehari setelah kejadian, aku yang terpuruk dan merasa bersalah, mendengar dengan telingaku kalian tertawa bahagia di kantin sekolah," Hendra menubruk tubuh Mella yang tersungkur di lantai.
Fisik Mella sudah sangat lemah. Dia sadar, takkan bisa selamat kali ini. Dia hanya bisa pasrah pada nasib dan takdirnya.
"Aku mendatangi Bu Ami di kantor. Namun, apa yang aku dapatkan? Guru pesolek itu lebih mementingkan reputasi sekolah, menutup ekskul drama, dan membiarkan kejahatan kalian pada Zainul. Kalian adalah seburuk buruknya manusia! Merenggut mimpi Zainul untuk menjadi penulis film! Merenggut cita cita remaja kampung yang tak punya ayah dan bunda," Hendra mencengkeram kerah baju Mella sambil menangis. Kesedihan, penyesalan dan rasa bersalah tumpah kali ini.
"Bukankah mimpi Zainul sudah terwujud? Kesuksesannya, Rumah ini? Semuanya?" Mella menyela dengan suaranya yang lirih.
"Dia tidak pernah menikmatinya. Bahkan dengan segala hal yang kalian lakukan padanya, Zainul tetaplah sebuah mutiara meskipun kalian benamkan dalam lumpur," Hendra menghempaskan tubuh Mella begitu saja.
__ADS_1
"Tapi kamu tidak berhak melakukan ini semua Hendra! Kamu tidak berhak menghakimi kesalahanku pada orang lain. Urus saja urusanmu sendiri," Mella meninggikan suara dengan sisa tenaganya.
"Aku adalah orang yang dipilih Zainul untuk menjalankan skenario yang telah dibuatnya. Rumah Tepi Sungai ini adalah panggung pementasan drama yang aku persembahkan untuk Zainul. Drama dengan tokoh dan karakter yang diperankan langsung oleh teman temannya dulu. Dia pasti senang melihatnya," Hendra menyeringai puas.
Hendra berjalan keluar kamar, mengambil satu pot besar tanaman Manchineel yang tergeletak di depan pintu. Kemudian meletakkan pot besar itu di sebelah Mella yang tengah tergeletak tak berdaya.
"Kamu akan merasakan sensasi terbakar dan rasa sakit yang serupa dengan apa yang telah dialami Zainul dulu," Hendra kembali beranjak keluar kamar.
Hendra mengambil beberapa jerigen yang ada di dapur. Kemudian menuangkan cairan yang ada di dalamnya ke seluruh penjuru rumah. Aroma minyak tanah bercampur dengan aroma mayat yang mulai membusuk membuat kepala Hendra sedikit pening.
Setelah seluruh area rumah basah oleh minyak, Hendra berdiri di halaman depan. Dia menggenggam sebuah buku bersampul merah marun. Hendra menyalakan sebatang korek api, dan melemparkannya pada lantai yang penuh minyak.
Bwoosshhh
Api langsung menyala menjilat jilat dan berkelok masuk ke dalam, menimbulkan letupan letupan kecil. Terus menjalar dan merambat menuju kamar tamu, membakar tubuh Yodi yang tak utuh di dalam lemari. Kemudian menyulut tubuh si Tua Mardoyo di atas kasur kamarnya. Api juga beranjak ke lantai atas. Menghanguskan Dipta dan Tia yang telah menjadi mayat.
Sedangkan Mella masih meringkuk mencium lantai marmer yang berbau minyak tanah. Dia melihat bagaimana asap hitam mengepung tubuhnya yang tak berdaya. Kobaran si jago merah juga mulai merambat mendekati raga sana perawat rumah sakit.
Mella masih menangis terisak. Dia sadar akan kesalahannya, namun dia masih bertanya tanya dalam hati, tak bolehkah manusia memperoleh kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan?
Kini, tubuh kurus Mella sudah berbalut asap dan api. Dia tidak mengaduh tidak pula menjerit. Di ambang kesadarannya Mella seperti melihat uluran tangan dari seseorang. Mella memperhatikan orang itu, dan ternyata sosok itu adalah Zainul dengan senyuman yang terlihat bahagia.
"Maafkan aku," ucap Mella lirih di penghujung hidupnya.
__ADS_1
Bersambung___