
Suara tembakan memecah kesunyian hutan, mengusir kawanan gagak yang bertengger di pohon akasia. Aroma mesiu tercium menyengat. Sepasang mata melotot menatap langit yang hitam kelam.
Mella dengan wajahnya yang rusak sebagian, terbaring di tanah. Keringat sebesar biji jagung menetes melalui pori pori kulitnya yang mengkerut. Deru nafasnya terdengar kasar. Dia meraba raba kepala, berharap tidak terdapat lubang di dahinya.
Tembakan Bayu melubangi tanah, beberapa desimeter dari tempat Mella terbaring. Bayu tidak meleset. Mak Ijah menubruk tangan laki laki itu sesaat sebelum dia melepaskan tembakan.
"Apa maksud semua ini Mak?" tanya Bayu, melotot menatap Mak Ijah yang berdiri di hadapannya.
"Aku mengurusnya selama ini. Aku tidak mengerti kenapa tubuh ini bergerak dengan sendirinya. Ada perasaan tidak rela jika gadis ini harus mati di depan mataku," ucap Mak Ijah memandangi kedua telapak tangannya sendiri.
"Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kukira kamu tak punya nurani, ternyata orang seperti dirimu masih menyisakan kasih sayang di sudut hati," Bayu terkekeh, menertawakan Mak Ijah.
"Aku tak mengerti apa itu cinta. Aku juga tak mengerti apa yang disebut kasih sayang. Hidupku selama ini hanya untuk melayani. Namun tetap saja aku tak bisa membiarkannya mati," sahut Mak Ijah.
Bayu geleng geleng kepala melihat perubahan sikap Mak Ijah. Padahal Bayu cukup yakin Hendra dulu sudah mencuci otak perempuan tua itu, agar kehilangan rasa cinta. Nyatanya perasaan manusia adalah hal yang tidak bisa diprediksi. Benih cinta tetap bisa tumbuh di hati dan otak yang tandus sekalipun.
"Seekor anj*ng selalu tahu bagaimana cara membalas budi. Hanya kuberikan sepotong tulang saja, hewan itu akan menyerahkan baktinya padaku. Tapi lihat apa yang dilakukan manusia. Tak tahu rasa terimakasih!" Bayu menghela nafas.
"Tugasmu adalah mengabdi pada orang yang memberimu tujuan untuk hidup Mak. Saat kamu berani membantah, artinya kamu telah kehilangan alasan berada di dunia ini. Sudah waktunya kamu menyusul Pak Mardoyo dan Hendra," Bayu mengarahkan moncong senjatanya kepada Mak Ijah.
"Baik Tuan. Jika memang jasaku sudah tak lagi dibutuhkan," Mak Ijah bersimpuh di bawah Bayu. Perempuan itu menyerahkan nyawanya pada laki laki yang menjadi rekan Sang Rich Man dalam menyusun naskah buku bersampul merah.
Mella menyaksikan di depan matanya, bagaimana Bayu menodongkan pistol ke arah kepala Mak Ijah. Dalam beberapa detik, kilas balik kehidupan muncul di benak Mella. Mak Ijah menjadi salah satu orang yang berjasa, menyelamatkan nyawanya yang tengah terikat dan terpanggang di lantai dua rumah Sang Rich Man. Ternyata bukan hanya Mak Ijah yang merasa memiliki ikatan dengan Mella, hal itu juga berlaku sebaliknya.
__ADS_1
Mella tak bisa membiarkan Mak Ijah, orang yang sudah merawatnya selama satu tahun belakangan mati sia sia. Mella memang tak sudi menjadi seorang penjahat dan pembunuh sesuai keinginan Bayu. Tapi, dia tak mungkin membiarkan penolongnya tewas begitu saja. Mella meraih pisau kecil miliknya, segera berdiri dan melompat ke arah Bayu.
Menyadari ada sebuah gerakan yang mendadak, Bayu refleks mengarahkan senjata di tangan pada tubuh yang melayang di udara menuju ke arahnya.
Doorrrr
Tembakan sekali lagi bergema di tengah belantara. Semburat cairan merah menyembur bagai hujan, mewarnai kegelapan langit malam. Mak Ijah hanya bisa melotot memandangi tubuh yang melompat ke arah Bayu.
Sebelum hembusan nafasnya berakhir, Mella berhasil menubruk dan mendaratkan beberapa serangan pada tubuh Bayu. Akhirnya Mella berguling dan terkapar di rerumputan. Gadis dengan luka bakar di sebagian wajahnya itu, harus mengubur keinginannya untuk bisa hidup normal seperti dulu. Dia menghembuskan nafas terakhir di tengah belantara demi melindungi perempuan tua yang sudah merawat luka bakarnya.
Bayu juga roboh. Tubuhnya ambruk di rerumputan. Tapi laki laki itu sama sekali tak menunjukkan rasa takut. Dia malah tertawa terbahak bahak dengan beberapa luka di perut yang menganga.
"Manusia adalah makhluk yang aneh. Menuntaskan dendamnya sendiri tak mau. Tapi rela membunuh untuk melindungi orang yang dirasa berjasa dalam hidupnya. Aku sama sekali tak mengerti," Bayu tersenyum.
"Ada apa Tuan?" tanya Mak Ijah. Seperti biasa, ekspresi perempuan tua itu tetap datar. Tak ada emosi, kesedihan ataupun kemarahan.
"Aku akan menyusul Zainul kawanku. Menyusul Hendra Tuanmu, juga teman teman yang lain," bisik Bayu masih dengan seulas senyum di bibirnya.
"Karena kamu ada di dunia ini untuk melayani, maka kuberi tugas terakhir untukmu Mak," lanjut Bayu. Nafasnya mulai tersengal. Pun tenggorokannya terasa semakin menyempit.
"Apa Tuan?" tanya Mak Ijah lirih.
"Tetaplah hidup. Aku sudah menabur benih yang pasti lambat laun akan tumbuh subur. Tunggulah buah dari hasil jerih payahku di tempat ini. Hutan yang menjadi bukti keberadaan Sang Maestro Zainul Rich Man. Juga ceritakan pada dunia, kehebatanku dalam menangani kasus di rumah tepi sungai. Biarkan dunia tahu, Bayu Khairil adalah orang yang gugur dengan terhormat. Sesuai keinginan kawanku Zainul. Kami berdua telah terikat janji di hutan ini, hidup kami boleh tak berguna, tapi kematian kami mengguncang dunia," ucap Bayu dengan senyum penuh kebanggaan.
__ADS_1
"Sendiko dhawuh Tuan," ucap Mak Ijah tertunduk.
Sunyi, sepi. Tak ada lagi jawaban dari Bayu. Bersamaan dengan gerimis yang mengguyur wilayah hutan. Seolah tempat itu menangis, melepas kepergian Bayu.
Zainul dan Bayu, dua orang anak manusia yang menjalani kehidupan getir tak terperi. Menyusun kisah buku bersampul merah di gubuk tengah hutan, dan pada akhirnya sama sama mengakhiri hidup di tempat janji mereka diucapkan.
Sementara itu, diwaktu yang sama Andewi menghembuskan nafas terakhirnya di dalam ceruk bawah air terjun. Setelah sebelumnya dia membisikkan sebuah rahasia di telinga Damar. Andewi telah memberitahukan letak dimana dia menyembunyikan satu karung uang. Damar tersenyum penuh arti.
Dengan sedikit terburu buru, laki laki muda rupawan itu melangkah keluar dari dalam goa. Dia menyusuri jalanan setapak, berharap segera bertemu dengan Bayu. Lain yang dinanti lain pula yang datang. Di tengah jalan tanpa terduga, Damar malah bertemu polisi Adi.
"Pak Adi?" Damar kebingungan kenapa Adi bisa sampai di tempat itu.
"Damar, kamu baik baik saja kan? Apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat ini?" Adi bertanya sembari memperhatikan Damar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Ah maaf sebelumnya, lebih baik kita segera mencari Pak Bayu saja. Biar beliau nanti yang menjelaskan," ucap Damar berkilah.
"Dimana Bayu?" tanya Adi sekali lagi.
"Tadi kami terpisah Pak," jawab Damar cepat.
"Beberapa saat yang lalu aku mendengar suara tembakan tak jauh dari sini. Jangan jangan terjadi sesuatu," ucap Adi nampak khawatir. Sedangkan Damar sama sekali tak mendengar suara tembakan seperti yang dikatakan Adi. Bunyi derasnya air terjun membuat kondisi dalam goa seakan kedap suara.
Bersambung___
__ADS_1