Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
40. Suara apa gerangan?


__ADS_3

Motor Fadlan ternyata mengalami kerusakan yang cukup parah. Roda depan bengkok, juga bagian shock nya terlihat tinggi sebelah. Fadlan menggaruk garuk kepalanya, bingung.


"Kalian mau kemana sih?" Tanya salah satu petugas kepolisian yang bernama Tarji.


"Mau pulang Pak," jawab Fadlan.


"Rumah kalian mana?" Kembali Tarji bertanya.


"Kampung pinggir hutan kecamatan K," terang Fadlan.


"Gini aja, motor kalian biar nanti diambil sama teman saya, orang bengkel. Nanti tinggal kasih nomor WA mu saja," sambung Adi, petugas kepolisian yang terlihat tampan dan berwibawa.


"Terus, kami pulangnya gimana Pak?" Tanya Fadlan.


"Biar kami antar," jawab Adi meyakinkan.


Fadlan bertukar pandang dengan Wignyo. Tak ada pilihan lain, dan tak ada alasan untuk menolak. Wignyo dengan wajah babak belur mengangguk perlahan. Menandakan dia setuju.


Akhirnya dua pemuda kampung itu diantarkan pulang menggunakan mobil petugas kepolisian. Tidak ada percakapan berarti di dalam perjalanan. Dua petugas kepolisian itu, tidak terlalu peduli dengan karung yang dibawa Wignyo. Mereka hanya membicarakan tentang musim panen durian yang gagal karena curah hujan tinggi.


Dua puluh menit di perjalanan akhirnya mobil biru tua milik Pak polisi Tarji sampai di pintu masuk desa. Jalanan yang berbatu dan cukup terjal akhirnya membuat Tarji menghentikan laju mobilnya.


"Maaf nih, sampai sini saja ya. Mobilnya baru tak ceperin dikit, khawatir kena batu," Tarji tersenyum.


"Ah iya Pak. Terimakasih banyak atas tumpangannya," ucap Wignyo dengan wajah penuh benjolan yang membiru.


"Lain kali, lebih baik nyari jalan yang ramai dilewati orang meski agak jauh sedikit, daripada lewat jalan pintas namun sepi. Karena jaman sekarang, banyak kejahatan terjadi karena kesempatan yang kita ciptakan sendiri. Jaga kesehatan juga ya," sambung Adi memberi nasehat.


"Siap Pak. Sekali lagi terimakasih," ucap Fadlan sembari keluar dari mobil, dan segera berjalan meninggalkan dua orang petugas kepolisian baik hati itu.


Pak Polisi Adi dan Tarji masih memperhatikan dua pemuda desa yang baru saja ditolongnya tersebut. Rambut kribo Fadlan terlihat berayun rayun tertiup angin. Tarji tersenyum memperhatikannya.


"Apa sih yang mereka bawa dalam karung?" Tanya Adi sambil mengamati Wignyo yang berjalan terseok seok.


"Mungkin barang dagangan Di," sambung Tarji.


"Eh Ji, ngomong ngomong anggota kita ada yang izin cuti untuk mengunjungi keluarganya. Bukankah daerah sini ya?" Tanya Adi lagi.

__ADS_1


"Si Bayu ya. Kalau nggak salah sih, keluarganya itu orang terkaya disini. Rumahnya sih denger denger di tengah hutan sana," jawab Tarji, menunjuk perbukitan yang nampak hijau sejuk.


"Oohh. Ayok Ji, kita segera kembali. Ada kasus yang harus kita tangani kan?" Adi menepuk bahu Tarji. Tarji mengangguk, dan segera memutar kemudi mobilnya.


Sementara itu Fadlan dan Wignyo sudah berjalan jauh menyusuri jalanan pedesaan yang cukup terjal. Ada beberapa genangan air di antara bebatuan yang tertata kurang rapi.


"Kapan ya desa kita bisa maju. Jalan kayak gini kok dibiarkan begitu saja," keluh Wignyo melihat jalan desanya yang tak tersentuh perbaikan.


"Ya kalau lewat utara, juga udah lumayan mulus Nyo," jawab Fadlan cuek.


"Jalanan sana dibangun cukup bagus soalnya akses ke rumah Rich Man kan. Coba aja aku jadi kaya ya, jalanan tak kasih marmer semua," Wignyo berkelakar.


"Kalau mau kaya sekarang juga bisa. Itu duit di karung. Kita tilep saja," ucap Fadlan sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Astagaa, otak otak koruptor kamu itu. Meskipun kita orang nggak punya, melarat, pengangguran, tapi kudu ingat satu hal. Jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kamu mau saat makan tiba tiba keselek?" Wignyo melotot.


"Idiihhh, iya iya Bapak pembela kebenaran. Aku kan cuma becanda. Jangan serius serius amat lah. Jidatmu makin lebar nanti," Fadlan mencibir.


Wignyo dan Fadlan terus berjalan, melewati jalanan yang selalu terlihat sepi. Tak banyak orang yang mereka jumpai. Hanya sesekali ada bapak bapak yang berangkat ke kebun membawa sabit. Mungkin hendak merumput atau sekedar menengok ladang.


Akhirnya mereka sampai di sebuah pertigaan. Mereka mengambil jalan ke kiri. Jalanan semen yang cukup rata dan bersih. Jalanan menuju rumah sang Rich Man.


"Kamu kenapa?" Wignyo bertanya heran.


"Ini perutku mules. Aku tak ke sungai dulu," Fadlan nyengir.


"Hei hei jangan buang air sembarangan lah," Wignyo sedikit membentak.


"Udah nggak tahan," balas Fadlan sambil berlari. Wignyo hanya bisa geleng geleng kepala.


Fadlan berlari menuruni lereng yang ada di bawah jalan. Perutnya semakin terasa sakit, melilit, tak tertahankan. 


"Sialan, efek makan ayam goreng sisa tadi malam nih," gumam Fadlan sambil memegangi perutnya.


Sampailah Fadlan di sungai. Dan tanpa peduli lagi dengan keadaan sekitar, dia langsung melepas celananya dan melemparkannya di atas batu besar di tepi sungai. Dia merendam pant*tnya di air sungai yang dingin dan mengalir deras.


Beberapa menit setelahnya, Fadlan tersenyum lega. Dia mengusap peluh di dahinya. 

__ADS_1


"Fiuuhhh, leganyaaa," ucap Fadlan sumringah.


Fadlan segera menuju batu besar tempat celananya tergeletak. Dan saat itulah dia mendengar sebuah suara. Suara aneh seperti erangan kesakitan.


Bulu kuduk Fadlan langsung berdiri meremang. Tengkuknya terasa dingin dan membesar. Suasana sungai yang sepi dan redup menambah perasaan tidak nyaman. Fadlan tadi tidak menyadarinya karena teralihkan dengan perut yang terasa sakit.


"Eegghh Eghhhh," lagi, suara erangan kesakitan itu terdengar.


Fadlan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering tercekat. Entah kenapa saat ketakutan menguasai, pita suara seakan menghilang. Fadlan takut, sekaligus penasaran. Darimana suara aneh itu berasal?


"Mbah, amit mbah, permisii," ucap Fadlan dengan suara bergetar. 


Fadlan ragu ragu berjalan ke arah sumber suara. Dari balik batu besar di tepian sungai, suara terdengar semakin jelas. Fadlan melongok, melihat makhluk apa yang sedang mengerang tersebut.


Dengan hanya memakai cel*na dal*m, Fadlan perlahan mengintip dari balik batu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat sesosok manusia tengkurap di pasir sungai, penuh dengan luka. Dan sosok yang sedang mengerang kesakitan yang ditemukan Fadlan itu tak lain adalah Galang.


Sedangkan Wignyo masih duduk berjongkok di tepi jalan. Dengan perasaan ndongkol, dia menunggui Fadlan. Wignyo hanya bisa memandangi pepohonan lebat di hadapannya. Ada beberapa pohon durian yang nampak berbunga cukup banyak.


"Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman," Wignyo bernyanyi dengan suara beratnya.


"Nyoooo Nyooo," 


Saat Wignyo mulai asyik berdendang, terdengar suara Fadlan berteriak teriak. Laki laki berambut kribo besar itu terlihat berlarian hanya mengenakan cel*na d*lam berwarna ungu yang lusuh.


"Sudah gila itu bocah," gumam Wignyo.


"Nyooo, tolongin Nyooo," Fadlan masih terus berteriak sambil berlari mendekati Wignyo.


"Ada apa sih?" Wignyo bertanya, setelah Fadlan berada di hadapannya.


Fadlan mengatur nafasnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Rambut kribonya pun nampak kumal dan basah.


"Ada. . .ada manusia Nyooo," ucap Fadlan di sela nafasnya yang ngos ngosan.


"Siapa? Lek To? Ngarit?" Wignyo bertanya santai.


"Orang pingsan. Badannya penuh luka," jawab Fadlan gusar.

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2